All England 2022: Bagas/Fikri langsung juara - 'Tak menyangka sama sekali, sempat merasa berat saat lihat bagan undian'

Bagas/Fikri

Sumber gambar, Badminton Photo via PBSI

Keterangan gambar, Bagas dan Fikri pertama tampil di All England dan langsung juara, setelah mengalahkan pasangan senior, Hendra/Ahsan.
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, BBC News Indonesia, Birmingham

Pasangan muda Indonesia, Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri, mencatat sejarah. Pertama kali tampil di All England dan langsung keluar sebagai juara.

Di babak final di Birmingham, hari Minggu (20/03), Bagas/Fikri menundukkan rekan senegara dan senior mereka, pasangan veteran Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

All England adalah turnamen badminton tertua dan paling bergengsi di dunia. Bagas/Fikri mengatakan tak menyangka sama sekali bisa juara.

"Yang tentu bangga sekali bisa langsung juara, yang pasti tidak menyangka sama sekali," ujar Bagas kepada BBC News Indonesia, usai pertandingan.

Bagas/Fikri mengaku gugup tampil di final, tapi perasaan ini bisa ditekan.

Keterangan video, Bagas/Fikri: Juara All England 2022 yang tak diperhitungkan

"Fokus. Menang atau kalah tak usah dipikirkan, harus memberi yang terbaik," kata Fikri.

Sebelum berangkat ke Birmingham, Bagas mengaku merasa tak punya banyak kans untuk melaju.

"Ketika lihat bagan undian rasanya berat sekali. Tapi kan harus dijalani. Ya Alhamdulillah akhirnya bisa juara," ungkap Bagas.

Baca juga:

Bagas/Fikri menang dua set langsung 21-19 21-13 atas Hendra/Ahsan.

Bagas/Fikri

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Bagas/Fikri meneruskan tradisi pencapaian ganda putra di All England.

Hendra mengatakan sejak awal ia dan Ahsan sulit mengembangkan permainan.

"Kami tertekan terus yang membuat kami lebih banyak bertahan, sementara serangan Bagas/Fikri sangat bagus," kata Hendra.

Ahsan turun bermain tidak dalam kondisi 100% bugar karena masih cedera di kedua betisya, tetapi ia tidak ingin menjadikan faktor ini sebagai alasan kekalahan.

"Bagas/Fikri memang lebih baik. Selamat untuk mereka. Mereka pantas juara," kata Ahsan.

All-Indonesian final

Hendra/Ahsan

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Hendra/Ahsan dua kali menjuarai All England, pada 2014 dan 2019.

Final all-Indonesian final di tahun 2022 adalah ulangan perhelatan All England 2001, saat Tony Gunawan/Halim Heryanto bertemu Sigit Budiarto/Candra Wijaya.

Hendra/Ahsan mengantongi tiket final, setelah di babak empat besar menekuk pasangan China, He Ji Ting/Tan Qiang, 21-16 14-21 21-13.

Pasangan berjuluk The Daddies ini mengatakan, kemenangan atas pemain China tak lepas dari penerapan strategi yang tepat.

"Di gim pertama kami menang angin, sehingga harus lebih banyak menyerang untuk menekan lawan," kata Hendra di arena pertandingan di Birmingham, Minggu (20/03) dini hari.

Kekalahan di gim kedua antara lain dipicu oleh Ahsan yang mengalami sakit di kedua betisnya.

"Makanya gerakannya menjadi lebih lambat tadi," ungkap Ahsan kepada wartawan BBB News Indonesia, Mohamad Susilo di arena pertandingan.

Situasi ini membuat He/Tan leluasa menekan Hendra/Ahsan. Untunglah, situasi ini bisa dibalikkan di gim ketiga.

"Di gim ketiga, saya tak mau lagi memikirkan kondisi kaki. Tak mudah memang bermain dengan kondisi seperti ini. Tapi kami harus terus menekan," kata Ahsan.

Ahsan mengatakan dirinya akan mengecek dengan tim medis dan memastikan istirahat yang cukup agar bisa tampil lebih maksimal di final.

Hendra mengatakan, "Saya harus siap meng-cover Ahsan. Sebaliknya jika saya tak bugar, Ahsan juga akan meng-cover saya. Saling mendukung."

Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi, mengatakan dirinya bangga dengan prestasi yang ditorehkan oleh Hendra/Ahsan dan Bagas/Fikri.

Di tengah kondisi Ahsan yang tidak prima, duo ini tetap berjuang keras agar bisa memenangi pertandingan dan merebut tiket ke final untuk menciptakan sejarah terjadinya final sesama wakil Indonesia di All England.

"Luar biasa, walau kondisi tidak prima, tetapi Hendra/Ahsan bisa memanfaatkan segala pengalaman mereka, mental juaranya, dan fighting spirit-nya di tengah lapangan," kata Herry.

"Mereka juga tidak mudah menyerah. Perjuangan Hendra/Ahsan itu bisa menjadi contoh bagi pemain-pemain muda," katanya.

Singkirkan pasangan nomor satu dunia

Bagas/Fikri

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Bagas/Fikri kembali membuat kejutan, kali ini mengalahkan pasangan nomor satu dunia, Kevin/Marcus.

Bagas/Fikri pada hari Sabtu (19/03), sukses menekuk sang senior Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, 22-20 13-21 21-16, melalui pertandingan yang seru.

Usai menang atas Kevin/Marcus, Bagas/Fikri mengatakan lebih suka menghadapi Hendra/Ahsan.

