Efek Rumah Kaca melanggengkan ingatan publik soal Munir dan perlawanan pada penindasan

Efek Rumah Kaca

Sumber gambar, WIKIMEDIA

Keterangan gambar, Efek Rumah Kaca tampil di Jakarta, Agustus 2025.
    • Penulis, Faisal Irfani
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 12 menit

Kelompok musik asal Jakarta, Efek Rumah Kaca, membikin lagu yang ditujukan untuk aktivis HAM, Munir Said Thalib. Diberi tajuk "Di Udara," lagu ini mempunyai daya tahan yang langgeng sekaligus menjumpai para pendengar dalam skala luas. Salah satu lagu "perlawanan" yang populer di Indonesia.

Bagi vokalis serta gitaris Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, Munir merupakan potret keberanian yang terlihat terang, bahkan ketika kita menemukannya dalam satu ruang yang paling gelap sekalipun.

Cholil tidak pernah mengenal Munir secara personal. Namun, sepak terjang Munir yang dia dengar lewat pemberitaan media maupun kisah yang menyebar dari mulut ke mulut nyatanya sudah cukup untuk membuatnya kagum, di samping memberi penghormatan yang penuh.

"Andaikata [Munir masih hidup], wah, saya mungkin akan banyak belajar secara langsung. Kalau memang ada kesempatan bertemu," tutur Cholil, disusul senyum simpul yang keluar dari wajahnya.

Efek Rumah Kaca

Sumber gambar, BBC Indonesia/Ivan Batara

Keterangan gambar, Cholil Mahmud, pendiri Efek Rumah Kaca, di Jakarta.

Jalan skenario yang tak menempatkan perkenalan dengan Munir sebagai satu titik yang memenuhi bulatan hidupnya tak membikin Cholil menutup kesempatan mengenal Munir dalam bentuk yang lain.

Kematian Munir, pada September 2004, telah mendorong Cholil—dan Efek Rumah Kaca—memberi kesempatan kepada Munir untuk berdiri dengan panggung yang dia kenali betul: musik.

Panggung itu membikin sosok Munir mengkristal keras.

Panggung itu punya nama: "Di Udara."

Berawal dari film dokumenter

Dua dekade yang lalu, 2005, di Goethe Institute, lembaga kebudayaan milik pemerintah Jerman di Indonesia, Cholil menonton film dokumenter berjudul Garuda's Deadly Upgrade.

Film sepanjang kurang lebih 41 menit ini merinci—tepatnya merekonstruksi—bagaimana Munir Said Thalib, aktivis HAM sekaligus pendiri dua lembaga advokasi dan riset, KontraS serta Imparsial, dibunuh dengan racun arsenik berdosis tinggi.

Munir

Sumber gambar, BBC Indonesia/Andra Anhar

Keterangan gambar, Sejumlah massa dalam protes menuntut pengusutan pembunuhan Munir.

Kematian Munir muncul bersamaan dengan keberangkatannya ke Belanda untuk melanjutkan studi. Munir sendiri tewas manakala pesawat terbang di atas langit Rumania, yang tidak lama lagi sebetulnya bakal mendarat di Amsterdam.

Arsenik menghancurkan tubuhnya dengan efek samping serangan bertubi yang membuatnya muntah-muntah, kekurangan cairan, lemas, dan pada akhirnya meregang nyawa.

Racun itu, kemudian, diketahui dimasukkan seorang pilot yang juga agen intelijen bernama Pollycarpus Priyanto.

Selesai menonton dokumenter tersebut, Cholil merasa takjub dengan energi perjuangan Munir sebagai aktivis yang dituturkan lewat berbagai testimoni narasumber di dalamnya.

Kendati demikian, pada saat yang sama, Cholil merasa ada yang mengganjal pikirannya.

"Kok saya merasa apa yang dia perjuangkan itu enggak banyak orang yang tahu," kata Cholil kepada BBC News Indonesia.

Padahal, sebelum meninggal, reputasi Munir tergolong tidak sembarangan, Cholil menambahkan.

