For Sama dan perspektif perempuan tentang perang

For sama

Sumber gambar, ITN

    • Penulis, Hugh Montgomery
    • Peranan, BBC Culture

"Semua hal yang kita tahu tentang perang berasal dari 'suara laki-laki'. Kita semua tawanan dari 'gagasan dan perasaan laki-laki' akan perang. Laki-laki berbicara. Perempuan diam." demikian tulis jurnalis pemenang hadiah Nobel, Svetlana Alexievich dalam pengantar bukunya yang terkenal, The Unwomanly Face of War.

Buku itu awalnya dirilis dengan sensor di Uni Soviet pada tahun 1985. Versi tanpa sensornya baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dua tahun lalu, berisi kompilasi wawancara Alexievich dengan ratusan perempuan Rusia yang terlibat dalam Perang Dunia Kedua, mulai dari penembak jitu, perawat, pilot sampai pencuci pakaian.

Apakah subyeknya menawarkan pengamatan yang mendalam atau khusus, buku itu konsisten, cemerlang sekaligus mencerahkan.

"Bagaimana saya bisa melahirkan di tengah kematian?" tanya seorang perempuan, tentang keputusannya untuk melakukan aborsi.

"Bagi saya, hal yang paling mengerikan dalam perang adalah mengenakan celana dalam pria," kenang perempuan lain.

Tiga dekade berlalu, dan perspektif perempuan tentang perang membuktikan suatu hal. Salah satu film paling terkenal tahun ini adalah film dokumenter For Sama, yang dibuat oleh Waad Al-Kateab, perempuan muda Suriah yang tinggal di Aleppo.

Aleppo hingga kini menjadi medan pertempuran utama dalam perang sipil Suriah. Pasukan pendukung Presiden Assad, yang disokong oleh sekutunya, Rusia, membom kota yang dikuasai pemberontak agar tunduk pada pemerintah yang berkuasa.

Lima tahun sudah perang berkecamuk. Dari kekacauan pertama yang dipicu oleh gerakan anti-pemerintah di Aleppo, sampai pada titik di mana dia dan warga lainnya akhirnya melarikan diri dari kota demi keselamatan mereka setelah rezim merebutnya kembali.

Rekamannya yang menyerupai catatan buku harian memungkinkan pemirsa mengalami konflik melalui matanya: jurnalis muda, istri seorang dokter yang mengelola rumah sakit secara sukarela dan ibu seorang anak perempuan.

Melalui sulih suara, Al-Kateab membingkai film tersebut untuk ditujukan kepada anaknya. Sama lahir pada tahun 2015 dan menjadi titik utama kekacauan tersebut, mulai dari pembukaan film yang menyoroti wajah tak bersalahnya dari dekat sekali, tepat ketika serangan udara dimulai.

Juga ketika Sama dievakuasi ke ruang bawah tanah rumah sakit, di mana Al-Kateab meminta orang lain membawa anaknya ke bawah.

Ketika sebuah bom menghantam dari dekat, di depan kamera, Al-Kateab bergegas untuk bergabung dengan mereka. Ada beberapa momen panik dan disorientasi ketika dia menjelajahi kamar gelap untuk putrinya, karena petugas medis lainnya sibuk merawat pasien.

Akhirnya kita melihat Sama, dengan jaket merah mudanya, dengan tenang makan sebelum melemparkan botol susunya ke kamera. Kegembiraannya yang meriah membuat lega, dengan ironi yang mengerikan, agresi orang dewasa yang telah menghancurkan dunia di mana dia dilahirkan.

For Sama

Sumber gambar, ITN

Keterangan gambar, For Sama dibuat oleh Waad Al-Kateab untuk anak perempuannya, seorang bocah tak bersalah yang menjadi tokoh utama dalam kekacauan yang terjadi dalam perang sipil di Suriah.

Mungkin tidak mengherankan bahwa, mengingat situasi ekstrem di mana dirinya berada, Waad tidak pernah benar-benar melihat dirinya sebagai "pembuat film", seperti yang dia katakan kepada BBC Culture.

Pembuatan film tentu saja bukan pekerjaan, tetapi sesuatu yang dia lakukan karena kebutuhan mendesak. Beberapa pengambilan gambar dalam For Sama, terutama pengambilan gambar dengan drone di Aleppo yang menandai aksi tersebut, sangat luar biasa bagi seseorang yang sepenuhnya otodidak.

Peringatan tentang kebenaran

Waad mulai membuat video dengan ponselnya pada tahun 2011 dan 2012, ketika dia menjadi bagian aksi demonstrasi terhadap Assad di Universitas Aleppo.