"Ya, kalau boleh memilih, kami lebih suka melawan Hendra/Ahsan. Biar ada all Indonesian final di ganda putra," ujar Fikri.

"Tetapi, siapa pun lawannya, kami sudah siap. Kami akan mencoba tetap fokus dan bermain lepas," imbuhnya.

Baik Bagas/Fikri sama-sama tak menyangka bisa melangkah jauh dan masuk ke final. Bagi keduanya, ini adalah All England pertama, turnamen badminton tertua dan paling bergengsi di dunia.

"Jujur saja, saya ingin menangis rasanya. Bahagia, terharu, tak menyangka bisa ke final," kata Bagas. "Bangga sekali."

Kevin/Marcus

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Kevin/Marcus menjuarai ganda putra All Englad, pada 2107 dan 2018.

Fikri mengungkapkan kunci kemenangan atas sang senior adalah bermain lepas, nothing to lose.

Mereka mengatakan sebenarnya gugup di lapangan.

"Lawan kan lebih senior, peringkat mereka juga jauh di atas kami. Alhamdulillah perasaan ini bisa kami atasi dengan bermain kompak di lapangan, saling mengingatkan," kata Bagas.

Mengomentari kekalahan di babak semifinal, Marcus mengatakan Bagas/Fikri memang bermain lebih baik.

"Bermain sangat bagus dan kami banyak melakukan kesalahan sendiri. Kami sulit keluar dari tekanan. Selamat untuk Bagas/Fikri," ujar Marcus.

Kevin mengatakan dirinya sudah memperkirakan tidak akan mudah melawan sang junior.

"Kami sudah tahu permainan masing-masing. Mereka bermain tanpa beban dan kami di bawah tekanan," kata Kevin.

Kekalahan ini membuat Kevin/Marcus harus mengubur harapan menjuarai All England untuk ketiga kalinya.

Mereka juara pada 2017 dan 2018. Pada 2020, Kevin/Marcus nyaris juara, namun di final kalah dari pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe.

Indonesia dominan

Di babak semifinal, Indonesia mengirim tiga pasangan ganda putra, yang menandai dominasi di sektor ini.

Kevin/Marcus masuk semifinal usai mengalahkan pasangan tangguh India, Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, 24-22 21-17.

Bagas/Fikri melenggang ke semifinal dengan membuat kejutan besar, mengalahkan peraih emas kejuaraan dunia 2021, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, 16-21 21-16 22-20.

Bagas/Fikri mengaku tak menyangka sama sekali bisa menyingkirkan pasangan Jepang yang diunggulkan di tempat ketiga, sementara bagi Bagas/Fikri ini partisipasi pertama di All England.

"Tentu senang ya, bangga juga. Kami sungguh tak menyangka bisa menang, kami sampai merinding," kata Bagas.

all england

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Bagas/Fikri melenggang ke semifinal dengan membuat kejutan besar

Pasangan ganda putra Indonesia lain yang juga lolos adalah Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, yang sukses meredam perlawan pasangan Denmark, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen, 21-15 22-20.

Meski menang dua gim langsung, Hendra mengatakan tak mudah menundukkan pasangan Denmark.

"Pertahanan mereka rapat. [Strategi kami adalah] menyerang lebih dulu, dengan begitu kami jadi lebih enak mainnya," ujar Hendra.

Satu lagi pasangan Indonesia yang berlaga di babak perempat final, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, ditundukkan pasangan China He Ji Tin/Tan Qiang, 21-15 16-21 14-21.

"Kami banyak melakukan kesalahan sendiri. Kurang maksimal," ujar Daniel.

"Saya tak menemukan permainan terbaik seperti kemarin, makanya lawan bisa lebih leluasa menyerang," kata Leo.

Tersingkirnya Leo/Daniel sekaligus menggagalkan harapan untuk melihat empat pasangan Indonesia di semifinal All England 2022.

Di sektor putri, pemain tunggal Gregoria Mariska Tunjung langsung tersingkir di putaran pertama. Sementara itu ganda putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu terhenti di putaran kedua akibat cedera yang dialami Apriyani.

Ginting, Jojo tersingkir

Dua pemain tunggal Anthony Ginting dan Jonatan Christie harus mengubur harapan berjaya di All England setelah masing-masing ditundukkan Viktor Axelsen dan Chou Tien Chen.

all england

Sumber gambar, BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Ginting lagi-lagi tidak bisa mencatat prestasi maksimal di Olimpiade.

Ginting kalah 4-21 9-21 sedangkan Jonatan kalah 10-21 15-21.

Ginting mengatakan, "Saya kurang sabar tadi. Sudah dicoba pakai strategi reli-reli panjang juga tak berhasil."

Baca juga:

Kegagalan Ginting dan Jojo membuat penantian melihat pemain Indonesia menjuarai tunggal putra bertambah panjang. Terakhir kali pemain Indonesia juara adalah pada 1994, melalui Heryanto Arbi.

Yang juga tersingkir adalah pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, yang harus mengakui keunggulan peraih emas Olimpiade dari China, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping 23-25 19-21.

"Sayang memang, kami hampir menang di gim pertama. Di gim kedua kami juga bisa sama kuat di 19-19," kata Praveen.

Melati mengatakan kegagalan memetik kemenangan karena kurang tangguh dan kurang fokus di poin-poin kritis.

Praveen/Melati turun melalui jalur pemain profesional setelah tak lagi di Pelatnas.

Duo ini menjuarai ganda campuran All England 2020. Fokus mereka sekarang adalah meraih emas kejuaraan dunia.