Pelecehan seks di National Hospital Surabaya: "Saya juga mengalaminya di Bandung, digerayangi perawat"

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Uly Siregar
- Peranan, Wartawan lepas
Pelecehan seks sebagaimana dilakukan oleh seorang perawat terhadap pasien di Rumah Sakit National Hospital, Surabaya dicemaskan merupakan gejala umum. Keberanian korban kali ini mendorong seorang wartawan yang kini tinggal di Amerika Serikat, untuk mengungkapkan pelecehan rutin yang dialaminya di sebuah rumah sakit ternama di Bandung. Berikut penuturannya.
Peringatan: Artikel ini mengandung paparan pelecehan seksual
Kejadian ini telah lama berlalu, di awal tahun 1990an. Saat itu saya dirawat inap di rumah sakit di kawasan Cihampelas, Bandung, karena sakit tifus. Seingat saya, waktu itu kondisi badan saya sangat lemah dan demam tinggi. Perut rasanya sakit tak terkira sepanjang hari.
Tengah malam, datang seorang perawat laki-laki untuk mengukur suhu badan saya dan memberikan obat untuk diminum. Jangan tanya obat apa dan mengapa diberikan tengah malam, saya tak paham dan tak kelewat peduli. Saya cuma ingin segera sehat kembali. Lagipula, saya bukan pasien mengerti soal penyakit dan obat, dan dulu belum ada Google. Seumpamanya diberi racun oleh dokter dan perawat pun saya akan minum tanpa ragu.
Saya menaruh kepercayaan total pada mereka yang merawat saya di rumah sakit. Tapi malam itu kepercayaan saya justru membuahkan pelecehan seksual: Perawat laki-laki itu menyentuh saya. Dia pelan-pelan meraba bagian dada saya.
Bisa jadi saat itu saya berpikiran bahwa dia sedang mencoba membuat saya nyaman. Lagipula bagaimana mungkin saya berprasangka buruk? Dia perawat saya. Dia seharusnya mengurus saya, membantu saya agar cepat pulih. Lalu, saya juga bukan perempuan yang punya banyak pengalaman dengan laki-laki dan belum banyak mengerti soal persinggungan fisik lawan jenis.
Saya juga tak paham bagaimana dia memutuskan untuk menyentuh saya. Mungkinkah dia menganggap saya jenis perempuan yang mau disentuh? Saya tak ingat ada percakapan bernada seksual di antara kami yang dia tafsirkan lain dan mungkin membuat dia jadi berani melakukan perbuatan itu.
Tapi yang pasti, sentuhan itu membuat saya shock. Seperti lumpuh, saya tak tahu harus bagaimana meresponnya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Namun ternyata bukan berarti semuanya berhenti. Sikap diam saya saat itu sepertinya memberi dia semacam amunisi untuk mengulangi perbuatannya. Diam saya dia jadikan semacam izin. Ini sangat menyakitkan.
Mulanya hanya sentuhan ringan di dada saya yang dibalut gaun rumah sakit, lantas ia mengelus puting payudara saya. Mungkin saat itu saya juga terangsang jadinya -namun saya begitu naif waktu itu. Tubuh saya merespon sentuhan seksual secara alamiah. Dan sebagai perempuan yang tak berpengalaman, sentuhan seksual seringan itu membuat tubuh saya tak terkontrol.
Saya tak bisa mengingat dengan pasti, apakah itu kenikmatan, kepedihan, atau rasa malu. Tapi yang saya ingat dengan jelas, waktu itu saya tak mau dia menyentuh saya. Memang tak ada kekerasan agresif atau tindakan yang menyakiti, namun saya tak menginginkan sentuhan itu. Dia membuat saja jijik, tapi saya tak mampu menghentikan dia, apalagi menjerit minta tolong.
Semua terjadi cukup cepat, dan dia segera pergi setelah itu.
Malam berikutnya dia kembali mengukur suhu badan saya, memberi saya obat. Dia membangunkan saya, tersenyum dan mulai menyentuh tubuh saya. Dia menggerayangi dada saya sementara saya hanya bisa terbaring di ranjang, tak bisa berbuat apa pun untuk menghentikannya. Takut, bingung: dirangsang dengan paksa, juga merasa dilecehkan secara seksual habis-habisan ketika kondisi sedang sakit dan lemas.
Saya tak bisa mengingat dengan pasti, berapa kali dia datang ke kamar saya untuk melecehkan saya secara seksual. Tapi satu malam, dia mencoba berbuat lebih jauh.
Kali ini, setelah menyentuh dada, tangannya menjalar turun ke area selangkangan.
Tiba-tiba seperti diberi kekuatan ekstra, dengan sisa-sisa tenaga saya berteriak lemah: "Jangan!"
Dia terkejut dan menghentikan semuanya, lantas pergi. Sejak itu dia tak pernah kembali. Atau mungkin kembali, tapi tak lagi menyentuh saya. Entahlah, saya susah mengingatnya.

