Puluhan WNI yang dievakuasi dari Iran dipulangkan secara bertahap ke Indonesia

Proses evakuasi WNI dari Iran

Sumber gambar, Detikcom/Kementerian Luar Negeri

Keterangan gambar, Proses evakuasi WNI dari Iran.
Waktu membaca: 15 menit

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyebut 93 WNI, tiga staf KBRI, dan seorang warga Iran telah dievakuasi dari Iran. Mereka kini berada di Baku, Azerbaijan, dan akan dipulangkan secara bertahap mulai Senin (23/06) sore waktu setempat.

Direktur Perlindungan WNI Kemenlu, Judha Nugraha, mengatakan sebanyak 29 orang akan dipulangkan pada tahap pertama.

"Mereka dijadwalkan akan tiba di Bandara Soetta besok, Selasa [24/06] sore hari," kata Judha dalam pesan tertulis yang diterima BBC News Indonesia.

Mereka akan dipulangkan menggunakan pesawat komersial.

Judha juga mengatakan bahwa pemulangan tahap berikutnya akan dilaksanakan Rabu (25/06) hingga Kamis (26/06).

Sebelumnya, Kemenlu sempat mengumumkan proses evakuasi WNI yang berada di Iran dilakukan melalui Azerbaijan.

Di antara mereka yang akan dipulangkan adalah 93 WNI, tiga staf KBRI, dan satu orang warga negara Iran yang merupakan pasangan seorang WNI.

Asap membumbung setelah serangan Israel yang dilaporkan terhadap sebuah gedung yang digunakan oleh Jaringan Berita Republik Islam Iran, bagian dari stasiun TV pemerintah Iran, di Teheran, Iran pada 16 Juni 2025

Sumber gambar, Stringer/Getty Images

Keterangan gambar, Asap membumbung setelah serangan Israel yang dilaporkan terhadap sebuah gedung yang digunakan oleh Jaringan Berita Republik Islam Iran, bagian dari stasiun TV pemerintah Iran, di Teheran, Iran pada 16 Juni 2025

Selain itu, Menlu Sugiono, sempat menjelaskan empat WNI yang berada di Israel juga sudah dievakuasi ke Yordania.

"Jadi kondisi semuanya dalam keadaan baik, sementara kita juga masih terus melakukan komunikasi dengan warga negara kita yang lain, dan saya akan memonitor terus proses evakuasi ini," kata Sugiono dalam keterangannya, Sabtu (21/06).

Sugiono yang sempat berkunjung ke Istanbul, Turki untuk mengikuti Konferensi Tingkat Menteri Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang ke-51 ingin agar konflik ini tak meluas.

"Ada keinginan dan kebijaksanaan untuk bisa membawa ketegangan konflik ini ke meja perundingan," kata Sugiono.

386 WNI di Iran

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pemerintah Indonesia telah mengungkap rencana mengevakuasi ratusan WNI di Iran, setelah Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, mengumumkan peningkatan status Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran dari Siaga II menjadi Siaga I.

Saat ini ada 386 warga negara Indonesia (WNI) di Iran, mayoritas dari mereka adalah pelajar yang menempuh studi di Kota Qom.

Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan eskalasi konflik antara Iran dan Israel, khususnya peningkatan intensitas serangan Israel dalam dua hari terakhir yang tidak hanya menargetkan fasilitas militer tetapi juga sipil.

Sugiono menyatakan seiring peningkatan level siaga ini pemerintah Indonesia akan menyiapkan langkah kontijensi terkait proses evakuasi.

"Kami juga sudah melakukan komunikasi dengan negara tetangga Iran, sehingga pada saat evakuasi nanti, warga negara kita diberikan kemudahan melewati perbatasan di tengah situasi yang tidak memungkinkan," ujar Sugiono, seperti dikutip dari Kompas.com, Kamis (19/06).

Sebanyak 580 WNI kini terjebak konflik Iran-Israel. Dari jumlah itu, sebanyak 386 WNI tersebar di 11 kota di Iran dan 194 lainnya di Israel.

BBC News Indonesia mengumpulkan kesaksian mereka menyusul eskalasi pertikaian kedua negara yang dimulai sejak Jumat (13/06).

'Minta doanya saja'

"Minta doanya saja," ujar Fatimah, WNI yang tinggal di Teheran dan meminta namanya disamarkan, Selasa (17/06).

Fatimah mengaku sedang terlelap saat serangan udara Israel pertama di Teheran pada Jumat (13/06).

