The Irishman: Apakah ini akhir kiprah sutradara Martin Scorsese dalam genre film gangster?

The Irishman

Sumber gambar, Netflix

    • Penulis, Christina Newland
    • Peranan, BBC Culture

Bagi Martin Scorsese - sutradara yang karyanya kerap ditandai oleh vitalitas yang menggelegar - The Irishman adalah film gangster yang terbilang kalem.

Epik berdurasi tiga setengah jam itu menceritakan pembunuhan Presiden John F. Kennedy, korupsi dalam gerakan buruh AS, dan semuanya diikat dengan benang merah yang menyatukan para aktor kawakan dalam genre crime-thriller Amerika: Robert De Niro, Harvey Keitel, Joe Pesci, dan untuk pertama kalinya, Al Pacino.

Film ini adalah adaptasi dari memoar Charles Brandt, I Heard You Paint Houses, tentang kaki tangan mafia Frank Sheeran; mengisahkan sekitar 60 tahun dalam kehidupan Sheeran dan rekan-rekannya, dengan para aktor veteran memerankan versi muda karakter mereka dengan bantuan 'teknologi de-aging' yang ramai dibicarakan itu.

Frank (De Niro) adalah seorang sopr truk yang pengalamannya sebagai prajurit dalam Perang Dunia II membuatnya cocok untuk banting setir menjadi pembunuh bayaran berdarah dingin - serta pembantu Jimmy Hoffa (Pacino), kepala serikat buruh Internasional Brotherhood of Teamsters.

Joe Pesci kembali ke layar perak sebagai karakter yang berlawanan 180 derajat dari tipikal psikopat yang biasa ia perankan: petinggi mafia yang banyak bekerja di balik layar, Russell Bufalino.

Dia adalah yang pertama kali menemukan Frank dan merekrutnya.

Dalam epik gangster Scorsese sebelumnya, Goodfellas dan Casino, hal-hal mencolok dan vulgar diperlihatkan terang-terangan untuk membuat penonton merasa terhibur sekaligus merasa jijik; di film ini, tidak ada yang tampak menyenangkan dari gaya hidup mafia.

Karakter Frank Sheeran yang hambar begitu kontras dengan tokoh anti-hero dalam Goodfellas, Henry Hill, yang sejak kecil merasakan obsesi romantis dengan kuasa dan glamor dalam kehidupan mafia.

Bisa dibilang, dari semua protagonis kriminal Scorsese, Frank Sheeran adalah tokoh yang paling santai; ia hanya kebetulan berada di sana.

Meskipun mata pencahariannya sangatlah tidak biasa, Frank Sheeran tampak hampir tidak peduli; ia hanya melakukan apa yang harus dilakukan, sampai kelihatan seperti tugas biasa saja baginya.

Ia tidak dinamis atau menyenangkan; hanya sebuah baut dalam mesin.

Tapi Scorsese dan De Niro menggunakan kualitas dingin Sheeran untuk menekankan keburukan moral pekerjaannya.

Ia sanggup meredam semua keinginan membangkang terhadap atasannya, membuatnya sangat efektif tapi juga hampa.

Sanggahan bagi para kritikus

Belakangan ini, para penggemar kasual Scorsese biasa mengaitkannya hanya dengan film-film kriminal. Padahal sebenarnya, ia adalah seniman dengan cakupan minat luas yang juga tertarik pada adaptasi karya sastra dan membuat film-film klasik dunia seperti halnya kekerasan antar gang.

Tapi karena kepopuleran Goodfellas dan Casino - yang bisa dilacak ke film-film di awal kariernya, seperti Mean Streets - sangat mudah untuk menggambarkan Scorsese hanya sebagai penutur cerita mafia.

Secara halus, Irishman menawarkan sanggahan terhadap kritik yang telah lama diarahkan kepada Scorsese - bahwa ia bersimpati atau gagal mengecam para karakter amoralnya.

