Apa yang perlu diketahui tentang serangan Israel terhadap ‘poros perlawanan’ Hizbullah, Houthi, dan Hamas yang disokong Iran

Sumber gambar, Getty Images
Dalam beberapa pekan terakhir, Israel telah memperjelas bahwa serangannya tidak hanya berfokus pada Hamas—kelompok milisi Palestina yang menguasai Jalur Gaza—namun juga mencakup Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Tiga kelompok ini adalah bagian dari “poros perlawanan”, sebuah aliansi yang disokong dan dipimpin Iran di kawasan Timur Tengah—Suriah dan kelompok milisi di Irak, Afghanistan, Pakistan juga menjadi bagiannya.
Aliansi poros perlawanan ini sangat anti-Amerika dan anti-Israel sehingga telah menjadi ancaman besar bagi Israel selama beberapa dekade terakhir.
Sejak 7 Oktober 2023—saat Hamas melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Israel—konflik antra kedua belah pihak meningkat.
Dampaknya sangat buruk. Akibat serangan Israel, sejauh ini sekitar 41.500 orang tewas di Gaza, sementara pihak berwenang di Lebanon mengatakan bahwa korban jiwa di negara tersebut sudah melebihi 1.000 orang dan satu juta orang mengungsi.
Bagaimana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi “poros perlawanan”? Dan apa karakteristik terpenting dari aliansi pimpinan Iran ini?
Hizbullah di Lebanon
Serangan Israel mempunyai beberapa sisi.
Selain Hamas—yang diklaim Israel akan dihancurkan setelah 7 Oktober 2023—kelompok milisi Hizbullah di Lebanon merupakan salah satu kelompok bersenjata tertua, paling kuat, dan paling canggih pada aliansi “poros perlawanan”. Itu sebabnya Hizbullah menjadi musuh utama Israel.
Sejak 1980-an, kelompok ini beroperasi dari Lebanon—yang berbatasan dengan Israel. Seiring waktu berjalan, kelompok ini memperoleh pengaruh dalam sistem politik negara tersebut.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Meskipun situasi di Lebanon memburuk selama hampir satu tahun—ketika Hizbullah mulai melancarkan serangan terhadap Israel utara dan menuntut gencatan senjata di Gaza—beberapa pekan terakhir ini merupakan masa kritis.
Pada 28 September, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa setelah melancarkan serangan udara di ibu kota Lebanon, Beirut, mereka mengeklaim telah membunuh pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah.
Kematiannya digambarkan oleh Netanyahu sebagai “titik balik bersejarah” dalam perjuangannya melawan milisi, sementara Hizbullah bersumpah akan membalas dendam.
Baca juga:
Selain membunuh Nasrallah, tentara Israel mengaku telah menewaskan sedikitnya 20 anggota senior kelompok Syiah tersebut.
Serangan-serangan ini nampaknya merupakan tanda bahwa Netanhayu bertekad mempertahankan janjinya untuk menemukan “keseimbangan keamanan dan kekuasaan” di perbatasan utara Israel yang berbagi dengan Lebanon.
Tentara Israel memulai serangan darat “terbatas” ke Lebanon pada Selasa (01/10) pagi “melawan sasaran dan infrastruktur teroris Hizbullah.”

Dalam konteks ini, meskipun kedua belah pihak menyatakan bahwa mereka tidak ingin eskalasi meningkat, banyak pihak semakin khawatir bahwa perang habis-habisan di Timur Tengah bakal terjadi.
Pemicu peningkatan kekerasan terbaru antara Israel dan Hizbullah adalah serangkaian serangan yang membuat perangkat komunikasi yang digunakan oleh anggota Hizbullah—pager dan walkie-talkie— meledak. Rentetan kejadian itu dikaitkan dengan Israel.
Ledakan ini menewaskan sedikitnya 39 orang dan menyebabkan ribuan orang terluka.
Serangan di Yaman
Israel tidak hanya melancarkan serangan baru terhadap posisi Hizbullah di Lebanon. Negara itu juga melancarkan gelombang pemboman di Yaman, sebuah negara di selatan Semenanjung Arab, untuk menghantam posisi militer pemberontak Houthi Syiah, pada Minggu (29/09).
Kelompok Houthi—yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman—merupakan bagian dari “poros perlawanan” bersama Hamas dan Hizbullah dalam melawan Israel.
Sejak konflik dengan pasukan Israel semakin intensif, kelompok bersenjata ini telah meluncurkan rudal dan drone terhadap kapal kargo yang mencoba melintasi Terusan Suez menuju Barat dari Timur dan sebaliknya.
Kelompok Houthi telah menerima pelatihan militer dari Hizbullah dan diduga memasok senjata dari Iran kepada mereka.
Sejak 2015 mereka menghadapi koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, saingan regional terbesar Teheran.

