Trump kecam Israel dan Iran, tuduh keduanya langgar gencatan senjata

Presiden AS Donald Trump

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden AS Donald Trump
Waktu membaca: 23 menit

Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan peringatan keras kepada Israel, dengan mengatakan "jangan jatuhkan bom-bom itu" setelah Israel melancarkan apa yang disebutnya "serangan kuat" terhadap Iran.

Trump menyatakan bahwa setiap serangan susulan akan menjadi "pelanggaran besar" terhadap perjanjian gencatan senjata yang baru saja ia umumkan antara kedua negara.

Peringatan ini datang setelah Israel menuduh Iran melanggar gencatan senjata hanya dua jam setelah kesepakatan itu mulai berlaku, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Teheran.

Iran, pada gilirannya, telah memperingatkan bahwa "agresi lebih lanjut akan dibalas dengan respons yang tegas, kuat, dan tepat waktu."

Beberapa jam sebelumnya, pemerintah Israel dilaporkan telah menyetujui usulan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait gencatan senjata Israel dan Iran.

Dalam pernyataannya, pemerintah Israel mengatakan: "Israel akan merespons dengan keras terhadap pelanggaran genjatan senjata."

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata "lengkap dan total" antara Israel dan Iran.

"Gencatan senjata kini berlaku. Mohon jangan dilanggar!" tulisnya dalam unggahan pada platform Truth Social.

Trump mengatakan gencatan senjata dimulai setelah kedua negara "menghentikan" operasi militer mereka.

Trump juga mengatakan bahwa "pada jam ke-24" perang akan resmi berakhir.

Foto ilustrasi yang memperlihatkan patung Donald Trump menunjuk peta Iran.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Foto ilustrasi yang memperlihatkan patung Donald Trump menunjuk peta Iran.

"Dengan asumsi bahwa semuanya berjalan sebagaimana mestinya, yang pasti akan terjadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua negara."

Trump menyebut konflik Israel-Iran sebagai "Perang 12 Hari".

"Ini adalah perang yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun, dan menghancurkan seluruh Timur Tengah, tetapi tidak terjadi, dan tidak akan pernah terjadi!" kata Trump dalam unggahan tersebut.

Donald Trump, membuat klaim bahwa Israel dan Iran mendekatinya "hampir bersamaan, dan berkata, damai".

Di sisi lain, stasiun televisi pemerintah Iran menyatakan gencatan senjata telah "diberlakukan" terhadap Israel menyusul serangan ke pangkalan militer AS di Qatar.

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, menyebut jika Israel menghentikan "agresi ilegalnya", Iran "tidak berniat untuk melanjutkan respons".

Israel belum memberikan tanggapan atas klaim Trump bahwa kedua belah pihak akan berhenti bertempur dalam 24 jam ke depan.

Pangkalan militer Al-Udeid di Qatar.

Sumber gambar, USAF

Keterangan gambar, Pangkalan militer Al-Udeid di Qatar.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sebelum Trump mengemukakan soal gencatan senjata, media pemerintah Iran mengumumkan gempuran "yang perkasa dan penuh kemenangan" ke Irak dan Qatar guna menanggapi serangan AS ke sejumlah fasilitas nuklir Iran.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan Iran tidak melukai siapa pun dalam serangan itu tetapi negaranya tidak akan "tunduk pada pelanggaran siapa pun".

Rudal Iran dilaporkan menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Al-Udeid.

Al-Udeid adalah fasilitas militer terbesar AS di Timur Tengah yang digunakan untuk semua operasi udara di wilayah tersebut. Beberapa personel militer UK juga bertugas di sana.

Serangan itu pertama kali dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran, dan kemudian oleh militer.

Ada berbagai laporan berbeda tentang jumlah rudal yang ditembakkan. Iran mengatakan enam, AS mengatakan 14, dan Qatar mengatakan 19.

Tidak ada yang dilaporkan tewas atau terluka.

Majed al-Ansari, juru bicara resmi Kementerian Luar Negeri Qatar, menulis di X: "Kami menganggap ini sebagai pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan Negara Qatar, wilayah udaranya, hukum internasional, dan piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa."

Pusat fasilitas nuklir Iran
Peta fordo

Pada Sabtu malam (21/06) waktu setempat, Trump, mengatakan AS telah menyerang fasilitas nuklir Iran di Fordo, Natanz, dan Isfahan.

Trump menyebut serangan itu "sangat sukses", dan menambahkan, "muatan penuh" bom dijatuhkan di Fordo, fasilitas uranium utama Iran.

Pejabat senior Departemen Pertahanan di AS juga mengonfirmasi bahwa GBU-57A Massive Ordnance Penetrator—yang dijuluki bom 'penghancur bunker'—digunakan dalam serangan tersebut.

"Semua orang mendengar nama-nama (fasilitas) itu sebagaimana bertahun-tahun mereka membangun sarana destruktif yang mengerikan ini," katanya.

Baca:

"Malam ini saya dapat melaporkan kepada dunia bahwa serangan itu sukses secara spektakuler," kata Trump.

Dia juga mengucapkan selamat kepada Benjamin Netanyahu, dengan mengatakan mereka bekerja sebagai sebuah "tim" untuk menghapus "ancaman mengerikan bagi Israel".