"Saat itu jam 3 pagi. Hari Jumat itu adalah hari libur di Iran, jadi biasanya saya baru bangun agak siang," katanya.

Fatimah mengaku "ngeri bercampur khawatir" ketika serangan terjadi. Dia langsung berusaha menghubungi teman-teman dan kerabatnya untuk saling memberi kabar.

Namun, situasinya tidak mudah.

"Sinyal kadang ada, kadang tidak. Internet juga susah. Cukup stres [karena] lama menunggu jawaban, tapi sekarang, ya, sudah, pasrah saja," ujarnya.

Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di sebuah gedung yang hancur akibat serangan Israel pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images

Keterangan gambar, Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di sebuah gedung yang hancur akibat serangan Israel pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Fatimah mengaku "sudah lama" tinggal di Teheran. Kata dia, saat ini kondisi di Teheran "mencekam" khususnya pada malam hari saat terdengar bunyi ledakan.

Meski tidak ada pengumuman resmi jam malam, Fatimah mengaku melihat pasukan keamanan menjaga beberapa lokasi.

Fatimah mengaku mendengar pernyataan Presiden AS Donald Trump dan pejabat Israel agar warga Teheran meninggalkan kota.

Meski pernyataan Trump kemudian diralat pejabat Gedung Putih, Fatimah mengakui intensitas serangan "bisa dibilang mengkhawatirkan".

"Namanya juga kondisi perang," ujar Fatimah.

Namun, Fatimah menerangkan tidak mudah mengungsi dari Teheran karena jalanan utama keluar kota macet parah.

Selain itu, adanya pembatasan jatah bensin membuat kendaraan yang terjebak macet berjam-jam seringkali kehabisan bahan bakar.

"Saya dengar ada yang mengungsi balik lagi karena macet dan kehabisan bensin," ujarnya.

Fatimah menekankan bahwa WNI di Iran dan rakyat Iran adalah orang tak berdosa yang tidak seharusnya menjadi korban perang berdasarkan tuduhan Israel.

"WNI di Iran tidak berdosa, tidak seharusnya menjadi korban kegilaan Netanyahu," ujarnya.

Rudal balistik Iran beradu dengan sistem penangkal rudal Israel di Tel Aviv, pada Senin (16/06) dini hari.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Rudal balistik Iran beradu dengan sistem penangkal rudal Israel di Tel Aviv, pada Senin (16/06) dini hari.

Terpisah, warga Indonesia lainnya di Teheran yang meminta anonimitas mengatakan ledakan terdengar hampir setiap malam sejak serangan udara dimulai.

Namun, dia mengatakan saat ini belum perlu ada evakuasi ke Indonesia.

"Mungkin untuk saat ini perlu keluar dari Teheran dulu untuk keselamatan keluarga, ke daerah utara Iran seperti Gilan atau Mazandaran yang lebih tenang," ujarnya ketika dihubungi.

"Kami dalam koordinasi dengan KBRI. Mereka membuat layanan baik."

Baca juga:

Selain 194 warga Indonesia di Israel, sebelumnya terdapat 42 WNI lain yang berziarah dan terjebak di Tel Aviv setelah Bandara Ben Gurion tutup.

Duta Besar Indonesia untuk Yordania merangkap Palestina, Ade Padmo Sarwono, mengatakan pihak KBRI Amman baru memperoleh informasi terdamparnya para WNI tersebut pada Minggu (15/06).

"Sebetulnya mereka rombongan dari Yerusalem. Kami langsung berkomunikasi dan memfasilitasi mereka untuk bisa menyeberang ke Yordania," ujar Ade, Selasa (17/06).

Foto bangunan yang menjadi sasaran serangan Israel di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025.

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Foto bangunan yang menjadi sasaran serangan Israel di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025.

Ade mengakui proses pemulangan para WNI itu memerlukan waktu. Pada Minggu (15/06), sirene di perbatasan Israel-Yordania sempat menyala karena adanya serangan rudal dari Iran sehingga rombongan harus menunggu.

"Kira-kira hampir sejam lebih, menunggu situasi kondusif," kata Ade.

Namun, setelah melalui proses pemindahan bus dan visa-on-arrival, para WNI itu akhirnya tiba di Yordania pada Minggu (15/06).

"Mereka sudah tiga hari ini di Amman. Insya Allah hari ini bisa terbang, kita masih pantau."

