Ponsel yang bisa Anda perbaiki sendiri

fairphone 5

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Komponen-komponen Fairphone 5, ponsel pertama di dunia yang dapat diperbaiki oleh pelanggan, dapat diganti dalam hitungan menit, dipamerkan pada 8 September 2023 di Amsterdam, Belanda.

Isabelle Gerretsen

BBC Future

Dalam upaya mengurangi limbah elektronik global, Fairphone telah menciptakan ponsel cerdas yang dapat diperbaiki sendiri oleh pemiliknya. Apa yang membuat teknologinya begitu berkelanjutan?

“Ini kamera ponsel saya,” kata Bas van Abel sambil memamerkan komponen persegi kecil itu. Dia baru saja mengeluarkan komponen tersebut dari ponsel pintarnya, menggunakan obeng kecil.

“Total ada delapan komponen yang bisa dilepas dan diganti,” jelasnya sambil membongkar seluruh ponsel cerdasnya dan meletakkan kamera ponsel di samping baterai, port USB, layar, serta pengeras suara.

Van Abel adalah salah satu pendiri perusahaan sosial asal Belanda, Fairphone, yang mengeklaim telah menciptakan “ponsel pintar paling ramah lingkungan di dunia”. Namun dengan produk kompleks yang mengandung logam langka dan komponen dari seluruh dunia, seberapa ramah lingkungan kah sebuah ponsel pintar?

Didirikan pada tahun 2013 di Amsterdam, Fairphone menciptakan ponsel pintar Android yang dapat dengan mudah ditukar, disesuaikan, dan diperbaiki oleh pemiliknya. Dengan mendorong masyarakat untuk memperbaiki ponsel mereka, alih-alih membuangnya begitu ada komponen yang rusak, Fairphone berharap dapat mengajak masyarakat mengurangi limbah elektronik.

Limbah elektronik atau e-waste adalah limbah dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Diperkirakan 50 juta ton limbah elektronik dihasilkan secara global setiap tahunnya, lebih berat jika dibandingkan dengan semua pesawat komersial yang pernah dibuat, menurut Program Lingkungan Hidup PBB (UNEP). Hanya 20% dari sampah tersebut yang didaur ulang.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Jumlah limbah elektronik semakin banyak seiring dengan meningkatnya permintaan perangkat portabel dan ponsel pintar. Pada tahun 2050, produksi limbah elektronik tahunan akan meningkat dua kali lipat menjadi 120 juta ton, menurut Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Pada tahun 2022, sebanyak 5,3 miliar ponsel telah dibuang, menurut perkiraan organisasi nirlaba Belgia The WEEE Forum, yang menganalisis limbah elektronik.

Di AS, setiap orang rata-rata mengganti ponsel mereka setiap 18 bulan seiring dengan dirilisnya model baru dengan fitur yang ditingkatkan. Sebagian besar perangkat kini hadir sebagai unit tersegel yang sangat sulit dan mahal untuk diperbaiki, atau bahkan memunculkan pesan error jika komponen yang rusak diperbaiki.

Fairphone ingin mendobrak tren ini dengan menjual ponsel yang masa pakainya lebih lama.

“Kami membuat ponsel dapat diperbaiki sehingga Anda dapat menggunakannya dalam waktu lama,” kata van Abel, yang berbicara kepada BBC dalam Festival Desain untuk Planet di Norwich, Inggris.

“Perhitungannya sangat sederhana: jika Anda menggunakan ponsel dua kali lebih lama, Anda menghasilkan separuh jumlah ponsel dan separuh jumlah sampah.”

The Restart Project, sebuah organisasi nirlaba di Inggris, memperkirakan bahwa meningkatkan umur ponsel pintar hingga 33% dapat mencegah emisi karbon yang setara dengan emisi tahunan Irlandia.

Baca juga:

Keberlanjutan merupakan inti dari misi Fairphone. “Kami menggunakan 100% plastik daur ulang serta emas dan perak secara fairtrade di semua ponsel kami,” kata van Abel.

