Pemuda asli Papua tewas diduga akibat dianiaya polisi – 'Nyawa kami seakan mudah sekali dibunuh'

Sumber gambar, Front Justice For Tobias Silak
- Penulis, Abraham Utama
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 10 menit
Kematian laki-laki muda asli Papua bernama Viktor Bernadus Deyal, 3 September lalu, memicu kemarahan warga Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Sejumlah polisi diduga menganiaya Viktor hingga tewas tanpa alasan hukum.
Satu hari setelah kematiannya, pihak keluarga bersama ratusan warga membopong jenazah Viktor dengan berjalan kaki ke kantor Polres Yahukimo. Mereka menuntut keadilan: hukuman pidana untuk para polisi yang menghilangkan nyawa Viktor.
Kepala Polres Yahukimo, AKBP Zet Saalino, di hadapan warga bilang bahwa dia "prihatin" pada kematian Viktor. Dia berkata akan mengusut anak buahnya yang diduga membunuh Viktor, termasuk "menonaktifkan Kepala Polsek Dekai selama investigasi internal".
Peristiwa serupa pernah terjadi di Yahukimo pada Agustus 2024. Ketika itu laki-laki muda bernama Tobias Silak kehilangan nyawa akibat luka tembak di kepala—yang diduga diletuskan anggota kepolisian.
Tobias sempat dituduh sebagai anggota milisi pro-kemerdekaan TPNPB. Namun tuduhan itu dibantah keluarga dan juga Badan Pengawas Pemilu Yahukimo, lembaga tempatnya bekerja. Mereka menyatakan Tobias adalah warga sipil yang bekerja sebagai pegawai Bawaslu sebelum kematiannya.
Dalam kasus Tobias, satu anggota Brimob didakwa melakukan pembunuhan dan tiga polisi dari satuan yang sama didakwa pasal "kelalaian yang menyebabkan kematian seseorang". Persidangan kasus Tobias digelar di Pengadilan Negeri Wamena dan telah mencapai tahap pemeriksaan saksi.
Merujuk kematian Viktor dan juga Tobias, warga di Yahukimo bilang "nyawa orang asli Papua mudah sekali dibunuh".
"Salah sedikit, kami dituduh mencuri, mengambil barang orang. Kami tidak punya jaminan hukum. Kami bisa langsung ditembak," ujar Gideon, seorang teman Viktor.
Bagaimana peristiwa kematian Viktor Deyal?
Viktor adalah laki-laki berumur 29 tahun. Dia telah menikah dan memiliki seorang anak laki-laki. Keluarga mungil ini hidup terpisah jarak—istri dan putra Viktor tinggal di Kabupaten Jayapura.
Di Yahukimo, setiap hari Viktor menghabiskan waktunya untuk berkebun. Dari kebun itulah Viktor mendapat nafkah untuk ibu dan adiknya, yang selama ini tinggal satu atap dengannya.
Viktor pernah bercita-cita menjadi pegawai negeri, tapi tak terwujud hingga akhir kehidupannya.

Sumber gambar, Dokumen keluarga
Pada usia remajanya, Viktor aktif bermain sepak bola untuk kesebelasan Ukam FC. Tim ini berkompetisi di berbagai turnamen 'tarkam' di wilayah pegunungan Papua hingga ke Jayapura.
Eduard Deyal, adik kandung Viktor, juga bermain sepak bola di tim tersebut.
Selasa, 2 September malam, adalah kali terakhir Eduard bertemu dan berbincang dengan Viktor.
Kurang dari 24 jam setelah pertemuan terakhir itu, Eduard kembali melihat Viktor. Namun sang kakak tak lagi bernyawa—terbujur di salah satu ruangan di Rumah Sakit Umum Daerah Dekai.
"Sebagai manusia, saya merasa marah," ujar Eduard.

Sumber gambar, Dokumen keluarga
Sebelum tewas, Viktor berada di rumah milik pamannya. Rumah itu berjarak sekitar 30 meter dari kantor Polsek Dekai, kata kerabat Viktor, Yunani Balyo.
Yunani berkata, di rumah itu Viktor mengonsumsi minuman beralkohol.
Minuman keras telah menjadi persoalan menahun di Tanah Papua. Walau berbagai pihak seperti otoritas Gereja dan kelompok perempuan menentang peredarannya, minuman beralkohol masih diperjualbelikan dan dikonsumsi secara meluas—memicu persoalan sosial, termasuk stigmatisasi bahwa laki-laki asli Papua pasti pemabuk.
"Viktor minum sendiri, itu pun tidak terlalu banyak," kata Yunani.