Kritik ini terutama dilayangkan kepadanya sejak rilis The Wolf of Wall Street, yang mengisahkan para penjahat kerah putih dan menolak untuk mengambil pihak.

The Irishman jauh lebih bermoral dalam menilai para karakternya. Dalam film ini, bahkan para pemain yang paling simpatik menjadi peringatan.

Scorsese mengisahkan merayapnya gangsterisme ke dalam struktur kekuasaan di AS. Jimmy Hoffa tidak mau dikendalikan oleh Mafia - tapi Anda tidak bisa setengah-setengah dalam urusan seperti ini; jika Anda membuat janji dengan iblis, ia pasti akan mengambil jiwa Anda.

Film-film gangster AS di masa awal mengeksplorasi kejahatan terorganisir sebagai masalah sosial yang harus dipecahkan, dan dengan itu mereka bisa menceritakan kisah-kisah itu tanpa direpotkan oleh sensor. Paling banter, mereka menggambarkan para politikus dan polisi yang menerima suap.

Robert De Niro, Martin Scorsese dan Al Pacino ketika menghadiri pemutaran perdana The Irishman.

Sumber gambar, Jeff Spicer/Getty Images

Keterangan gambar, Robert De Niro, Martin Scorsese dan Al Pacino ketika menghadiri pemutaran perdana The Irishman.

Namun sejak The Musketeers of Pig Alley karya DW Griffith dan setelahnya, film-film kriminal juga menggambarkan relativisme moral di dunia tempat penjahat yang 'terhormat' lebih baik dari mereka yang tidak terhormat. Satu hal yang ditekankan oleh film tahun 1912 itu ialah, jangan mengadu.

Prinsip tersebut diulangi di film Goodfellas dengan kata-kata baru: "Jangan pernah mengadukan teman-temanmu, dan selalu tutup mulutmu," Hill dinasihati oleh mentornya Jimmy Conway (juga diperankan oleh Scorsese).

Ketegangan dari keheningan ini - dan risiko memecahkannya - terasa tidak hanya dalam karya Scorsese tapi juga kebanyakan film gangster.

Namun dalam banyak hal, The Irishman menyangkal apa yang ada sebelumnya. Meskipun ia memberi komentar lucu akan kematian tragis banyak pemain pendukungnya, sang karakter utama tidak mendapat kematian yang agung.

Alih-alih, mereka menjadi tua dan kesepian, berjalan perlahan menuju usia tua tempat semua yang pernah mereka lakukan tidak lagi berarti.

Lebih dari itu, aksi pengkhianatan terbesar dalam film tersebut menempatkan mafia lebih ajeg dalam peran 'penjahat' dibandingkan dalam film-film gangster Scorsese lainnya.

Kehidupan Frank menjadi parabel tentang absurditas omertà dan 'kesetiaan' kriminal; kepada siapa lagi Anda harus setia kalau semua kawan Anda sudah mati? Bagaimana kesetiaan terhadap satu kelompok memaksa Anda untuk mengkhianati ikatan lain yang lebih dalam?

Di balik sisi keras

Kerapuhan adalah sifat yang jarang terlihat dalam film-film gangster, kecuali para karakter-karakter lemah yang biasanya dibunuh.

Keluarga Corleones dalam The Godfather hampir tidak bergidik ketika mereka memerintahkan pembunuhan; Henry Hill membuang mayat seperti menaruh cucian kotor ke mesin cuci.

Tapi dalam The Irishman, ada celah pada topeng itu. Dalam satu adegan penting, Russell (Pesci) dan Frank (De Niro) duduk di dalam mobil di atas lapangan terbang sebuah bandara, menunggu Frank pergi untuk melakukan hal yang sangat buruk.

Ketika Russell menyaksikan Frank pergi, bibirnya melipat. Itu adegan yang mengekspresikan derita dan penyesalan, yang muncul hanya dalam sekilas, dan kamera tidak bergerak untuk menyorotinya.

Di tengah semua bravado, ini bagi saya merupakan salah satu momen paling berkesan dalam film ini.

