All England 2023: Dominasi ganda putra Indonesia terus berlanjut, empat wakil lolos ke perempat final, pastikan satu tempat di semifinal

Sumber gambar, BBC News Indonesia
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia di Birmingham, Inggris
Dominasi ganda putra Indonesia berlanjut di turnamen badminton tertua di dunia, All England, di Birmingham, dengan mengirim empat wakil ke babak perempat final.
Satu tempat dipastikan didapat di semifinal, karena terjadi laga sesama pasangan Indonesia di babak delapan besar, melalui Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang berhadapan dengan Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri.
Pada laga Kamis (16/03) waktu setempat, ganda keempat yang lolos ke perempat final adalah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang menyingkirkan Lucas Corvee/Ronan Labar 21-14 21-13.
"Tentunya senang bisa menang. Kami akan tetap fokus untuk menghadapi pertandingan berikutnya," kata Ahsan kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.
"Kuncinya jangan kendor. Kalau sampai kendor lawan tentu bisa mengejar...," tambahnya.
Sebelumnya, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin tanpa kesulitan yang berarti menyingkirkan pasangan Denmark, Jeppe Bay/Lesse Molhede, 21-15 21-16.
Meski demikian, Leo/Daniel mengatakan sebenarnya dari sisi permainan tidak sesolid sehari sebelumnya.
"Masih banyak yang harus diperbaiki. Kami main tidak sebagus kemarin," kata Leo.
Pada Rabu, Leo/Daniel tampil prima dengan menumbangkan unggulan kedua dari Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik.
Pasangan muda dengan julukan the Babies ini mengatakan kemenangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri di babak 16 besar ikut menambah motivasi untuk lolos ke babak delapan besar.
Fajar/Rian menundukkan Lee Jhe Huei/Yang Po Hsuan 22-20 21-15 sementara Bagas/Fikri menundukkan unggulan kedelapan Ong Yew Sin/Teo Ee Yi 21-18 21-18.
Bagas/Fikri adalah juara bertahan dan harus bertemu dengan Fajar/Rian di perempat final.

Sumber gambar, PBSI
"Kami melihat permainan Bagas/Fikri meningkat di sini, sepertinya kepercayaan diri mereka makin kuat," kata Fajar.
Pencapaian ini membuka harapan bagi tim ganda putra untuk mempertahankan gelar juara.
Tahun ini, harapan itu antara lain ditumpukan ke Fajar/Rian -- ganda putra nomor satu di dunia saat ini -- dan Leo/Daniel, yang untuk pertama kalinya bisa mengalahkan pasangan kuat Malaysia, Aaron Chia/Soh Wooi Yik pertama kalinya dalam lima pertemuan pada Rabu (15/03).
Leo mengatakan kemenangan atas Chia/Soh tak lepas dari strategi untuk inisiatif menyerang.
Baca juga:
"Kami mencoba memperbaiki dan mempelajari apa yang terjadi di pertemuan-pertemuan sebelumnya dan [hasilnya] kami terapkan di pertandingan hari ini. Kami banyak melakukan strategi menyerang dan tidak banyak bertahan," ungkap Leo kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.
Leo mengatakan kemenangan yang diraih sangat berarti bagi dirinya dan Daniel.
"Tentunya bisa membuat kami lebih percaya diri tetapi tidak boleh terlalu jumawa. Kami harus kembali fokus untuk pertandingan selanjutnya," kata Leo.
Daniel mengatakan setelah kehilangan gim kedua, ia dan Leo kembali tampil lebih agresif dengan tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk mengembangkan permainan.
"Kami bisa unggul jauh jadi kami coba memanfaatkan situasi itu dengan terus menekan," kata Daniel.
Aaron Chia mengatakan kekalahan yang ia derita diakibatkan kesalahan sendiri yang sering dilakukan di paruh pertama gim ketiga. "Itu yang membuat mereka bisa ungguk jauh," kata Chia.
Di antara beberapa pasangan ganda putra Indonesia, Leo/Daniel adalah yang paling konsisten dalam beberapa bulan ini, yang membuat pelatih Herry Iman Pierngadi berharap pasangan yang punya sebutan the Babies ini bisa melangkah jauh di All England tahun ini.
Di putaran kedua Leo/Daniel akan berhadapan dengan pasangan Denmark, Jeppe Bay/Lasse Molhede.
The Daddies masih prima

Sumber gambar, PBSI
Yang juga lolos ke babak 16 besar adalah Hendra/Ahsan.
Duo veteran ini mengalahkan sesama pemain Pelatnas, Pram/Yere, 25-23 21-18.
Sempat tertinggal cukup jauh di gim pertama, Hendra/Ahsan masih bisa membuktikan diri sebagai pasangan elite.
"Tetap fokus walau tertinggal cukup jauh angkanya, yang penting kami tidak mau menyerah dahulu," kata Ahsan.
Hendra menambahkan dirinya sempat tidak mengantisipasi strategi permainan lawan,"Setelah interval kami coba mengejar ketertinggalan, lalu di poin akhir mereka malah banyak melakukan kesalahan sendiri, bola-bola mudah mati," kata Hendra.
Di putaran kedua, pasangan berjuluk the Daddies ini akan ditantangan ganda putra Prancis, Lucas Corvee/Ronan Labar.
Ahsan/Hendra adalah juara All England pada 2014 dan 2019. Pada turnamen tahun lalu, keduanya menempati posisi juara kedua.

