Harga minyak dunia turun tapi naik di Indonesia

Sumber gambar, AFP
Presiden Joko Widodo sudah mengumumkan kenaikan harga bensin dan solar bersubsidi dan mulai berlaku Selasa 18November.
Harga bensin premium naik dari Rp6.000 menjadi Rp8.500 per liter sedangkan solar dari Rp5.500 menjadi Rp7.500 liter.
Pekan lalu juru bicara wakil presiden Jusuf Kalla, Husain Abdullah, mengatakan kenaikan harga BBM bersubsisi akan tetap dilaksanakan pada bulan November ini.
Pengamat ekonomi INDEF, Eko Listianto, mengatakan walau harga minyak dunia turun namun penurunan subsidi BBM dianggap masih perlu untuk pembangunan jangka panjang.
"Masak sebagian besar anggaran, itu terlalu besar, sampai di atas Rp300 triliun untuk BBM, itu terlalu besar," tutur Listianto.
Seperti biasanya, walau kenaikan harga BBM subsidi belum diumumkan sejumlah harga barang pokok sudah naik hingga lebih dari 50%, seperti dilaporkan wartawan BBC di Jakarta.
Tapi Forum BBC Indonesia lebih peduli dengan pendapat Anda.
Jadi, apakah Anda setuju harga BBM bersubsidi dinaikkan dan dananya dialokasikan untuk keperluan lain? Atau Anda menolaknya karena praktis semua harga barang akan ikut naik pula?
Segera kami tunggu pendapat Anda dan jangan lupa sertakan nomor telepon jika mengirimkan email ke indonesia@bbc.co.uk agar suara Anda bisa kami rekam.
Nomor telepon itu akan dirahasiakan dan hanya akan digunakan untuk kepentingan Forum BBC Indonesia.
Ragam pendapat
Dari email indonesia@bbc.co.uk
"Saya tidak bisa berkata setuju atau tidak. Bila BBM dinaikkan saya berharap diimbangi dengan kenaikan upah minimum karena UMR di kora Palembang cuma Rp 1.980.000. Dengan gaji seperti itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga, untuk biaya makan, kontrak, bayar biaya sekolah, bayar listrik, PAM, menurut estimasih saya penghasilan negara per bulan dari pajak karyawan Sumsel saja sudah sangat besar, seimbang dengan proyek pembuatan jembatan. Apa masih perlu dinaikkan harga BBM?." Dedi, Palembang.
"Sangat setuju BBM Naik karena harga BBM murah hanya berlaku di pulau Jawa saja tetapi bayangkan yang ada di luar Jawa, walaupun murah tapi BBM sangat terbatas. Kalaupun ada eceran itu pun sangat mahal karena itu harga BBM harus rata dan pro rakyat miskin." Antonius Susanto, Makassar.
"Jangan pernah menyamakan harga BBM negara luar dengan negara Indonesia. Upah di negara luar sangat tinggi, upah di Indonesia sangat tidak layak. Lagian, nilai rupiah memang semakin anjlok. Maka kenaikan harga BBM tanpa kenaikan upah minimum sama sekali tidak menyelesaikan. Thailand sudah menurunkan harga minyaknya hingga 3 bath. Malaysia juga berniat menurunkan harga minyak mereka. Mengapa Indonesia malah kalap menaikkan harga BBM? Selama koruptor masih bertebaran di Indonesia, kenaikan BBM bukan solusi." Herman, Thailand.
"Tidak setuju dinaikkan harga BBM karena dampaknya akan ada lonjakan harga pada kebutuhan lain dan yang pasti yang miskin paling merasakan dari lonjakan harga itu. Lebih baik pemerintah memotong anggaran pelesiran anggota dewan dan pelesiran prisiden sehingga penghematan anggaran bisa dipakai menutupi subsidi BBM yang dinaikkan." Husein, Denpasar.
"Sangat tidak setuju apalagi harga minyak dunia saat ini sudah turun jadi tidak masuk akal bila BBM di negara ini dinaikkan. Kenaikan BBM sudah jelas berdampak pada kenaikan bahan pokok, dan lain-lain. Semakin bertambahlah beban rakyat kecil." Kelik Teguh P, Pekanbaru.
"Setuju. Beban subsidi terlalu berat. Harga BBM di Indonesia termasuk yang paling murah di dunia. Tidak ada korelasinya dengan turunnya harga minyak dunia. Lagian kalau mau mengkritik (baca: menghujat) kebijakan pemerintah yang satu ini, coba tawarkan solusinya juga. Lebih mudah mengkritik daripada menjadi benar." Nugraha, Bandung.