Sumber gambar, Istimewa
Saat meneguk minuman beralkohol itu, kata Yunani, Viktor sempat melihat video berisi aspirasi kemerdekaan Papua di ponselnya.
"Dengan seketika dia keluar rumah, lalu dia sampaikan di depan Polsek bahwa 'kami Papua sudah mau merdeka'," ujar Yunani.
"Kamu pulang," kata Yunani menirukan perkataan Viktor kepada sejumlah polisi di halaman Polsek Dekai.
Inilah yang disebut Yunani menjadi pangkal kematian Viktor. Para polisi menanggapi perkataan Viktor secara serius, kata Yunani. Mereka lantas menangkap Viktor.
Namun Yunani menyangkal bahwa Viktor memiliki relasi dengan kelompok pro-kemerdekaan.
Merujuk apa yang dia dengar dan dia lihat di sekitarnya selama ini, Yunani bilang, "tidak menutup kemungkinan, di dalam hati setiap orang Papua mau Papua merdeka."
Usai ditangkap, menurut Yunani, polisi memasukkan Viktor ke dalam mobil patroli. Viktor bersama iring-iringan mobil aparat lainnya dibawa berkeliling Dekai.
Di dalam mobil itulah Viktor dianiaya hingga tewas, kata Yunani.

Sumber gambar, Istimewa
Pada 3 September malam, otoritas RSUD Dekai menghubungi Ketua Ikatan Suku Una-Ukam, Efesus Balyo. Mereka juga mendatangi ibu Viktor. Pihak rumah sakit mengabarkan kematian Viktor.
"Sampai di rumah sakit kami lihat bekas pukulan di kepala, tangan patah, badan, mulut, gigi, semua mereka iris," kata Yunani.
"Mereka kasih patah jari kaki semua, tangan kanan-kiri semua patah juga," ujarnya.
Bagaimana kronologi versi polisi?

Sumber gambar, Istimewa
Juru Bicara Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, menuding Viktor mendatangi Polsek Dekai dalam keadaan mabuk.
Saat datang, klaim Cahyo, Viktor membawa batu. Sejumlah polisi lalu berusaha menangkap Viktor, yang dituduh Cahyo "melawan dan berusaha kabur".
"Tak berapa lama kemudian yang bersangkutan meninggal dengan luka lebam di tubuhnya," kata Cahyo kepada pers di Jayapura, Senin (08/09).
Warga mendatangi kantor Polres Yahukimo
Pada Kamis (04/09), pagi hari setelah keluarga mengetahui kematian Viktor, ratusan warga, termasuk perempuan dan anak, berjalan kaki mendatangi kantor Polres Yahukimo. Mereka membawa serta jenazah Viktor.
Pihak keluarga membopong jenazah Viktor di atas tandu yang mereka buat dari empat batang kayu. Mereka membelitkan sejumlah kain ke jenazah Viktor.

Sumber gambar, Istimewa
Setelah perundingan, kepolisian membuka pagar kantor mereka. Warga, begitu juga pihak keluarga, masuk ke halaman kantor tersebut. Mereka meletakkan jenazah Viktor di depan pintu masuk polres.
Memenuhi tuntutan warga, Kapolres Yahukimo AKBP Zet Saalino dan pimpinan Komando Distrik Militer 1715 Dekai hadir menemui mereka.
"Masyarakat punya mau, kepala suku punya mau, Kapolsek Dekai harus dipecat hari ini," kata Morome Busup, tetua suku Kimyal dan Una-Ukam lewat pengeras suara.
"Anggota polisi yang terlibat pembunuhan anak itu [Viktor] pun harus dipecat, supaya aman dan tidak kejadian lagi.
"Jangan sampai Kapolres tidak memecat mereka. Apa yang terjadi di belakang saya tidak tahu. Karena ini kepemimpinan Bapak, Bapak yang salah," ujar Morome.
Morome lantas mempertanyakan mengapa minuman keras masih terus beredar di Yahukimo.
Selama bertahun-tahun, kepolisian di Papua menangkap orang-orang yang mereka tuduh penjual minuman keras. Namun pada saat yang sama, terdapat pula aparat yang diduga terlibat dalam peredaran minuman beralkohol di Tanah Papua.
"Kapolres harus periksa semua anggota. Yang terbukti menjual minuman harus dipecat," ujarnya.

