Semifinal ganda putra All England 2023: Fajar/Rian waspadai kekuatan He/Zhou, Ahsan/Hendra siapkan strategi khusus

Sumber gambar, PBSI
- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, BBC News Indonesia, Birmingham
Dua ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, menyatakan siap menghadapi lawan dari China untuk tetap membuka kans meraih gelar juara di All England 2023.
Di semifinal di Birmingham hari Sabtu (18/03), Fajar/Rian berhadapan dengan pasangan China, He Ji Ting/Zhou Hao Dong, yang menekuk unggulan keempat dari Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, 17-21 21-18 21-15, di babak 16 besar.
Rian mengatakan ia dan Fajar pernah kalah dari He/Zhou, meski dari catatan head to head Fajar/Rian unggul 2-1.
"Kami [tetap] harus waspada. Mereka punya kecepatan dan tenaga yang kuat. Kami harus jaga mental, jaga fokus dan istirahat yang cukup," kata Rian.
"Kami ada target juara, tetapi kami juga sadar untuk jangan terlalu menggebu-gebu. Dari pengalaman kami, kalau terlalu menggebu-gebu bisa menjadi bumerang," kata Fajar.
Sebelumnya, Fajar/Rian mengatakan ingin meraih gelar karena sepanjang karier mereka, gelar juara di Birmingham belum diraih.
Pasangan yang dikenal dengan sebutan Fajri ini membuka asa juara melihat penampilan mengesankan dalam satu tahu terakhir. Mereka datang ke All Englad dengan status pasangan nomor satu dunia, yang membuat keduanya menempati unggulan teratas.
Fajar/Rian antara lain menjuarai Super 750 Denmark Terbuka 2022 dan Super 1000 Malaysia Terbuka 2023.
Pasangan ini melenggang ke semifinal dengan mengalahkan juara bertahan Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana, 21-18 21-13.
Baca juga:
- Indonesia dominan di perempat final ganda putra All England 2023, bagaimana kans raih juara?
- Dominasi ganda putra Indonesia berlanjut di All England 2023, empat wakil lolos ke perempat final, pastikan satu tempat di semifinal
- Ganda putra kembali ditarget juara All England, Fajar/Rian dan Leo/Daniel diharapkan tampil maksimal
Ahsan/Hendra di semifinal juga akan menghadapi pasangan China, Liang/Wang.

Sumber gambar, PBSI
Ahsan mengatakan dirinya harus tetap menjaga fokus di lapangan. "Jangan sampai lengah ... kami menjaga fokus saja masih bisa dikejar lawan [apalagi jika tidak fokus]," kata Ahsan.
Hendra mengatakan tentu akan ada persiapan dan strategi khusus. "Itu semua akan dibicarakan dengan pelatih," kata Hendra.
Pasangan berjuluk the Daddies ini juara pada 2014 dan 2019 sementara tahun lalu menempati posisi runner up.
Ahsan/Hendra 'keluar dari lubang jarum'
Keberhasilan Ahsan/Hendra lolos ke semifinal tak lepas dari hasil luar biasa di babak 16 besar Jumat (17/03) saat menghadapi pasangan China, Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi, situasi yang digambarkan sebagai "keluar dari lubang jarum".
Di gim pertama, Ahsan/Hendra menyerah 16-21 sementara di gim kedua, duo berjuluk the Daddies ini menang dengan skor tipis 21-19.

Sumber gambar, PBSI
Di gim ketiga, Ahsan/Hendra tertinggal 11-16. Ketenangan dan kesabaran membuat pasangan veteran ini bisa mengejar menjadi 14-17, kemudian 18-18, sebelum akhirnya lawan dikunci di angka 19.
Begitu bola sambaran dari Ahsan tak bisa dikembalikan lawan dan papan skor berubah menjadi 21-19, Ahsan tak kuasa menahan kegembiraan di lapangan.
Pelatih ganda putra, Herry Iman Pierngadi atau biasa disebut Herry IP mengatakan hasil ini membuat dirinya kaget.
"Di luar perkiraan. Luar biasa, Ahsan/Hendra bisa keluar dari tekanan [di gim ketiga]. Jam terbang dan pengalaman membuat mereka bisa mengatasi situasi tertekan. Mereka bisa membalikkan keadaan dan menang. Surprised," kata Herry kepada wartawan BBC News Indonesia, Mohamad Susilo.
"Ketenangan dan penempatan bola yang akurat membuat pasangan China menjadi panik, terutama ketika Ahsan/Hendra bisa menyamakan kedudukan," kata Herry.
Ahsan menggambarkan kemenangan di perempat final sebagai capaian yang luar biasa.
"Kami tertinggal, menyusul, dan kemudian menang. Makanya ada selebrasi tadi di lapangan, ini karena sepertinya lega sekali begitu pertandingan bisa diselesaikan dengan kemenangan," kata Ahsan.
"[Selebrasi] itu semata-mata refleks, makanya saya tadi secara khusus meminta maaf kepada lawan," kata Ahsan. Langkah itu dilakukan karena Ahsan khawatir selebrasinya dianggap berlebihan dan dinilai meremehkan lawan.
Hendra menyatakan senang bisa menang. "Pokoknya main maksimal. Merasa puas karena sudah merasa menampilkan yang terbaik," ujarnya.
Kejutan Rehan/Lisa

