Peluang penempatan pengungsi dari Malaysia ke negara ketiga 'tipis'

- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia, Kuala Lumpur
- Waktu membaca: 2 menit
Hussein Shah (41) mengaku pikiran dan hatinya berkecamuk setelah mendapatkan kepastian bahwa tahun ini kemungkinan besar ia beserta keluarganya akan meninggalkan Malaysia, yang sudah menjadi 'rumahnya' selama separuh hidupnya.
Ia mengungsi dari Myanmar ketika terjadi penindasan terhadap etnik Rohingya di sana dan sejak 20 tahun lalu belum pernah menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.
“Hati saya mau pergi ke Amerika pun kadang-kadang seronok (menyenangkan hati), kadang-kadang tak seronok. Tapi apa boleh buat kita tengok kehidupan anak-anak yang masih panjang, kita putuskan mau pergi ke sana," ujar Hussein Shah dalam wawancara dengan BBC Indonesia di kawasan Cheras, pinggiran Kuala Lumpur, Selasa (16/02).
“Kalau pun kita tak senang, anak-anak kita bisa maju, bisa sekolah SMA, bisa belajar lebih tinggi lagi,” tambahnya tentang permohonannya sebagai pengungsi untuk ditampung di negara ketiga.
Daftar tunggu

Rencananya ia akan ditempatkan di Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat, setelah menunggu penempatan puluhan tahun dan merampungkan seluruh proses di Badan Pengungsi PBB (UNHCR), termasuk wawancara.
Bapak tiga anak ini merasa beruntung karena akan ditampung di Amerika Serikat dan sekaligus mengakhiri statusnya sebagai pengungsi Rohingya selama 20 tahun terakhir. Padahal di Malaysia, terdapat lebih dari 156.000 pengungsi dan pencari suaka yang menunggu penempatan di negara ketiga.
Malaysia, sama seperti Indonesia, tidak menandatangangi Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 sehingga tidak berkewajiban untuk menerima pengungsi sebagai warga negara.
Program penempatan kembali pengungsi -termasuk mereka yang sementara ditampung di Malaysia dan Indonesia- bukan merupakan solusi yang terbaik bagi sebagian besar pengungsi.
“Sayangnya peluang untuk ditempatkan di negara lain tampak tidak mungkin bagi sebagian besar orang. Program internasional pemukiman kembali tidak mempunyai cukup tempat untuk menampung pengungsi dunia,” kata Wakil UNHCR di Malaysia, Richard Towle dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.
“Secara global kita hanya mempunyai tempat sekitar 100.000 tempat per tahun untuk memukimkan kembali pengungsi dari segala penjuru dunia. Jadi ada persaingan ketat untuk tempat-tempat yang tersedia.”

Tempat tersebut diperebutkan oleh lebih dari 19,5 juta pengungsi antarnegara di seluruh dunia, belum termasuk pengungsi dalam negeri atau IDP.
DAn jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring dengan memburuknya perang di Suriah yang membuat penduduk di negara itu lari sampai ke Eropa.
Oleh sebab itu, menurut Towle, program penempatan ke negara ketiga bulan solusi paling tepat untuk menyelesaikan masalah pengungsi di kawasan Asia Tenggara.
Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi Myanmar, tetapi ada pula pengungsi dari negara-negara yang dilanda perang seperti Suriah, Irak, Afghanistan bahkan Somalia di Tanduk Afrika.
Towle berkata yang dapat dilakukan adalah mendorong negara-negara asal seperti Myanmar untuk menciptakan kestabilan dan menerima kembali warga negara mereka.
Adapun di negara-negara penampung sementara, para pengungsi diberikan transisi kehidupan lebih baik seperti diberi akses ke pasar kerja resmi, kesehatan dan pendidikan formal, bukan hanya <link type="page"><caption> pendidikan swadaya masyarakat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160215_majalah_pengungsi_malaysia" platform="highweb"/></link>.