Sumber gambar, Istimewa
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
AKBP Zet Saalino, di hadapan warga, merespons tuntutan itu menggunakan pengeras suara.
"Saya sangat prihatin. Saya tidak setuju dengan kejadian seperti ini," ucapnya.
"Hari ini juga saya nonaktifkan Kapolsek Dekai, sambil menunggu hasil pemeriksaan," kata Zet.
"Saya periksa dulu unsur kesalahannya di mana, nanti sanksinya sama dengan yang diatur undang-undang," tuturnya.
Dalam perkataannya, Zet mengklaim dirinya sebagai "polisi yang tegas". Dia mengaitkan itu dengan sejumlah polisi yang diduga menembak Tobias Silak tanpa alasan hukum.
"Kasus Tobias Silak, sebelum saya datang, terkatung-katung. Sejak saya datang, [polisi yang jadi terdakwa] saya berangkatkan sidang. Jadi percayakan pada saya," tuturnya.
Di depan warga, Zet juga menyebut kepolisian dan pemerintah akan menanggung biaya pemakaman Viktor.
Menanggapi ini, Eduard, adik Viktor, bilang keluarganya tak mengharapkan uang sepeser pun dari kepolisian. "Kami maunya pelaku dihukum," ujarnya.

Sumber gambar, Piter Lokon
Sementara itu, kelompok warga yang mendampingi keluarga Tobias Silak juga menyanggah klaim bahwa Zet mempercepat pengusutan kasus tersebut.
Kasus Tobias Silak baru masuk ke pengadilan sembilan bulan setelah pemuda itu tewas. Saat ini persidangan kasus itu juga belum mencapai tahap vonis, kata Marcho Pahabol, perwakilan Front Justice For Tobias Silak.
Marcho berkata, empat polisi yang didakwa menembak Tobias juga kerap tak hadir ke persidangan di Wamena. Mereka telah berpindah tugas ke Gorontalo.
"Kapolres secara individu dan kepolisian secara insitusi tidak punya inisiatif menyelesaikan kasus Tobias Silak," kata Marcho.
"Kapolres justru menghambat persidangan karena tiga kali tidak mendatangkan saksi," ujar Marcho.
Apa yang terjadi pada Tobias Silak?
Tobias ditembak di depan Polres Yahukimo, 20 Agustus 2024. Pada saat yang sama, seorang anak yang berdiri di dekat Tobias, bernama Naro Nabla, juga ditembak dan mengalami luka berat di lengan kanan dan paha kanan.
Kejadian itu diakui Komnas HAM benar-benar terjadi. Mereka yang telah menurunkan tim investigasi ke Dekai. Setelah bertemu pimpinan kepolisian, Komnas HAM menyebut kematian Tobias sebagai pelanggaran hak hidup dan hak atas keadilan.

Sumber gambar, Dokumen keluarga
Seperti peristiwa kematian Viktor, warga Dekai bersama pihak keluarga Tobias juga menggeruduk kantor Polres Yahukimo pagi hari setelah penembakan terjadi.
Pihak keluarga saat itu menyangkal tuduhan bahwa Tobias berhubungan dengan kelompok pro-kemerdekaan.
Bawaslu Yahukimo, pada 21 Agustus 2024, menerbitkan pernyataan resmi. Bawaslu menyatakan Tobias bekerja sebagai staf pendukung di kantor mereka.
Mereka juga menyebut lulusan perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur itu, hanya beraktivitas di lingkungan gereja dan Bawaslu.
"Kami membantah kronologis polisi yang menyatakan almarhum Tobias memiliki senjata api. Ini sebuah pembohongan publik," demikian surat yang diteken Ketua Bawaslu Yahukimo, Peud Yahuli.