"Dia banyak membela kaum buruh di Surabaya maupun di Jakarta, lalu membikin KontraS," terangnya.

Dari situ, Cholil lantas berkeinginan untuk membikin penghormatan kepada sosok Munir dalam wujud lagu, supaya "bisa dikenang banyak orang," imbuhnya.

Sebelumnya, Cholil pribadi tidak mengenal Munir. Begitu pun dia tidak pernah berjumpa langsung dengannya. Surat kabar menjadi satu dari sedikit saluran kedekatannya atas Munir.

Pada berita-berita yang dipasang, Cholil memandang keberanian Munir seolah tanpa urat. Keberaniannya mengalir menemani orang-orang yang dikalahkan oleh sistem. Orang-orang yang terpinggirkan dan seperti tinggal menunggu masa untuk dilupakan negara.

Keberanian yang Cholil anggap serupa baja yang tahan dengan berbagai tebasan.

Efek Rumah Kaca

Sumber gambar, Wikimedia

Keterangan gambar, Album pertama Efek Rumah Kaca, yang juga memuat lagu "Di Udara."
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Tidak lama usai diracun, keberanian yang coba diwariskan Munir lalu menjelma kekecewaan yang menumpuk serta menjalar. Cholil dan Efek Rumah Kaca berupaya menangkapnya.

"Kalau Efek Rumah Kaca bikin lagu biasanya musiknya, baru liriknya. Saya merasa ketika saya punya musik seperti itu, lalu saya ingin menuliskannya tentang sosok Munir. Terus saya coba masukkan," paparnya.

Musik yang diaransemen Efek Rumah Kaca untuk Munir tersusun dari bangunan yang mencolok warna ketegangan, kemarahan, serta harapan, ucap Cholil.

Selesai musik, Cholil menyelinap masuk ke bagian lirik.

"Mungkin ada sedikit yang harus disesuaikan dengan lirik-liriknya karena biasanya kalau buat lagu itu panjangnya lirik, suku kata terutama, itu sangat bergantung pada stok suku kata yang dibutuhkan oleh lagunya," jelas Cholil.

"Karena kalau lagunya butuh suku katanya, misalnya, 10 tapi liriknya ternyata 15 suku kata, kepanjangan. Jadinya kayak nadanya akan berubah, gitu."

Hasil perenungan Cholil ialah lirik yang ringkas, tapi tidak mempersempit pembacaan atas kepergian Munir. Lirik yang maknaya lugas, tanpa kecenderungan untuk menjadi dramatis.

Aku sering diancam

Juga teror mencekam

Dua baris lirik pertama di lagu merupakan refleksi dari konsekuensi aktivisme politik yang dijalani Munir—tidak menutup juga bagi pegiat HAM lainnya.

Perlawanan terhadap kekuasaan lalim, atau pendampingan yang diberikan kepada korban penindasan, tidak jarang justru berbuah malapetaka.

Dalam kesempatan terpisah, beberapa kawan dekat Munir menyebut bahwa Munir kerap diancam di banyak isu yang dia kawal. Ancaman demi ancaman lantas menjelma teror tak berkesudahan dan berpuncak pada kematiannya.

Ku bisa tenggelam di lautan

Aku bisa diracun di udara

Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

Di bagian itu, Efek Rumah Kaca secara gamblang memaparkan bentuk teror yang mesti dihadapi para pejuang HAM. Kalimat berbunyi diracun di udara menjadi gambaran untuk apa yang dialami Munir.

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Tapi aku tak pernah mati

Tak akan berhenti

Meski bertubi-tubi menghadapi teror maupun ancaman, keberanian atau perlawanan itu tidak pernah surut. Dia tumbuh dan berkembang, menyerap sekaligus menguatkan—atau, meminjam bahasa yang sering kali dipakai dalam gelombang protes, "berlipat ganda."

Munir

Sumber gambar, Afriadi Hikmal/NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Poster Munir di Aksi Kamisan.

Yang menarik dari lagu ini, Cholil atau Efek Rumah Kaca sama sekali tidak menyebut nama "Munir" di liriknya.