157 mahasiswa terjebak di Aravah, Israel

Kementerian Luar Negeri mencatat ada 194 WNI yang tercatat berada di Israel. Ade menjelaskan, mayoritas dari jumlah itu adalah pelajar Indonesia yang sedang magang di wilayah Arava, selatan Israel.

"Yang jadi perhatian kita adalah 157 siswa yang sedang magang. Seharusnya mereka sudah pulang minggu lalu, tetapi bandara Tel Aviv ditutup. Mereka [sekarang] masih menunggu kapan bandara dibuka," ujar Ade.

"Kami terus memantau dan berkomunikasi dengan mereka."

Meski sejauh ini belum ada permohonan evakuasi, Ade mengatakan KBRI Amman siap memfasilitasi para WNI di Israel jika dibutuhkan.

Menurut Ade, KBRI Amman sudah memiliki pengalaman memulangkan 8 WNI dari Israel pada tahun lalu.

"Hanya memang tantangannya adalah—seperti yang kita ketahui—kita tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Jadi proses evakuasi memerlukan waktu," ujar Ade.

Api dan asap membumbung ke langit setelah serangan Israel terhadap depot minyak Shahran pada 15 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Sumber gambar, Stringer/Getty Images

Keterangan gambar, Api dan asap membumbung ke langit setelah serangan Israel terhadap depot minyak Shahran pada 15 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Di Yordania sendiri, Ade menjelaskan saat ini KBRI Amman mencatat terdapat 1.881 WNI yang sebagian besar adalah mahasiswa di kota Irbid di utara Yordania dan Amman.

Untuk saat ini, Ade mengatakan situasi di Yordania masih relatif kondusif.

"Tapi kita terus mengimbau [para WNI] untuk mengikuti imbauan dari pemerintah setempat dan tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu terkait mobilitas mereka," ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kementerian Luar Negeri, secara terpisah mengatakan terdapat delapan jamaah haji asal Indonesia di Yordania dan dua WNI peziarah di Teheran yang terjebak karena tutupnya wilayah udara dan berhentinya penerbangan.

"Mereka telah mendapat bantuan dari KBRI Amman dan KBRI Teheran," kata Judha, pada Selasa (17/06).

Baca juga:

Pemerintah Indonesia, sambung Judha, sudah mengimbau agar para WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Israel dan Palestina—termasuk untuk kunjungan ziarah—untuk menunda niat mereka.

"Sejak tahun lalu, wilayah Palestina dan Israel sudah ditetapkan Siaga 1 [level tertinggi kewaspadaan] oleh KBRI Amman," tegasnya.

Adapun di Iran, menurut Judha, KBRI Teheran sudah menetapkan status Siaga 2 sejak April 2024.

Kemenlu mencatat ada 386 WNI yang tersebar di 11 kota di Iran. Mayoritas dari jumlah tersebut berstatus sebagai pelajar di kota Qom sebanyak 258 orang.

"[Terbesar] kedua di Teheran, ada sekitar 90 WNI termasuk pelajar, pekerja migran, dan staf KBRI berikut keluarga mereka," tutur Judha.

Dalam keterangan terpisah, Kedutaan Besar Iran di Jakarta mengatakan pihaknya siap memberi bantuan dan pelayanan proses evakuasi bagi WNI.

"Jika ada upaya rencana evakuasi WNI untuk meninggalkan Iran, kami siap memberikan asistensi dan pelayanan guna mempermudah proses evakuasi ke tanah air mereka," kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi saat konferensi pers di Jakarta, Selasa, (17/06).

 Israel menutup wilayah udaranya dan menangguhkan operasi penerbangan di Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv, Israel pada 13 Juni 2025. Menurut Channel 12 Israel, wilayah udara Israel ditutup sepenuhnya hingga pemberitahuan lebih lanjut karena serangan drone balasan dari Iran.

Sumber gambar, Nir Keidar/Anadolu via Getty Image

Keterangan gambar, Israel menutup wilayah udaranya dan menangguhkan operasi penerbangan di Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv, Israel pada 13 Juni 2025.

Dikutip dari Antara Dubes mengatakan pemerintah Iran menjamin dukungan dan perlindungan para WNI yang berada di negara mereka.

Menurutnya, Kementerian Luar Negeri Indonesia dan Iran terus berkomunikasi terkait perlindungan para WNI di sana, di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan Zionis Israel.