Di sisi lain, media yang dikelola pemerintah Iran mengatakan sebagian fasilitas Fordo "diserang oleh musuh".

Anggota kongres AS, Alexandria Ocasio-Cortez.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Alexandria Ocasio-Cortez menyebut campur tangan konflik Iran-Israel tersebut bisa menjadi 'alasan pemakzulan'.

Di AS, beberapa anggota parlemen dari Partai Demokrat mengutuk serangan tersebut–dan serangan itu dilakukan tanpa persetujuan Kongres.

Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez, mengatakan serangan ini "pelanggaran berat" terhadap konstitusi dan Kekuasaan Perang Kongres, dan "secara mutlak dan jelas merupakan (bisa menjadi) alasan untuk pemakzulan".

"Dia secara impulsif telah mengambil risiko meluncurkan perang yang dapat menjerat kita selama beberapa generasi," katanya di X.

PBB mengeluarkan tanggapannya atas serangan AS ke wilayah Iran yang disebut sebagai "eskalasi berbahaya".

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, mengatakan serangan AS ke Iran sebagai "eskalasi berbahaya".

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, mengatakan saat ini terdapat "risiko yang semakin besar, konflik ini dapat dengan cepat menjadi tidak terkendali–dengan konsekuensi yang sangat buruk bagi warga sipil, kawasan, dan dunia".

Dia menambahkan dalam sebuah posting di X:

"Pada saat yang berbahaya ini, sangat penting untuk menghindari spiral kekacauan. Tidak ada solusi militer. Satu-satunya jalan ke depan adalah diplomasi. Satu-satunya harapan adalah perdamaian."

Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengutuk serangan AS sebagai "keterlaluan", dan mengatakan Iran sedang menyiapkan "semua opsi untuk mempertahankan kedaulatannya".

"Kejadian pagi ini sangat keterlaluan, dan akan memiliki konsekuensi yang kekal. Setiap anggota PBB harus waspada terhadap perilaku yang sangat berbahaya, melanggar hukum dan kriminal ini," tulisnya di X.

Araghchi, menambahkan AS telah "melakukan pelanggaran berat" terhadap piagam PBB sebagai anggota Dewan Keamanan PBB.

Dalam keterangan sebelumnya, Araghchi berkata, negaranya "tidak dapat melakukan negosiasi dengan AS ketika rakyat kami sedang dibombardir".

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berkata kepada wartawan, negaranya "tidak dapat melakukan negosiasi dengan AS ketika rakyat kami sedang dibombardir".

Dia membuat klaim "AS telah terlibat dalam agresi sejak hari pertama".

Berbicara kepada para wartawan di Istanbul, saat akan melanjutkan pembicaraan diplomatik, Araghchi memperingatkan keterlibatan AS dalam konflik Israel-Iran akan "sangat berbahaya".

Iran tolak perundingan nuklir sampai 'agresi Israel dihentikan'

Iran menyatakan tidak akan melanjutkan pembicaraan mengenai program nuklirnya selama mereka diserang Israel. Pernyataan ini muncul beberapa jam setelah Menteri Pertahanan Israel memperingatkan akan adanya konflik "berkepanjangan" dengan Republik Islam tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bertemu dengan para diplomat Eropa di Jenewa pada Jumat (20/06) yang mendesaknya untuk menghidupkan kembali upaya diplomatik dengan AS terkait program nuklir negaranya.

Dalam pidato video, Kepala Staf Tentara Israel Eyal Zamir menyatakan negaranya harus bersiap menghadapi "kampanye yang berkepanjangan"

Pertempuran sengit antara Iran dan Israel berlanjut hingga Sabtu (21/06), setelah militer Israel mengumumkan gelombang serangan baru yang menargetkan lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal Iran.

Iran, Israel, nuklir

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Demonstrasi anti-Israel di Teheran, Iran, pada 20 Juni 2025.

Ini merupakan respons Israel setelah Iran meluncurkan rudal ke arah Israel tengah.

Ledakan terdengar di dekat Tel Aviv, dengan penangkisan rudal terlihat di atas kota terbesar kedua Israel tersebut.

Laporan menyebutkan sebuah bangunan di Israel tengah terbakar akibat serpihan rudal yang jatuh.

Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan pada Sabtu (21/06) dini hari bahwa seorang remaja 16 tahun tewas dan dua lainnya terluka dalam serangan Israel di kota Qom, selatan Teheran.

Mereka juga melaporkan serangan Israel kembali menargetkan fasilitas nuklir di kota Isfahan.

Berunding jika 'agresi Israel dihentikan'

Pada Jumat (21/06) Araghchi menyatakan bahwa Iran hanya akan mempertimbangkan perundingan terkait nuklirnya setelah "agresi Israel dihentikan".

Ia berkeras bahwa program nuklir Iran bersifat damai, dan serangan Israel melanggar hukum internasional. Ia menambahkan, Iran akan terus "menggunakan hak sahnya untuk membela diri".

"Saya tegaskan bahwa kemampuan pertahanan Iran tidak dapat dinegosiasikan," katanya.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, meninggalkan pertemuan tentang program nuklir Teheran di Hotel Intercontinental di Jenewa pada 20 Juni 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, meninggalkan pertemuan tentang program nuklir Iran di Hotel Intercontinental di Jenewa pada 20 Juni 2025.