Namun tidak semua bahan yang ditemukan pada model Fairphone ramah lingkungan. Fairphone 5 berisi 40 bahan berbeda, namun hanya 14 bahan (yang merupakan 42% dari total berat ponsel) yang bersumber secara berkelanjutan dan etis.

Hanya 70% dari 14 bahan mentah tersebut berasal dari sumber perdagangan yang adil atau daur ulang. Mineral langka yang digunakan oleh Fairphone dan perusahaan ponsel pintar lainnya mempunyai dampak lingkungan yang signifikan dan dapat mengakibatkan kontaminasi udara, air, dan tanah.

Dalam tinjauan independen terhadap perusahaan tersebut, para ahli mengatakan Fairphone dapat meningkatkan kredibilitas keberlanjutannya dengan membeli lebih banyak bahan dari sumber yang adil dan bersertifikat serta membuat ponsel yang dapat ditingkatkan dan diperbaiki.

Van Abel mengatakan Fairphone telah menambah jumlah bahan yang diperoleh dari sumber yang berkelanjutan dan etis dari delapan menjadi 14. Dia berencana untuk menambah lebih banyak lagi.

“Kami fokus pada 14 materi yang kami lihat memerlukan perbaikan terbesar dan peluang terbesar untuk memberikan manfaat bagi manusia dan planet bumi,” ujarnya.

fairphone 5

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Penggantian modul kamera, salah satu dari 10 komponen Fairphone 5 yang dapat diperbaiki sendiri oleh penggunanya. Fairphone mengeklaim produk mereka mendorong perbaikan ponsel untuk mengurangi jejak ekologis dan limbah elektronik.

Salah satu ambisi Fairphone adalah meningkatkan kondisi kerja yang etis di seluruh rantai pasokan.

Usaha sosial ini dimulai sebagai kampanye aktivisme pada tahun 2009 guna meningkatkan kesadaran seputar konflik mineral yang ditambang di Republik Demokratik Kongo (DRC).

Saat ini, Fairphone mendapatkan komponen ponsel dari sumber-sumber yang mensertifikasi timah dan tantalum bebas konflik dari tambang di Kongo serta bekerja sama dengan produsen untuk memastikan kondisi kerja yang adil di pertambangan dan pabrik, kata van Abel. Dia menambahkan bahwa semua pekerja dibayar dengan upah yang layak.

Baca juga:

Terlepas dari ambisinya, Fairphone masih merupakan pemain kecil di pasar ponsel. Sejak diluncurkan, Fairphone telah menjual sekitar 550.000 perangkat. Sebagai perbandingan, lebih dari 232 juta iPhone terjual di seluruh dunia pada tahun 2022.

Namun van Abel mengatakan Fairphone sedang mencoba membuktikan bahwa perusahaannya dapat memperoleh keuntungan dengan menjual ponsel pintar yang ramah lingkungan.

Meski demikian, keberlanjutan harus dibayar mahal. Model Fairphone terbaru berharga £649 (Rp12,7 juta). Hal ini sebagian karena Fairphone harus membangun semuanya sendiri, menurut van Abel.

“Kami melakukan semua pembaruan perangkat lunak sendiri karena tidak ada satu pun perusahaan di dunia yang mendukung ponsel tahan lama,” katanya. “Ada banyak investasi yang dibutuhkan agar kami dapat melakukan apa yang kami inginkan.”

Skema perbaikan Fairphone lebih murah dibandingkan pesaing utamanya. Baterai baru untuk Fairphone 5 berharga £39,95 (Rp781.000). Coba bandingkan dengan biaya £80 (Rp1,5 juta) yang dikenakan Apple untuk mengganti baterai iPhone 15 dan biaya Samsung £109 (Rp2,1 juta) untuk ponsel Galaxy S23-nya.

Mengganti layar Fairphone berharga £89,95 (Rp1,7 juta), dibandingkan dengan biaya Apple £289 (Rp5,6 juta) dan biaya Samsung £239 (Rp4,6 juta) untuk mendapatkan layar Galaxy S23 baru.