Lebih lanjut Dubes mengatakan bahwa KBRI di Teharan terus memantau para WNI dan situasi di Iran.

Pada Jumat (13/06), pemerintah Israel menutup bandara mereka setelah melancarkan sejumlah serangan ke Iran dalam Operasi Rising Lion yang menyasar pusat nuklir, fasilitas militer, dan area berpenduduk.

Pihak Israel mengeklaim serangan pihaknya dilakukan "atas dasar keselamatan" karena Iran dituding terus mengembangkan nuklir mereka.

Iran mulai membalas serangan itu pada Jumat (13/06) malam melalui gempuran drone dan rudal balistik. Hingga berita ini diturunkan, gelombang serangan dari masing-masing negara masih terus berlangsung.

'Belum ada permohonan evakuasi'

Pada Minggu (15/06) dan Senin (16/06), BBC News Indonesia berupaya menghubungi sejumlah warga Indonesia yang berada di Iran untuk menceritakan kondisi mereka di sana, tetapi mereka memilih bungkam karena sensitivitas isu.

Jaringan internet setempat dilaporkan tidak stabil dan sangat lambat.

Dalam siaran pers pada Jumat (13/06), Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Iran mengimbau para WNI untuk "saling mengingatkan satu sama lain" terkait imbauan KBRI Teheran dan Kemenlu serta "saling menjaga komunikasi".

Petugas pemadam kebakaran Iran bekerja di lokasi bangunan tempat tinggal yang hancur akibat serangan Israel di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025.

Sumber gambar, Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Petugas pemadam kebakaran Iran bekerja di lokasi bangunan tempat tinggal yang hancur akibat serangan Israel di Teheran, Iran, pada 13 Juni 2025.

Selain itu, mereka juga meminta agar para WNI di Iran untuk "saling menenangkan dan tidak panik dalam kondisi apa pun agar memudahkan koordinasi dan melancarkan segala proses yang dilakukan KBRI Teheran dan Kemenlu."

IPI Iran juga mengingatkan agar para WNI untuk melakukan pengecekan di grup WNI di platform WhatsApp.

Pihak IPI Iran mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya para korban sipil dan tokoh penting Iran dalam serangan Israel.

Pihak IPI juga mengecam dan mengutuk serangan Israel sekaligus mengecam PBB yang mereka sebut "diam seribu bahasa" atas serangan Israel.

Baca juga:

Sementara itu, Judha mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan WNI-WNI di Iran.

"Saya sampaikan bahwa para WNI kita dalam keadaan baik, tidak ada yang menjadi korban dari serangan Israel," ujar Judha.

"Serangan yang dilakukan Israel saat menyasar instalasi-instalasi militer dan juga kepada beberapa petinggi dari Iran. Tapi tentu kita mengantisipasi bahwa eskalasi ini dapat lebih memburuk."

Berdasarkan pengamatan dari KBRI Teheran, kata Judha, situasi di Teheran masih terlihat normal meski terlihat antrean BBM yang cukup panjang di beberapa tempat.

"Tapi tidak ada panic buying. Kegiatan dan kehidupan masyarakat masih berjalan dengan normal," ujar Judha.

Pernyataan Judha ini selaras dengan laporan IPI Iran yang menyebut laporan sejumlah WNI di kota-kota besar Iran mengatakan "tidak ada perubahan yang signifikan" setelah serangan Israel.

Judha mengingatkan bahwa pihak pemerintah sejak April tahun lalu sudah mengimbau agar para WNI di Iran yang tidak memiliki kepentingan esensial untuk bisa pulang secara mandiri.

Apalagi, saat ini, konflik antara Iran dan Israel membuat wilayah udara di kawasan tersebut ditutup sehingga menghalangi penerbangan.

Ribuan orang berkumpul untuk memprotes serangan Israel terhadap Iran, setelah salat Jumat di Qom, Iran pada 13 Juni 2025.

Sumber gambar, Stringer/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Ribuan orang berkumpul untuk memprotes serangan Israel terhadap Iran, setelah salat Jumat di Qom, Iran pada 13 Juni 2025.

Terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Rolliansyah Soemirat, mengatakan untuk saat ini evakuasi belum perlu dilakukan bagi para WNI di Iran.

"Namun, kita terus melakukan pematangan rencana apabila memang [evakuasi] diperlukan apabila situasi memburuk. Tentu kita berharap situasi buruk tidak terjadi," ujar Roliansyah kepada BBC News Indonesia pada Minggu (15/06).