Munir, di lagu karangan Efek Rumah Kaca, hadir lewat penggambaran situasi, dalam sudut pandang yang lebih aktual. Munir serupa kata kerja.

Termasuk ketika mereka menempelkan "Di Udara" menjadi judul lagu, sebuah petunjuk ihwal bagaimana Munir meninggal dunia.

Dalam "Di Udara," Cholil berupaya menempatkan Munir sebagai sosok yang idealismenya tidak dapat ditawar dan dibeli dengan harga berapa pun. Sosok yang, mengutip Cholil, menjaga teguh prinsip sekalipun efek yang diberikan yaitu ancaman bahkan atau kematian.

"Tapi, dalam sepak terjang dia yang saya baca di surat kabar, dia orang yang sangat enggak bisa dibeli, sehingga harus dihabisi dengan berbagai cara, yang pada kenyataannya juga sering enggak berhasil," Cholil memaparkan.

Hal itu menjadi bayangan betapa Munir, Cholil bilang, "punya ideologi keberpihakan kepada yang lemah begitu kuat."

Kekuatan Munir memang tak pernah putus. Tapi, seperti halnya "manusia biasa," Cholil berujar, Munir—tidak dimungkiri—turut diselimuti rasa takut. Sisi itu yang lantas Cholil berusaha gali serta tawarkan.

"Itu yang sangat sulit bahkan hingga sekarang mencari sosok seperti itu [Munir] sehingga sebisa mungkin [kami] ingin memberikan, menawarkan, semangat seperti itu melalui lagu," jelasnya.

"Bahwa, dengan lirik di lagu itu, kita semua itu Munir yang diharapkan punya keberanian seperti dia, tidak pernah mati."

'Dia yang paling berani setelah 1998'

Di tengah kemacetan Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Muhammad Akbar bercerita mengenai masifnya anak-anak muda yang melek aktivisme. Akbar adalah penggebuk drum Efek Rumah Kaca, band yang dia dirikan bersama Cholil dan Adrian Yunan pada awal 2000-an.

"Contohnya Baskara [Putra] itu. Dia hebat banget. Dengan Hindia, lagu-lagunya didengar banyak anak muda, dan pesan-pesan di dalamnya juga banyak nyinggung isu sosial dan politik," sebut Akbar.

Munir

Sumber gambar, JEWEL SAMAD/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Peserta Aksi Kamisan membawa poster Munir.

Saya menimpali.

Bukannya kalian, dengan "Di Udara," juga seperti itu?

Akbar hanya tertawa.

Penggalan lirik "Di Udara" identik dengan perlawanan dan protes, seperti kalimat aku tak pernah mati.

Bagi Akbar sendiri, "Di Udara" menggambarkan pengalaman emosional yang kompleks. Semakin sering dimainkan, semakin terasa pergulatan batinnya yang antara kecewa, marah, serta kembali menegakkan kepala tercampur satu.

Munir

Sumber gambar, DEWIRA/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Potret Munir dalam protes.

Perkenalan Akbar dengan Munir, sama seperti Cholil, terjadi melalui potongan informasi yang beredar di publik. Bahwa Munir merupakan aktivis yang "paling berani selepas Reformasi 1998," Akbar memberikan pengakuan.

Saat Munir masih hidup, Akbar belum terpikir bakal menempatkannya sebagai inspirasi sebuah lagu. Keyakinannya seketika terbentuk setelah Cholil bercerita mengenai pengalamannya menyaksikan dokumenter Garuda's Deadly Upgrade.

Akbar, tanpa pikir panjang, merasa satu pemikiran. Munir—dan kematiannya—harus dituangkan ke dalam lagu.

"[Lagunya] lumayan ada ketegangan, ada intensitas yang makin tinggi. Terus cocok banget dengan lirik yang dibuat [Cholil]," kenang Akbar.

"Dan walaupun di situ, di lirik itu, tidak ada yang menyebut kata Munir, tapi ada kata diracun, selain juga di ujung liriknya ada kalimat tak akan berhenti. Cocok banget buat lagu ini selalu berkobar."

