Berkat durian Musang King, kota di Malaysia menikmati aliran uang dari China

durian dibelah

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lonjakan permintaan durian meningkatkan perekonomian sebuah kota di Malaysia.
    • Penulis, Koh Ewe
    • Melaporkan dari, Raub, Malaysia
  • Waktu membaca: 7 menit

Mustahil luput dari penampakan durian dan aromanya saat berkendara di sekitar Raub, sebuah kota kecil yang dapat dijangkau menggunakan mobil selama 1,5 jam dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Siapapun yang berkunjung ke sana dapat mencium aroma durian secara samar-samar dari truk-truk pengangkut buah tersebut yang hilir-mudik melintasi wilayah itu.

Pengunjung juga dapat melihat penampakan patung raksasa durian serta rambu jalan bertuliskan: "Selamat datang di rumah durian Musang King."

Dulu, pada abad ke-19, Raub dikenal karena banyak orang pindah ke sana demi menambang emas.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kota itu mengalami perubahan ekonomi. Alih-alih logam mulia, Raub kini lebih dikenal sebagai daerah penghasil Musang King—varietas durian yang lembut, pahit manis, dan dijuluki warga Tionghoa sebagai "Hermès-nya durian".

Patung durian di Raub, Malaysia

Sumber gambar, BBC/Koh Ewe

Keterangan gambar, Durian adalah kebanggaan masyarakat Raub, kota kecil yang dapat dijangkau menggunakan mobil selama 1,5 jam dari Kuala Lumpur, Malaysia.

Raub adalah salah satu dari banyak kota di Asia Tenggara yang menerima lonjakan permintaan durian, terutama dari China.

Pada 2024, China mengimpor durian senilai US$7 miliar (Rp118,3 triliun)—meningkat tiga kali lipat dari 2020. Karena itu, lebih dari 90% ekspor durian dunia kini menuju ke China.

"Bahkan jika hanya 2% orang Tiongkok yang ingin membeli durian, nilai bisnisnya sudah lebih dari cukup," kata Chee Seng Wong, manajer pabrik Fresco Green, eksportir durian di Raub.

Wong mengenang bagaimana para petani membabat pohon-pohon durian untuk memberi ruang bagi kelapa sawit, tanaman komersial utama negara itu, selama krisis ekonomi pada 1990-an.

"Sekarang kebalikannya. Mereka menebang kelapa sawit untuk menanam durian lagi."

Penggemar durian dari China

Durian memiliki bau yang sangat menyengat sehingga dilarang di berbagai transportasi umum dan hotel. Bahkan, sebuah pesawat tidak bisa lepas landas setelah penumpang memprotes bau durian dari ruang kargo.

Para penggemar durian menjulukinya "Raja buah-buahan". Namun, bagi orang-orang yang membencinya, buah itu disebut bau belerang hingga bau selokan.

Di China, durian punya banyak penggemar. Durian kerap diberikan sebagai hadiah eksotis di antara kalangan berada; simbol status yang dipamerkan di media sosial; dan bintang dari berbagai kreasi kuliner yang kontroversial, mulai dari hotpot ayam durian hingga pizza durian.

Penggemar durian dari China

Sumber gambar, BBC/Koh Ewe

Keterangan gambar, Penggemar durian dari China khusus datang ke Kota Raub untuk menikmati buah berduri itu.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Thailand dan Vietnam adalah pemasok durian utama ke China. Adapun Malaysia makin tersohor lantaran memasok varietas premium seperti Musang King.

Harga rata-rata durian dimulai dari Rp34.000 di Asia Tenggara, tempat durian tumbuh melimpah. Tetapi varietas mewah seperti Musang King bisa berharga mulai dari Rp236.000 hingga Rp1,7 juta per buah, tergantung pada kualitas dan panen musimnya.

"Begitu saya makan durian Malaysia, pikiran pertama saya adalah, 'Wow, ini enak sekali. Saya harus menemukan cara untuk membawanya ke China'," kata Xu Xin, yang telah mencicipi durian di sebuah toko di Raub.

