Pengungsi anak-anak di Malaysia disarankan tak putus asa

- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia, Kuala Lumpur
Nawal (19) merasa bangga fasih berbahasa Inggris padahal baru tiga tahun ini ia belajar bahasa asing tersebut di Malaysia, negara yang menampungnya sejak ia mengungsi dari tanah kelahirannya di Somalia.
Cita-citanya lebih dari sekedar fasih berbahasa Inggris setelah ia tamat dari Fugee School, salah satu sekolah swadaya masyarakat bagi pengungsi anak-anak di negara bagian Selangor, Malaysia.
“Saya ingin menjadi pengacara dan saya sudah mengisi lamaran untuk program persiapan masuk di Universitas Nottingham cabang Malaysia. Mudah-mudahan saya diterima,” ujar Nawal.

Latar belakang sosial dan tradisi di Somalia membuatnya ingin mendalami hukum.
“Sejak saya tumbuh dewasa, saya selalu menemukan persoalan mengenai hak-hak pendidikan bagi anak-anak perempuan. Dan hal itu selalu mengganggu saya mengapa anak-anak perempuan harus putus sekolah ketika mencapai usia tertentu khususnya di komunitas saya di Somalia.
“Saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan tapi kalau saya belajar hukum saya bisa membela anak-anak perempuan untuk mendapatkan hak-hak mereka.”

Menurut penggagas sekolah Fugee School, <link type="page"><caption> Deborah Henry</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/02/160215_majalah_pengungsi_malaysia" platform="highweb"/></link>, pemegang mahkota Miss Malaysia World tahun 2007 dan Miss Universe Malaysia tahun 2011, cita-cita Nawal tak berlebihan karena ada beberapa perguruan tinggi dan sekolah teknik di Malaysia yang sudah menerima lulusan Fugee School.
Bahkan, ditambahkannya, satu tamatan melanjutkan pendidikan di Turki.
Hal itu, menurut direktur pelaksana Fugee School, Jessica Chapman, dimungkinkan karena kurikulum bagi lebih dari 120 siswa mulai usia empat hingga 20 tahun mengikuti kurikulum negara tetangga yang maju.
“Untuk pendidikan dasar dan pendidikan menengah, kami mengikuti kurikulum Singapura. Jenjang kelas disesuaikan dengan kemampuan siswa-siswa, bukan usia mereka,” jelasnya.
Tak semua beruntung

Namun pada akhirnya peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi bagi pengungsi anak-anak tergantung pada kemampuan mereka untuk membayar.
Sebab, Malaysia bukan penandatangan Konvensi Pengungsi PBB tahun 1951 yang memandatkan pendidikan bagi pengungsi anak-anak dan pengungsi, yang dianggap sebagai pendatang gelap, dan karenanya tidak boleh mengakses pendidikan negeri.
Oleh karenanya, pilihan yang ada adalah bersekolah di swasta dengan membayar mahal atau cukup mengikuti sekolah-sekolah komunitas.
Itulah yang dialami oleh Husna binti MD Hussain (23), pengungsi etnik Rohingya kelahiran Malaysia.
“Saya berminat belajar keperawatan sehabis sekolah tapi tak bisa menyambung karena tak dapat pinjaman untuk belajar,” ujarnya.
Orang tuanya sudah berusaha mencari pinjaman ke bank-bank di Malaysia tetapi ditolak, sedangkan untuk menyediakan uang antara 50.000-60.000 ringgit, berkisar antara Rp160-192 juta selama tiga tahun sekolah perawat adalah hal mustahil bagi mereka, kata Husna.
Keduanya masih berstatus pengungsi di Malaysia sejak melarikan dari kekerasan dan penindasan terhadap etnik Rohingya di Myanmar puluhan tahun lalu.
Jumlah pengungsi anak-anak di bawah umur 18 tahun di Malaysia mencapai 33.640 dari total pengungsi yang terdaftar di Badan Pengungsi PBB (UNHCR) 156.000 orang.









