#TrenSosial: Mbah Lindu, mulai jualan gudeg sebelum penjajahan Jepang

Dari sejumlah penjual gudeg di Jogjakarta, salah satu yang banyak didatangi adalah warung mbah Lindu, yang disebut sebagai penjual gudeg tertua di kota itu dan mulai usahanya sejak zaman penjajahan Jepang.
Gudeg mbah Lindu, yang memiliki nama asli Setyo Utomo, banyak dibicarakan orang karena usianya yang ia sebutkan menginjak 97 tahun ini.
Di sosial media, tercatat ratusan cuitan tentang mbah Lindu.
Ia menyatakan berjualan lima jam, mulai pukul 05:00 pagi setiap harinya dan menyediakan paling tidak 15 nangka muda, 10 kilogram terlur ayam dan enam kilogram nasi untuk berjualan setiap harinya dengan porsi yang ditambah saat liburan.

"Jualannya sejak nggak tahu kapan. Tapi yang jelas sejak Jepang belum datang. Lha pas zaman Jepang, saya sudah punya anak. Jualannya saya gendong, lalu jalan keliling. Waktu jalan kaki karena belum ada lampu, saya bawa oncor (obor bambu)," kata mbah Lindu.
Bumbunya juga tidak berubah selama puluhan tahun, tambahnya.

Biasanya ia ditemani anak bungsunya, Ratiyah, dalam berjualan.
"Saya ikut jualan Simbok (ibu) sejak kecil. Lupa tepatnya. Tapi yang jelas, Simbok itu nggak pernah ada jadwal libur. Libur kalau pas ada keperluan. Wong sakit aja jarang. Paling kalau sakit masuk angin, obatnya ya cuma dikerokin. Simbok juga nggak suka minum jamu, " kata Ratiyah.
Salah seorang pelanggannya, Hari Setyawan, mengaku menjadi pelanggan gudeg mbah Lindu dalam 40 tahun terakhir.
"Dari dulu ya rasanya nggak berubah, tetap enak. Kebetulan saat kuliah, saya dulu kos di daerah sekitar sini jadi sering jajan gudegnya Mbah Lindu," kata Hari.