Akbar mendefinisikan "Di Udara" semacam nyala api yang (diharapkan) sulit untuk padam, dan kian memancarkan warna merah yang terang seiring tahun berganti. Lagu "Di Udara" tidak sekadar 'mengenalkan' Munir, melainkan turut merespons kegelisahan banyak orang, ujar Akbar.

Waktu pertama "Di Udara" dilepas ke khalayak, Akbar menerangkan tidak banyak yang tahu kalau lagu tersebut berisi tribute kepada Munir. Belum masifnya penggunaan media sosial seperti saat ini, Akbar menambahkan, berpengaruh signifikan dalam membentuk persepsi atas "Di Udara" dari pendengar.

"Jadi, orang-orang, mungkin orang-orang tertentu saja, tapi juga sangat sedikit [yang tahu]. Karena di kalimatnya sendiri, di liriknya, tidak menyebutkan kata Munir," tegasnya.

Pendengar, Akbar melanjutkan, lebih cenderung mengetahui bahwa "Di Udara" memuat letupan-letupan kemarahan, terlebih "beat di dalamnya memang terasa tegas," dia menggaris bawahi.

Munir

Sumber gambar, BAY ISMOYO/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Seseorang membentangkan potret Munir.

Kini, situasinya berbeda. Lagu "Di Udara" mendapati momentumnya untuk disebarluaskan. Tidak sedikit yang mengklaim betapa kekuatan lirik "Di Udara" menjadikannya salah satu lagu perlawanan yang terkenal di Indonesia pasca-1998.

Akbar bercerita ketika Efek Rumah Kaca manggung, dia menemukan tidak sedikit penonton yang kerap membawa poster bergambar wajah Munir.

"Bahkan terakhir kami main di Malaysia, ada juga poster Munir di sana," sebut Akbar.

Tidak sebatas itu, Akbar turut melihat bagaimana penonton begitu mendalami sekaligus menyelami setiap detik dan menit "Di Udara" manakala dibawakan secara langsung. Mereka menyanyikannya "dengan penuh kesungguhan," menurut keterangan Akbar.

Saya bertanya kepadanya. Apakah sejak awal "Di Udara" dibikin, para personel Efek Rumah Kaca memprediksi kelak, suatu waktu, lagunya bakal beresonansi secara besar?

Akbar sendiri tidak pernah menyangka "Di Udara" akan bertumbuh seperti sekarang, di samping memang dia—dan Efek Rumah Kaca—tidak mendesainnya dengan sedemikian rupa.

Yang utama, dalam pandangan Akbar, yakni "menyampaikan pesan di lagunya dengan benar."

Munir

Sumber gambar, JEWEL SAMAD/AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Poster Munir dalam konferensi pers, 2006.

Tidak terhitung berapa kali "Di Udara" dimainkan Efek Rumah Kaca setiap tampil di depan umum. Akbar memberi tahu kemungkinan angkanya tembus ribuan sejak mula "Di Udara" disusun.

Namun, perasaan yang dipegang Akbar tetaplah sama.

"Mungkin kalau sebuah lagu karena dibawain secara terus-terusan, kita, sebagai musisi, jadi kayak robot," ungkapnya.

"Tapi, saya sendiri enggak pernah ngerasain [hal itu], apalagi dibantu orang-orang, penonton sekarang, yang semakin ngerti [dengan "Di Udara"]."

Perlawanan sekecil apa pun tetaplah perlawanan

Bagaimana jadinya kalau musik "Di Udara" dipakai bukan untuk Munir?

Cholil tidak tahu jawabannya secara pasti. Perkara cocok atau tidak, dia berkata, tergantung dengan "state of mind," isi kepala musisi bersangkutan.

Yang dia paham, aspek musikalitas "Di Udara" sudah punya sejarah yang melekat kepada Munir.

Sejarah yang bicara soal nyawa orang yang dihilangkan negara.

Sejarah yang mengajarkan, di sisi lain, tentang keberanian.

Ketika menyanyikan "Di Udara," Cholil menegaskan "energinya tetap sama."

