Berkunjung ke rumah keluarga Bahrun Naim

Sumber gambar, BBC Indonesia
Beberapa hari setelah insiden penyerangan di Jakarta Pusat menjadikan kawasan MH Thamrin seperti zona perang, wartawan BBC Karishma Vaswani bertolak ke Solo untuk bertemu dengan keluarga pria yang diduga berada di balik serangan tersebut dan merupakan tokoh ISIS di Asia Tenggara.
Kamis pagi, 14 Januari 2016, berjalan seperti hari kerja biasa. Namun, selagi para pengendara motor dan mobil berupaya menembus kemacetan di sekitar kawasan pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat, sejumlah pria yang dilengkapi senjata api dan niat membunuh, diam-diam berada di antara mereka.
Pada pukul 10.43 WIB, pria-pria berbekal bahan peledak dan senjata api tersebut, berjalan menuju kedai kopi Starbucks serta pos polisi di perempatan Sarinah dan melepaskan teror. Lima jam kemudian mereka semua tewas. Kelompok yang menyebut diri Negara Islam (ISIS) mengklaim mereka melakukan serangan itu, yang pertama bagi kelompok itu di Asia.
Kabar mengenai insiden penyerangan dengan cepat beredar ke segala penjuru Indonesia, termasuk Solo, Jawa Tengah.
Di kota itulah, menurut sejumlah pengamat, generasi muda radikal bermunculan, khususnya Bahrun Naim. Lelaki berusia 32 tahun itulah yang disebut kepolisian, bertolak ke Suriah pada 2014 untuk bergabung dengan ISIS serta diyakini merencanakan dan mendanai serangan di Jakarta.
Lalu mengapa pria seperti Bahrun Naim, dan sejumlah pemuda Solo, memiliki pemahaman radikal?

Sumber gambar, Reuters
Kelompok militan
Solo atau Surakarta adalah kota kecil yang didiami sekitar setengah juta orang. Kota itu menjadi tersohor setelah wali kotanya menjadi Gubernur DKI Jakarta dan kemudian menjabat presiden Indonesia, Joko Widodo.
Kesohoran Solo lainnya ialah kota itu merupakan asal <link type="page"><caption> Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin spiritual Jemaah Islamiyah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140714_baasyir_isis" platform="highweb"/></link>—kelompok yang bertanggung jawab atas pengeboman di Bali pada 2002. Di kota itu Baasyir memiliki pondok pesantren Ngruki yang disebut sejumlah pengamat sebagai tempat penyebaran ideologi radikal.
Bahrun Naim juga belajar di Solo, bukan di Ngruki, melainkan di <link type="page"><caption> Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret Solo</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160115_indonesia_bahrun" platform="highweb"/></link>.
Setelah kabar mengenai penyerangan di Jakarta ramai diberitakan media massa, saya berbincang dengan salah seorang pedagang koran di alun-alun kota Solo mengenai fakta bahwa Bahrun Naim merupakan warga kota tersebut.
“Memalukan. Sangat, sangat memalukan. Saya tidak tahu apakah benar atau tidak, tapi orang Solo tidak seperti ini. Kami bukan teroris,” ujarnya.
Namun, hal berbeda diutarakan Yati, tetangga keluarga Naim.
“Mereka jarang ke luar rumah. Mereka sangat tertutup, sangat pendiam. Mereka tidak pernah berbaur dengan tetangga,” kata Yati.
Yati juga menceritakan peningkatan jumlah pemuda muslim radikal di kawasan rumahnya, yang kerap membubarkan acara menyanyi, pesta, dan perayaan.
“Kami jadi mengadakan acara pada pagi hari. Sebab, kalau tidak, mereka akan datang dan menuding kami minum minuman beralkohol. Itu nanti menyebabkan keributan,” ujarnya.