Sumber gambar, Istimewa
Satu hari setelah surat Bawaslu itu beredar luas, 22 Agustus 2024, Polda Papua menyebut Tobias tewas karena tembakan menembus kepala dan pelipis kiri.
Satu korban lainnya, Naro Nabla yang ketika itu berumur 17 tahun, mengalami luka berat, tapi dapat bertahan hidup.
Kombes Benny Ady Prabowo yang ketika itu menjabat Juru Bicara Polda Papua, mengklaim personelnya telah berupaya mengejar orang yang menembak Tobias dan Naro. Namun mereka gagal menangkap pelaku, kata Benny, karena "pelaku menambah laju kendaraan."
Benny menyebut pelaku penembakan dengan istilah "orang tidak dikenal".
Namun belakangan, orang-orang yang diseret ke pengadilan dalam kasus penembakan Tobias Silak justru berasal dari kepolisian.
Empat polisi yang diduga bertanggung jawab atas kematian Tobias adalah Muhamad Kudu, Fernando Aufa, Jatmiko, dan Ferdi Moses Koromath.
'Tak ada nyawa yang bisa ditebus uang'
Teman Viktor di Dekai, Gideon, menyebut kasus kematian orang asli Papua akibat perbuatan aparat bukan kali ini terjadi.
Dia bertanya, "mengapa nyawa orang asli Papua seakan-akan mudah sekali dibunuh?"
Salah satu cara mengakhiri siklus itu, kata Gideon, adalah dengan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada para pelaku.

Sumber gambar, Piter Lokon
Pembayaran denda oleh pelaku kepada keluarga korban, menurut Gideon, semestinya tidak menjadi solusi atas kematian orang asli Papua akibat perbuatan aparat.
"Kalau hanya denda, peristiwa seperti ini kemungkinan besar akan terjadi lagi," ujar Gideon.
"Pelaku harus dihukum di meja hijau. Kalau hanya denda, semua orang akhirnya seperti diperbolehkan membunuh karena akhirnya bisa membayar kepala," kata Gideon.
Membayar denda kepada keluarga, di Tanah Papua, kerap menjadi konsekuensi yang harus ditanggung pelaku pembunuhan.

Sumber gambar, Front Justice For Tobias Silak
Di Kabupaten Jayawijaya misalnya, denda adat untuk aparat yang menembak warga sipil asli Papua pernah terjadi pada Agustus 2021. Kala itu, pelakunya adalah seorang polisi dengan pangkat brigadir.
Keluarga korban meminta pelaku membayar "denda adat" sebesar Rp4 miliar dan 30 ekor babi. Namun kepolisian tidak menyanggupi nominal itu.
Akhirnya, dalam seremoni adat—yang juga dihadiri pejabat daerah dan militer—Polres Jayawijaya menyerahkan uang sebesar Rp600 juta kepada keluarga korban. Kepolisian menanggung Rp275 juta, sementara sisanya diambil dari anggaran Pemerintah Kabupaten Jayawijaya.
'Anak kami masih kecil'
Ruth, istri Viktor, belum bisa menerima kepergian suaminya. Satu hari sebelum dianiaya polisi, Viktor sempat menghubungi Ruth. Tapi tiga panggilan telepon Viktor tak diangkat oleh Ruth.
Viktor lantas mengirim dua pesan suara ke ponsel Ruth.
"Saya menyesal tidak melihat hp. Telepon ini yang terakhir kah? Kami rindu, cuma bisa dengar dia punya suara terakhir ini," ujar Ruth.
Ruth tidak menyangka suaminya "pergi begitu cepat". Putra mereka masih kecil—duduk di bangku sekolah dasar.
"Saya belum bilang ke anak saya tentang bapaknya. Dia lihat sendiri postingan kejadian itu di Facebook lalu menangis," kata Ruth.
Wajah Ruth terus-menerus basah begitu dia tiba di Dekai tengah pekan lalu. Dia tak sanggup menyampaikan satu-dua patah kata kepada orang-orang yang hadir ke seremoni pemakaman Viktor.
Namun usai peti Viktor dikuburkan, Ruth berusaha melebarkan senyumnya.
Sebelum terbang untuk kembali ke Jayapura, Ruth mengajak putra mereka berfoto di makam Viktor. Putra mereka mengenakan kaos merah bertuliskan "Faith, Hope, Love".
Ruth berdiri di sisi kiri dan putra mereka berada di sisi kanan. Di tengah mereka tertancap sebuah salib hitam dengan sebuah nama di atasnya: Viktor Bernadus Deyal.

Sumber gambar, Istimewa
Reportase tambahan oleh wartawan di Dekai, Piter Lokon












