Masyarakat bergotong-royong membantu pengungsi di Malaysia
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia, Kuala Lumpur
Ketiadaan payung hukum untuk melindungi pengungsi tidak berarti kelompok orang yang melarikan diri dari negara mereka guna menyelamatkan diri tersebut semestinya diabaikan.
Kalau pun bukan negara, kelompok-kelompok masyarakat bergotong royong menyokong pengungsi seperti yang terjadi di Malaysia.
Berbagai lembaga swadaya masyarakat memberikan pelayanan nirlaba seperti pendidikan dan kesehatan kepada pengungsi dari berbagai negara.
Sekolah

Elshaddai Refugee Learning Centre adalah pusat pendidikan nirlaba bagi pengungsi anak-anak mulai usia empat hingga 17 tahun. Terletak di kawasan Lembah Klang, Malaysia, tak kurang 420 murid terdaftar di sekolah ini. Satu ruang milik gereja dipinjamkan untuk mengakomodasi tiga kelas sekaligus.

Seluruh siswa adalah pengungsi dari berbagai negara, tanpa pandang agama dan warna kulit. Karena status mereka sebagai pengungsi, mereka tak boleh bersekolah di sekolah-sekolah negeri di Malaysia sehingga pusat pendidikan seperti ini menjadi penting bagi pengungsi.

Karena tak cukup ruang di dalam gedung milik gereja, satu kontainer disulap menjadi ruang kelas bagi anak-anak usia sekolah dasar. Kabin ini diletakkan di halaman gereja.

Salah seorang guru adalah pengungsi sendiri. Namanya adalah Comfort. Ia melarikan diri ke Malaysia karena negaranya, Liberia di Afrika Barat, dilanda perang.

Di siang hari, setiap siswa mendapat jatah makan siang dengan menu bervariasi. Sang juru masak adalah Saripah dari Madura, Jawa Timur.

Menurut Kepala Sekolah Elshaddai Refugee Learning Centre, Gan Whye Ying, siswa dipungut sumbangan 40 ringgit, sekitar Rp130.000 per bulan. Sumbangan digunakan untuk biaya makan siang dan buku. Sebagian besar biaya operasional dibantu oleh gereja-gereja di kawasan Lembah Klang.
Rumah singgah

Seorang pria mencuci sayur untuk dimasak bagi para penghuni rumah singgah di sebuah kota kecil di Negara Bagian Selangor, Malaysia. <link type="page"><caption> Rumah ini diperuntukkan bagi korban perdagangan manusia dan pengungsi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160218_dunia_malaysia_perdagangan_manusia" platform="highweb"/></link>.

Yang mengurus rumah singgah, Alex Arokiam, sekaligus bertugas sebagai juru masak dengan dibantu para penghuni rumah.

Adapun mereka yang tak mampu melakukan pekerjaan rumah boleh duduk-duduk di teras. Seorang mantri memastikan mereka yang sakit meminum obat tepat waktu.
Sebagian dari mereka adalah orang Rohingya yang mengalami cacat kaki karena, sebagaimana diceritakan oleh mereka, dipaksa berjongkok di dalam perahu penuh orang senasib ketika diselundupkan dari Myanmar dan kemudian dirantai sesampai mereka di hutan antara Thailand dan Malaysia.
Mereka baru dilepas jika keluarga mereka mampu melunasi biaya penyelundupan atau jika dianggap akan mampu bekerja di Malaysia dan mencicil utang itu. Beberapa di antara mereka sudah terdaftar di Badan Pengungsi PBB (UNHCR).









