Komunitas pengungsi di Malaysia cerminkan keberagaman dimensi
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia, Kuala Lumpur
- Waktu membaca: 4 menit
Ketika Eropa kebanjiran pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak dan Afghanistan, serta migran, kawasan Asia Tenggara sudah menjadi tuan rumah sekitar 500.000 pengungsi sejak puluhan tahun terakhir.
Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi dari Myanmar dari berbagai etnik, termasuk Chin dan Rohingya yang mengalami penindasan di negara mereka.
Namun kelompok pengungsi di negara-negara Asia Tenggara sebenarnya sangat beragam seperti tercermin dalam komunitas pengungsi di Malaysia. Inilah kisah mereka.
Ci (16)

Ci berasal dari etnik Chin yang pada umumnya beragama Kristen dan biasa menduduki kawasan pegunungan Negara Bagian Chin di Myanmar bagian barat. Mereka dilaporkan ditindas atas dasar etnik dan agama di sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.
“Saya menganggap diri saya sebagai pengungsi karena saya harus jujur dan tidaklah bagus menutup-nutupi latar belakang saya.
"Orang-orang memandang anak-anak tidak terlalu banyak berpikir. Sebagai pengungsi remaja, kami memikirkan bagaimana kami bisa bertahan hidup hari ini, bagaimana bisa mendapatkan makan."

"Namun hal itu bukan poin utama. Poin utama kami adalah kami takut akan perang. Tentara Myanmar menyerang desa-desa kami. Sebagai anak, kami takut.
"Di pengungsian di Malaysia ini, ketika kami bilang kepada orang lain bahwa kami pengungsi, mereka meninggalkan kami. Sebagai pengungsi kami haus akan cinta dan perdamaian. Kami perlu kasih sayang dari orang lain."
Sianpi (18)

Ia mengungsi sendiri ke Malaysia tanpa ibunya yang masih tinggal di Myanmar. Ayah Sianpi meninggal dunia ketika ia masih berusia 10 tahun. Adapun ibunya kesulitan mendapatkan pekerjaan di kampung halaman sementara masih mengasuh tiga adik-adik Sianpi.
"Saya kerja apa adanya di Malaysia dan mengirimkan uang pulang untuk sekolah adik-adik saya. Sebagai pengungsi sangat sulit karena saya masih muda. Jadi di masa depan saya ingin merasa aman. Menjadi pengungsi, saya tak punya makan, tak punya kasih sayang."
Bawi (20)

Pada 2014, kedua orang tua Bawi membawanya dan kakaknya ke Malaysia setelah gereja di desanya di Negara Bagian Chin, Myanmar, dibakar oleh sekelompok orang yang diduga diperintahkan oleh pihak berkuasa.
“Ketika saya tiba di Malaysia saya tidak mengira kami akan menjadi pengungsi tetapi kenyataannya kami adalah pengungsi dan komunitas di sini membantu kami."
Faduma (19)

Selain belajar di Fugee School, sekolah untuk pengungsi anak-anak di kawasan Selangor, Malaysia, Faduma juga menjadi relawan di sana sebagai koordinator untuk kelas pagi. Tugasnya antara lain membantu anak-anak masuk ke ruang kelas tepat waktu, menemani mereka sampai mereka diantarkan pulang atau menyiapkan perlengkapan belajar.
Faduma mengaku telah mendapat banyak setibanya di Malaysia dari Somalia.
“Saya tak bisa mengatakan bahwa saya adalah seorang artis, tapi saya bisa melakukan sesuatu. Ketika saya masih di Somalia, saya tak pernah menggambar sepanjang hidup saya, jadi ketika saya tiba di sini saya belajar banyak dan saya banyak melukis.“
Daniel (35)

