All England 2023: All-Indonesia final di ganda putra, Herry IP sebut Fajar/Rian 'paling siap dan pantas juara'

Sumber gambar, PBSI
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia, Birmingham
Ganda putra dipastikan menyumbangkan gelar juara setelah terjadi all-Indonesia final All England 2023 di Birmingham, berkat laga dramatis Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan lolosnya Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto.
Pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi, mengatakan di antara tim ganda, Fajar/Rian yang paling siap.
"Fajar/Rian ini yang paling konsisten, dari tahun lalu sampai sekarang. Awal tahun ini merebut gelar di Malaysia. Saya berharap mereka bisa maju hingga ke partai puncak [di All England ini]," kata Herry dalam perbincangan dengan wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo, di sela-sela turnamen di Birmingham, Inggris.
"Di Jakarta, saya katakan ujung tombak ganda putra [sekarang adalah] Fajar/Rian. Mereka mampu dan pantas [jadi juara All England]. Cuma di hari pertama saja mereka terlihat bermain ragu-ragu. Ini karena mereka unggulan satu, ujung tombak, jadi ada tekanan. Namun begitu tekanan bisa diatasi, mereka bisa bermain bagus," kata Herry.
Fajar/Rian melenggang ke final setelah tanpa kesulitan berarti menumbangkan pasangan China, He Ji Ting/Zhou Hao Dong, 21-17 21-19.
Pasangan yang memiliki sebutan Fajri ini mengatakan siap menghadapi Ahsan/Hendra hari Minggu (19/03).
"Ya tentu senang ya bermain dengan sesama pasangan Indonesia, pemain yang legendaris. Mereka ini sangat ulet, bola yang mestinya mati menjadi tidak mati di tangan mereka. Satu poin sangat berarti dan karenanya kami tidak boleh lengah," kata Fajar.
Di sela-sela turnamen, Fajar/Rian mengatakan ingin sekali keluar sebagai juara.
"Kami belum pernah juara di sini ... tetapi kami juga tidak mau terlalu menggebu-gebu, khawatir malah jadi bumerang. Jadi tetap fokus," kata Fajar.
Baca juga:
- Hendra/Ahsan 'keluar dari lubang jarum' bikin Herry IP kaget di All England, Rehan/Lisa bikin kejutan
- Indonesia dominan di perempat final ganda putra All England 2023, bagaimana kans raih juara?
- Dominasi ganda putra Indonesia berlanjut di All England 2023, empat wakil lolos ke perempat final, pastikan satu tempat di semifinal
Laga dramatis Ahsan/Hendra dan luar biasa
Di babak semifinal hari Sabtu (18/03), Ahsan/Hendra melakoni laga dramatis dan luar biasa, yang mengharuskan gim penentuan disudahi dengan skor 29-27 saat melawan pasangan China, Liang Wei Keng/Wang Chang.

Sumber gambar, PBSI
Gim pertama diambil Ahsan/Hendra dengan 21-15 sementara gim kedua dimenangkan Liang/Wang, 19-21.
Di gim penentuan, kejar-mengejar angka terjadi dengan match point digenggam baik oleh Ahsan/Hendra maupun Liang/Wang.
Pada akhirnya, ketenangan, kesabaran, dan pengalaman membuat the Daddies - julukan bagi Ahsan/Hendra - berhasil menyudahi perlawanan lawan.
"Lawan bermain sangat bagus, sangat tidak mudah bagi kami [untuk menang]," ungkap Ahsan.
Di saat-saat kritis, lawan mencoba mengganggu fokus Ahsan/Hendra dengan mencoba mengulur waktu, namun strategi ini tidak berhasil.
"Kami tidak terlalu memikirkan saat lawan coba mengulur-ulur waktu, kami hanya fokus pada komunikasi kami berdua, komunikasi dengan pelatih, mau berbuat apa di poin selanjutnya," sambung Ahsan.
"Kami tentu tidak tahu siapa yang akan memenangkan pertandingan. Kami hanya berusaha [maksimal] dan alhamdulillah kami bisa menang," kata Ahsan.