Para mahasiswa dilaporkan ditangkap dan dipukuli oleh pasukan pemerintah. Dengan rezim yang berusaha menyangkal apa pun yang terjadi melalui saluran berita resmi, katanya, rekamannya adalah cara untuk menjadi saksi kebenaran.

Dari sana, dia mulai memfilmkan kehidupan sehari-harinya dan teman-temannya, termasuk hubungannya dengan pria sesama aktivis yang baru saja menjadi dokter, Hamza. Dia melakukannya meskipun semua orang, termasuk Hamza, tidak mengerti alasan Waad Al-Kateab merekam kejadian-kejadian itu.

"Semua orang di sekitar saya, bertanya setiap saat: 'mengapa kamu membuat film?'. Seperti ketika mereka akan bermain sepak bola dan saya ingin pergi bersama mereka... dan mereka akan berkata 'mengapa kamu merekam ini?". Mereka tahu wartawan melakukan sesuatu yang penting, tetapi [apa yang saya lakukan], bagi mereka, itu tidak masuk akal."

Titik balik terjadi pada 2013, ketika temannya, Gaith dan saudara laki-laki Gaith, Mahmoud, tewas dalam serangan udara, katanya.

"Setelah ini, [teman-temanku] tidak pernah memintaku berhenti ... [sebaliknya] ketika mereka melihat sesuatu, mereka memanggil 'Waad, datanglah syuting', kadang-kadang [bahkan] ketika aku sedang tidur atau tengah malam, dan bahkan ketika itu adalah sesuatu yang tampaknya tidak terlalu penting dalam pikiran mereka seperti toko hewan peliharaan atau penjual bunga. "

Peninggalan kematian Gaith kepada semua orang adalah nilai sebenarnya dari rekaman Al-Kateab: sebagai peringatan bahwa hidup bisa berakhir, pada titik mana pun.

Dan dalam mengabadikan keberadaan mereka dalam film untuk anak cucu, dia ingin melukis selengkap mungkin. "Fakta bahwa saya tahu saya akan dibunuh, itu sangat penting dan selalu ada di pikiran saya," kata Waad.

"Jadi saya butuh agar [orang] di luar Aleppo tahu persis bagaimana kehidupan kami di dalam. Agar seseorang melihatnya dan bisa mengerti sebenarnya mengapa kami melakukan ini dan bagaimana kami hidup dalam situasi itu, betapa sulit dan betapa menyenangkannya... kadang-kadang. "

For Sama

Sumber gambar, ITN

Keterangan gambar, Film ini merekam kematian dan penderitaan yang dialami Al-Kateab bersama dengan suaminya, anak perempuannya dan teman-temannya.

Secara bertahap, Al-Kateab mulai berkolaborasi dengan media di luar Suriah. Videonya muncul di Orient TV dan jaringan Al Arabiya. Sebelumnya, pada 2015, ia mulai bekerja dengan Channel 4 News.

Ketika dia melarikan diri dari Suriah pada akhir 2016, dengan membawa berbagai harddisk di balik jaketnya, dia kemudian mendiskusikan potensi untuk membuat sesuatu yang lebih substansial dengan Channel 4.

Dia kemudian bekerja sama dengan pembuat film dokumenter Inggris, Edward Watts, untuk menyaring 500 jam materi video yang berhasil diselundupkannya.

Watts, yang dikenal karena film-filmya seperti Escape from ISIS yang menang dalam penghargaan Emmy pada 2015, menggambarkan bahwa apa yang dia lihat dari materi yang dibuat Waad Al-Kateab membuatnya "terkesima. "Saya selalu ingin membuat film tentang Suriah… dan hal pertama yang saya rasakan adalah 'Ya Tuhan, film yang saya impikan ternyata ada di luar sana."

Sebagai seseorang yang akrab dengan zona perang, dia terpana, khususnya, dengan nuansa emosional yang ditangkap oleh Al-Kateab.

"Dalam lingkungan seperti itu, Anda melihat yang terbaik dari orang-orang, serta yang terburuk. Anda melihat humor: orang selalu bercanda. Dan orang-orang benar-benar saling menunjukkan cinta, kebaikan, dan kasih sayang yang lebih besar daripada yang akan mereka lakukan dalam [keadaan] normal."

"Dan itulah yang benar-benar mengejutkan saya dalam rekamannya. Ini adalah bayi yang luar biasa, dan kisah cinta yang luar biasa, dan sisi yang lebih ringan dari pengalaman manusia, sisi yang ada dalam konflik tetapi sangat jarang kita lihat. "

Kekuatan sesungguhnya film ini, memang, berada dalam valorisasinya terhadap saat-saat yang tampaknya tiba-tiba pada perang yang terkoyak-koyak.