Sumber gambar, PBSI
Unggulan pertama, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, harus berjuang keras untuk bisa lolos ke babak 16 besar. Menghadapi pasangan Korea Selatan, Kang Min Hyuk/Seo Seung Jae, Fajar/Rian menang tiga gim 20-22 21-12 21-19.
"Pasangan Korea bermain sangat bagus dan luar biasa, mereka tidak gampang menyerah dan tidak gampang mati sendiri. Di gim pertama kami tertinggal terus dari awal tetapi akhirnya bisa unggul di poin-poin akhir. Hanya saja kami bermain sedikit terburu-buru jadi kembali berbalik skornya," kata Fajar.
"Masuk ke gim ketiga, mereka mengubah pola dengan lebih yakin di permainan depannya dan Seo (Seung Jae) servisnya menyulitkan kami dan memenangkan poin. Saat tertinggal kami hanya coba bermain lebih enjoy, nothing to lose dan pantang menyerah. Fokus saja pada pertandingan. Kalaupun nanti hasilnya kalah setidaknya kami sudah berjuang maksimal dan mati-matian," kata Fajar.
Baca juga:
- Fajar/Rian juarai Denmark Open 2022, paceklik gelar Kevin/Marcus berlanjut
- Hendra/Ahsan juara All England: 'Surprised, permainan yang luar biasa'
- Praveen/Melati juara ganda campuran All England, pelatih: ‘Permainannya luar biasa’Di babak 16 besar, Fajar/Rian akan berhadapan dengan pasangan Taiwan, Lee Jhe-Huei/Yang Po-Hsuan.
Jonatan Christie tumbang

Sumber gambar, PBSI
Salah satu kejutan terbesar di hari kedua perhelatan All England 2023 adalah tumbangnya unggulan kedua tunggal putra dari Indonesia, Jonatan Christie.
Menghadapi pemain bukan unggulan dari China, Weng Hong Yang, Jonatan tampak ragu-ragu di sepanjang pertandingan. Pukulan sering tersangkut di net dan pembacaan bola juga tidak akurat.
Di sisi lain, Weng Hong Yang tampil lepas dan mampu mempertahankan tekanan dari awal sampai akhir. Beberapa unforced errors juga tidak mempengaruhi penampilan.
"Pastinya kecewa sekali, karena bukan masalah menang kalahnya tetapi secara permainan jauh sekali dari yang dipersiapkan. Tidak tahu mau bilang apa, cuma memang atmosfer All England itu membuat saya ingin menampilkan yang terbaik, tetapi malah lawan yang bisa bermain lebih lepas tetapi saya kurang lepas jadi mainnya takut-takut dan ragu," ungkap Jonatan usai pertandingan.
Tadinya Jonatan diharapkan bisa berbicara di turnamen kali ini mengingat posisinya sebagai pemain nomor dua di dunia.
Selain itu, ada harapan juga pemain tunggal bisa menggebrak, meski di atas kertas cukup sulit mengingat dominasi pemain elite lain seperti Viktor Axelsen.
Sejak 1994, Indonesia belum sekalipun meraih gelar juara di sektor tunggal, baik tunggal putra maupun tunggal putri.
Terakhir kali, gelar juara itu diraih Susy Susanti dan Hariyanto Arbi.
Yang maju ke babak 16 besar
Chico Aura Dwi Wardoyo menundukkan Liew Darren, 21-9 21-16. Selanjutnya Chico akan melawan Weng Hong Yang.
Pasangan ganda putri, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti mengalahkan pasangan Brasil, Jaqueline Lima/Samia Lima, 21-12 211-14. Di babak 16 besar, Apri/Fadia yang diunggulkan di posisi delapan akan menghadapi Supissara Paewsampran/Puttita Supajirakul.
Bagi Apri/Fadia ini adalah debut All England karena tahun lalu Apri berpasangan dengan Greysia Polii, yang sekarang gantung raket.
"Rasanya senang bisa bermain di All England untuk pertama kalinya. Saya mau fokus di setiap pertandingan demi pertandingan. Hari ini ya kami masih banyak beradaptasi dengan shuttlecock dan kondisi lapangan, secara lawan memang masih di bawah kami tapi bukan berarti kami meremehkan mereka," kata Fadia.

Sumber gambar, PBSI
Apri bersama Greysia mencatat prestasi puncak di Olimpiade Tokyo, dengan merebut medali emas.
Di ganda campuran, Zachariah Josiahno Sumanti/Hediana Julimarbela mengandaskan pasangan Jerman, Mark Lamsfuss/Isabel Lohau, 21-17 21-18.
Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti mengalahkan sesama pasangan Indonesia, Dejan Ferdinansyah/Gloria Widjaja 19-21 21-17 21-18.
Praveen/Melati adalah juara All England 2020 namun cedera yang dialami Praveen membuat pasangan ini terlempar dari lingkaran elite dunia.
Cedera dan operasi memaksa Praveen absen penuh selama beberapa bulan.
"Memang sejauh ini kondisi saya sudah balik 100% tetapi tetap masih harus ada penguatan-penguatan lagi pinggangnya. Intinya setelah operasi, sekarang saya sudah siap bertanding," kata Praveen.
Di babak 16 besar, Praveen/Melati akan melawan pasangan kuat Thailand, Sapsiree Taerattanachai/Dechapol Puavaranukroh.
Ini adalah ulangan babak final All England tahun 2020 yang dimenangkan oleh Praveen/Melati.









