Gobind Vashdev, pria yang menolak untuk mengutuk terorisme

    • Penulis, Christine Franciska - @cfranciska
    • Peranan, Producer BBC Indonesia

#TrenSosial: Penulis, pembicara publik, dan pelatih penyembuhan trauma Gobind Vashdev menolak untuk membenci dan mengutuk terorisme, serta mengajak orang untuk membuka sekat-sekat agama.

Pandangannya ini diunggah di Facebook merespons aksi terorisme di Paris, dan di Jakarta 14 Januari lalu - serangan yang diklaim dilakukan oleh ISIS.

Ada banyak orang yang mungkin tidak setuju dengan pandangannya, termasuk sejumlah pengguna media sosial yang menyatakan tindakan teror adalah hal keji dan pantas dimusnahkan.

"Otak teroris otak iblis, mana mungkin mereka mau berubah," kata satu pengguna. Lainnya mengatakan, "Kadang teori itu jauh lebih mudah dari praktiknya."

Penulis buku Happiness Inside yang pernah menjadi relawan saat bom mengguncang Bali beberapa tahun silam ini, mengerti betul bagaimana kejamnya aksi teror, namun dia menegaskan bahwa 'kemarahan tidak akan membawa kita kemana-mana.'

Dalam wawancara bersama BBC Indonesia di kediamannya di Ubud, Bali, Sabtu (23/01), dia menjelaskan pandangannya itu, termasuk juga tentang agama dan kesalahan manusia modern saat ini.

Mengapa Anda tidak ingin mengutuk terorisme?

Kemarahan tidak bisa diakhiri dengan kemarahan, begitu pula dengan kegelapan. Kegelapan tidak mungkin bisa diusir dengan kegelapan, kita harus menyalakan lilin. Ketika ada seseorang yang membenci kelompok lain atau negara lain dan kita membenci mereka, apa bedanya kita dengan mereka?

Ini bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa atau tidak menghukum mereka tetapi lakukanlah sesuatu tanpa dasar amarah. Apapun yang dibangun di atas ketakutan dan kebencian, maka akan percuma saja.

Sama seperti jika ada yang membakar rumah Anda, dan orang itu lari, kita pasti akan memadamkan apinya dulu, baru kejar orangnya. Demikian pula, ketika ada sesuatu yang membuat hati kita terbakar, ada baiknya kita membereskan kemarahan kita dulu.

Terorisme bukanlah tentang agama. Saya percaya bahwa orang-orang yang melakukan teror terkondisikan oleh situasi politik, sosial, dan ekonomi tertentu yang membuat mereka kekurangan kasih.

Maka jika ada tindakan terorisme, dan kita mendoakan korban, ada baiknya juga kita mendoakan pelaku sehingga mereka mendapatkan cara pandang yang berbeda.

Ini tampaknya mudah bagi orang-orang yang tidak terkena langsung dengan teror, tapi bagaimana dengan korban yang merasakan sendiri kekejaman dan ketakutan itu?

Pengalaman saya selama mengajar tentang trauma healing, selama ini dunia kita tidak mengajarkan kita untuk menyelesaikan trauma kita. Ketika ada masalah kita cenderung melupakannya, atau menyalahkan si A dan B.

Tapi kita lupa bahwa perasaan negatif itu muncul ada di dalam diri kita. Maka itu hal yang pertama kali kita lakukan, jangan cari jalan keluar tetapi cari jalan ke dalam. Manusia itu tidak pernah bermasalah dengan apapun dan siapapun di luar dirinya, kita bermasalah dengan kemarahan kita, kebencian kita, ketakutan kita, keserakahan kita.

Jadi ketika kita ada masalah, cari jalan ke dalam, jangan ke luar.

Jika orang yang kita kasihi mendapat bencana, teror, dan sebagainya, dan sesuatu yang terjadi tidak mungkin kembali, kita tidak perlu mengisi hati kita dengan kemarahan.

Apakah dengan kemarahan kondisi lebih baik? Ruginya lebih banyak kan? Kita kehilangan orang yang kita kasihi, dan juga kita kehilangan hati yang damai.

"Saya berpuasa di bulan Ramadhan selama dua puluh tahun terakhir, saya ikut misa di gereja, saya ikut meditasi di Vihara, juga di Pura."

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, "Saya berpuasa di bulan Ramadhan selama dua puluh tahun terakhir, saya ikut misa di gereja, saya ikut meditasi di Vihara, juga di Pura."

Anda pernah menyebut tentang agama yang universal, apa itu? Apa pandangan Anda tentang agama?