Berpusat di sekitar rumah sakit, film ini menyeimbangkan rekaman kematian dan penderitaan yang menghebohkan di perut Al-Kateab dan Hamza, kelahiran Sama, lalu, setelah itu, kekacauan kehidupan, bersama teman-teman mereka Salam dan Afra.

Potret dua orang terakhir ini sangat menggembirakan, mulai dari ketika Salam memberikan buah kesemek kepada Afra yang gembira, atau Afra bercanda tentang putrinya yang ngompol karena ketakutan selama serangan udara ("pagi yang puitis").

Keadaan mereka yang luar biasa sering menjadikan emosi mereka sangat berhubungan. Misalnya dalam adegan pelukan Al-Kateab dan Hamza, suaranya kepada Sama menunjukkan bahwa ini adalah pertama kalinya dia dan ayah Sama bertemu setelah berpisah selama empat hari.

Dia sibuk syuting, sementara suaminya berada di ruang gawat darurat, itu adalah ukuran dari situasi berisiko tinggi pasangan ini. Tetapi dari sudut lain, mencerminkan rutinitas para orangtua muda yang bekerja di mana-mana.

Sepanjang pengamatan, irisan kehidupannya membuktikan pepatah klasik bahwa makin spesifik sebuah seni, maka ia semakin universal.

Tatapan perempuan?

Tetapi sejauh mana pandangan For Sama terhadap perang dipahami secara khusus melalui sudut pandang gender?

Ketika berpikir tentang gagasan tentang perspektif laki-laki atau perempuan tentang subjek apa pun, selalu ada bahaya esensialisme dan stereotip.

Memikirkan film-film fiksi tentang perang yang disutradarai oleh perempuan, misalnya film Beau Travail, karya klasik Claire Denis yang dibuat pada 1999. Film dengan setting militer Prancis ini, telah dilihat oleh beberapa orang sebagai pandangan sensual perempuan terhadap maskulinitas militer, meskipun Denis sendiri telah membantah pembacaan ini.

"Pandangan itu adalah sebuah keputusan. Itu bukan gender. Agak menjijikkan untuk menerima itu sebagai tatapan perempuan," tuturnya dalam sebuah wawancara.

Dan kemudian bagaimana dengan Kathryn Bigelow, yang studi perang Iraknya yang keras dan tegang, The Hurt Locker, diklasifikasikan oleh beberapa kritikus sebagai contoh bagaimana perempuan membuat 'film pria' yang lugas. Penjelasan ini kemudian secara sinis digunakan untuk menjelaskan keberhasilannya sebagai sutradara perempuan pertama yang berhasil memenangi Oscar.

Tetapi sementara diskusi tentang sudut pandang perempuan dan laki-laki adalah kasar dan reduktif, itu tidak valid. Dalam The Unwomanly Face of War, Alexievich tidak segan-segan menyatakan bagaimana dia percaya perempuan secara mendasar mengalami, dan memahami, perang secara berbeda.

Ada beberapa cara yang jelas di mana orang-orang yang diwawancarai mendapati perbedaan-perbedaan ini dipaksakan kepada mereka. Terlepas dari kenyataan bahwa hampir satu juta perempuan bertempur dengan menjadi Tentara Merah, para prajurit menceritakan bagaimana mereka dilindungi oleh rekan-rekan pria mereka. Tapi mereka kemudian dipermalukan untuk menutupi keterlibatan mereka dalam bisnis yang 'tidak baik untuk perempuan' ketika mereka kembali ke rumah.

"Tidak ada seorang pun yang bisa saya ceritai bahwa saya terluka, bahwa saya mengalami gegar otak," kata satu dari mereka mengenang.

"Ketika mencoba mengatakan itu, siapa yang akan memberimu pekerjaan? Siapa yang akan menikahimu? Kami diam seperti ikan."

Tapi Alexievich juga membuat pengamatan menarik soal bagaimana subjek perempuannya memproses perang. Bahkan ketika pengalaman mereka secara serupa mirip dengan pria, apa yang mereka pilih untuk fokus atau yang mereka tidak ingin fokus, berbeda.

"Pria bersembunyi di balik sejarah, di balik fakta; perang mempesona mereka sebagai aksi dan konflik ide, kepentingan, sedangkan perempuan terjebak dengan perasaan," tulisnya.