Rolliansyah yang dilantik sebagai Dubes RI untuk Teheran (merangkap Turkmenistan) pada 24 Maret 2025, mengatakan sejauh ini "belum ada permohonan evakuasi" dari WNI di Iran.

Di sisi lain, Rolliansyah menekankan bahwa pada akhirnya evakuasi merupakan pilihan dari para individu.

"Pemerintah pada beberapa situasi konflik di beberapa tempat lain sering mengalami situasi dimana sudah menyarankan atau bahkan menyiapkan rencana evakuasi warganegara Indonesia, tapi banyak warga negara yang memutuskan untuk tidak selakukan evakuasi. Dan tentunya pemerintah harus menghargai keputusan dari masing-masing individu tersebut," ujarnya.

Meski begitu, Rolliansyah meminta agar para WNI terus mengabarkan situasi mereka secara berkala kepada perwakilan diplomatik setempat.

Apakah konflik Iran dan Israel akan terus memanas?

Asap membubung setelah ledakan terjadi di pusat kota Teheran pada 15 Juni 2025

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Asap membubung setelah ledakan terjadi di pusat kota Teheran pada 15 Juni 2025

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Katolik Parahyangan, Idil Syawfi, menilai potensi eskalasi konflik antara Iran dan Israel "sangat tinggi".

Menurut Idil, hal ini terlihat dari upaya retaliasi Israel yang menyerang depot minyak Iran serta kantor Kementerian Luar Negeri Iran di Teheran pada Minggu (15/06).

Serangan kemudian dibalas dengan serangan misil Iran ke Haifa dan Tel Aviv.

"Jika kita melihat pernyataan terakhir Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mengirimkan pesan kepada masyarakat Iran, kita bisa tahu target utama Israel dari operasi militer ini adalah perubahan rezim di Iran," ujar Idil kepada BBC News Indonesia.

"Seperti diketahui Iran menjadi penyuplai dan pendukung bagi gerakan-gerakan yang menyerang Israel seperti Hamas, Houthi dan juga Hizbullah."

Baca juga:

Idil menilai operasi militer yang dilakukan Israel pada Jumat (13/06) lalu sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Sebagaimana diketahui, serangan tersebut menewaskan para ilmuwan dan petinggi militer Iran.

"Pada sisi lain, Iran tidak punya banyak pilihan selain merespon dengan serangan militer," ujar Idil.

Iran, menurut Idil, berhadapan dengan dua pilihan: pertama, serangan balasan tetapi terbatas untuk mengurangi eskalasi tetapi kredibilitas pemerintah buruk di mata masyarakat.

Kedua, membalas dengan lebih keras, tetapi sesuai keinginan Israel agar mendapat dukungan militer dari sekutunya, termasuk AS.

Dihubungi terpisah, pengamat Timur Tengah dari Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Kibtiah, menilai ada dua alasan mengapa Israel memutuskan untuk menyerang Iran.

"Yang pertama, popularitas Netanyahu di Israel. Ketika karier politik dia sedang tidak baik-baik saja, dia akan melakukan hal tidak terduga dan di luar nalar," ujar Tia ketika dihubungi pada Minggu (13/0).

Selain dinilai gagal menangani Hamas, masyarakat Israel juga menilai perekonomian negara merosot menyusul konflik Gaza.

Orang-orang melihat kerusakan bangunan di Nobonyad Square setelah serangan udara Israel pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Sumber gambar, Majid Saeedi/Getty Images

Keterangan gambar, Orang-orang melihat kerusakan bangunan di Nobonyad Square setelah serangan udara Israel pada 13 Juni 2025 di Teheran, Iran.

Alasan yang kedua, kata Tia, adalah Israel ingin menghentikan negosiasi antara AS dan Iran terkait nuklir.

Di sisi lain, Tia berpendapat bahwa konflik ini kemungkinan besar tidak akan berlanjut ke eskalasi yang lebih luas.

Hal ini didasari oleh kepentingan keamanan negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait, yang secara geografis berdekatan dengan area konflik dan memiliki pangkalan militer AS.

Tia memprediksi akan muncul banyak mediator, termasuk AS, untuk menekan agar saling serang antara Iran dan Israel. Dia juga menduga AS tidak akan terlibat dalam serangan balasan oleh Israel, tetapi alih-alih a akan membantu dalam upaya menangkal rudal Iran.