Saya mengikuti hampir semua ritual agama yang ada. Saya berpuasa di bulan Ramadhan selama dua puluh tahun terakhir, saya ikut misa di gereja, saya ikut meditasi di Vihara, juga di Pura. Saya menikmati itu semua. Menikmati semua ritual itu.

Ketika saya membaca semua kitab suci itu, saya bisa merasakan keagungan dan kasih yang mereka berikan, sehingga saya mencintai Nabi Muhammad sama kadarnya dengan saya mencintai Rama, Yesus, dan Buddha. Menurut saya, ajaran mereka itu terlalu luas untuk dibingkai dengan kotak sempit bernama agama. Ajaran mereka itu seharusnya universal untuk semua.

Pengalaman saya, ketika seorang Kristen mempelajari Hindu dan Buddha misalnya, saya percaya sekali dia akan menjadi Kristen yang lebih baik.

gobind

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, "Yang baik itu bukan menyalahkan yang lain, tetapi mengerti," kata Gobind.

Saya belajar di sekolah Kristen, teman saya banyak Muslim, keluarga banyak Hindu. Dan sejak kecil saya mencari sendiri (apa itu agama), banyak buku (agama) yang saya baca, dan saya menemukan bahwa (semakin belajar) saya bukan semakin keras dan kaku, tapi semakin mengerti.

Jadilah Islam yang baik, Kristen, Hindu, Buddha yang baik, tetapi bagi saya yang baik itu bukan menyalahkan yang lain, tetapi mengerti.

Bagaimana ingin memahami ketika kita menolak menyentuh? Melihat? Ketika kita melihat, membaca agama lain, kita pada akhirnya juga jadi lebih mengerti tentang diri kita.

Jadi jika ditanya oleh orang-orang apa agama Anda, apa jawaban Anda?

KTP atau darah saya? Kalau KTP tentu saya bisa menyebut salah satunya. Tetapi bukan itu esensinya, kalau ada yang bilang saya Kristen saya mengakui Yesus adalah juru selamat, jika ada yang bilang saya Islam, saya juga mengakuinya.

Kalau pun ada yang bilang saya atheis, saya tidak mempermasalahkannya. Keyakinan saya adalah hubungan saya dengan Pencipta.

gobind
Keterangan gambar, Gobind membaca semua kitab suci dan merasakan keagungan dan kasih dari kitab.

Anda adalah salah satu orang yang selalu mengedepankan prinsip kembali ke alam. Seperti apa keseharian Anda?

Kami tidak menggunakan produk kimia, tidak pakai sabun, shampo, dan pasta gigi. Kami juga tidak makan makanan yang mengandung kekerasan (pembunuhan). Motivasinya bukan takut penyakit, tetapi cinta. Tidak adil hanya untuk memuaskan lidah saya, saya harus melakukan kekerasan, memisahkan anak ayam dengan induknya.

Saya tinggal di tengah sawah, dulu saya mandi dengan sabun, tetapi ketika sabun itu jatuh, saya sadar loh itu masuk sawah. Padahal sawah ketika ditanam satu, dia memberi ribuan. Ketika mandi, saya merasa ini tidak benar. Akhirnya saya memutuskan untuk berubah, menggunakan garam dan jeruk nipis.

Saya tidak hanya makan organik, tetapi hidup organik. Saya membiarkan semut dan binatang-binatang lain hidup di rumah saya. Saya juga tidak menggunakan alas kaki agar tetap terhubung dengan dengan Bumi selama beberapa tahun terakhir.

Apa yang harus disadari oleh manusia modern saat ini?

Kita perlu belajar (mengetahui) siapa diri kita sendiri. Kita belajar fisika, matematika, belajar pergi ke bulan, astronomi, dan macam-macam, tetapi kita tidak mengerti siapa diri kita sendiri.

Pendidikan kita terfokus ke luar. Kita terfokus bagaimana kelihatan hebat.

Kita perlu tahu candu-candu kita, sewaktu kita kecil, kita diberikan candu oleh lingkungan kita, yaitu penerimaan, pujian, penghargaan, dan sejenisnya. Ketika kita sudah besar, kita tidak mendapat pujian seperti waktu kecil sehingga kita mencari itu.

Kita berdandan, menjadi kaya, fitnes, belajar juara satu, kita harus tahu candu-candu kita. Kita harus menyadari diri sendiri, dan tidak fokus untuk membuat orang-orang terkagum-kagum dengan kita. Kita perlu mencari kedamaian di dalam diri kita.