Untuk mempertegas perbedaanya, jelas bahwa misi yang membimbingnya adalah untuk memberikan pandangan yang luar biasa 'tidak jantan' tentang konflik. Catatan yang tertarik pada pandangan mikro daripada pandangan makro tentang suatu peristiwa, menghindari narasi sejarah besar dan menyeluruh yang mendukung kesaksian individu yang intim dan tidak memiliki catatan kaki, dan tampaknya dirangkai dalam urutan acak.

"Detail kecil adalah hal yang paling penting bagi saya: kehangatan dan kejelasan hidup." Dia juga menyatakan pada satu titik, dan, seperti halnya dengan Sama, itulah yang terbakar dalam ingatan mereka. Apakah itu seorang perempuan yang menjelaskan entah bagaimana dia mengikatkan sekuntum bunga violet pada bayonetnya, atau perempuan lain yang teringat mendengar gandum berdesir di tengah rentetan senapan mesin ringan Jerman.

Ketika berbicara tentang For Sama, apakah Al-Kateab dan Watts masing-masing melihatnya sebagai visi perang khusus perempuan?

"Waad dan aku sudah banyak membicarakan hal ini. Dia adalah orang yang selalu mengatakan 'itu perspektif manusia,'" kata Watts.

"Tapi saya pikir ada satu titik, yaitu, dan saya tahu ini berada di zona konflik sendiri ... mayoritas pria sering ditarik ke garis depan dan pertarungan dan sisi dimana ledakan terjadi. Dan saya pikir apa yang begitu istimewa tentang apa yang Waad capai adalah pengambilan gambar kumbang-kumbang kecil dalam nasi atau sepotong buah, dan menghargai bahwa itu adalah bagian dari perang, dan kehidupan [di sana], seperti perang itu sendiri."

Bagi Al-Kateab, sementara itu, fakta bahwa film itu sangat pribadi. Berarti itu adalah pandangan yang jelas tentang apa yang sedang terjadi.

"Saya merasa itu adalah perspektif saya sebagai Waad, dan saya perempuan jadi tentu saja itu [perspektif perempuan]," demikian dia berkata, yang secara otomatis menandai apa yang dia lakukan."

"Saya tahu bahwa sebagian besar laporan perang seperti berita atau dokumenter, atau apa pun, bahkan jika berasal dari perspektif perempuan, semua dibatasi oleh kekuasaan atau aturan laki-laki," kata Waad.

Kebenaran universal

Bukan hanya itu, sebagai perempuan dengan kamera, dia tidak harus bersaing dengan asumsi patriarkal saat syuting. Berkali-kali, katanya, dia mengalami penghinaan.

Di satu sisi, orang akan menertawakannya karena ingin membuat film di garis depan dan di sisi lain, ketika dia memutuskan untuk berkonsentrasi pada pembuatan film di rumah sakit, wartawan pria berpandangan dangkal akan mengatakan dia "membuang-buang waktu... [dia hanya melakukan ini] karena dia perempuan, dan dia tidak bisa keluar."

Tapi, yang paling unik, For Sama menawarkan perspektif seorang ibu tentang perang. Seorang ibu baru, terperangkap antara membela kota, dan negaranya, dan menjaga orang yang paling berharga baginya, agar tetap aman.

Pada satu titik, kita melihat Waad dan Hamza membuat keputusan menyiksa untuk kembali ke Aleppo yang dikepung. Mereka kembali bersama Sama setelah sempat keluar sebentar untuk mengunjungi orang tua Hamza di Turki.

"Dalam hati kami, kami merasa harus kembali dan membawa Anda bersama kami. Kami tidak tahu mengapa. Yang benar adalah saya tidak percaya kami melakukannya, bahkan sampai sekarang," ujarnya mengingat kala itu.

Ketika suasana hatinya sedang muram, dia mengaku kepada Sama, dengan sedih, "Aku berharap aku tidak akan pernah melahirkanmu".

Dua kali, di rumah sakit, kita melihat ibu-ibu menggendong anak-anak yang mati dalam gendongan mereka, kengerian yang dilawan di tempat lain oleh mukjizat dari tubuh pucat bayi yang tampaknya lahir mati sedang dihidupkan kembali agar hidup.

Adegan-adegan ini beresonansi, sebanyak apa pun, sebagai manifestasi dari kecemasan paling utama Al-Kateab. Dia ingat bagaimana seseorang yang menonton film itu bertanya kepadanya, ''Mengapa begitu banyak anak di kota ini? Kami belum pernah melihatnya dalam laporan lain '"Saya tidak tahu, saya melihat mereka di sekitar saya.

