#TrenSosial: Insiden Tolikara, #SaveMuslimPapua, dan persepsi kita

Sumber gambar, AFP

Insiden <link type="page"><caption> terbakarnya musala</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/07/150718_indonesia_papua_tolikara" platform="highweb"/></link> di Papua menuai reaksi keras di media sosial dengan tagar #SaveMuslimPapua mendominasi percakapan, sementara sebagian lagi menyerukan solusi tanpa kekerasan.

Segera setelah berita tentang insiden di Tolikara, Papua, muncul di media massa pada Jumat (17/07), pengguna media sosial bereaksi dengan #SaveMuslimPapua yang hingga kini sudah digunakan lebih dari 65.000 kali.

Tagar lain yang dipakai adalah #SaveMuslimdiPapua yang dipakai lebih dari 19.000 kali di Twitter.

Didominasi dengan kemarahan, sejumlah orang bertanya 'ke mana para aktivis HAM?' dan 'Inikah yang dinamakan toleransi?'.

'Saat Muslim mayoritas, mereka disudutkan dengan dalil toleransi,' kicau ulama populer Felix Siauw melalui @felixsiauw. 'Namun saat minoritas, mereka ditekan dengan dalil demokrasi.'

Dia juga menyalahkan negara yang dianggap lalai untuk 'memberikan jaminan perlindungan hukum' kepada masyarakat.

Sebuah surat edaran yang mengatasnamakan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang belum jelas kebenarannya beredar luas di media sosial menyulut komentar-komentar kemarahan.

Namun menyikapi insiden ini, pendakwah populer Aa Gym dalam @aagym menyerukan umat Islam 'bertindak jernih jangan mudah terprovokasi destruktif'.

'Punya sejarah kerukunan'

Berbagai reaksi ini -beberapa di antaranya ekstrim- tidak dapat dihindari walau insiden tersebut dianggap bukanlah konflik dua agama, menurut sejumlah aktivis.

Koordinator Jaringan Kerja Antar Umat Beragama Wawan Gunawan kepada BBC Indonesia mengatakan reaksi keras tersebut salah satunya disebabkan pemberitaan yang cenderung misleading sehingga banyak orang melihatnya sebagai konflik agama.

Sumber gambar, PAPUA ITU KITA

"Kami melihat ini adalah kelalaian aparat keamanan untuk menjamin hak warga menjalankan ibadah. Benih-benih intoleransi bisa muncul di mana saja," katanya.

Pegiat PapuaItuKita, sebuah inisiatif untuk menjembatani persepsi keliru tentang Papua, mengatakan berita insiden Tolikara yang menyebar begitu cepat, dengan narasumber sangat terbatas, telah membentuk opini sedemikian rupa yang dapat menyudutkan warga Papua.

"Sejarah kerukunan umat beragama di Papua tinggi dan segera setelah insiden terjadi dua belah pihak cepat melakukan konsolidasi," kata Zely Ariane kepada BBC.

Dengan tinjauan historis itu, Zely meyakini bahwa insiden ini akan cepat terselesaikan di lapangan.

Seorang warga muslim di Tolikara kepada wartawan mengatakan insiden semacam ini memang baru pertama kali terjadi dan "kami selama sembilan tahun di sini (merasa) aman," kata Haji Ali seperti dikutip detik.com.

Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pendeta Dorman Wandikmbo juga menegaskan bahwa warga gereja tidak pernah berniat untuk melakukan pembakaran dan sudah meminta maaf kepada umat muslim atas insiden tersebut.

Bupati Tolikara, Usman Wanimbo, mengatakan aksi pembakaran dipicu oleh aksi penembakan terhadap salah seorang warga oleh aparat keamanan. Massa yang marah kemudian membakar kios-kios dan api turut melalap musala yang berada di tengah kompleks.

Setidaknya ada 12 orang yang terkena tembak dalam peristiwa itu, salah satu di antara mereka meninggal dunia. Terkait korban yang berjatuhan ini, Zely mengkritisi aparat yang dianggap terlalu 'cepat mengeluarkan tembakan'.