"Sangat setuju tidak dinaikan. Anggaran untuk pejabat negara diturunkan. Ini baru prorakyat miskin." Budi Hartono, Jambi.
"Saya setuju dengan rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Akan tetapi pencabutan subsidi perlu dilakukan secara bertahap agar dampak yang ditimbulkan tidak terlalu berat bagi rakyat. Selain itu, rasanya aturan pembelian BBM bagi kalangan 'mampu' perlu ditegaskan, agar tidak terjadi salah sasaran dalam pemberian subsidi BBM." Retno Maharsi, Solo.
"Sangat tidak setuju dengan rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, karena harga kebutuhan pokok juga akan naik." Suhardi, Riau.
"Saya setuju saja kapan pun dinaikkan. Saya percaya pemerintah punya analisa dan pertmbangan terbaik untuk rakyat dan kelangsungan pemerintahan." Edy Santoso, Bojonegoro.
"Sebelum naik, BBM subsidi di SPBU dibuat langka/habis. Solusi untuk mengatur BBM subsidi agar tepat sasaran sebenarnya mudah, cukup tempatkan beberapa petugas di SPBU untuk mengatur mana yang wajib membeli BBM subsidi (misal angkot) dan jika ada mobil mewah yang ingin beli BBM subsidi maka petugas hanya perlu mengarahkannya ke BBM nonsubsidi. Mudah bukan? Jika pemerintah memang serius, hal seperti itu sangat mudah menurut saya. Dan dengan cara itu juga bisa membuka lapangan pekerjaan. Jangan cuma keliling Indonesia tanpa mengerti masalah rakyat. Salam untuk Pak Presiden." Rachman Santoso, Bekasi
"Wah, negeri ini butuh perubahan sejak semua terkuak (1998-sekarang). Apakah ini awal perubahan yang baik dengan rakyat harus menderita dulu? Atau rakyat dinyamankan sampai nanti anak cucu kita yang menderita? Semoga ank cucu kita masih bisa bangga sebagai Bangsa Indonesia." Ashuya, Denpasar.
"Kalau menurut saya tidak setuju subsidi BBM dikurangi sehingga harga BBM naik karena alasan yang dibuat pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM dan memindahkan ke pengeluaran lain seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur juga terlalu dibuat-buat. Masih banyak cara untuk membuat subsidi BBM efektif seperti: 1. Penertiban kongkalikong mafia migas yang banyak merugikan keuangan negara dari hasil migas. 2. Mengarahkan subsidi premium ke tingkat BBM yang lebih murah dengan kadar oktan rendah sehingga pengguna mobil atau kendaraan mewah beralih ke BBM non subsidi (kadar oktan lebih tinggi). 3.Meningkatkan sektor produksi migas dari hulu ke hilir dikuasai oleh negara sehingga pendapatan kita dari sektor ini bisa maksimal. Karena seperti kita ketahui sektor hulu kita dikuasai perusahaan-perusahaan asing dengan kontrak karya yang tidak seimbang di sisi penerimaan negara." Agus Merah Putih.
Dari Facebook BBC Indonesia
"Jangan pernah pemerintah memaksakan menaikan BBM. Kenapa mesti dipaksakan, apakah pajak 'yang diperoleh pemerintah' masih kurang? Ataukah mau cari uang cepat dengan menaikan BBM." Titin Kahiking.
"Baru kerja apa hasilnya? Kok langsung mau naikin harga. Buktikan dulu janji-janjinya Jokowi baru silahkan naikkan harga BBM. Kalau cuma naikin saja, semua presiden pun bisa." Valentino Kadmaer.
"Tidak setuju karena kalau BBM naik, semua ikut naik. Kalau harga yang lain tidak ikut naik, aku -biar miskin- setuju." Odong Tea.
"Kebijakan menaikan harga BBM untuk mengurangi devisit negara. Oh tidak... tukang gorengan juga bisa jadi presiden tanpa harus sekolah tinggi." Ardy Crematorium.
"Tetap tidak setuju, membebankan rakyat miskin." Bareto Ozy.
"Bagi saya, pemerintah sudah saatnya mencabut subsidi BBM yang jumlahnya ratusan triliun. Subsidi BBM bisa dipakai untuk kepentingan rakyat terutama yang miskin. Selama ini, penikmat subsidi adalah mereka yang berduit." Rasno Shobirin.
"Saya setuju... untuk tidak dinaikkan harga BBM di Indonesia." Andre Wijaya.