Ketika saya melihat seorang anak atau seorang ibu, tanpa rencana apa pun, saya [hanya mengikuti mereka] begitu saja."Namun hal yang menarik untuk dicatat tentang visi For Sama yang luar biasa intim adalah bahwa, ketika memilih dan mengedit rekaman, Al-Kateab awalnya ingin membuat film yang tidak terlalu personal.

"Saya hanya merasa ada begitu banyak hal untuk dibicarakan, yang lebih penting daripada kehidupan pribadi saya," jelasnya.

"Saya tidak ingin orang yang hidup dalam cerita ini mengatakan 'ini hanya cerita Waad, ini bukan kisah kita.'"

Edward Watts

Sumber gambar, ITN

Keterangan gambar, Pembuat film dokumenter Inggris, Edward Watts, bekerja sama dengan Waa Al-Kateab untuk menyunting rekaman videonya sehingga menjadi film For Sama.

Watts, yang diuntungkan oleh jarak, bagaimanapun, dapat melihat bahwa kisah individu Al-Kateab adalah cara yang paling emosional untuk mewakili pengalaman kolektif warga Aleppo kepada orang luar.

"Ketika kami berproses, saya semakin berpikir [Waad] memahami garis ini yang saya pelajari dari salah satu bos lama saya bahwa 'melalui jendela terkecil Anda bisa memiliki [sudut] pandang yang paling besar."

"Hal terbaik dari seluruh perjalanan adalah ketika dia membawa film terakhir kepada teman-temannya di Turki dan memperlihatkannya kepada mereka. Dan pada akhirnya mereka berkata, 'Anda tahu, ini adalah kisah Anda, kisah Anda dan Hamza dan Sama, tapi itu semua cerita kami. Esensi emosionalnya persis apa yang kita semua lalui. '"

Sedangkan untuk sulih suara Sama? Itu juga ide Watts, di atas kertas, meskipun seperti yang dikatakannya, itu "pada dasarnya kami berdua."

"Ini mungkin terdengar agak aneh, tapi pengalaman saya membuat film adalah mereka tahu apa yang mereka inginkan, tetapi Anda sebagai pembuat film berusaha untuk mendengar itu. Seluruh kualitas pembuatan film Waad dan kisahnya diresapi dengan dialog semacam ini dengan Sama. Itu hampir tidak disadari, tetapi begitu banyak [rekamannya berfokus pada] anak-anak dan perjuangan untuk masa depan. Rasanya seperti inilah inti dari film ini. Itu hanya masalah bagaimana menemukannya."

Pada akhirnya, di atas dan di luar gender, itulah yang disebut Watts sebagai dinamika "yin yang" antara Al-Kateab, sebagai perempuan yang tinggal di Suriah, dan dia, sebagai orang luar, laki-laki Barat yang melakukan penyuntingan.

Tentu saja, apa yang telah mereka hasilkan adalah studi tentang perang dengan keseimbangannya sendiri: antara cahaya dan keteduhan, kekhususan dan universalitas, perasaan mendalam dan struktur bermata tajam.

Dalam film tersebut, Al-Kateab, yang sekarang berbasis di London bersama Hamza, Sama dan putri bungsunya Taima, dan bekerja di ruang berita Channel 4, mengungkapkan rasa frustrasinya. "Jutaan orang menonton laporan saya tetapi tidak ada yang melakukan apa pun untuk menghentikan rezim. "

Harapan kedua sutradara adalah bahwa, pada saat perang saudara terus berkecamuk di Idlib, kota yang dikuasai pemberontak yang tersisa, kualitas mendalam yang unik dalam For Sama bisa mendorong politisi Barat untuk mengambil tindakan terhadap rezim Assad.

Sejak pertama kali diputar dan mendapat sambutan yang meriah di SXSW dan Festival Film Cannes awal tahun ini, film ini telah dirilis di bioskop-bioskop di AS dan Inggris. For Sama memenangkan berbagai penghargaan di seluruh dunia, dan telah diputar di PBB, yang membentuk dorongan penyelidikan tentang dugaan pengemboman fasilitas medis yang sistematis oleh rezim Suriah dan sekutu Rusia mereka.

Harapannya adalah bahwa sekarang film ini akan ditayangkan di kongres AS dan Gedung Parlemen Inggris.

"Kami telah mencoba yang terbaik untuk membuat orang-orang ini memikirkan pengalaman ini, dan melalui satu setengah jam menonton ini dengan cara yang benar-benar dapat mereka pahami," kata Al-Kateab.

"Dan aku masih punya harapan bahwa film ini benar-benar akan membuat perbedaan."

bbc

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini, For Sama and the female perspective on war di laman BBC Culture.