Araghchi dijadwalkan menghadiri putaran pembicaraan lain pada Sabtu di Istanbul, bersama perwakilan Liga Arab sepanjang akhir pekan ini.

Sementara itu, Duta Besar Israel untuk PBB menuduh Iran memiliki "agenda genosida" dan menimbulkan ancaman berkelanjutan, serta menambahkan Israel tidak akan berhenti menargetkan fasilitas nuklir sampai semuanya "dibongkar".

Dalam wawancara dengan surat kabar Jerman Bild yang diterbitkan pada Sabtu (21/06), Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa'ar mengatakan negaranya telah memundurkan kemampuan nuklir Iran setidaknya selama dua tahun.

Ia juga menambahkan serangan akan terus berlanjut.

Kerusakan terlihat setelah sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran dilaporkan menghantam Bat Yam, selatan Tel Aviv, Israel, pada 20 Juni 2025.

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Kerusakan terlihat setelah sebuah rudal yang diluncurkan dari Iran dilaporkan menghantam Bat Yam, selatan Tel Aviv, Israel, pada 20 Juni 2025.

Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran memiliki waktu "maksimal" dua pekan untuk menghindari kemungkinan serangan udara Amerika, mengisyaratkan bahwa ia bisa membuat keputusan sebelum batas waktu 14 hari yang ditetapkannya pada Kamis.

"Saya memberi mereka batas waktu, dan saya akan katakan dua pekan adalah maksimal," ujar Trump kepada wartawan.

Tujuannya, katanya, adalah "untuk melihat apakah orang-orang itu sadar".

Presiden AS juga menepis pembicaraan Jenewa antara Araghchi dan para menteri luar negeri dari Inggris, Prancis, Jerman, serta Uni Eropa.

"Iran tidak ingin berbicara dengan Eropa," kata Trump.

"Mereka ingin berbicara dengan kami. Eropa tidak akan bisa membantu dalam hal ini."

Menteri Luar Negeri UK David Lammy mengatakan AS telah memberikan "jendela waktu singkat" untuk menyelesaikan krisis di Timur Tengah yang "berbahaya dan sangat serius".

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyatakan para menteri telah mengundang menteri Iran untuk "mempertimbangkan negosiasi dengan semua pihak, termasuk Amerika Serikat, tanpa menunggu penghentian serangan".

Barrot menambahkan bahwa "tidak ada solusi definitif melalui cara militer untuk masalah nuklir Iran" dan memperingatkan bahwa "berbahaya jika ingin memaksakan perubahan rezim" di Iran.

Israel serang reaktor nuklir Iran di Arak

Sehari sebelumnya, jet tempur Israel telah mengebom reaktor nuklir yang sedang dibangun di Iran tengah dalam gelombang serangan udara pada hari ketujuh konflik antara kedua negara.

Militer Israel mengatakan mereka menargetkan reaktor air berat di Arak demi menghentikan penggunaannya untuk "pengembangan senjata nuklir".

Badan Tenaga Atom Internasional mengonfirmasi reaktor air berat itu terkena serangan dan memastikan reaktor itu tidak mengandung bahan nuklir.

Bahan bakar bekas dari reaktor air berat mengandung plutonium yang cocok untuk bom nuklir.

Laporan triwulanan terbaru pengawas nuklir global pada akhir Mei mengatakan pekerjaan konstruksi sedang berlangsung di Arak.

Iran menargetkan fasilitas nuklir tersebut akan diresmikan tahun ini dan mulai beroperasi pada 2026.

Citra satelit menunjukkan adanya lubang besar di atap kubah gedung reaktor Arak di Iran

Sumber gambar, Maxar Technologies/Getty Images

Keterangan gambar, Citra satelit menunjukkan adanya lubang besar di atap kubah gedung reaktor Arak di Iran

Rekaman dari serangan yang dirilis oleh militer Israel menunjukkan sebuah bom menghantam atap kubah gedung reaktor dan beberapa ledakan besar di Arak, yang berjarak sekitar 250 km barat daya Teheran dan juga dikenal sebagai Khondab.

Siaran TV pemerintah Iran menunjukkan dua gumpalan besar asap putih mengepul dari fasilitas tersebut.

Siaran itu juga mengutip pernyataan pejabat Iran bahwa lokasi tersebut telah "diamankan terlebih dahulu" dan bahwa "tidak ada kontaminasi yang diakibatkan oleh serangan tersebut".

Citra satelit menunjukkan adanya lubang besar di atap gedung reaktor.

Militer Israel juga mengumumkan pada Kamis (19/06) bahwa jet tempurnya telah menyerang "lokasi pengembangan senjata nuklir" di Natanz.

Ini adalah lokasi fasilitas nuklir Iran yang memproduksi uranium yang diperkaya, yang digunakan untuk membuat bahan bakar reaktor untuk pembangkit listrik.

Jika diperkaya lebih lanjut, uranium ini dapat digunakan dalam senjata nuklir.

Fasilitas nuklir arak,

Sumber gambar, Maxar Technologies/Getty Images

Keterangan gambar, Citra Satelit Maxar menunjukkan kerusakan terlihat pada fasilitas reaktor air berat Arak setelah serangan udara baru-baru ini.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump disebut telah menyetujui rencana untuk menyerang Iran, kendati belum membuat keputusan akhir apakah akan menyerang negara itu, mitra BBC di AS, CBS, melaporkan.