Perempuan berusia 33 tahun ini menjual buah tersebut di kampung halamannya di timur laut China, dan sedang mencari durian terbaik untuk diimpor.

Baca juga:

Xu datang bersama dua importir durian dari Tiongkok Selatan. Salah satunya mengatakan bisnis durian sedang semarak. Seorang lainnya memperkirakan bisnis durian akan terus berlanjut: "Ada begitu banyak orang yang belum pernah mencicipinya. Potensi pasarnya sangat besar."

Mudah untuk memahami mengapa mereka begitu percaya diri. Selain Xu dan dua importir durian dari China, terdapat rombongan besar turis China yang khusus datang ke pedesaan Malaysia untuk mencicipi buah berduri tersebut.

Dengan penuh semangat mereka menyantap durian, yang disusun dengan hati-hati dari yang paling ringan hingga yang paling kaya rasa.

Jika dimakan dengan urutan yang benar, kata penduduk setempat, rasa segar akan muncul di setiap gigitan: karamel, custard, dan rasa pahit mirip rasa minuman alkohol pada Musang King.

Enam varietas durian di Kota Raub, Malaysia

Sumber gambar, BBC/Koh Ewe

Keterangan gambar, Varietas durian disusun dari yang rasanya paling ringan (pojok kiri) hingga rasa paling kaya. Santap durian diakhiri dengan varietas Musang King (pojok bawah kanan).

Kekayaan rasa seperti itulah yang mungkin menempatkan durian Malaysia pada tempat khusus di meja makan masyarakat China.

"Mungkin pada awalnya kita hanya menyukai durian yang manis. Tetapi sekarang kita mencari hal-hal seperti aroma, kekayaan rasa, dan cita rasa yang bernuansa," kata Xu.

"Saat ini semakin banyak pelanggan yang datang ke toko dan bertanya, 'Apakah ada yang rasanya pahit di tumpukan ini?'"

Dinasti durian di Raub

Beberapa jam sebelum durian-durian itu tiba di piring Xu, buah tersebut dipanen dengan susah payah di sebuah perkebunan milik Lu Yuee Thing.

Paman Thing, begitu ia dikenal di Raub, punya toko durian serta sejumlah lahan perkebunan. Ia adalah salah satu dari banyak petani di Raub yang menjadi kaya raya berkat durian.

Paman Thing adalah petani durian di Raub

Sumber gambar, BBC/Koh Ewe

Keterangan gambar, Pengalaman Paman Thing adalah salah satu kisah sukses di Kota Raub.

Dalam bisnis keluarga seperti miliknya, anak laki-laki sering membantu mengangkut durian sementara anak perempuan menangani akuntansi dan keuangan.

"Durian telah banyak berkontribusi pada perekonomian di sini," kata Paman Thing saat berkendara ke salah satu perkebunannya suatu pagi.

Ada kebanggaan dalam suaranya saat ia menunjuk truk-truk pikap Jepang yang telah menggantikan jip reyot yang dulu ia andalkan untuk mengangkut peti-peti buahnya.

Baca juga:

Meski demikian, uang tidak datang dengan duduk-duduk saja. Pada usia 72 tahun, Paman Thing bangun saat fajar setiap hari dan berkeliling di perkebunannya yang berbukit untuk mengumpulkan durian matang, baik yang tergantung di pohon maupun yang jatuh di jaring.

Beberapa tahun lalu, durian jatuh menimpa bahunya. Hingga kini rasa sakit berdenyut pada bahunya masih kadang-kadang kambuh.

"Sepertinya petani menghasilkan uang dengan mudah. Tapi itu tidak mudah," katanya.

Tumpukan durian

Sumber gambar, BBC/Koh Ewe

Keterangan gambar, Mobil-mobil di perkebunan milik Paman Thing mengangkut durian untuk diekspor ke berbagai tempat, terutama China.