Separuh hidup Daniel dihabiskan di pengungsian setelah perang berkecamuk di Liberia, tanah kelahirannya di Afrika Barat. Ia dibawa mengungsi ke Ghana oleh keluarganya.
Pada 2012, bersama seorang kawan, Daniel menempuh perjalanan udara ke Malaysia untuk menyusul beberapa kawan yang sudah berada di Malaysia. Di bagian imigrasi di Bandar Udara KLIA, ia harus menjalani proses pemeriksaan yang lama sekali sebelum paspornya dicap dan ia diperbolehkan keluar.
Kawan-kawannya yang menjemput ternyata sudah tidak ada di bandara ketika Daniel akhirnya keluar dari bagian ketibaan.
“Saya menunggu berjam-jam dan tapi mereka tidak ada. Saya tidak tahu Malaysia sama sekali. Lalu ada seorang pria yang tampak keturunan India menghampiri dan bertanya mengapa kami lama di sana," katanya kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

“Ia menyarankan kami pergi ke gedung kembar Petronas di pusat kota Kuala Lumpur. Dia berkata di sana nanti kita bisa menemukan orang Afrika."
"Kami pasang mata untuk mencari orang-orang seperti kami dan setelah beberapa jam ada sejumlah pria Afrika tapi mereka berlalu saja ketika kami mintai bantuan. Akhirnya ada seorang pria lagi dan ternyata ia mahasiswa asal Ghana, yang kemudian membawa kami ke kantor UNHCR (Badan Pengungsi PBB)."
"Di Malaysia susah mencari kerja karena steriotip orang Afrika yang dianggap sebagai penjahat. Saya ditolak bekerja di industri kecil pengemasan air minum padahal saya bisa mengangkat dua galon sekaligus karena badan saya kuat. Yang diterima justru pengungsi Myanmar yang badannya kecil dan mungkin tak kuat mengangkat satu galon air."
Husna binti MD Hussain (23)

Lahir di Malaysia namun berasal dari kelompok pengungsi etnik Rohingya, Myanmar. Ketika BBC Indonesia pertama kali menjumpainya tahun 2015, <link type="page"><caption> Husna</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/04/150422_rohingya_generasi_muda" platform="highweb"/></link> bertutur ingin melanjutkan pendidikan dengan mengambil sekolah perawat. Namun cita-citanya tak tercapai.
“Saya berminat belajar keperawatan sehabis sekolah tapi tak bisa menyambung karena tak dapat pinjaman untuk belajar,” ujarnya.
Dana yang diperlukan untuk menyelesaikan sekolah perawat selama tiga tahun diperkirakan 50.000-60.000 ringgit, berkisar antara Rp160-192 juta.

Ia kini menghabiskan waktunya untuk mengajar Bahasa Melayu kepada anak-anak Rohingya di sekolah yang dikelola oleh lembaga swadaya masyarakat yang diberi nama Masyarakat Rohingya di Malaysia (RSM) di kawasan Ampang, Selangor Darul Ehsan.
“Saya ingin mengajar saja agar semua anak Rohingya pandai bahasa Melayu dan menjadi orang-orang berguna. Mereka harus pandai membaca dan menulis untuk mendapat ilmu.”
Shadiq Husain (21)

Kombinasi antara penindasan terhadap etnik Rohingya di Myanmar dan kemiskinan membuat Shadiq Husain membayar 7.000 ringgit, sekitar Rp22 juta, kepada seorang agen untuk menyelundupkannya ke Malaysia.
Perjalanan laut dan darat ditempuhnya selama berminggu-minggu dari Myanmar ke Thailand dan kemudian melintasi jalan tikus masuk dari Provinsi Songkhla di Thailand ke Padang Besar di wilayah Malaysia.
"Saya jatuh dari bangunan dan kaki saya patah sehingga harus diamputasi. Ketika lantai bangunan runtuh, saya jatuh bersama tiga kawan saya. Mereka semua meninggal dan hanya saya yang selamat," ujarnya di atas kasur yang digelar di lantai di penampungan pengungsi di kawasan Ampang, Kuala Lumpur.









