Fakta tentang kekayaan masyarakat kelas atas AS 'dapat picu kericuhan'

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Gil B. Manzon Junior
- Peranan, Guru besar di Boston College.
"Jika orang miskin mengetahui tingkah polah sekelompok orang kaya, akan terjadi berbagai kericuhan di jalanan."
Aktor sekaligus komedian, Chris Rock, mengeluarkan pernyataan cerdik ketika diwawancara majalah New York tahun 2014. Ia merujuk pada kesenjangan antara masyarakat kelas bawah dan atas yang semakin tipis. Saat membicarakan isu itu, Rock secara tidak sengaja menemukan tantangan utama untuk studi kesenjangan ekonomi.
Apa sebenarnya yang dapat mengukur ketimpangan kesejahteraan di masyarakat?
Sebagian besar kajian kesenjangan ekonomi didasarkan pada pendapatan, data yang tersedia luas di masyarakat. Namun, kekayaan bukanlah penjumlahan pendapatan selama satu tahun, melainkan akumulasi harta benda dari waktu ke waktu. Di masa lalu, perhitungan pertambahan harta seperti itu butuh kejelian tertentu.
Masyarakat kelas atas barangkali ingin publik tidak mengetahui seberapa tajir diri mereka, mungkin agar keributan sosial tidak muncul. Meski demikian, orang-orang seperti saya, yang mempelajari isu ini, selalu mengulik data dan metode akurat untuk menghitung kesenjangan antara si miskin dan si kaya.
Saya tidak sedang memicu kerusuhan, namun saya yakin, studi ini penting bagi masyarakat agar mereka memahami disparitas yang terjadi di lingkungan mereka. Cara yang paling tepat untuk mengungkap hal ini, menurut saya, adalah dengan mengacu pada ketimpangan ekonomi.
Seberapa besar kesenjangan itu?
Terdapat sejumlah cara untuk menghitung jurang perbedaan ekonomi di masyarakat.
Salah satu faktor yang paling sering digunakan adalah pendapatan. Alasannya, informasi soal pendapatan ini bertebaran dan mudah diukur dibandingkan faktor-faktor lainnya. Namun, pendapatan tidak memotret kondisi seutuhnya.

Sumber gambar, Getty Images
Kekayaan, di satu sisi, tercipta dari sekumpulan faktor. Kepemilikan atas harta benda tak cuma dipengaruhi pendapatan saat ini, tapi juga pendapatan pada tahun-tahun sebelumnya dan yang didapatkan generasi sebelum kita. Hanya dengan mengkaji pendapatan, para sarjana dan pengambil kebijakan dapat mengukur seberapa dalam dan seberapa lebar kesenjangan antara si kaya dan orang lainnya.
Seberapa besar harta benda yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang tepat untuk mengukur kualitas hidup dan peluang-peluang yang mungkin dapat diraihnya. Kekayaan menunjukkan kemampuan sesorang meraih pendidikan, keuangan, serta kenyamanan dan keamanan masa pensiun.
Harta benda juga memetakan kemampuan seseorang untuk membayar beragam tagihan dan menutup pengeluaran tak terduga. Apabila anda memiliki harta benda, membayar tagihan perbaikan mesin penghangat air atau biaya pengobatan tidak akan membuat Anda stres seperti jika Anda orang miskin.
Jurang yang semakin dalam
Data kesenjangan kesejahteraan di Amerika Serikat (AS) menunjukkan fakta yang mencengangkan dan membuat ketimpangan di negara lain tidak berarti.
Institute Hudson yang terkenal konservatif pada 2017 menyebut 5% orang kaya di AS menguasai 62,5% aset di seluruh negara itu tahun 2013.
Angka itu meningkat 54,1% dari tahun sebelumnya. Konsekuensinya, kekayaan sekitar 95% penduduk AS lainnya menurun dari 45.9% ke angka 37.5%.

