#TrenSosial: Jatuh bangun Kusrin, perakit TV yang jadi sorotan di media sosial

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Perakit televisi Mohammad Kusrin di Karanganyar, Jawa Tengah berusaha bangkit mengembangkan bisnisnya setelah akhirnya mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI).

Bisnis Kusrin sempat tak menentu setelah ratusan televisi tabung rakitannya dimusnahkan Kejaksaan Negeri Karanganyar 11 Januari lalu, karena produk itu tidak memiliki sertifikat SNI.

Berita pemusnahan televisi ini lalu menyebar luas di media sosial dan sebuah <link type="page"><caption> petisi online</caption><url href="https://www.change.org/p/kemenperin-ri-bina-kusrin-si-perakit-tv-bukan-dibinasakan-bsn-sni-savekusrin" platform="highweb"/></link> tersebar luas mendukung kreasi Kusrin. "Bina Kusrin si perakit TV, bukan dibinasakan," begitu judul petisi di change.org.

Kepada BBC Indonesia, Kusrin yang akhirnya mendapat SNI awal pekan ini, bercerita bahwa sekarang produksi berjalan tetapi tidak seperti dulu.

Karyawan Kusrin yang merakit televisi tabung.

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, Karyawan Kusrin yang merakit televisi tabung.

"Sekarang semampu saya, tetap kerja, tapi kecil tidak besar seperti dulu sebelum digrebek. Dulu bisa 100 sampai 150 sekarang hanya bisa 30, paling banyak 60," kata Kusrin yang kini memiliki sekitar 13 karyawan.

Walau kecil, permintaan masih tetap ada berkat jaringan bisnis yang dibina bertahun-tahun di Solo, Yogyakarta, hingga Bali. Namun dia mengakui bahwa dirinya kekurangan modal.

Dari layar bekas

Belajar otodidak, Kusrin memulai usaha perakitan televisi sejak lima tahun yang lalu dengan nama UD Haris Elektronik.

Televisi Kusrin dirakit dari monitor komputer bekas, ditambah chasing dan papan sirkuit cetak (PCB) baru, dan berbagai komponen lain dari dari Semarang.

Harganya cukup murah, untuk 14 inci harganya sekitar Rp300.000 hingga Rp400.000, dan untuk 17 inci dipatok Rp550.000-Rp600.000.

Kemampuannya mengotak-atik barang elektronik diperolehnya secara otodidak.

Setelah menjadi kuli bangunan di Jakarta, dia pulang kampung dan menemukan mainan baru: brik-brikan. "Dari brik-brikan itu saya kenal banyak temen jasa servis barang elektronik. Terus saya juga ikut bantu-bantu mereka, ya sekalian belajar juga. Itu ikut teman sekitar tujuh tahun," ujar Kusrin.

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Setelah itu, barulah dia mendirikan UD Haris Elektronik dengan modal dari tabungan.

Tiga tahun mengembangkan usaha, ia digerebek bersama barang bukti televisi dan alat-alat merakit oleh Polda Jawa Tengah pada Maret 2015. Usahanya dianggap melanggar karena hasil produknya tidak ber-SNI.

Saat kasus itu, seluruh barangnya disita dan sebagian dibakar. Otomatis dalam jangka waktu satu tahun, ia tidak berproduksi.

"Ya, semua memulai dari nol lagi sekarang. Ini karyawan tinggal 13, dulu kalau 30 karyawan ada. Saya itu kasihan sama anak-anak, kalau misal usaha ini tutup. Mereka kan juga punya anak istri, terus mau makan apa. Kalau saya aja gampang, melayani jasa servis barang elektronik bisa," jelasnya.