'Tak ada tempat untuk bersembunyi di kapal' – Kisah para awak kapal yang terjebak di perairan Selat Hormuz

Sumber gambar, Royal Thai Navy
- Penulis, Mohammad Zubair Khan
- Peranan, BBC News Urdu
- Penulis, Aye Thu San
- Peranan, BBC News Burmese
- Penulis, Hyojung Kim
- Peranan, BBC News Korean
- Penulis, Andrew Webb & Grace Tsoi
- Peranan, BBC World Service
- Waktu membaca: 7 menit
Drone, rudal jelajah, dan jet tempur telah menjadi pemandangan biasa bagi banyak pelaut yang terjebak di kapal tanker minyak dan kapal kargo di perairan negara-negara Teluk.
Hal ini umum terlihat setelah Iran mengancam akan menembaki kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan AS–Israel. Sejauh ini, sebanyak tiga WNI belum diketahui nasibnya.
"Saya melihat drone dan rudal jelajah Iran terbang rendah," kata Amir, pelaut Pakistan yang berada di atas kapal tanker di Uni Emirat Arab yang tidak bisa meninggalkan kawasan itu.
"Saya juga mendengar suara jet tempur, tapi kami tidak bisa mengidentifikasi milik negara mana."
Yang paling menakutkannya adalah kemungkinan drone atau rudal yang dicegat jatuh tepat di kapal tempat dia bekerja.
Hein, pelaut Myanmar, menyaksikan baku tembak hampir setiap hari.
"Baru pagi ini, dua jet tempur saling menembak saat kami masih bekerja," ujarnya.
"Tidak ada tempat berlindung khusus di kapal untuk situasi seperti ini, jadi kami hanya bisa berlari masuk ke dalam."
Nama Amir dan Hein, serta nama para pelaut lain dan keluarga mereka, telah diubah demi keselamatan mereka.
Keamanan di laut
Meski sulit mendapatkan angka pasti mengenai berapa banyak pelaut yang terdampar di kapal-kapal di Timur Tengah, Kapten Anam Chowdhury, ketua Asosiasi Perwira Angkatan Laut Niaga Bangladesh, memperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 20.000 orang.
Sebagian berada di laut lepas dan sebagian lainnya terjebak di pelabuhan, namun dia mengatakan sulit menilai mana yang lebih berbahaya.
"Di dalam pelabuhan, orang mungkin berpikir situasinya aman, tetapi sudah ada kapal-kapal yang dibombardir saat sedang berlabuh," jelasnya.

Sumber gambar, Sailor provided to BBC News
Organisasinya telah melacak setidaknya tujuh kapal yang, menurut mereka, telah terkena proyektil dan mengalami kerusakan sejak perang berlangsung.
Dia mengatakan bahwa pada 1 Maret, seorang pelaut tewas di atas kapal tanker Skylark, yang terdaftar di Republik Palau.
Kapten Chowdhury menyebut para pelaut yang selamat "mengalami trauma" akibat serangan tersebut, yang menyebabkan ruang mesin terbakar dan memaksa kru mengevakuasi kapal.

Para pelaut lainnya sependapat. Kapten M Mansoor Saeed, yang mengemudikan kapal tanker minyak, mengatakan kepada BBC News bahwa menurutnya tidak ada banyak perbedaan antara berada di pelabuhan atau di laut ketika berusaha menghindari serangan:
"Jika mereka ingin menargetkan kapal saya, mereka akan menargetkannya."
Namun, dia menambahkan, kapal berukuran besar umumnya lebih aman ketika berada jauh dari pantai.
"Dalam kondisi cuaca buruk, kami selalu menuju laut lepas, di mana kami memiliki perairan lebih luas dan kedalaman yang memungkinkan kami bermanuver dengan bebas. Di pelabuhan atau perairan sempit, cuaca dapat merusak kapal karena kandas atau menabrak dinding dermaga."
Serangan terhadap kapal-kapal di perairan Teluk sejauh ini telah menyebabkan tiga warga Indonesia hilang.
Kejadian bermula ketika satu perahu tunda bernama Musaffah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab (UEA) berlayar di Selat Hormuz antara perairan UEA dan Oman, pada Jumat (06/03) pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Menurut keterangan saksi mata, Musaffah 2 mengalami ledakan yang menyebabkan kapal terbakar dan tenggelam.
Kapal itu berawak tujuh orang. Empat ABK (anak buah kapal) berasal dari Indonesia, tiga lainnya dari India dan Filipina.
Akibat ledakan tersebut, tiga ABK asal Indonesia belum diketahui nasibnya. Adapun satu ABK WNI mengalami luka-luka.
Kesulitan memperoleh informasi di laut
Situasi genting seperti itu membuat keluarga para pelaut diliputi kecemasan.
Karena pemerintah Iran memblokir akses internet dan jaringan telepon bagi sebagian besar warga, keluarga para pelaut kesulitan mendapatkan kabar mengenai keberadaan mereka.
Kendatipun akses sesekali kembali, hal itu tidak menentu dan biasanya hanya berlangsung singkat.