Setelah dipanen, durian dibawa ke toko Paman Thing. Durian-durian itu lalu dipilah ke dalam keranjang mulai dari Kelas A, untuk yang besar dan bulat, hingga Kelas C, yang kecil dan berbentuk aneh.

Di tengah lantai penyortiran terdapat satu keranjang khusus untuk durian Kelas AA, yang paling bagus di antara semuanya.

Durian-durian itu akan segera diterbangkan ke China.

Swasembada durian?

Selera masyarakat China terhadap durian telah menjadi alat diplomasi.

Beijing telah menandatangani serangkaian perjanjian perdagangan durian, tidak hanya dengan produsen utama seperti Thailand, Vietnam, dan Malaysia, tetapi juga pemasok baru seperti Kamboja, Indonesia, Filipina, dan Laos.

"Dalam kompetisi durian ini, semua orang adalah pemenang," demikian pernyataan sebuah artikel media pemerintah pada 2024.

Kesepakatan tersebut juga selaras dengan investasi China dalam infrastruktur di Asia Tenggara.

Kereta Api China-Laos, yang diluncurkan pada 2021, kini mengangkut lebih dari 2.000 ton buah setiap hari—sebagian besar adalah durian Thailand.

Namun, upaya untuk memenuhi selera China ini datang dengan harga yang mahal.

Wide shot of green durian trees and palms planted on hilly terrain

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pohon durian dan kelapa sawit mendominasi di lanskap Kota Raub, Malaysia.

Kekhawatiran tentang keamanan pangan durian Thailand muncul tahun lalu, setelah otoritas China menemukan zat pewarna kimia karsinogenik yang diyakini membuat durian lebih kuning.

Di Vietnam, banyak petani kopi beralih ke durian, mendorong kenaikan harga kopi global yang sudah terpengaruh oleh cuaca buruk.

Di Raub, perang wilayah telah meletus. Pihak berwenang menebang ribuan pohon durian yang menurut mereka ditanam secara ilegal di lahan milik negara.

Para petani mengatakan mereka telah menggunakan lahan tersebut selama puluhan tahun tanpa masalah. Sekarang mereka mengaku dipaksa membayar sewa untuk melanjutkan pertanian di sana. Jika tidak mau, mereka akan digusur.

Sementara itu, swasembada durian mungkin akan terjadi di Pulau Hainan, China. Setelah bertahun-tahun melakukan percobaan menanam durian, pulau itu diperkirakan memanen durian sebanyak 2.000 ton pada 2025.

Seperti di banyak industri, dari energi terbarukan hingga AI, China telah lama berupaya menerapkan swasembada pangan.

Walau menuai buah dari diplomasi durian ini, Tiongkok mengincar apa yang disebut media pemerintah sebagai "kebebasan durian".

"Salah satunya, kita tidak perlu lagi bergantung pada penjual Thailand dan Vietnam saat membeli durian!" demikian bunyi sebuah artikel pada Agustus.

durian malaysia

Sumber gambar, BBC/Koh Ewe

Keterangan gambar, Bisakah China melakukan swasembada durian?

Kenyataannya, swasembada durian masih terlalu jauh. Durian lokal pertama Hainan memasuki pasar dengan gembar-gembor besar pada 2023, tetapi hanya menyumbang kurang dari 1% dari konsumsi durian China pada tahun itu.

Namun, menurut Paman Thing, "Hainan telah berhasil dalam eksperimennya... Jika mereka memiliki pasokan sendiri dan mulai mengurangi impor, pasar kita akan terpengaruh."

Ia menepisnya untuk saat ini: "Itu bukan sesuatu yang perlu kita khawatirkan. Yang bisa kita lakukan hanyalah merawat pertanian kita dengan baik dan meningkatkan hasil panen."

Saya bertanya kepada warga Raub tentang upaya Hainan. Jawabannya ditepis dengan nada angkuh: China masih belum bisa menandingi durian Malaysia.

Kendati demikian, sulit untuk mengabaikan fakta bahwa Musang King kini duduk di atas takhta yang semakin goyah.