Sumber gambar, PBSI
Hendra mengatakan keberhasilan mengatasi perlawanan pemain China tak lepas dari fokus sebaik mungkin selama laga berlangsung.
"Tetap harus fokus. Lawan juga tidak mau kalah kan. Karenanya kami fokus poin demi poin," kata Hendra.
Ia juga mengungkapkan di gim ketiga, pelatih mengingatkan untuk mengatur tempo permainan.
"Jangan kencang-kencang terus, karena mereka semakin kita main kencang, mereka malah semakin kencang juga. Jaga dan kontrol emosinya yang penting," katanya.
Jam terbang dan pengalaman untungkan Ahsan/Hendra
Pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi, mengatakan laga Ahsan/Hendra sungguh seru dan luar biasa.
"Di tengah tekanan yang sangat besar, Ahsan/Hendra bisa mengatasi permainan lawan yang solid. Pengalaman membuat Ahsan/Hendra bisa lebih tenang dan karenanya bisa mengatur permainan dan menempatkan bola dengan lebih akurat," kata Herry.
"Jujur saja, perkiraan saya adalah fifty fifty tadi pas angka-angka kritis. Siapa pun bisa menang. Saya tidak yakin apakah Ahsan/Hendra akan menang, tetapi ada harapan untuk menang karena biasanya Ahsan/Hendra di poin-poin kritis lebih tenang," katanya.
"Ketenangan [Ahsan/Hendra] membuat pasangan China, terutama Liang Wei Keng menjadi panik," kata Herry.
Ia juga menginstruksikan the Daddies untuk lebih banyak memainkan bola datar, bukan mengangkat bola tinggi-tinggi.
"Jangan diangkat bolanya, kalau diangkat itu akan menguntungkan lawan karena smash-nya keras sekali," katanya.

Sumber gambar, PBSI
Ahsan mengatakan siap dengan laga di final.
"Sekarang pemulihan dulu, istirahat yang baik, fisio, agar fisik kembali pulih," kata Ahsan.
Ahsan/Hendra adalah peraih medali emas Kejuaraan Dunia.
Di All England sudah dua kali juara pada 2014 dan 2019, sementara pada 2022 mereka menempati posisi runner up, kalah dari M. Shohibul Fikri/Bagas Maulana.
Di usia yang tidak lagi muda, masing-masing 35 dan 38 tahun, Ahsan/Hendra masih bertahan di level elite dunia.
Rehan/Lisa kembali tampil luar biasa

Sumber gambar, PBSI
Ganda campuran Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati kembali menampilkan permainan yang luar biasa saat terjun di babak semifinal.
Menghadapi unggulan teratas dari China, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong, Rehan/Lisa tampil tanpa beban dan sangat merepotkan lawan.
Permainan net yang rapi dipadu dengan pertahan yang solid membuat Zheng/Huang kewalahan. Hanya pengalaman dan jam terbang yang jauh lebih tinggi yang membuat pasangan China akhirnya memetik kemenangan 17-21 21-13 13-21.
Lisa mengatakan permainan yang heroik tak lepas dari persiapan yang matang.
"Sebelumnya kami pernah bertemu di India Open, [dari situ] kami evaluasi permainan dengan menguatkan pertahanan karena mereka mainnya menyerang terus, menekan terus jadi antisipasinya memperkuat pertahanan," kata Lisa.

Sumber gambar, PBSI
"[Secara umum] senang dengan penampilan kami di turnamen ini namun sayang sekali [kami terhenti, padahal] tinggal selangkah lagi untuk ke final, karena kami mau buktikan bahwa kami bisa," imbuh Lisa.
Rehan mengatakan kunci membuat repot Zheng/Huang adalah dengan bermain habis-habisan.
"Pokoknya tadi kami mau main all-out, usaha terus. Sebelum bola jatuh ke lantai berarti belum berakhir. Ke mana saja kami kejar, usaha terus pokoknya," kata Rehan.
Baik Rehan maupun Lisa mengatakan banyak belajar dari turnamen All England 2023.
Misalnya belajar untuk tenang meski dalam tekanan. "Bagaimana caranya saat tertekan bisa tetap sabar lalu balik menekan lawan," kata Rehan.
"Kami belajar satu hal dari mereka yaitu bagaimana terus menjaga fokus sepanjang pertandingan. Mereka rapat sekali permainannya, menekan terus dan tidak ada celahnya, fokusnya kuat sekali," kata Lisa.
Permainan yang ulet ini dipuji oleh Zheng.
"Kali ini serve mereka bagus. Pertahanannya sangat solid. Mereka juga determinasi yang tinggi," kata Zheng.
Ini adalah untuk kedua kalinya Rehan/Lisa tampil cantik.
Di babak perempat final, setelah tertinggal cukup jauh, Rehan/Lisa bisa menyusul, membalikkan keadaan dan akhirnya menang saat menghadapi Kyohei Yamashita/Naru Shinoya, 21-19 15-21 21-19.
Laga final All England 2023, hari Minggu (19/03) mulai pukul 17.00 WIB
Tunggal putra: Shi Yu Qi vs Li Shi Feng
Tunggal putri: An Se Young vs Chen Yu Fei
Ganda putra: Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan vs Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto
Ganda putri: Kim So Yeong/Kong Hee Yong vs Baek Ha Na/Lee So Hee
Ganda campuran: Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong vs Seo Seung Jae/Chae Yu Jung