Fairphone juga menjalankan program daur ulang untuk ponsel cerdas yang tidak dapat diperbaiki lagi. Namun biasanya, hanya 30-50% bahan yang dapat digunakan kembali dalam proses daur ulang, menurut Fairphone. Perusahaan memandang daur ulang sebagai upaya terakhir.

“Kita ingin menggunakan kembali semua komponennya,” kata van Abel. “Hal terakhir yang ingin Anda lakukan adalah mendaur ulangnya…Itulah mengapa kami sangat fokus pada umur panjang.”

Seperti banyak perangkat elektronik modern, ponsel pintar sulit untuk didaur ulang karena mengandung hingga 70 elemen berbeda. Perangkat ramping dan ringkas yang direkatkan juga sulit dipisahkan dalam proses daur ulang.

“Kami memiliki pemahaman naluriah bahwa teknologi dan elektronik tidak [dibuat] untuk dihancurkan…bahwa keduanya sangat berharga,” kata Cat Drew, kepala desain di Dewan Desain di Inggris, tempat ia memimpin inisiatif keberlanjutan Desain untuk Planet.

“Itulah sebabnya banyak dari kita yang menyimpan tiga atau empat ponsel lama yang mungkin bisa disimpan di museum. Kita tidak tega membuangnya karena kita tahu ponsel itu berharga.”

fairphone 5

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Baterai merupakan salah satu dari 10 komponen Fairphone 5 yang dapat diganti dalam hitungan menit. Ponsel ini dipamerkan pada 8 September 2023 di Amsterdam, Belanda.

Menurut perkiraan industri, sebanyak lima miliar ponsel tidak terpakai mungkin disimpan di laci di seluruh dunia.

Desain sebagian besar ponsel pintar menghalangi orang untuk memperbaiki dan menggunakannya selama mungkin, kata Drew. Ponsel tidak dirancang dengan cara yang modular dan mudah dibongkar, katanya, seraya menambahkan bahwa orang lebih memilih ponsel yang sangat tipis dan ramping, yang sulit untuk dibongkar.

Biaya perbaikan barang elektronik juga bisa faktor "penghalang". “Memperbaiki layar laptop bisa lebih mahal dibandingkan membeli laptop baru,” katanya.

Membuat ponsel pintar yang dapat diperbaiki bukanlah sebuah "tantangan teknologi", tambah Joe Iles dari Ellen MacArthur Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang berupaya memfasilitasi transisi ke ekonomi sirkular- di mana produk dan bahan digunakan kembali dan didaur ulang sebanyak mungkin.

Inovasi untuk membuat ponsel yang dapat diperbaiki sudah ada dan merek-merek terkenal mulai mengadopsinya, katanya.

Hingga saat ini, model penjualan perangkat seperti ponsel pintar bertujuan untuk mendorong konsumen memperbarui perangkat mereka setiap beberapa tahun, seringkali jauh sebelum masa pakai perangkat tersebut dirancang.

Undang-undang hak untuk memperbaiki, telah diberlakukan di Eropa dan Amerika dan dapat mengubah perilaku ini.

Baca juga:

Pada Februari lalu, Nokia merilis ponsel pintar pertamanya yang dapat diperbaiki sendiri oleh konsumen, dengan menukar bagian yang rusak menggunakan panduan perbaikan online.

Apple telah mulai menerbitkan panduan perbaikan secara online dan telah membuka toko reparasi swalayan - tempat konsumen dapat membeli suku cadang Apple serta membeli atau menyewa alat untuk membantu mereka memperbaiki perangkat yang rusak.

Namun skema perbaikan Apple dikritik karena memiliki banyak pembatasan. Konsumen harus memberikan nomor seri unik yang dipasangkan ke masing-masing bagian perangkat. Komponen tersebut tidak dapat diganti kecuali jika dipasangkan kembali ke perangkat dari jarak jauh menggunakan perangkat lunak yang disediakan oleh produsen.

Tantangan sebenarnya adalah mengubah model bisnis industri elektronik, kata Iles.

“Cara kita memproduksi, memasarkan, dan mengirimkannya…rantai pasokan ini telah mengalami optimalisasi selama puluhan tahun,” katanya. “Mengubah [model bisnis] tersebut atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hal tersebut terkadang sulit dibayangkan dan sulit bagi perusahaan untuk benar-benar berinvestasi.”