Dalam jumpa pers di Gedung Putih, sekretaris pers Karoline Leavitt menyampaikan pesan langsung dari Presiden AS Donald Trump.

Menurut Leavitt, Trump berpesan: "Berdasarkan fakta bahwa ada kemungkinan besar negosiasi yang mungkin terjadi atau tidak dengan Iran dalam waktu dekat, saya akan membuat keputusan apakah akan melakukannya atau tidak dalam dua minggu ke depan."

Koresponden BBC di Amerika Utara, Anthony Zurcher, mencatat kegemaran Trump menggunakan dua minggu untuk mempertimbangkan sesuatu.

Contohnya tiga setengah pekan lalu, Trump mengatakan Rusia punya waktu dua pekan untuk menunjukkan kesediaannya mengakhiri perang di Ukraina atau menghadapi sanksi ekonomi baru. Hingga sekarang, Trump belum mengumumkan keputusannya.

Rekaman siaran TV pemerintah Iran menunjukkan asap mengepul dari fasilitas Arak

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Rekaman siaran TV pemerintah Iran menunjukkan asap mengepul dari fasilitas Arak

Sepekan lalu, Trump mengatakan bahwa dalam waktu sekitar dua minggu AS akan mengirimkan surat yang memberi tahu mitra dagang Amerika tentang tingkat tarif baru mereka.

Pada Mei, Trump menetapkan jangka waktu "dua hingga tiga minggu" untuk bea masuk baru. Tapi, batas waktu tersebut berlalu tanpa tindakan apa pun.

Pada 2020, Trump mengatakan ia akan mengungkap "rencana perawatan kesehatan yang lengkap dan menyeluruh" dalam waktu dua minggu. Rencana itu tidak pernah diwujudkan.

Rencana dua minggu ditetapkan Trump pada berbagai topik, mulai dari infrastruktur hingga pajak hingga penarikan diri dari Perjanjian Iklim Paris.

Trump menindaklanjuti beberapa rencananya. Namun sejarah menunjukkan bahwa bagi Trump, tenggat dua minggu jarang dipenuhi.

Rudal ditembakkan dari Iran menuju Israel pada 18 Juni 2025, menandai hari keenam pertempuran antara kedua negara.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Rudal ditembakkan dari Iran menuju Israel pada 18 Juni 2025, menandai hari keenam pertempuran antara kedua negara.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegur Trump dalam pidato yang direkam pada Rabu (19/06), dengan mengatakan bahwa "setiap intervensi militer AS" akan memakan biaya besar.

Dia kemudian menambahkan: "Bangsa Iran tidak akan menyerah."

Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan telah berkomunikasi dengan Presiden AS Donald Trump dan Pedana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menurut kantor berita Reuters.

Putin kemudian menyampaikan gagasan Moskow untuk menyelesaikan konflik. Putin menegaskan, solusi tersebut juga akan memastikan Iran tetap memiliki akses pada energi nuklir sipil.

Dalam foto yang disediakan oleh Kantor Pemimpin Tertinggi Iran ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyampaikan pidato di siaran televisi nasional pada 18 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dalam foto yang disediakan oleh Kantor Pemimpin Tertinggi Iran ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyampaikan pidato di siaran televisi nasional pada 18 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Saling serang di dunia maya

Sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyerukan "perang dimulai" melalui serangkaian unggahan di media sosial X.

Dia juga menulis dalam unggahan berbeda bahwa Iran "tidak akan pernah berkompromi dengan Zionis".

"Kami tidak akan menunjukkan belas kasihan kepada Zionis," demikian bunyi terjemahan unggahan tersebut.

Unggahan Khamenei mengemuka setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut soal keberadaan dirinya.

Asap menyelimuti langit di atas Teheran, Iran, setelah ledakan di ibu kota akibat serangan militer Israel terhadap target-target Iran, pada 18 Juni 2025.

Sumber gambar, Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Asap menyelimuti langit di atas Teheran, Iran, setelah ledakan di ibu kota akibat serangan militer Israel terhadap target-target Iran, pada 18 Juni 2025.
Sistem pertahanan udara 'Kubah Besi' milik Israel menangkal gempuran rudal Iran ke Tel Aviv, pada Selasa (17/06).

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Sistem pertahanan udara 'Kubah Besi' milik Israel menangkal gempuran rudal Iran ke Tel Aviv, pada Selasa (17/06).

Trump menulis: "Kami tahu persis di mana sosok yang disebut 'Pemimpin Tertinggi' itu bersembunyi."

"Ia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana - Kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya untuk saat ini."

Trump kemudian menulis dalam unggahan berikutnya: "MENYERAH TANPA SYARAT!"

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa "semua orang harus segera mengungsi dari Teheran".

Baca juga:

Hingga saat ini pertikaian antara Iran maupun Israel tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Justru sebaliknya, kedua kubu terus bertukar serangan rudal balistik.

Kepala staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi, memperingatkan penduduk Israel "terutama Tel Aviv dan Haifa perlu dievakuasi sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawa mereka".