Keluarga Bahrun Naim
Saya mendatangi rumah keluarga Bahrun Naim di rumah bercat biru dan putih di sebuah jalan kecil. Keluarga mereka jelas tidak dalam suasana menyambut.
“Kami tidak mau bicara dengan wartawan manapun!” seru ayah Bahrun. Namun, dia kemudian sepakat menerima kami.
Ibu Bahrun adalah perempuan dengan raut muka tegas. Kemarahannya pada media jelas terlihat. Dia dan suaminya menolak berbicara kepada saya. Hanya adik Bahrun yang mau diwawancara, meskipun semula agak enggan.
“Bahrun pergi ke Suriah untuk studi dan dia tidak terlibat dalam penyerangan. Keluarga saya terus bertanya apa yang terjadi. Dosen saya di kampus berkata saya berasal dari keluarga teroris. Namun, polisi hanya menuding kakak saya dan tidak jelas mengapa dia bersalah,” kata adik Bahrun.
Kehidupan keluarga Bahrun Naim kini menjadi sorotan. Saat saya melakukan wawancara, setidaknya empat motor polisi lewat di depan rumah. Lalu, beberapa tetangga memberi tahu saya bahwa beberapa petugas intelijen terlihat di kawasan permukiman mereka.
Namun, mantan pengacara Bahrun yang kini kembali ditunjuk keluarga Bahrun, Anis Priyo Anshori, mengatakan kliennya hanyalah kambing hitam.
“Dia adalah pria pendiam dan kreatif,” kata Anis.
Anis mengaku Bahrun sempat berurusan dengan hukum. <link type="page"><caption> Pada 2010, dia didakwa memiliki amunisi</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160115_indonesia_bahrunnaim" platform="highweb"/></link> sehingga dihukum penjara selama 2,5 tahun.
“Dia telah berada di penjara dan itu karena kejahatan yang saya percaya tidak dia lakukan. Kini, mereka melakukannya lagi. Setahu saya, ketika dia masih remaja, dia bergabung dengan kelompok radikal. Namun, itupun bukan kelompok yang memiliki jejak rekam kekerasan. Hanya karena dia bagian dari kelompok itu, bukan berarti dia melancarkan serangan,” ujarnya.

Penjara
Sejumlah pengamat terorisme meyakini Bahrun Naim terimbas radikalisasi dan proses itu terjadi di sekolah atau di penjara. Polisi mengatakan militan kerap mendatangi masjid yang dikelola sekolah tempat Bahrun Naim mengenyam pendidikan, meskipun kepala sekolah mengatakan dia hanya mengajarkan kurikulum standar Indonesia dan sekolahnya bukan tempat penyebaran ideologi radikal.
Meski demikian, siapa yang bisa mengawasi apa yang diajarkan kepada para pemuda di sekolah dan penjara? Apalagi ada tudingan bahwa Abu Bakar Ba’asyir masih bisa menyebarkan ajarannya sekaligus <link type="page"><caption> merekrut orang-orang baru di dalam penjara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160115_indonesia_kapolri_update_jakarta" platform="highweb"/></link>.
Beberapa pejabat intelijen dan pengamat terorisme juga meyakini Bahrun Naim adalah salah satu orang yang direkrut, walau belum ada bukti yang bisa menjelaskan keterkaitan langsung antara Bahrun dan Ba’asyir.

Sumber gambar, Reuters
Perekrutan
Selama beberapa tahun terakhir, kelompok ISIS telah merekrut orang-orang Indonesia. Bahkan, sebanyak 500 hingga 600 WNI diperkirakan telah bertolak ke Suriah untuk bertempur bersama ISIS.
Jumlah itu tidak banyak dibandingkan dengan 240 juta penduduk Indonesia, namun aparat khawatir mengingat daya pikat kelompok ISIS terhadap kaum muda.

Sumber gambar, AFP
“Mempelajari Islam tidak keren, tidak heroik. Namun, Jihad keren dan ada nuansa petualangannya. Itulah yang dicari kaum muda,” kata pengamat terorisme, Taufik Andrie.
Menurut Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigjen Hamidin, terdapat 21 kelompok militan di Indonesia dan tujuh di antaranya mendukung ISIS. Adapun dari jumlah itu, tiga kelompok sangat fokus merekrut milisi ke Suriah. Orang-orang yang direkrut, kata Hamidin, berusia 18 hingga 30 tahun.
“Mereka mungkin tidak punya kemampuan merakit bom, namun mereka terlihat seperti tahu apa yang dilakukan dan ingin pamer. Mereka ingin tampak berada di tengah aksi,” ujar Hamidin.
Dan itulah yang disaksikan khalayak dunia saat empat orang beraksi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1). Campuran antara ideologi radikal dan semangat heroik itulah yang membuat aparat meyakini serangan tersebut mungkin bukanlah serangan terakhir pendukung ISIS.