Sumber gambar, FACEBOOK / Uly Siregar
Setelah sembuh dari sakit tifus, saya pun keluar dari rumah sakit. Tapi pelecehan seksual yang saya alami, saya simpan sendiri. Tak pernah saya ceritakan pada siapa pun; tidak kepada kakak perempuan yang sering menemani saya di rumah sakit, tidak kepada teman-teman, tidak juga pada orang tua yang tinggal jauh di luar kota, apalagi pada pihak rumah sakit atau polisi. Saya hanya ingin melupakan kejadian buruk itu, mencoba meyakinkan diri saya bahwa pelecehan seksual itu tak pernah terjadi.
Kejadian itu saya perlakukan sebagai semacam mimpi buruk yang menjadi bagian dari sakit tifus yang saya alami. Setelah sehat, saya tak mau mengungkit-ungkitnya kembali. Mungkin saya takut tak ada orang yang mempercayai cerita saya.
Saya juga malu karena tak menghentikan perbuatan perawat laki-laki itu sejak awal dia melakukan pelecehan itu. Belum lagi saya juga khawatir akan dituduh menikmati pelecehan seksual tersebut. Jadilah saya putuskan untuk melupakannya, dan kembali menjalani hidup seperti biasa.

Sumber gambar, Instagram
Namun setelah bertahun-tahun, tiba-tiba kenangan buruk itu datang tanpa diundang. Tanpa sengaja pengakuan pelecehan seksual saya ungkapkan di grup Whatsapp teman-teman wartawan. Pemicunya adalah video viral seorang pasien perempuan yang sedang marah-marah pada perawat laki-laki di rumah sakit (National Hospital, Surabaya).
Dia menuduh perawat itu melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Di video itu, pasien perempuan mendeskripsikan pelecehan seksual yang menimpanya. Deskripsi itu begitu mirip dengan yang saya alami, mengingatkan saya akan pelecehan seksual yang saya derita. Tiba-tiba air mata saya menetes, dan secara refleks saya merespon percakapan di grup WA itu dengan: Saya juga mengalaminya. It happened to me too.
Saya tak mengerti kenapa, tapi pertama kali sejak bertahun-tahun, akhirnya saya tak lagi diam. Di grup WA itu, saya deskripsikan pelecehan seksual yang terjadi pada saya.
Salah seorang anggota grup, wartawan BBC Indonesia, mengirimkan pesan pribadi meminta izin untuk melakukan wawancara tentang kejadian tersebut. Awalnya saya enggan, tapi kemudian sadar, saya ternyata tak sendirian dan sangat penting untuk meributkan soal pelecehan seksual. Lagipula, sebesar apa pun trauma yang saya alami, saya sudah mengatasinya dengan sukses. Saya baik-baik saja, dan hidup saya—sejauh yang saya pikirkan—nyaris tidak terpengaruh.
Yang menyedihkan, cerita saya ternyata terjadi juga pada banyak perempuan lain. Tak hanya di rumah sakit, tapi di rumah sendiri, dilakukan oleh anggota keluarga, paman, supir keluarga, tukang kebun, atau orang-orang terdekat.
Pelecehan seksual yang saya alami di rumah sakit itu bahkan bukan yang pertama bagi saya. Ketika masih anak-anak (tak pasti umur berapa, tapi sekitar 4 atau 5 tahun), saya dilecehkan secara seksual oleh anggota keluarga. Dia menggunakan saya untuk masturbasi. Seingat saya tak ada penetrasi. Entahlah, saya terlalu kecil untuk memahami apa yang terjadi, dan sulit untuk mengingat dengan pasti. Kejadian itu saya abaikan. Saya kubur dalam-dalam. Tak ada yang perlu tahu. Tak akan ada yang percaya. Saya coba melupakannya dengan menyangkalnya.
Berhasil. Saya tak lagi ingat kejadian menyakitkan itu. Hingga suatu saat, ketika melakukan aktivitas seksual pertama kalinya, kenangan buruk itu tiba-tiba muncul.
Dan semakin dewasa saya semakin sadar: Oh, ternyata yang saya alami waktu masih kecil dulu adalah pelecehan seksual.

