All England 2022: Ginting tantang Axelsen - 'Menang kalah nomor sekian, yang penting mati-matian di lapangan'

Sumber gambar, PBSI
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia, Birmingham
Pemain tunggal putra Indonesia, Anthony Ginting, menantang pemain nomor satu dunia dari Denmark, Viktor Axelsen, di babak perempat final All England, kejuaraan badminton tertua dan paling bergengsi di dunia, yang dihelat di Birmingham, Inggris, hari Jumat (18/03).
Ginting-Axelsen sudah sembilan kali bertemu, lima di antaranya dimenangkan oleh Axelsen, yang membuat Ginting cukup optimistis turun di laga delapan besar ini.
"Saya coba pulihkan kondisi dulu. Kami sudah sering bertemu. Saya akan coba fokus sejal awal [pertandingan]. Yang penting harus siap capek, harus siap susah," kata Ginting kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo, di arena kejuaraan di Birmingham.
Ginting, yang diunggulkan di tempat kelima mengaku tidak terlalu merisaukan status lawan sebagai pemain nomor satu dunia dan salah satu pemain tunggal yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
"Pemain yang terjun di All England semuanya bagus, tidak akan gampang dihadapi. [Prinsipnya] menang kalah itu nomor sekian, yang terpenting kita beri yang terbaik saat berada di lapangan ... mati-matian di lapangan," ujar Ginting.
Baca juga:
Ginting belum terhadang setelah menang atas pemain andal India, Srikant Kidambi, 9-21 21-18 21-19.

Sumber gambar, PBSI
Pemain tunggal lain, Jonatan Christie juga melenggang ke perempat setelah berhasil revans atas pemain Thailand yang menghentikannya di German Open beberapa hari lalu, Kunlavut Vitidsarn, dua gim langsung 21-16 21-19.
Jojo, demikian Jonatan biasa disapa, menerapkan strategi efektif, dengan sering memaksa Vitidsarn memukul bola terlalu kuat sehingga keluar.
Di babak delapan besar, Jonatan menghadapi Chou Tien Chen, yang diunggulkan di posisi empat, sementara Jonatan sendiri di unggulan tujuh.
Di atas kertas, Jonatan berpeluang menang, karena dari delapan pertemuan sebelumnya, Jonatan menang enam kali. Meski demikian ia tak mau gegabah.
"[Laga] ini tidak akan mudah. Saya terakhir kali bertemu dengannya pada 2019. Jadi, sudah cukup lama. Tentunya sudah terjadi banyak perubahan. Yang pasti, saya akan memberikan yang terbaik dari kemampuan yang saya miliki," kata Jonatan.
Pada penyelenggaraan ini, Indonesia bisa dikatakan mendulang hasil memuaskan di sektor ganda putra.
Indonesia mengirim empat pasang, yaitu Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, dan dua pasangan muda, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dan Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana.
Kevin/Marcus, pasangan nomor satu dunia, menghadapi unggulan ketiga: Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty, pasangan unggulan kelima dari India.
'Tak mau jadi beban'

Sumber gambar, Herry IP
Ini bisa menjadi prospek laga seru karena kedua pasangan sama-sama bertipe menyerang dan eksplosif.
Kevin/Marcus lagi-lagi diberi beban pulang membawa gelar juara.
"Ya, tentunya saya tak mau menganggapnya sebagai beban. Kita menikmati pertanding dan melakukan yang terbaik," ujar Marcus.
Kevin menambahkan, "Semua pemain punya kans yang sama [untuk menang], jadi kita akan melakukan yang terbaik."
Di babak perempat final, Hendra/Ahsan menghadapi pasangan Denmark yang diunggulkan di tempat ke-7, Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen.
Pasangan muda Bagas/Fikri menantang unggulan ketiga dari Jepang Takuro Hoki/Yugo Kobayashi sementara Leo/Daniel melawan He Ji Ting/Tan Qiang.
Di sektor ganda campuran, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti melewati babak 16 besar dengan relatif mudah dan akan bertanding melawan unggulan ketiga dari China, Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping.
"[Perjuangan] belum berakhir. Jadi, kami harus tetap fokus, menjaga kondisi dan menjaga motivasi," kata Praveen.
Ia sudah dua kali menjuarai All England, pada 2016 dan 2020, masing-masing bersama Debby Susanto dan Melati.
Baca juga:

Sumber gambar, BBC News Indonesia
Soal kans di perempat final, Melati mengatakan, "Tak ada persiapan khusus, kami selalu mencoba yang terbaik dari awal hingga akhir."
Di ganda putri, harapan peraih emas Olimpiade 2020, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, untuk mencatat prestasi maksimal tak terwujud setelah keduanya harus mundur menyusul cedera betis kanan yang dialami Apri saat melawan pasangan India, Treesa Jolly/Gayatri Gopichand Pullela.
Apri cedera saat di posisi poin 19-14 untuk pasangan India. Di gim pertama Greys/Apri menang 21-18.
"Iya, mohon doanya saja, semoga segera pulih," kata Apri.
Greysia mengatakan hal seperti ini bisa saja terjadi di lapangan. "Kondisi Apri memang tak sepenuhnya 100% bugar," ungkap Apri.
Pelatih ganda putri, Eng Hian, mengatakan, "Apriyani cedera betis kanannya kambuh. Pemicunya di gim kedua saat mau ambil bola ada gerakan yang tidak pas."
"Setelah itu pergerakannya menjadi terbatas," ungkap Eng Hian.
Besar kemungkinan All England 2022 akan menjadi turnamen bergengsi yang terakhir bagi Greysia.
Tim Indonesia memasang target setidaknya pulang dengan satu gelar juara.









