Gereja dan masjid di kamp pengungsi Calais dirobohkan

Sumber gambar, AFP
Pihak berwenang Prancis merobohkan masjid dan gereja darurat di tempat tinggal sementara para pengungsi di kota pelabuhan Calais.
Buldoser dikerahkan untuk menghancurkan bangunan tidak permanen tersebut, Senin 1 Februari, sehingga pemerintah bisa menciptakan kawasan penyangga antara kamp dan jalan bebas hambatan di dekatnya.
Pejabat Prancis mengatakan para pendatang dan pegiat sosial di sana sudah mendapat informasi tentang penggusuran. Namun, para penghuni dan pegiat sosial justru mengaku bahwa mereka sebelumnya mendapat jaminan bahwa masjid dan gereja akan dipertahankan.
Pendeta Teferi Shuremo adalah salah seorang yang mengatakan sudah mendapat jaminan kalau gereja tidak akan dirobohkan.

Sumber gambar, AP
"Mereka berupaya menghancurkan perdamaian," katanya sambil memegang salib dari kayu dan bertekad akan membangun gereja lainnya.
Lebih dari 4.000 pendatang tinggal di kamp tersebut, yang dijuluki 'hutan', sebagai tempat tinggal sementara untuk bisa menyeberang ke Inggris.

Sumber gambar, AFP
Banyak di antara mereka yang sudah dipindahkan ke penampungan tetap yang dibangun dengan menggunakan bekas kontainer kapal.
Penggusuran sudah berlangsung selama dua pekan belakangan dan pihak berwenang mengatakan tidak ada yang cedera saat gereja dan masjid dihancurkan walau sempat terjadi bentrokan antara polisi dengan para pegiat.
Seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa masjid di kawasan itu sudah diabaikan dan tidak ada yang melakukan protes.
Dia menambahkan para pendatang diizinkan mendirikan tempat ibadah di tempat yang baru.









