Apakah OPEC akan batasi pasokan minyak dunia?

Sumber gambar, Getty

    • Penulis, Andrew Walker
    • Peranan, Koresponden Ekonomi BBC World Service
  • Waktu membaca: 2 menit

Menteri energi dari 12 anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan mengadakan pertemuan di markas mereka di Vienna pekan ini.

Pertanyaan besarnya adalah: bagaimana mereka mengatasi anjoknya harga minyak dunia yang terjadi sejak Juni? Dan apakah membatasi pasokan adalah langkah tepat untuk membuat harga naik?

Penurunan harga minyak merupakan masalah nyata bagi anggota OPEC. Mereka sangat bergantung pada pendapatan minyak untuk membiayai anggaran belanja pemerintah.

Arab Saudi misalnya, 90% pendapatan negara datang dari minyak.

Negara ini dianggap cukup mampu menghadapi penurunan harga hingga 30%. Namun masalah ada di Iran, Venezuela, Nigeria, dan negara lain di luar OPEC, termasuk juga Rusia.

Kurangi pasokan atau tidak?

Menghadapi situasi ini, pilihan untuk mengurangi pasokan tampaknya bisa menjadi solusi, karena harga bisa terkerek naik atau setidaknya bisa menghindari penurunan lanjutan.

Anggota OPEC menguasai 40% produksi minyak global dan mereka bisa membuat perubahaan itu, asalkan mereka patuh terhadap batasan produksi, yang kadang mereka gagal lakukan.

Sejumlah anggota sudah mengusulkan ide ini, yaitu Iran dan Venezuela. Namun Kuwait mengatakan ide itu tidak mungkin. Kuwait dan sejumlah negara Arab lainnya masih bisa mengatasi dampak negatif penurunan harga.

Pemain kunci, yang masih belum menentukan arah adalah Arab Saudi. Di masa lalu Arab sering maju ke depan untuk menstabilkan pasar - tindakan yang kadang-kadang dikenal dengan istilah "swing producer".

Ketidakpastian tentang langkah OPEC tampak dari opini para analis yang terbagi. Survei dari 20 ahli oleh Bloomberg menemukan bahwa 50% berharap pasokan dibatasi, sebagian lagi berharap tak ada perubahan.

Permintaan dan penawaran

Keadaan limbung yang dialami OPEC mencerminkan dua faktor penentu harga, yaitu penawaran dan permintaan.

Permintaan minyak menurun karena penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global, terutama di zona Eropa dan Cina.

Sumber gambar, r

Di sisi penawaran, minyak cukup melimpah dengan peningkatan produksi minyak AS yang mencatat angka tertinggi sejak Juli 1986.

Harga minyak mentah juga dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika. Akibatnya negara-negara di luar AS harus membayar lebih mahal karena acuan harga minyak menggunakan dolar.

Dengan kata lain, negara-negara yang memiliki nilai tukarnya melemah terhadap dolar, tidak mendapat manfaat penuh dari penurunan harga minyak.

Salah satu tren yang cukup mencolok adalah penurunan harga ini terjadi di tengah kacaunya keamanan Timur Tengah - faktor yang sebelumnya selalu membuat harga naik tajam.

Teori konspirasi

Ada teori lain tentang apa yang mungkin berada di balik harga minyak jatuh.

Satu ide adalah bahwa Arab Saudi sengaja menjaga pasokan dan harga bawah untuk membuat minyak kurang menguntungkan dan melemahkan persaingan.

Presiden Obama bertemu dengan Raja Abdullah dari Arab Saudi pada Maret lalu dalam upaya untuk memperbaiki hubungan.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Presiden Obama bertemu dengan Raja Abdullah dari Arab Saudi pada Maret lalu dalam upaya untuk memperbaiki hubungan.

Beberapa pihak mengindikasikan bahwa AS dan Arab Saudi telah berbagi tujuan geopolitik mereka yang dibantu oleh penurunan itu.

Kolumnis New York Times, Tom Friedman bertanya: "Apakah itu hanya imajinasi saya atau apakah ada perang minyak dunia berlangsung? Amerika Serikat dan Arab Saudi di satu sisi melawan Rusia dan Iran di sisi lain?"

Ini adalah ide yang kontroversial. Tapi yang jelas, ada kekuatan ekonomi riil di sisi penawaran dan permintaan yang setidaknya berkontribusi terhadap masalah OPEC.