#TrenSosial: Pencurian ponsel di Malaysia berubah jadi isu ras

Sumber gambar, facebook
Serangkaian kejadian yang berawal dari kasus kriminal kecil di Malaysia berujung pada masalah tentang ketegangan antar-ras di negara tersebut.
Di sebuah pusat perbelanjaan di Kuala Lumpur, dua pria Melayu tengah menawar harga telepon seluler dengan penjaga toko dari etnis Tionghoa. Dua pria Melayu itu kemudian membawa lari ponsel tersebut. Mereka ditangkap dan ditahan. Tapi itu baru permulaan masalah.
"Salah satu dari pria itu dilepaskan lalu dia kembali beberapa jam kemudian dengan tujuh pria Melayu lainnya yang mengaku pernah ditipu oleh si penjaga toko etnis Tionghoa itu," kata Shannon Teoh, wartawan harian Straits Times kepada BBC Trending.
"Kelompok itu kemudian datang ke mal dan mencari masalah. Mereka dihalau oleh para penjaga toko," imbuh Teoh.
Perkelahian pun terjadi. Insiden tersebut direkam oleh pengunjung yang kemudian menggunggahnya ke Facebook.
Alhasil, video tersebut mendapat banyak komentar rasis tentang komunitas Tionghoa di Malaysia. Banyak yang langsung membela si pencuri dan rekan-rekannya.
"Saya salut pada tujuh orang ini!" kata pengguna Facebook, Syukri Naim. "Meski Anda dipukuli tapi tidak mundur!!!"
Video insiden ini sudah ditonton lebih dari 800 ribu kali di Facebook dan dibagi lewat aplikasi chat dan Twitter.
Belum selesai di situ. Malamnya, sekitar seratusan orang berkumpul di depan mal. Beberapa orang terluka, termasuk fotografer dan wartawan etnis Cina. Sekelompok warga etnis Cina di dalam mobil juga diserang saat aksi kekerasan terjadi.
Yang awalnya merupakan kasus pencurian kini tereskalasi menjadi serangkaian peristiwa ketegangan antar-etnis.

Sumber gambar, AFP
Jadi, kenapa insiden kecil yang terjadi sepekan lalu (Sabtu, 11/7) memicu keresahan yang meluas?
Penyebab utamanya adalah ketegangan antara etnis Melayu dan Tionghoa di Malaysia, kata Tse Yin Lee dari BBC Monitoring.
"Stereotipe etnis membuat orang percaya bahwa orang-orang etnis Cina mengambil semua pekerjaan yang bagus dan menghasilkan lebih banyak uang dari orang-orang Melayu," katanya.
"Insiden ini benar-benar menyoroti masalah stereotipe etnis di Malaysia dan cepatnya insiden kecil berubah jadi aksi kekerasan terorganisir."
Pemerintah pun bergerak cepat untuk meredam peristiwa tersebut. Melalui Twitter, aparat Malaysia menyatakan bahwa penyelidikan mereka berfokus pada tindak kriminal, bukan soal etnis.
Bahkan Perdana Menteri Najib Razak ikut berkomentar. Lewat status di halaman Facebook-nya, Razak mengeluarkan peringatan, "Peristiwa ini harus dilihat sebagai kasus kriminal dan bukan masalah etnis. Saya melihat foto-foto yang tak berhubungan dengan kasus ini beredar di media sosial. Kita harus menghindari mental psikologi massa dan melihat fakta-faktanya."
Namun tak semua orang mau mendengar permintaan PM Najib Razak. Najib menyebutkan ada beberapa foto lama dan palsu yang turut beredar dengan tambahan keterangan foto yang seolah-olah menggambarkan kekerasan di mal dan menambah ketegangan.

Sumber gambar, facebook
Meski demikian, ada juga kampanye balasan yang meminta agar serangan antar-etnis itu tak lagi berlanjut.
Salah satu contohnya, foto selfie antara seorang pria Melayu dan penjaga toko etnis Cina yang diunggah di Facebook dan menjadi viral. Dalam keterangan foto, pria Melayu tersebut memuji si penjaga toko karena selalu memberi pelayanan yang baik.
"Tak semuanya negatif. Pihak berwenang menggunakan media sosial secara efektif dalam kasus ini untuk mengendalikan isu dan ada banyak contoh orang-orang menggunakan media sosial untuk membantah komentar rasis, meyakinkan orang etnis lain dan menyuarakan kecaman mereka atas peristiwa yang terjadi," kata Lee.
"Ada harapan Malaysia akan tak memedulikan lagi stereotipe etnis ini."