Sumber gambar, Getty Images
Dampak lainnya, rata-rata pendapatan tahunan keluarga kelas atas sebsar US$639 ribu atau Rp8,8 miliar setara tujuh kali median pendapatan keluarga kelas menengah yang hanya sebesar US$96,5 ribu atau Rp1,3 miliar.
Hitung-hitungan itu menunjukkan kesenjangan ekonomi terbesar di AS selama 30 tahun terakhir.
Secara lebih detail lagi, peneliti ketimpangan sosial, Emmanuel Saez dan Gabriel Zucman, menemukan fakta bahwa 0,01% orang kaya menguasai 22% aset di AS tahun 2012. Pada tahun 1979, penguasaan itu dipegang 7% masyarakat kelas atas.
Jika anda memperhatikan data berbasis kesenjangan pendapatan, anda akan mendapatkan temuan yang lain.
Tahun 2013 misalnya, 5% keluarga kelas atas memiliki pendapatan sebesar 30% dari seluruh pendapatan warga AS, berbanding dengan 63% penguasaan seluruh kekayaan yang ada.
Meskipun AS bukan satu-satunya negara yang mengalami peningkatan kesenjangan kesejahteraan selama tiga dekade terakhir, temuan-temuan tadi tetap terasa janggal.
Sebanyak 5% rumah tangga paling kaya di AS memiliki harta sebesar 91 kali lipat dibandingkan keluarga kelas menengah. Angka itu merupakan ketimpangan terbesar di antara 18 negara paling berkembang di dunia.
Belanda berada di bawah AS, dengan persentase kurang dari setengah angka itu.
Undang-undang pemotongan dan pekerjaan pajak yang baru-baru ini disahkan di AS akan membuat persoalan ini lebih buruk.
Poin utama beleid itu adalah menggandakan standar pemotongan untuk pembayar pajak individual dan peningkatan pemotongan sementara dalam persentase pajak dari 39,6% menjadi 37%.
Aturan itu juga mengatur pengurangan signifikan terhadap rumah tangga yang terkena pajak harta benda dan mengurangi pajak perusahaan dari 35% menjadi 21%.

Sumber gambar, Getty Images
Dampak yang paling terasa adalah penyebaran kekayaan yang tidak simetris. Contohnya, 20% keluarga kelas bawah akan mendapatkan pajak yang lebih rendah, sekitar US$40 atau Rp550 ribu, dibandingkan masyarakat kelas atas yang dikenakan pajak US5.420 atau sekitar Rp74 juta.
Sementara itu, keluarga paling kaya di AS dapat menyimpan US61,8 ribu atau Rp853 miliar.
Pada tahun 2025, rumah tangga terkaya di AS akan meraih keuntangan US$152,2 ribu atau Rp2 miliar. Pada saat yang sama, keluarga yang lain hanya akan gigit jari. Pemotongan pajak individual itu akan berakhir 2026.
Pembayar pajak paling kaya juga akan mendapatkan keuntungan lain dari beleid itu. Penelitian menunjukkan, dampak positif penurunan pajak untuk sektor bisnis hanya akan dirasakan oleh mereka.
Adapun, semakin sedikit aset yang masuk daftar warisan kena pajak berarti akumulasi kekayaan akan bergulir ke generasi orang terkaya itu.

Sumber gambar, Getty Images
Para pengusul beleid itu mengklaim sejumlah aturan tersebut tidak akan meningkatkan kesenjangan ekonomi karena aset yang dikumpulkan masyarakat kelas atas akan bergulir dan mengangkat warga di strata ekonomi lainnya.
Namun bukti empiris memperlihatkan gejala sebaliknya: semakin banyak uang tersalurkan ke masyarakat kaya melalui pemotongan pajak tidak akan meningkatkan perekonomian.
Aturan itu justru memperkecil akses pendidikan untuk masyarakat miskin AS, bahkan memperpendek angka harapan hidup yang terus menurun dalam dua tahun terakhir.
Memantik kepedulian
Lalu apakah Chris Rock benar bahwa masyarakat AS tidak peduli terhadap kesenjangan ekonomi di negara mereka?
Jajak pendapat menyiratkan jawaban 'ya'. Responden pada survei nasional tahun 2011 misalnya, secara dramatis mengabaikan ketimpangan tersebut.
Survei itu, termasuk jajak pendapat lainnya, juga secara parsial mengafirmasi sebagian pernyataan Chris Rock, bahwa sebagian besar warga AS ingin jurang kesejahteraan itu dikikis.
Pandangan bahwa kesenjangan ekonomi di AS bertahan akibat kondisi sosial atau psikologis masyarakat atau bahkan akan memicu kerusuhan, masih terus dipertanyakan.
Apapun yang terjadi, hal pertama yang harus kita ketahui adalah seberapa buruk kesenjangan ekonomi itu telah bergulir. Yang kita lakukan terhadap fenomena itu tentu saja bergantung pada diri kita sendiri.

Artikel aslinya pertama kali dipublikasikan The Conversation, dan kemudian dipublikasikan kembali melalui lisensi Creative Commons. Penulisnya Gil B. Manzon Juniormerupakan profesor Akutansi pada Boston College.
Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris diBBC Capital dalam judul How rich are the rich? If only you knew.