Pada Minggu (15/06), Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran dan Israel mesti mencapai kesepakatan dan mengatakan dirinya akan memfasilitasinya.

CBS News, mitra BBC News di AS, melaporkan Trump sebelumnya memveto rencana Isrel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Bagaimana dampak konflik Iran dan Israel ke Indonesia dan dunia?

Idil mengatakan serangan Israel ke depot minyak Iran menunjukkan bahwa, selain isu nuklir, Israel juga ingin "menyakiti Iran" dalam hal energi.

Menurut Idil, serangan Israel ini membuka opsi juga bagi Iran untuk merespons dengan menutup Selat Hormuz.

"Selat Hormuz bisa jadi merupakan kartu yang bisa dimainkan oleh pemerintah Iran," ujarnya.

"Penutupan Selat Hormuz akan berimplikasi terhadap negara-negara lain, khususnya terhambatnya distribusi minyak global dan meningkatnya harga minyak."

Idil memprediksi harga minyak dunia akan melambung tinggi dalam pembukaan minggu depan, dan akan beranjak meningkat seiring dengan eskalasi konflik.

"Hal ini selain karena produksi akan terhambat, distribusi juga akan sangat terbatas dikarenakan konflik ini," ujarnya.

Baca juga:

Bagi Indonesia, Idil menekankan hal ini akan berdampak ke perekonomian negara mengingat sumber minyak yang paling besar berasal dari Timur Tengah yang didatangkan melalui Singapura.

"Perlambatan ekonomi akan semakin terasa, dan kemungkinan inflasi yang saat ini tertahan akan meningkat kembali. Hal ini akan membuat pemerintah semakin kesulitan mencapai target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkannya," ujarnya.

Pendapat senada diungkapkan Tia.

Meskipun secara geografis Iran dan Israel jauh dari Indonesia, dia mengingatkan konflik ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia sebagai negara pengguna dan pengimpor energi yang besar.

Apa yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia?

Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menghadiri 'Pertemuan Menteri Antalya untuk Solusi Dua Negara dan Perdamaian Abadi di Timur Tengah' di Cornelia Diamond Hotel di Antalya, Turkiye pada 11 April 2025. Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan serta para menteri luar negeri Arab Saudi, Palestina, Bahrain, Indonesia, Qatar, Mesir, dan Yordania turut hadir dalam pertemuan tersebut

Sumber gambar, Murat Gok/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono menghadiri 'Pertemuan Menteri Antalya untuk Solusi Dua Negara dan Perdamaian Abadi di Timur Tengah' di Cornelia Diamond Hotel di Antalya, Turkiye pada 11 April 2025.

Pada Jumat (13/06), Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan Indonesia secara tegas mengutuk serangan Israel terhadap Iran yang disebutnya merupakan pelanggaran hukum dan melemahkan dasar-dasar hukum internasional.

Sugiono mengatakan serangan tersebut akan menimbulkan banyak implikasi dan akan memperburuk situasi jika semua pihak yang terkait tidak menahan diri, sebagaimana dilaporkan Antara.

Dia menambahkan akan terus memantau situasi tersebut lebih lanjut.

Menanggapi ini, Idil mengaku sulit untuk membayangkan posisi Indonesia dalam konflik ini.

"Karena kita tidak bisa dibilang sebagai 'aktor' dan memiliki kepentingan yang tinggi dalam konflik ini. Pernyataan dari Menlu Sugiono yang mengutuk serangan Israel dan berharap yang terburuk tidak terjadi sepertinya template [standar baku] yang sudah sesuai dengan koridor dan posisi Indonesia," ujar Idil.

Terpisah, Tia menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto dapat berbicara langsung dengan para pemimpin negara yang memiliki pengaruh, seperti residen AS atau negara-negara OKI, untuk menyerukan penghentian konflik.

"Minimal ada suara Indonesia di kancah politik global, di politik internasional, bahwa kita tidak suka dengan [Iran dan Israel] saling menyerang," tegas Tia.

Baik Idil maupun Tia sepakat bahwa fokus Indonesia perlu terpusat pada perlindungan WNI.

Tia menyaran agar proses evakuasi WNI sebaiknya dilanjutkan apabila serangan terus berlanjut.

Di dalam negeri, Idil mengatakan pemerintah Indonesia, khususnya pejabat bidang politik an ekonomi, harus siaga untuk menyiapkan strategi menghadapi berbagai skenario eskalasi yang muncul dari konflik Iran-Irael.