Sumber gambar, Getty Images
Serangan Israel di Yaman pada Minggu (29/09) ini menyebabkan sedikitnya empat orang tewas dan 33 lainnya luka-luka, kata kelompok Houthi.
Pelabuhan Al Hodaydah yang terletak di timur negara itu, menjadi salah satu sasarannya. Menurut otoritas militer Israel, serangan itu bertujuan untuk menghentikan impor senjata dari Iran.
Baca juga:
Pembangkit listrik juga terkena dampaknya, menurut pihak berwenang Houthi, yang meyakinkan bahwa serangan ini tidak akan membuat mereka melepaskan dukungan mereka terhadap Hamas dan Hizbullah.
“Dukungan Yaman tidak akan berhenti, serangan kami terhadap musuh Zionis tidak akan berhenti,” ujar Houthi dalam keterangan kepada pers.
Iran dan 'poros perlawanan'
Iran adalah sponsor utama "poros perlawanan". Kekuatan regional ini juga menjadi sasaran pasukan Israel.
April lalu, Israel melancarkan serangan terhadap kedutaan Iran di Damaskus, Suriah, yang menewaskan Brigadir Jenderal Mohamed Reza Zahedi, salah satu komandan tertinggi Garda Revolusi Iran.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal terhadap Israel—insiden yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang berhasil dihalau oleh Israel.

Sumber gambar, Getty Images
Meskipun episode tersebut merupakan salah satu konfrontasi paling menegangkan dalam sejarah konfrontasi antara kedua negara (ditambah serangan Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Houthi) terdapat banyak spekulasi mengenai apa yang bakal dilakukan militer Iran.
Apalagi kelompok-kelompok bersenjata ini sangat penting bagi Iran untuk mempertahankan pengaruh geopolitiknya di kawasan.
"Iran telah berhasil memiliki sekutu dan perwakilan setia di Lebanon, wilayah Palestina, Irak, Suriah, dan Yaman. Semuanya dimanfaatkan oleh Teheran untuk mempromosikan tujuan politiknya," jelas Lina Khatib, pengamat Timur Tengah dari SOAS University of London kepada BBC Mundo pada Oktober tahun lalu.
Arsitek di balik poros perjuangan yang disokong oleh Iran ini adalah Qasem Soleimani, yang merupakan komandan kelompok elite Quds dari Garda Revolusi Iran—sebuah organisasi yang bertanggung jawab atas aksi militer rahasia pasukan Iran di luar negeri.
Baca juga:
Melalui kelompok elite ini, hubungan antara Teheran dengan kelompok-kelompok milisi negara lain diartikulasikan.
Soleimani dibunuh oleh Amerika Serikat pada Januari 2020 dalam serangan pesawat tak berawak saat dia meninggalkan bandara di Bagdad, ibu kota Irak.
Menurut Lina Khatib, sebagian besar milisi yang membentuk poros tersebut “muncul karena keluhan terhadap realitas politik di negara mereka.”
Oleh karena itu, “mereka menggalang dukungan masyarakat lokal dengan menampilkan diri mereka sebagai kelompok yang berusaha mengubah status quo untuk memperbaikinya,” jelas akademisi tersebut.
Sedikit demi sedikit mereka menjadi aktor politik utama, sampai-sampai banyak dari mereka mendapat lebih banyak dukungan dari masyarakat dibanding dari pemerintah mereka sendiri.

Sumber gambar, Getty Images
“Kita berbicara tentang kelompok-kelompok yang sangat berpengaruh yang telah mencapai kekuatan politik lebih besar dibandingkan kelompok lain di kawasan ini,” kata Khatib.
Hizbullah, misalnya, telah memiliki cabang politik sejak tahun 2006 dan memainkan peran penting dalam politik di Lebanon. Kelompok ini bahkan punya hak veto di kabinet.
Situasi serupa terjadi di Irak—kelompok milisi Syiah di negara itu telah lama menjadi sekutu Iran—yang berperang melawan ISIS sejak 2014 kini menjadi aktor penting dalam politik di negara itu.
Apa yang mungkin terjadi?
Perluasan serangan Israel di Timur Tengah mencerminkan bagaimana negara ini ingin mengakhiri tidak hanya Hamas di Gaza, namun seluruh “poros perlawanan” pimpinan Iran.
Meskipun banyak analis sepakat bahwa perang skala besar masih dapat dihindari ada beberapa sinyal yang menimbulkan peringatan, terutama keputusan Israel untuk melancarkan serangan darat terhadap negara tetangganya.
Netanyahu mengirim pesan kepada rakyat Iran pada Senin dalam sebuah video yang diunggah di X. Dia menuduh rezim Iran menjerumuskan “wilayah kami semakin dalam ke dalam kegelapan dan semakin dalam ke dalam peperangan.”
Perdana Menteri Israel juga mengeluarkan peringatan: "Tidak ada tempat di Timur Tengah yang tidak dapat dijangkau oleh Israel. Tidak ada tempat yang tidak akan kami datangi untuk melindungi rakyat kami dan melindungi negara kami."












