Jenderal Qasem Soleimani dibunuh: Iran janji akan 'membalas', kota-kota di Amerika Serikat tingkatkan pengamanan

Sumber gambar, Reuters
Sejumlah kota besar di Amerika Serikat meminta warga untuk waspada menyusul serangan udara militer AS di Baghdad yang menewaskan jenderal Iran paling berpengaruh, Qasem Soleimani.
Para pejabat pemerintah kota mengatakan mereka telah meningkatkan pengamanan di lokasi-lokasi penting dan strategis.
Pejabat sementara di Kementerian Keamanan Dalam Negeri, Chad Wolf, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan aparat penegak hukum di seluruh penjuru negeri dan siap menghadapi segala ancaman, meski sejauh ini belum ada ancaman nyata yang terdeteksi.
Di New York, Wali Kota Bill de Blasio, mengatakan ia berkonsultasi dengan para pejabat pemerintah kota terkait langkah polisi mengamankan atau melindungi lokasi-lokasi penting "dari upaya balas dendam yang dilakukan Iran atau sekutu negara ini".
Los Angeles, yang banyak didiami warga Amerika-Iran, juga mengeluarkan peringat dan mendesak warga untuk melaporkan ke pihak terkait "jika melihat sesuatu yang mencurigakan'.
- Apakah AS akan berperang dengan Iran?
- AS dakwa mantan direktur Garuda Indonesia atas tuduhan ekspor ilegal ke Iran
- Amerika Serikat serang milisi Syiah di Irak dan Suriah, 'AS akan membalas jika nyawa orang Amerika terancam'
- Demonstrasi Irak: Demonstran serang Konsulat Iran di Karbala, serukan 'Iran keluar'
Soleimani, selain dikenal sebagai jenderal paling berpengaruh di Iran, juga merupakan komandan pasukan elite Quds dari Garda Revolusi.
Ia tewas di ibu kota Irak, Baghdad, hari Jumat (03/01), dalam serangan udara Amerika Serikat.
Jenderal berusia 62 tahun ini tewas di bandar udara di Baghdad bersama sejumlah milisi dukungan Iran.

Sumber gambar, EPA
Departemen Pertahanan AS, Pentagon, menyebut Soleimani dibunuh "atas perintah Presiden Trump".
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan "akan ada serangan balasan terhadap penjahat" yang melakukan serangan.
Ia juga mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari.
Kedutaan besar Amerika Serikat di Baghdad mendesak semua warganya untuk meninggalkan Irak sesegera mungkin.
"Dikarenakan meningkatnya ketegangan di Irak dan di kawasan, kedutaan AS meminta semua warga AS mematuhi peringatan perjalanan dan segera meninggalkan Irak. Sebisa mungkin perjalanan ini menggunakan pesawat udara dan jika tidak memungkinkan maka menggunakan jalur darat," demikian pernyataan yang dikeluarkan kedutaan AS di Baghdad.
Pembunuhan Jenderal Soleimani menandai peningkatan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Di bawah kepemimpinannya, Iran memperkuat kelompok Hizbullah di Lebanon dan kelompok-kelompok pro-Iran lain, memperbesar kehadiran militer Iran di Irak dan Suriah dan menjadi figur kunci dalam upaya Suriah menggempur kelompok-kelompok pemberontak.
Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, menyebut tindakan tersebut "sangat berbahaya dan eskalasi yang bodoh".
Jenderal Soleimani dikenal sebagai tokoh kunci dalam pemerintah Iran.

Sumber gambar, EPA

Sumber gambar, AFP
Pasukan Quds yang dia pimpin melapor secara langsung kepada pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan dia sendiri disanjung sebagai sosok pahlawan.
Namun, Amerika Serikat menggambarkan Jenderal Soleimani sebagai teroris yang bertanggung jawab atas tewasnya ratusan personel AS.
Presiden Donald Trump mencuitkan foto bendera AS setelah berita kematian Soleimani mengemuka.
Sementara itu, harga-harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% setelah serangan terjadi.
Di ibu kota Teheran, ribuan orang turun ke jalan untuk menyampaikan dukacita atas tewasnya Jenderal Soleimani.

Sumber gambar, Reuters
Apa yang terjadi?
Soleimani dan beberapa tokoh dari kelompok milisi dukungan Iran tengah meninggalkan bandara di Baghdad dengan dua kendaraan ketika dihantam oleh rudal dari drone milik Angkatan Udara AS.
Ia dilaporkan mendarat dari Lebanon atau Suriah. Serangan rudal juga menewaskan setidaknya tujuh orang dalam konvoi ini.
Garda Revolusi mengatakan, pemimpin milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, termasuk di antara korban tewas.

Sumber gambar, AFP/Getty
Pentagon mengatakan serangan udara ini atas perintah Presiden Trump.
"Atas perintah Presiden, militer AS telah mengambil aksi pertahanan yang menentukan demi melindungi para personel AS di luar negeri dengan membunuh Qasem Soleimani," papar pernyataan Pentagon.
Dikatakan pula Soleimani dibunuh "karena tengah merancang serangan terhadap warga Amerika".
"Serangan ini ditujukan untuk mencegah rencana serangan Iran di masa mendatang. Amerika Serikat akan melanjutkan menempuh semua aksi yang diperlukan guna melindungi rakyat kami dan kepentingan kami di mana pun mereka berada di dunia."
Serangan terhadap Soleimani terjadi beberapa hari setelah sejumlah demonstran menyerang kedutaan besar AS di Baghdad dan sempat bentrok dengan tentara AS. Pentagon mengatakan Soleimani memberi persetujuan serangan terhadap kedutaan AS.
Garda Revolusi Iran mengatakan pemimpin milisi Irak, Abu Mahdi al-Muhandis, turut tewas dalam serangan AS. Mereka mengatakan serangan tersebut dilakoni helikopter-helikopter AS.
Siapa Qasem Soleimani?

Sumber gambar, AFP/Getty
Sejak 1998, Mayor Jenderal Qasem Soleimani memimpin Pasukan Quds Iran - kesatuan elite di dalam tubuh Garda Revolusi Iran yang bertugas menangani operasi rahasia di luar negeri.
Iran mengakui peran Pasukan Quds dalam rangkaian konflik di Suriah. Kesatuan itu bertugas memberi konsultasi kepada pasukan yang setia terhadap Presiden Suriah, Bashar al-Assad, sekaligus mempersenjatai ribuan milisi Syiah di Suriah dan Irak.
Khusus di Irak, Pasukan Quds memberi sokongan kepada paramiliter Syiah yang membantu melawan ISIS.
Konflik-konflik ini menjadikan Soleimani semacam pesohor di Iran.
Pemerintahan Trump menuding Pasukan Quds adalah "mekanisme utama Iran untuk memanen dan mendukung" kelompok-kelompok yang dikategorikan AS sebagai kelompok teroris di Timur Tengah, termasuk Gerakan Hizbollah di Libanon dan Jihad Islam di Palestina.
Sokongan Pasukan Quds, menurut AS, diberikan dalam wujud penyediaan dana, pelatihan, persenjataan, dan peralatan militer.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menggolongkan Garda Revolusi Iran dan Pasukan Quds sebagai kelompok teroris asing pada April 2019 lalu.