Sumber gambar, PBSI
Bagi tim Indonesia, kejutan terbesar dicatat ganda campuran Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati, yang lolos ke babak empat besar, dengan menyingkirkan pasangan Jepang, Kyohei Yamashita/Naru Shinoya, 21-19 15-21 21-19.
Tertinggal di gim penentuan, Rehan/Lisa tidak menyerah dan berhasil membalikkan keadaan.
Lisa mengatakan keberhasilan tak lepas dari solidnya permainan.
"Tadi saat tertinggal saya mengatakan dalam hati dan berdoa semoga bisa menyusul dan membalikkan keadaan, dan ternyata bisa. Ini juga permainan Rehan yang luar biasa," kata Lisa.
Ia mengaku terinspirasi dengan permainan Bagas/Fikri hari Rabu, yang juga menang setelah sebelumnya tertinggal.
Rehan mengatakan di saat-saat kritis ia tak terbawa permainan lawan. "Dengan pola seperti itu saya bisa mendapatkan banyak poin [dan menang]," katanya.
"Rasanya gila dan senang sekali bisa masuk semifinal Super 1000 untuk pertama kalinya, terima kasih untuk Allah atas rezekinya buat saya dan Lisa juga terima kasih untuk orang tua yang selalu mendoakan kami," kata Rehan.
Di semifinal, Rehan/Lisa akan berhadapan dengan unggulan teratas dari China, Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong.
Keberhasilan Ahsan/Hendra, Fajar/Rian, dan Rehan/Lisa tidak diikuti oleh tunggal putri satu-satunya wakil Indonesia, Gregoria Mariska Tunjung, yang terhenti di tangan unggulan keempat dari China, Chen Yu Fei, melalui permainan ketat 22-24 32-21.
Di poin-poin kritis, Gregoria bisa memaksakan deuce, namun pada akhirnya harus mengakui Chen Yu Fei, peraih medali emas Olimpiade.

Sumber gambar, PBSI
Dibandingkan tahun lalu, Gregoria menunjukkan permainan yang meningkat.
"Sebenarnya saya ingin membuat kejutan seperti yang saya katakan kemarin, tetapi belum berhasil," kata Gregoria.
Gregoria mencatatkan diri sebagai tunggal putri Indonesia pertama yang berlaga di perempat final sejak 2013.
Tunggal putra Anthony Ginting juga gagal lolos ke semifinal setelah dikalahkan pemain Denmark, Anders Antonsen, 14-21 21-9 17-21.
"Di gim ketiga, sebenarnya sudah mencoba melakukan seperti apa yang dilakukan di gim kedua hanya Antonsen pasti punya strategi [untuk mengantisipasi]. Kesalahan saya ada di detail-detail kecil seperti beberapa kali ada kesempatan dapat poin tetapi [malah] tidak berhasil," ungkap Ginting.
Di ganda putri, pasangan Apriyani Rahayu/Siti Fadia Ramadhanti juga tak bisa melanjutkan perjalanan setelah dikalahkan pemain Korea Selatan, Baek Ha Na/Lee So Hee, 11-21 21-14 14-21.
Apri - peraih medali emas Olimpiade bersama Greysia Polii - mengaku sangat kecewa.
"Ini karena saya merasa sudah melakukan persiapan yang maksimal ... tetapi memang tak mudah untuk menjadi juara. Habis ini tentu akan ada evaluasi agar mendapat hasil yang lebih baik ke depan," kata Apri.