Putra dari Ali Abbas berada di sebuah kapal yang bersandar di pelabuhan Iran dekat Selat Hormuz.
Dia terakhir kali berbicara dengan putranya beberapa hari lalu, ketika sang anak menceritakan tentang sebuah serangan rudal.
Putranya berhasil selamat, tetapi seorang pelaut asal India terluka dalam insiden itu.
"Saya menyembunyikan hal ini dari istri dan menantu saya," ujarnya dengan suara bergetar.
Pada Selasa malam, terjadi serangan hebat lainnya di pelabuhan itu dan Ali belum bisa menghubungi putranya.
"Demi Tuhan, tolong bantu saya," katanya, tak kuasa menahan emosi.
Ali berharap putranya masih hidup dan selamat, dan bahwa kegagalan sistem komunikasi menjadi penyebab tidak adanya kabar.
Gangguan navigasi satelit
Seo-jun (nama disamarkan) adalah kapten sebuah kapal yang membawa lebih dari 20 awak asal Korea Selatan dan Myanmar.
Dia mengatakan sistem navigasi satelit mulai sering bermasalah—menambah risiko dalam pelayaran.
"Sejak perang dimulai, gangguan GPS muncul secara berkala, tetapi dalam tiga atau empat hari terakhir kondisinya jauh lebih buruk," ujarnya.
Saat kapal mereka memasuki Dubai, para pelaut terpaksa bernavigasi tanpa GPS.
"Ada pepatah Korea yang menggambarkan situasi itu seperti 'orang buta meraba gagang pintu'," katanya.

Sumber gambar, Reuters
Persediaan makanan-minuman nyaris habis
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Selain mengkhawatirkan keselamatan mereka, banyak pelaut juga takut bahwa persediaan air dan makanan akan segera habis.
Di kapal Seo-jun, mereka masih memiliki cukup makanan segar untuk 15 hari, tetapi ketersediaan air minum menjadi kekhawatiran utama.
"Kapal bisa memproduksi air tawar dengan menyuling air laut, tetapi itu jadi sulit jika kami tidak berlayar," ujarnya.
"Sudah dua bulan sejak kami terakhir kali mengisi perbekalan di kapal," kata Masood, pelaut asal Pakistan.
Sebelum perang, Hein mengatakan kapalnya menyediakan hidangan prasmanan dan para awak bisa mendapatkan makanan segar seperti telur serta air kapan pun mereka mau.
Namun kini sistem kuota diberlakukan di kapal Hein.
Mereka hanya mendapat satu kali makan sehari yang terdiri dari empat potong kecil daging dan satu mangkuk sayuran goreng.
Persediaan mereka diperkirakan hanya cukup untuk satu bulan.
"Hidup kami sangat memprihatinkan di sini dan kami hanya memiliki sedikit bahan bakar dan makanan," ujar Zeeshan, pelaut asal Pakistan lainnya.

"Tidak ada yang bisa merasa tenang atau bahagia dalam situasi seperti ini," kata Amir.
"Kami menjaga diri tetap sibuk dengan pekerjaan rutin sehari‑hari. Latihan, serta pelatihan keselamatan dan keamanan."
Hein, yang bekerja sebagai insinyur senior di kapal itu, sependapat. "Saya tidak membiarkan diri saya putus asa karena saya bertanggung jawab atas 20 awak Myanmar lainnya."
Dia juga telah menyiapkan rencana evakuasi darurat jika situasi memburuk.
"Saya sudah memberi tahu tim saya bagaimana harus berlari, dari mana harus melompat, dan apa yang harus dibawa jika sesuatu terjadi."
'Nyawa manusia tidak bisa diganti asuransi'
Bahkan jika para pelaut berhasil mencapai daratan setelah kapal mereka bersandar di pelabuhan yang aman, belum tentu ada cara mudah bagi mereka untuk pulang atau meninggalkan wilayah tersebut.
Hamza mengatakan putranya, yang terjebak di sebuah kapal, termasuk di antara para pelaut yang "tidak diizinkan pergi" karena perusahaan tempat mereka bekerja menahan paspor mereka.
Pada saat yang sama, para pelaut yang ketakutan dan memilih meninggalkan kapal sebelum kontrak selesai berisiko menghadapi kesulitan mencari pekerjaan di masa depan, karena perusahaan pelayaran dapat memasukkan mereka ke dalam daftar hitam.

Sumber gambar, Sailor provided to BBC News
Situasinya kian mendesak, dan Amir berujar dia hanya bisa berharap yang terbaik serta berdoa demi keselamatan seluruh pelaut.
Dia juga mendesak perusahaan pelayaran agar tidak memaksa awak mereka melintasi Selat Hormuz.
Kekhawatiran itu ujarnya masih bersifat kemungkinan, namun dia takut tekanan finansial bisa mengalahkan pertimbangan keselamatan.
Dia menegaskan bahwa ketika sebuah kapal terkena serangan drone atau rudal, para pelautlah yang menanggung konsekuensi manusiawi, sementara kargo dan kapal dapat ditanggung oleh asuransi.
"Nyawa manusia tidak bisa digantikan oleh asuransi apa pun," ujarnya.

Sumber gambar, Reuters
Dia meyakini perang ini akan membawa perubahan besar bagi industri pelayaran.
"Gaya dan tujuan perang ini sangat berbeda dari apa yang kita lihat dalam beberapa tahun terakhir. Perang ini akan berdampak jangka panjang terhadap perdagangan di Teluk Persia."
Kapten Chowdhury menilai para pelaut terseret dalam situasi yang bukan tanggung jawab mereka.
"Orang-orang seharusnya tidak menjadikan kapal sebagai korban. Ketika kapal dijadikan korban, para pelaut juga ikut menjadi korban—mereka adalah orang-orang yang tidak bersalah," ujarnya.


























