#TrenSosial: Anak-anak muda yang menyerukan toleransi dan keberagaman

Cinta Indonesia ingin mengumpulkan 5.000 foto sebagai simbol Bhinneka Tunggal Ika pada 17 Agustus mendatang.

Sumber gambar, INSTAGRAM

Keterangan gambar, Cinta Indonesia ingin mengumpulkan 5.000 foto sebagai simbol Bhinneka Tunggal Ika pada 17 Agustus mendatang.

Sebuah gerakan berbasis media sosial mencoba menekankan kembali pentingnya nilai toleransi dan menghargai keberagaman.

Kampanye ini dilakukan dengan mengajak anak muda mengirim foto mereka dengan tulisan #RangkulPerbedaan.

Komunitas kepemudaan Cinta Indonesia, yang menggagas gerakan ini melalui Twitter dan Instagram, mengatakan sudah ada lebih dari 3.000 pengguna media sosial yang berpartisipasi.

Gerakan #RangkulPerbedaan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kebhinnekaan di Indonesia karena kasus-kasus intoleransi masih banyak terjadi, kata Michelle Winowatan.

"Kami tidak menjanjikan solusi dalam kampanye ini. Tetapi ingin membuat orang sadar, bahwa masih banyak yang mengancam Bhinneka Tunggal Ika itu."

#RangkulPerbedaan dinilai semakin penting disuarakan mengingat perkembangan <link type="page"><caption> insiden di Tolikara</caption><url href=""Setahu saya di sini tidak pernah ada kejadian seperti ini, cuma karena ada miskomunikasi. Ini jangan dilihat dari sisi agamanya, karena mungkin ada beberapa orang yang memprovokasi jadi seperti itu."" platform="highweb"/></link> yang berkembang menjadi isu agama.

Berikut sejumlah suara anak-anak muda yang berpartisipasi dalam kampanye tersebut. Apakah Anda termasuk di antaranya?

Alda Assagas, 22 tahun, mahasiswa

Alda, salah satu mahasiswi yang berasal dari Maluku dan beragama Muslim, mengikuti program kampanye dari Cinta Indonesia dengan foto dirinya #RangkulPerbedaan

Sumber gambar, Alda Assagas

Keterangan gambar, Alda, salah satu mahasiswi yang berasal dari Maluku dan beragama Muslim, mengikuti program kampanye dari Cinta Indonesia dengan foto dirinya #RangkulPerbedaan

"Kita sebagai anak muda memang harus peduli dengan isu-isu perdamaian. Jadi orang-orang menyadari bahwa kita harus menghargai perbedaan."

"Harapan saya, masyarakat Indonesia mulai teredukasi bahwa enggak penting berkonflik, apalagi konflik ber-SARA. Indonesia enggak akan maju-maju kalau terus mempermasalahkan hal-hal itu. Lebih enak hidup bersama-sama, saling menjaga dan saling menghargai."

I Made Agus Juniantara, 21 tahun, mahasiswa

Agus Juniantara, asal Bali yang beragama Hindu juga turut dalam mengkampanyekan sebuah tujuan perdamaian baginya.

Sumber gambar, Agus Juniantara

Keterangan gambar, Agus Juniantara, asal Bali yang beragama Hindu juga turut dalam mengkampanyekan sebuah tujuan perdamaian baginya.

"Kenapa saya ingin ikut berpartisipasi? Karena ini membantu saya memberi pandangan sendiri bahwa perbedaan itu bukan sesuatu yang harus dijadikan kambing hitam permasalahan, tetapi perbedaan itu adalah harus kita rangkul, sesuatu yang harus kita pegang bersama seperti itu, bukan menjadi sesuatu permasalahan yang besar."

Jeni Beatrix Karay, 26 tahun, karyawan swasta

Jeni, asal Papua dan beragama Kristen mengikuti kampanye #RangkulPerbedaan lewat media sosial twitter

Sumber gambar, Jeni Karay

Keterangan gambar, Jeni, asal Papua dan beragama Kristen mengikuti kampanye #RangkulPerbedaan lewat media sosial twitter

"Masjid dan gereja di kompleks saya hanya terpisah oleh jalan raya. Saat hari Minggu mereka ibadah, teman-teman Muslim ya membantu menjaga keamanan jalan seperti pengarahan kendaraan agar tidak macet di depan gereja. Sedangkan saat salat Jumat, ya sebaliknya mereka yang teman-teman Kristen membantu memarkir kendaraan, mengarahkan jalan di sekitar masjid."

Kristian Wongso Giamto, 25 tahun, dokter

Kristian, asal Jakarta dan beragama Kristen saat melakukan kampanye di Car Free Day, bulan Maret lalu

Sumber gambar, Kristian Giamto

Keterangan gambar, Kristian, asal Jakarta dan beragama Kristen saat melakukan kampanye di Car Free Day, bulan Maret lalu

"Dulu waktu saya SD, saya tinggal di Maluku Utara. Pada tahun 1999 kalau enggak salah terjadi kerusuhan dengan motif politis yang dibawa entah bagaimana rupa menjadi motif agama. Semenjak saat itu di otak saya berbekas bahwa oh, agama itu berbahaya seperti ini. Terus di Indonesia banyak perbedaan juga, dan saya pikir apa yang bisa saya lakukan supaya kejadian serupa tidak terulang dengan kapasitas saya."