Pemasaran adalah rintangan lainnya. “Seluruh model bisnis didasarkan pada pertumbuhan dan penjualan lebih banyak ponsel,” kata van Abel. "Pemasaran sangat bagus dalam menjual barang-barang yang sebenarnya tidak kita perlukan."

“Banyak orang masih sangat antusias dengan peluncuran ponsel baru,” kata Iles, “tetapi sangat sia-sia jika membeli ponsel baru setiap tahun, hanya karena kameranya memiliki megapiksel yang lebih besar dan layarnya sedikit berbeda ukuran."

limbah ponsel

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pada tahun 2022, sebanyak 5,3 miliar ponsel telah dibuang, menurut perkiraan organisasi nirlaba Belgia The WEEE Forum, yang menganalisis limbah elektronik.

Perlu ada model bisnis yang mendorong masyarakat untuk memperbaiki ponsel mereka, lanjut Iles, seraya menambahkan bahwa hal ini dapat dicapai jika perusahaan menawarkan garansi lebih lama kepada konsumen atas barang elektronik yang mereka beli atau menyediakan suku cadang, seperti baterai dan layar.

Peralihan ke model berlangganan untuk perangkat elektronik juga dapat memberikan insentif kepada perusahaan teknologi untuk memprioritaskan keberlanjutan, kata Drew.

“Ini bukan tentang menjual lebih banyak dan lebih banyak, tapi tentang merancang produk yang tahan lama dan dapat diperbaiki.”

Hal ini sudah terjadi di bidang pakaian, katanya, mengacu pada banyaknya platform persewaan yang membantu transisi industri fesyen ke ekonomi yang lebih sirkular.

“Bayangkan jika kita melakukan hal tersebut pada mesin cuci dan berbagai macam barang rumah tangga lainnya,” kata Drew.

Namun untuk melakukan hal ini diperlukan undang-undang dan peraturan baru untuk membantu “menyetarakan persaingan” dan memastikan bahwa perusahaan terus memperoleh keuntungan saat mereka beralih ke model yang lebih berkelanjutan, kata Drew.

Beberapa negara Eropa telah berupaya memerangi budaya membuang dengan mempermudah konsumen dalam memilih produk yang dapat diperbaiki dan memperbaiki barang yang rusak.

Pada tahun 2021, Prancis mulai memberi label pada perangkat elektronik tertentu, termasuk televisi, ponsel pintar, mesin cuci, laptop, dan mesin pemotong rumput, dengan skor kemampuan perbaikan berdasarkan lima kriteria yang menilai harga dan ketersediaan suku cadang serta seberapa mudah produk tersebut dapat dibongkar.

Di Swedia, masyarakat menerima keringanan pajak untuk perbaikan pakaian dan peralatan termasuk mesin cuci, mesin pencuci piring, dan sepeda.

Presiden Joe Biden baru-baru ini menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan memberikan hak kepada konsumen AS untuk memperbaiki barang elektronik mereka sendiri.

California, New York, Minnesota, dan Colorado semuanya memperkenalkan undang-undang hak untuk memperbaiki pada tahun 2023. Undang-undang tersebut mengharuskan produsen untuk menyediakan peralatan dan suku cadang yang tepat kepada konsumen selama tujuh tahun setelah produksi sehingga mereka dapat memperbaiki peralatan mereka sendiri.

“Saat ini banyak undang-undang yang memaksa produsen untuk mengubah perilaku mereka,” kata van Abel.

Dia berharap Fairphone dapat menginspirasi perubahan lebih lanjut dalam industri ponsel pintar dengan menunjukkan apa yang bisa dicapai.

“Tujuan utama kami adalah menjadikan seluruh industri ponsel pintar lebih berkelanjutan,” lanjutnya. “Kami meningkatkan kesadaran mengenai masalah dalam rantai pasokan dan mencari solusinya.”

Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris dengan judul What does a sustainable smartphone look like? pada laman BBC Future.