Di sisi lain, tentara Israel memperingatkan penduduk di Distrik 18 Teheran bahwa akan ada serangan terhadap infrastruktur militer Iran di wilayah tersebut.

Beberapa saat setelah peringatan disampaikan, ledakan telah dilaporkan terjadi di beberapa bagian ibu kota Iran, menurut laporan media Iran seperti disampaikan kantor berita Reuters.

Asap mengepul setelah Israel dilaporkan menyerang sebuah gedung yang digunakan oleh media pemerintah Iran di Teheran, pada 16 Juni 2025.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Asap mengepul setelah Israel dilaporkan menyerang sebuah gedung yang digunakan oleh media pemerintah Iran di Teheran, pada 16 Juni 2025.

Hingga Rabu (18/06) Kementerian Kesehatan Iran mengatakan sedikitnya 224 orang tewas dan lebih dari 1.200 orang terluka dalam serangan udara Israel sejak Jumat (13/06).

Adapun Israel mengatakan sedikitnya 24 orang tewas akibat serangan Iran selama periode yang sama.

Perhitungan berbeda disampaikan Organisasi nirlaba Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA) yang melacak korban sejak serangan dimulai pada Jumat (13/06).

Menurut HRANA, sebanyak 224 warga sipil tewas, dengan 188 orang terluka.

Sebanyak 109 anggota militer tewas dan 123 orang terluka, kata organisasi itu.

HRANA juga mencatat sebanyak 119 orang tewas, dan 335 orang terluka, yang belum teridentifikasi.

Total korban di Iran, menurut HRANA, mencapai 452 orang tewas dan 646 orang terluka.

peta lokasi serangan di Iran
Kobaran api terlihat di depot minyak Sharan di Teheran setelah gempuran Israel, pada Minggu (15/06).

Sumber gambar, WANA VIA REUTERS

Keterangan gambar, Kobaran api terlihat di depot minyak Sharan di Teheran setelah gempuran Israel, pada Minggu (15/06).

Trump sebelumnya mengisyaratkan bahwa ia dapat mencapai kesepakatan diplomatik dengan Iran guna mengakhiri konflik. "Begitu saya meninggalkan tempat ini, kami akan melakukan sesuatu," kata Trump merujuk KTT G7 di Kanada. KTT tersebut akan berakhir pada Selasa (17/06).

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan di media sosial bahwa jika Trump "sungguh-sungguh dalam berdiplomasi" dan ingin menghentikan pertempuran, "Hanya perlu satu panggilan telepon dari Washington untuk membungkam" Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Namun, ia memperingatkan bahwa jika AS "terperosok" dalam konflik, hal itu akan "menghancurkan prospek solusi yang dinegosiasikan".

rudal Iran
Kawasan permukiman di Ramat Gan, dekat Tel Aviv, Israel, hancur akibat gempuran rudal Iran, pada Sabtu (14/06).

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Kawasan permukiman di Ramat Gan, dekat Tel Aviv, Israel, hancur akibat gempuran rudal Iran, pada Sabtu (14/06).

Israel membuat klaim bahwa serangannya telah mengenai ratusan lokasi, termasuk markas besar Kementerian Pertahanan Iran, Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan, fasilitas nuklir Natanz, dan fasilitas nuklir Isfahan.

Rudal Israel juga menghantam kilang minyak dan kapal tanker minyak Shahran, di Iran.

Video yang dipublikasikan oleh warga Iran di media sosial dan telah diautentikasi oleh BBC Verify menunjukkan kebakaran besar di depot minyak sebelah barat laut ibu kota Teheran itu.

Antrean kendaraan mengisi bahan bakar di Iran

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Terjadi antrean kendaraan untuk mengisi bahan bakar di Teheran, kemarin.

Dari pantauan video-video yang diunggah di media sosial dalam beberapa hari terakhir menunjukkan antrean bahan bakar dan lalu lintas saat orang-orang mencoba meninggalkan ibu kota.

Di sisi lain, pesan-pesan Israel yang meminta orang-orang untuk mengungsi dari kota-kota merupakan bagian dari "operasi psikologis musuh", kata juru bicara pemerintah Iran.

Fatemeh Mohajerani juga menegaskan bahwa internet Iran telah "diperlambat" untuk "memerangi serangan siber" di negara tersebut.

Menteri Pertahanan Israel telah memperingatkan bahwa penduduk Teheran akan "membayar harga" atas serangan Iran terhadap warga Israel dan meminta penduduk untuk mengungsi.

Rencana membunuh Ayatollah Khamenei dan pergantian rezim

Di tengah baku serang antara Israel dan Iran, muncul kabar bahwa Presiden AS Donald Trump menolak rencana Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menurut tiga pejabat AS kepada CBS News, mitra BBC di AS.

Seorang pejabat AS mengatakan Israel memiliki kesempatan untuk membunuh Khamenei. Namun, Trump menyampaikan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahwa itu bukan "ide yang bagus".

Para pejabat itu mengatakan percakapan antara Netanyahu dan Trump terjadi setelah Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pekan lalu. Penolakan Trump terhadap usulan tersebut pertama kali dilaporkan oleh kantor berita Reuters.

Rudal balistik Iran menghantam kawasan permukiman di Rishon LeZion, dekat Tel Aviv, Israel, Sabtu (14/06).

