#TrenSosial: Anak-anak muda yang menyerukan toleransi dan keberagaman

Sumber gambar, INSTAGRAM
Sebuah gerakan berbasis media sosial mencoba menekankan kembali pentingnya nilai toleransi dan menghargai keberagaman.
Kampanye ini dilakukan dengan mengajak anak muda mengirim foto mereka dengan tulisan #RangkulPerbedaan.
Komunitas kepemudaan Cinta Indonesia, yang menggagas gerakan ini melalui Twitter dan Instagram, mengatakan sudah ada lebih dari 3.000 pengguna media sosial yang berpartisipasi.
Gerakan #RangkulPerbedaan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kebhinnekaan di Indonesia karena kasus-kasus intoleransi masih banyak terjadi, kata Michelle Winowatan.
"Kami tidak menjanjikan solusi dalam kampanye ini. Tetapi ingin membuat orang sadar, bahwa masih banyak yang mengancam Bhinneka Tunggal Ika itu."
#RangkulPerbedaan dinilai semakin penting disuarakan mengingat perkembangan <link type="page"><caption> insiden di Tolikara</caption><url href=""Setahu saya di sini tidak pernah ada kejadian seperti ini, cuma karena ada miskomunikasi. Ini jangan dilihat dari sisi agamanya, karena mungkin ada beberapa orang yang memprovokasi jadi seperti itu."" platform="highweb"/></link> yang berkembang menjadi isu agama.
Berikut sejumlah suara anak-anak muda yang berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Apakah Anda termasuk di antaranya?
Alda Assagas, 22 tahun, mahasiswa

Sumber gambar, Alda Assagas
"Kita sebagai anak muda memang harus peduli dengan isu-isu perdamaian. Jadi orang-orang menyadari bahwa kita harus menghargai perbedaan."
"Harapan saya, masyarakat Indonesia mulai teredukasi bahwa enggak penting berkonflik, apalagi konflik ber-SARA. Indonesia enggak akan maju-maju kalau terus mempermasalahkan hal-hal itu. Lebih enak hidup bersama-sama, saling menjaga dan saling menghargai."
I Made Agus Juniantara, 21 tahun, mahasiswa

Sumber gambar, Agus Juniantara
"Kenapa saya ingin ikut berpartisipasi? Karena ini membantu saya memberi pandangan sendiri bahwa perbedaan itu bukan sesuatu yang harus dijadikan kambing hitam permasalahan, tetapi perbedaan itu adalah harus kita rangkul, sesuatu yang harus kita pegang bersama seperti itu, bukan menjadi sesuatu permasalahan yang besar."
Jeni Beatrix Karay, 26 tahun, karyawan swasta

Sumber gambar, Jeni Karay
"Masjid dan gereja di kompleks saya hanya terpisah oleh jalan raya. Saat hari Minggu mereka ibadah, teman-teman Muslim ya membantu menjaga keamanan jalan seperti pengarahan kendaraan agar tidak macet di depan gereja. Sedangkan saat salat Jumat, ya sebaliknya mereka yang teman-teman Kristen membantu memarkir kendaraan, mengarahkan jalan di sekitar masjid."
Kristian Wongso Giamto, 25 tahun, dokter

Sumber gambar, Kristian Giamto
"Dulu waktu saya SD, saya tinggal di Maluku Utara. Pada tahun 1999 kalau enggak salah terjadi kerusuhan dengan motif politis yang dibawa entah bagaimana rupa menjadi motif agama. Semenjak saat itu di otak saya berbekas bahwa oh, agama itu berbahaya seperti ini. Terus di Indonesia banyak perbedaan juga, dan saya pikir apa yang bisa saya lakukan supaya kejadian serupa tidak terulang dengan kapasitas saya."