Senada dengan adegan tersebut, De Niro menelepon seseorang di penghujung film, ketika akhirnya ekspresi dinginnya meleleh menjadi sesuatu yang lebih manusiawi. Ia bicara sambil kehabisan nafas dan dengan kata-kata yang tidak koheren, terasa begitu menyayat karena kesedihannya.

Al Pacino dan Robert De Niro yang sudah menua bergabung di The Irishman

Sumber gambar, Netflix

Keterangan gambar, Al Pacino dan Robert De Niro yang sudah menua bergabung di The Irishman

Russell dan Frank hidup sampai usia tua, meskipun di penjara. Keduanya harus memakai gigi palsu untuk memakan roti dan mencelupkannya ke jus anggur.

Ini cerminan adegan di awal film, ketika mereka pertama kali saling mengenal dengan mengobrol sambil berbagi sepotong roti dan anggur merah.

Belakangan, di dalam film, agen FBI mengingatkan Frank yang sudah sepuh bahwa pengacaranya sudah mati. "Siapa yang membunuhnya?" ia bertanya. "Kanker," jawab seorang agen dengan nada datar.

Dalam babak ketiganya, The Irishman mengeksplorasi gagasan bahwa hidup yang panjang adalah semacam hukuman, di mana keluarga menjadi saling terasing dan teman-teman mati, dan di mana para karakter diberikan waktu panjang untuk merenungkan apa yang telah mereka lakukan.

Tapi film ini juga punya lapis makna lain: Scorsese dan De Niro juga sudah tua. Ketika saya mewawancarai De Niro baru-baru ini, ia berkata ragu bahwa mereka bisa membuat film seperti ini lagi dengan jajaran pemain yang sama. Kemungkinan, The Irishman menandakan akhir kiprah Scorsese dalam genre yang telah ia bantu bangun.

Bahwa suatu hari nanti kita tidak akan lagi bisa menanti film baru dari Scorsese gagasan yang menyedihkan, dan ia mengakui ini, sebagian dengan membawa film gangster ke kelanjutannya yang paling logis: usia senja dan kematian.

Seperti halnya dalam satu abad terakhir kita menyaksikan genre Western beranjak dewasa kemudian pudar bersama bintang terpopulernya John Wayne, begitu pula, dengan menuanya De Niro dan Scorsese, film gangster kini menghadapi ajalnya sendiri.

Inikah selamat tinggal?

Menyaksikan De Niro menghadapi kematiannya - tidak melalui kekerasan tapi melalui jalannya waktu - mau tidak mau saya jadi tergugah. Ketika De Niro memulai karier, ia membawa tongkat estafet dari aktor-aktor hebat film gangster seperti James Cagney.

Seiring ia menua, kita melihat suatu jenis sinema bergeser dari masa kejayaan ke masa-masa senja bersamanya.

Bukan berarti tidak ada lagi film kriminal yang bagus, tapi drama epik berlatar di masa lalu tentang kejahatan terorganisir adalah satu jenis film yang mungkin akan semakin jarang, terutama karena para pencipta terbaiknya memberikan salam perpisahan di hadapan kita.

Dalam adegan final The Irishman, kamera perlahan mundur dari protagonisnya seperti nyawa dari karakternya. Tapi Scorsese membiarkan pintu terbuka, mengiringi kita dengan lagu bernada riang In The Still of the Night dari The Five Satins.

Begitu ironis bagi Frank yang menderita, itu adalah lagu yang akan membangkitkan nostalgia bagi banyak penonton sekaligus menohok.

Kita telah cukup beruntung bisa hidup untuk menyaksikan karya salah satu seniman film terhebat, yang telah berusaha secara konsisten untuk mengeksplorasi dan mengangkat film gangster setiap kali ia menanganinya.

Tidak akan ada lagi yang seperti The Irishman, dari Martin Scorsese atau orang lain.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Is The Irishman the end of the gangster movie as we know it?di laman BBC Culture.