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Rudal balistik Iran menghantam kawasan permukiman di Rishon LeZion, dekat Tel Aviv, Israel, Sabtu (14/06).
Petugas tanggap darurat bekerja di tengah puing-puing bangunan setelah serangan rudal Iran di kota Bat Yam, Israel, sebelah selatan Tel Aviv, pada dini hari tanggal 15 Juni 2025.

Sumber gambar, ACK GUEZ/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Petugas tanggap darurat bekerja di tengah puing-puing bangunan setelah serangan rudal Iran di kota Bat Yam, Israel, Minggu dini hari (15/06).
Petugas mencari di antara puing-puing bangunan setelah serangan rudal Iran di kota Bat Yam, Israel, sebelah selatan Tel Aviv, pada dini hari tanggal 15 Juni 2025. Sirene dan ledakan serangan udara terdengar di Yerusalem dan Tel Aviv pada dini hari tanggal 15 Juni, kata wartawan AFP, saat Israel dan Iran saling tembak untuk hari ketiga.

Sumber gambar, JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Petugas mencari di antara puing-puing bangunan setelah serangan rudal Iran di kota Bat Yam, Israel, sebelah selatan Tel Aviv, pada Minggu dini hari (15/06).

Selama wawancara dengan Fox News, Netanyahu tidak secara langsung mengonfirmasi atau membantah laporan Reuters.

"Ada begitu banyak laporan palsu tentang percakapan yang tidak pernah terjadi dan saya tidak akan membahasnya," katanya. "Tetapi saya dapat memberi tahu Anda bahwa saya pikir kami melakukan apa yang perlu kami lakukan. Saya pikir Amerika Serikat tahu apa yang baik untuk Amerika Serikat dan saya tidak akan membahasnya," kata Netanyahu.

Baca juga:

Dalam wawancara dengan Fox News, Benjamin Netanyahu ditanya apakah perubahan rezim di Iran merupakan bagian dari upaya Israel.

"Itu bisa jadi hasilnya, karena rezim Iran sangat lemah," katanya.

Netanyahu mengeklaim rezim Iran saat ini tidak "memiliki rakyat", dan mengatakan "80% rakyat" ingin menggulingkan pemerintah Iran.

Ia juga mengatakan, "rakyat Persia dan orang Yahudi telah memiliki persahabatan lama", dan menambahkan, "keputusan untuk bertindak, untuk bangkit saat ini adalah keputusan rakyat Iran".

Rudal Iran dan pencegat Israel menerangi langit di atas Beirut, Lebanon, pada 14 Juni 2025. Iran meluncurkan beberapa rudal ke sasaran Israel, yang memicu upaya intersepsi di atas beberapa ibu kota regional, termasuk Beirut.

Sumber gambar, NAEL CHAHINE/Middle East Images/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Rudal Iran dan pencegat Israel menerangi langit di atas Beirut, Lebanon.
Jejak proyektil terlihat di langit pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran. Menteri luar negeri Iran mengatakan negara itu akan menanggapi "dengan tegas dan proporsional" gelombang serangan yang dilancarkan Israel sejak dini hari tanggal 13 Juni. Serangan itu menargetkan beberapa lokasi militer, ilmiah, dan perumahan, serta pejabat senior pemerintah.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images

Keterangan gambar, Jejak proyektil terlihat di langit pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran.
Sebuah ekskavator membersihkan puing-puing dari bangunan tempat tinggal yang hancur akibat serangan Israel hari ini di Teheran, pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran. Pagi ini, Iran dilanda serangkaian serangan udara Israel yang menargetkan lokasi militer dan nuklir, serta pejabat tinggi militer.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images

Keterangan gambar, Sebuah ekskavator membersihkan puing-puing dari bangunan tempat tinggal yang hancur akibat serangan Israel hari ini di Teheran, Iran Jumat (13/06).

Netanyahu mengatakan bahwa, kalaupun Iran setuju untuk berhenti menembakkan rudal ke Israel sebagai bagian dari kesepakatan apa pun, itu tidak berarti Teheran akan berhenti mengembangkan kemampuan nuklir.

"Masalahnya di sini bukan de-eskalasi. Masalahnya di sini bukan gencatan senjata. Masalahnya adalah menghentikan hal-hal yang mengancam kelangsungan hidup kita," katanya.

Sebagai pengingat, Iran telah berulang kali membantah bahwa mereka memiliki program senjata nuklir.

Iran balas serangan Israel

Asap membumbung di tengah serangan rudal Iran ke Tel Aviv, Israel, pada Jumat (13/06).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Asap membumbung di tengah serangan rudal Iran ke Tel Aviv, Israel, pada Jumat (13/06).

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran membalas serangan Israel dengan melancarkan gempuran rudal balistik terhadap "puluhan target, pusat militer, dan pangkalan udara" di Israel. Iran menamai operasi itu "True Promise 3".

Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei memperingatkan bahwa pasukan Iran akan "bertindak dengan kekuatan" terhadap Israel.

Dalam tulisan di media sosial X, ia memperingatkan Israel "tidak akan lolos tanpa cedera dari kejahatan ini".

Di Yerusalem dan Tel Aviv, terdapat laporan bunyi ledakan dan kilatan cahaya terang saat sistem pertahanan 'Kubah Besi' Israel berusaha mencegat serangan itu.