Massa penonton menyambut lirik aku tak pernah mati dengan lantang dan membahana, melahirkan koor massal yang melimpah.

Di belakang barikade yang memisahkan Efek Rumah Kaca dan penggemar, kepalan tangan mendongak ke atas langit serupa keteguhan sikap yang tebal kendati dipukul berkali-kali.

Cholil melihatnya sebagai pengalaman yang begitu magis.

Munir

Sumber gambar, NurPhoto/Corbis via Getty Images

Keterangan gambar, Pameran lukisan Munir di Semarang, Jawa Tengah.

Dua atau tiga tahun belakangan, "Di Udara" seolah meraih titik pijaknya untuk bersinar, bukan dalam arti yang baik mengingat momentum itu lahir bersamaan dengan keadaan negara yang compang-camping, Cholil menuturkan.

Energi yang muncul dari penonton tatkala menyerukan lirik-lirik "Di Udara" merupakan penanda yang sejalur dengan benak orang-orang bahwa kenyataan hari ini dipenuhi oleh tekanan.

Dan semakin ditekan, "kita berusaha sebisa mungkin melakukan atau mencari jalan untuk bisa menggigit balik," Cholil berpendapat.

"Perlawanan dapat ditempuh dengan cara sekecil apa pun itu," tambahnya.

Apakah menyanyikan "Di Udara" ialah salah satunya, saya bertanya kepada Cholil.

Cholil tidak ingin mengklaim begitu. Yang jelas, Cholil menyaksikan betapa terdapat kemarahan serta kekecewaan yang menggunung saat orang-orang melantunkan "Di Udara" secara kolektif.

"Ini ekspresi yang disebabkan atau dipantulkan dari situasi yang terjadi sekarang," ucap Cholil.

Munir

Sumber gambar, BBC Indonesia/Andra Anhar

Keterangan gambar, Poster Munir di Komnas HAM.

Hubungan yang terbentuk antara penonton dan Efek Rumah Kaca dalam konteks "Di Udara" sifatnya dua arah.

Efek Rumah Kaca, menurut Cholil, menilai "Di Udara" serupa katalis yang mampu menghidupkan kesadaran soal nasib pahit yang senantiasa diperoleh. Penonton lalu menggapainya dengan batin yang kurang lebih senada.

"Sehingga kami merasa ada saling mutual antara pemusik dan penonton untuk mencari jalan," Cholil menekankan.

Munir bukan satu-satunya tokoh yang termuat dalam lagu atau album kepunyaan Efek Rumah Kaca.

Sondang Hutagalung, mahasiswa yang membakar diri sebagai wujud protes terhadap pemerintah.

Jurnalis Udin, yang terbunuh karena sebuah berita.

Tak lupa, orangtua korban penghilangan paksa kala 1998 pecah yang sampai kini masih menuntut pertanggung jawaban negara di Aksi Kamisan.

Dibanding entitas di atas, Munir, Cholil berujar, agaknya mendapatkan tempat khusus di benak para penggemar Efek Rumah Kaca.

Munir

Sumber gambar, JEWEL SAMAD/AFP via Getty Images

Di sinilah Cholil—dan Efek Rumah Kaca—menyimpan harapan, bahwa semoga "Di Udara" bisa memunculkan kepercayaan akan masa depan yang ideal, selain kemarahan, di tengah realita yang menjepit, yang represif, yang militeristik, yang otoritarian, yang menindas.

Boleh jadi rasa percaya tersebut timbul dan tenggelam mengikuti arus kabar buruk yang seolah datang tiba-tiba sekaligus tanpa jeda. Namun, Cholil meyakini betapa langkah kaki perlawanan tidak boleh terhenti.

Seperti yang pernah dilalui Munir.

"Walaupun sekecil apa pun perlawanan itu diambil, dia layak dicatat, layak dirayakan, layak disebarluaskan, dan layak dipupuk untuk memunculkan percikan-percikan yang lebih besar nantinya," pungkasnya.

Ini adalah artikel terakhir dari tiga artikel yang mengulas kehidupan dan kematian Munir.