Sumber gambar, Ronnie Fauzan
Kadang saya masih marah pada kedua orang tua saya yang tidak tahu anak perempuan bungsu mereka dilecehkan secara seksual, oleh anggota keluarga sendiri. Kedua orang tua saya meninggal tanpa saya sempat bercerita: Ibu, Bapak, saya dilecehkan secara seksual ketika masih anak-anak. Menyakitkan, dan saya tidak mengerti apa yang terjadi, mengapa terjadi, dan tak ada seorang pun yang menolong saya.
Setelah mengalami sendiri, saya menyimpulkan, perempuan usia 5 tahun atau 23 tahun bisa sama persis dalam mereaksi pelecehan seksual. Perempuan bisa merasa tak berdaya, mendadak seperti lumpuh, bingung, dan tak mengerti harus bagaimana bertindak.
Perempuan kemungkinan besar akan malu dan menyalahkan diri sendiri atas kejadian buruk yang menimpanya meskipun pelecehan seksual sama sekali bukan kesalahannya. Perempuan lantas akan mencoba sekuat mungkin melupakan karena kejadian itu terlalu menyakitkan untuk diingat apalagi diungkapkan. Padahal kenangan buruk itu akan selalu menghantui, dan sejatinya lebih menyakitkan ketika muncul kembali. Tak hanya itu, ia juga meninggalkan luka yang sialnya tak akan pernah hilang.

Sumber gambar, Uly Siregar
Setelah melihat video viral tentang pasien yang dilecehkan di Surabaya itu, saya tak bisa berhenti memikirkan, berapa banyak pasien di rumah sakit itu mengalami kejadian serupa? Bagaimana bila ada anak perempuan di bawah umur mengalami pelecehan seksual seperti saya? Bukankah itu kesalahan saya juga karena saya waktu itu tak berani bicara, karena saya terlalu takut mengadu pada pihak rumah sakit?
Seharusnya saya memaksakan diri bicara: Hei, ada predator seksual di rumah sakit ini, cepat singkirkan sebelum dia menyakiti pasien perempuan lainnya.
Saya mengagumi perempuan-perempuan tegar yang berani membagi cerita tentang pelecehan seksual yang mereka alami. Saya menyesal tidak melakukannya sedari dulu. Karena membuka kisah pelecehan seksual sesungguhnya bisa mengubah keadaan. Tak hanya membuat perempuan-perempuan yang mengalaminya merasa tidak sendirian, tapi juga berpotensi menghentikan para laki-laki, atau setidaknya membuat mereka berpikir ulang melecehkan perempuan secara seksual. Karena mereka akan takut, kita perempuan tak lagi bisa dibungkam.