Beberapa rudal Iran dilaporkan menghantam beberapa tempat, termasuk di Tel Aviv dan Ramat Gan, kota dekat Tel Aviv.

Serangan rudal Iran menghantam bangunan di Ramat Gan, Israel, pada Jumat (13/06).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Serangan rudal Iran menghantam bangunan di Ramat Gan, Israel, pada Jumat (13/06).
Sejumlah korban luka-luka akibat serangan rudal Iran ke Kota Ramat Gan, Israel, pada Jumat (13/06).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Sejumlah korban luka-luka akibat serangan rudal Iran ke Kota Ramat Gan, Israel, pada Jumat (13/06).
Sistem pertahanan udara Kubah Besi menangkal serangan rudal Iran di Tel Aviv, pada Jumat (13/06).

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Sistem pertahanan udara Kubah Besi menangkal sejumlah serangan rudal Iran di Tel Aviv, pada Jumat (13/06).

Menurut juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Avichay Adraee, Iran meluncurkan kurang dari 100 rudal dalam dua gelombang ke Israel.

Dalam sebuah posting di X, ia mengeklaim sebagian besar rudal Iran berhasil dicegat atau gagal mencapai target.

"Ada sejumlah kecil bangunan yang terkena serangan, beberapa karena pecahan peluru dari operasi intersepsi," tambahnya.

Sebanyak 40 orang dirawat di rumah sakit Israel setelah serangan Iran—dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Israel gempur puluhan lokasi di Iran

Kepala Garda Revolusi Iran, Hossein Salami, dilaporkan tewas dalam serangan Israel.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Kepala Garda Revolusi Iran, Hossein Salami, dilaporkan tewas dalam serangan Israel.

Militer Israel memulai serangan ke puluhan lokasi di berbagai wilayah Iran, pada Jumat (13/06).

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan serangan Israel "menyasar ke jantung program pengayaan nuklir Iran". Dalam serangan itu, kepala Garda Revolusi Iran dilaporkan tewas.

"Israel meluncurkan Operasi Rising Lion, operasi militer yang ditargetkan untuk menangkal ancaman Iran terhadap kelangsungan hidup Israel," kata Netanyahu pada Jumat (13/06).

"Operasi ini akan terus berlanjut sampai berapapun hari yang diperlukan untuk menghilangkan penyebarannya."

"Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah mengambil langkah-langkah yang belum pernah diambil sebelumnya, langkah-langkah untuk mempersenjatai uranium yang diperkaya ini," tambahnya.

"Jika tidak dihentikan, Iran dapat memproduksi senjata nuklir dalam waktu yang sangat singkat. Bisa jadi satu tahun. Bisa jadi dalam beberapa bulan, kurang dari satu tahun. Ini adalah bahaya yang jelas dan nyata bagi kelangsungan hidup Israel."

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan serangan ke sejumlah lokasi di Iran mengungkap "sifat keji" Israel.

Dia menambahkan, Israel "telah menyiapkan nasib pahit untuk dirinya sendiri, yang pasti akan diterimanya" dengan melakukan serangan ke Iran.

Seorang juru bicara angkatan bersenjata Iran mengatakan bahwa AS dan Israel akan membayar "harga yang mahal" untuk serangan tersebut.

"Angkatan bersenjata pasti akan menanggapi serangan Zionis ini," kata juru bicara militer Iran, Abolfazl Shekarchi, sebagaimana dikutip kantor berita Reuters.

Presiden AS Donald Trump mengaku telah mengetahui rencana Israel menyerang Iran. Namun, dia menegaskan bahwa militer AS tidak berperan dalam operasi tersebut.

"Iran tidak dapat memiliki bom nuklir dan kami berharap untuk kembali ke meja perundingan. Kita lihat saja nanti," katanya kepada Fox News.

"Ada beberapa orang dalam kepemimpinan yang tidak akan kembali," katanya, seraya mencatat bahwa AS telah mengonfirmasi bahwa beberapa pemimpin Iran telah tewas dalam serangan tersebut.

Kepala Garda Revolusi dan ilmuwan nuklir Iran dilaporkan tewas

Kepala Garda Revolusi Iran, Hossein Salami, tewas dalam serangan Israel, demikian dilaporkan media pemerintah Iran.

Ia termasuk di antara beberapa pemimpin senior yang tewas dalam serangan Israel.

Hossein Salami mungkin adalah pemimpin Iran paling senior yang tewas dalam serangan Israel.

Salami pertama kali bergabung dengan Garda Revolusi pada 1980 saat Perang Iran-Irak.

Seiring dengan kenaikan pangkatnya di militer, ia makin dikenal karena retorikanya yang keras terhadap AS dan sekutu-sekutunya.

Bendera Iran dan Israel

Sumber gambar, Future Publishing via Getty Images

Sejak tahun 2000-an, ia telah dikenai sanksi oleh Dewan Keamanan PBB dan AS atas keterlibatannya dalam program nuklir dan militer Iran.

Dia menjabat sebagai kepala Garda Revolusi pada 2024 ketika Iran melancarkan serangan militer langsung pertamanya terhadap Israel, dengan mengerahkan lebih dari 300 pesawat nirawak dan rudal.