"Tidak setuju sama sekali. Ketika rakyat kecil susah payah karena ekonomi yang jalan ditempat, sekarang ditambah beban BBM naik. Pemerintah mesti berpikir ulang jika peruntukannya semata-mata karena defisit anggaran subsidi. Jangan melihat tidak meratanya tapi lihat kebutuhan rakyat miskinnya. Karena faktanya masalah migas sangat kompleks di negeri ini. Bila pun BBM terpaksa dinaikkan pemerintah mesti terlebih dahulu membuat program mendasar yang benar dan terstruktur, bukan hanya dengan program membagi bagi 'kartu sakti' yang artinya buat rakyat miskin tak ubahnya seperti BLT yang tidak mendidik sama sekali. Rakyat miskin hanya ingin kehidupannya tidak bertambah berat dan bukan soal yang rumit lagi." Pastrana Kaldera.
"Setuju soalnya aku tidak pernah pakai BBM, paling oangtuaku, dua minggu habis empat liter." Cinta Bersemi.
"Jelas tidak. Naik bukan satu-satunya solusi." Marliansyah Tadjuddi.
"Tidak, kejam sungguh para penguasa ya." Hap Sapz Putra.
"Tidak setuju karena terlalu menekan rakyat kecil." M Nurul Wildan.
"Setuju, Ini momen bagus biar BBM naik sedikit tapi negara dapat penghematan yang besar, bisa buat bayar utang." Tukiman Kediri.
"Itulah dia, minyak dunia harganya turun 30% lebih tap di Indonesia, BBM malah naik harganya." Kiki Wahyudin.
"Setuju." Tari Sinkh
"Sangat tidak setuju." Afi Adi
Setuju, harga BBM di Indonesia terlalu murah dibandingkan negara lain. Kalau terus seperti ini negara akan merugi karena terlalu banyak subsidi BBM." Nandana Putra.
"Pertanyaannya sekarang kurs dollar naik atau turun? Kita beli minyak dengan dollar." Kadek E. Primadistya.
"Kok bisa minyak dunia turun, dalam negri naik padahal negara kita produsen minyak. Manajemen seperti apa negara ini dan jika membenahi kenapa rakyat yang harus terus dikorbankan. Lihat baru dengar kabar dinaikkan perusahan besar pada mem-PHK karyawannya, besar-besaran. Lebih memilih beli mesin otomatis yang tidak butuh banyak orang untuk mengoperasikannya. Kemakmuran? Kemakmuran siapa yang diperjuangkan para dewan? Jawaban klise." Estu Win.
"Presiden baru menjerumuskn rakyat kurang mampu dengan mau menaikkan harga BBM. Apa sih isi otak orang-orang pintak ini. Sudah tahu rakyat sebagian ke luar neger cari kerja karena apa... karena miskin." Aldo Dialova.
"Pemerintahan yang kurang pendidikan ekonomi. Buku putih cuma waktu kampanye doang." Hendry Maneco.
"Alasan pemerintah sekarang menaikan harga BBM bersubsidi untuk 'menyelamatkan' APBN, padahal jelas harga minyak dunia sedang turun tajam. Lalu apakah menaikan harga BBM bersubsidi adalah satu-satunya jalan untuk 'menyelamatkan' APBN kita? Tidak, sebelum mengambil 'jalan pintas' itu lebih baik benahi dulu mental dan moral anggota dewan dari daerah sampai pusat. Berantas dulu para koruptor, mafia pajak, mafia migas dan semua maling yang sudah sangat menggurita. Benahi juga birokrasi yang masih kental dengan KKN nya. Sebenarnya pendapatan negara sangat besar jika tidak ada tikus-tikus got tadi. Faktanya memang banyak terjadi kebocoran-kebocoran yang hanya dinikmati segelintir orang. Jangan hanya cari gampangnya saja, rakyat yg menanggung derita dari dosa para mafia itu." Andry 'en Ciel.
"Saya rasa 90% rakyat Indonesia tidak setuju." Rak Swalayan Murah.
"Setuju sekali." Zuly Chairuddin.
"Tidak pernah setuju walaupun satu sen! Bukan hanya minyak saja yang menjadi isunya nant, tapi semua bahan pokok akan menjadi mangsa keganasan kenaikan BBM." Lebah Liverpool.
"Seharusnya pajak perusahaan asing saja yang dinaikkan. Kalau nggak mau suruh mudik saja, bukannya malah memeras rakyatnya sendiri." Luad Maulana Siregar.