Ketika ketegangan dengan Israel meningkat dalam beberapa hari terakhir, Salami mengatakan pada Kamis (12/06) bahwa Iran "sepenuhnya siap untuk segala skenario, situasi, dan keadaan".

"Musuh mengira mereka dapat melawan Iran dengan cara yang sama seperti mereka melawan warga Palestina yang tak berdaya yang dikepung Israel," katanya. "Kami teruji dalam perang dan berpengalaman."

Selain Hossein Salami, media pemerintah Iran menyebutkan bahwa Mohammad Bagheri, kepala staf Angkatan Bersenjata Iran, tewas dalam serangan Israel.

Korban berikutnya adalah Gholamali Rashid, komandan Markas Pusat Khatam-al Anbiya—perusahaan konstruksi yang bernaung di bawah Korps Garda Revolusi Iran.

Dua ilmuwan nuklir senior juga tewas dalam serangan Israel.

Salah satunya adalah Fereydoon Abbasi, mantan kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI). AEOI bertanggung jawab atas fasilitas nuklir Iran.

Abassi selamat dari upaya pembunuhan di Teheran pada 2010.

Sosok berikutnya adalah Mohammad Mehdi Tehranchi, rektor Universitas Islam Azad di Teheran. Dia disebut-sebut terlibat dalam program senjata nuklir Iran.

Lokasi mana saja yang menjadi target Israel?

Seorang pejabat militer Israel mengatakan bahwa serangan itu diarahkan ke puluhan lokasi di berbagai wilayah Iran. Targetnya adalah lokasi rudal jarak jauh Iran dan segala fasilitas yang terkait dengan program nuklir, kata pejabat itu.

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengungkap puluhan pesawat tempur terlibat dalam "tahap pertama" terhadap "target nuklir" di berbagai wilayah Iran.

Salah satu lokasi yang menjadi target, kata Netanyahu, adalah fasilitas pengayaan uranium di Kota Natanz, sekitar 225 km sebelah selatan Teheran, ibu kota Iran.

Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa markas besar Garda Revolusi di Teheran turut menjadi sasaran serangan Israel.

Media lokal juga melaporkan api dan asap keluar dari lokasi tersebut.

Garda Revolusi Islam adalah cabang Angkatan Bersenjata Iran dan salah satu organisasi paling kuat di negara itu.

Fasilitas nuklir Iran

Iran telah lama menyatakan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil. Iran memiliki beberapa fasilitas nuklir, beberapa di antaranya telah menjadi sasaran serangan Israel.

Namun, banyak negara—serta Badan Energi Atom Internasional (IAEA)—tidak yakin bahwa program nuklir Iran hanya untuk tujuan sipil.

Pekan ini, Dewan Gubernur IAEA secara resmi menyatakan Iran melanggar kewajiban nonproliferasinya untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.

Mereka mengutip "banyak kegagalan" Iran untuk memberikan jawaban lengkap tentang keberadaan bahan nuklir yang tidak dilaporkan serta persediaan uranium yang telah diperkaya.

Laporan IAEA sebelumnya menyebut Iran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60%, cukup mendekati uranium tingkat senjata untuk membuat sembilan bom nuklir.

Iran mengatakan resolusi itu "politis".

Sebuah bangunan terlihat rusak setelah serangan Israel di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025.

Sumber gambar, WANA via REUTERS

Keterangan gambar, Sebuah bangunan terlihat rusak setelah serangan Israel di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025.

Berdasarkan keterangan sejumlah saksi mata sebagaimanadilaporkan kantor berita Reuters yang mengutip Nour News—lembaga pemberitaan di bawah pemerintah Iran—ledakan terdengar di timur laut Teheran.

Reporter BBCjuga mendapat informasi dari orang-orang di Teheran yang mengonfirmasi ledakan tersebut.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Israel telah menyerang area pemukiman di Teheran dan beberapa kota lainnya.

Kantor berita Reuters mengutip stasiun TV pemerintah Iran yang menyebutkan bahwa sejumlah anak-anak termasuk di antara korban tewas.

Kondisi darurat di Israel, AS mengeklaim tidak terlibat

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menetapkan keadaan darurat di Israel.

"Setelah serangan preventif terhadap Iran, serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap Israel dan penduduk sipilnya diperkirakan akan segera terjadi," begitu bunyi pengumuman keadaan darurat tersebut.

Akibat serangan itu, semua penerbangan di bandara internasional utama di Teheran telah ditangguhkan, menurut media pemerintah Iran.

Bandara Internasional Imam Khomeini terletak sekitar 30 km di barat daya ibu kota Iran.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio membuat klaim bahwa negaranya tidak terlibat dalam serangan tersebut.

"Malam ini, Israel mengambil tindakan sepihak terhadap Iran. Kami tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran dan prioritas utama kami adalah melindungi pasukan Amerika di kawasan tersebut," kata Rubio.

"Israel memberi tahu kami bahwa mereka yakin tindakan ini diperlukan untuk membela diri," ujarnya.

"Presiden Trump telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi pasukan AS dan tetap berhubungan erat dengan mitra regional kami. Saya tegaskan: Iran tidak boleh menargetkan kepentingan atau personel AS," kata Rubio.

Berita ini akan diperbarui secara berkala