Baju diciptakan bukan hanya sebagai penghangat

Pakaian bukanlah suatu kebutuhan bagi semua orang, jadi mengapa kita harus berpakaian? Stephen Gough senang telanjang; sampai-sampai dia kehilangan kebebasannya. Dia dipenjara, secara keseluruhan, selama 10 tahun karena memperlihatkan terlalu banyak kulitnya di depan umum. Pria ini telah ditangkap selama beberapa kali.
Gough, yang juga dikenal sebagai “naked rambler” atau pengelana telanjang, lebih suka tanpa busana saat suhu memanas. Dia tidak berbahaya bagi masyarakat, tetapi ketika dia berjalan tanpa pakaian dari John o’Groats ke Lands’ End di Inggris pada tahun 2003, Gough dianggap menimbulkan keresahan.
Dan ketika dia berusaha melakukan perjalanan itu kembali, Gough segera ditahan. Di dalam penjara, dia sering kali ditempatkan di penjara sendirian karena menolak berpakaian.
Tetapi, tidak seorang pun dapat membantah bahwa kita semua dilahirkan, sama seperti Gough, tanpa busana. Perbedaannya, sebagian besar dari kita menutupi diri di depan umum.
Terdapat sejumlah alasan mengapa kita melakukannya: di suhu yang lebih dingin kita akan mati membeku tanpa perlidungan lebih dan di keadaan sangat panas pakaian dapat melindungi kita dari terik matahari.
Meskipun demikian sejumlah masyarakat pemburu-peramu masih lebih memilih telanjang dalam kehidupan mereka yang mengisyaratkan pakaian tidak menjadi hal penting agar kita dapat bertahan hidup.

Sumber gambar, EntressanSPL
Jadi jika telanjang sangat alamiah, kapan kita mulai terobsesi pakaian dan mengapa?
Pakaian tidak menjadi fosil sehingga kita tidak bisa mendapatkan bukti langsung tentang kapan nenek moyang manusia masa lalu, hominin, berhenti berkelana telanjang dan mulai menutupi tubuh dengan kulit dan bulu binatang.
Antropolog terutama bergantung pada metode tidak langsung untuk mengetahui asal pakaian. Kajian tahun 2011 tentang kutu menyatakan kebiasaan ini baru dimulai 170.000 tahun lalu. Para peneliti menemukan kutu kepala dan kutu di pakaian terpisah pada sekitar saat itu. Pemikirannya adalah, begitu kita mulai memakai busana, sejumlah kutu mulai hidup di pakaian dan berevolusi menjadi spesies yang berbeda.
Pada saat itu spesies kita, Homo sapiens, sudah berjalan di Bumi Afrika. Mereka tidak lagi memiliki terlalu banyak bulu tubuh, yang membantu hominin lebih kuno tetap hangat di malam hari dan melindungi mereka dari panasnya matahari.
Kemungkinan kita mulai berpakaian untuk mengatasi hilangnya bulu tubuh, kata Ian Gilligan dari Universitas Sydney, Australia.
Sejumlah masyarakat pemburu-peramu modern, seperti orang Nuer di Sudan selatan mengenakan pakaian yang minim. Ini mengisyaratkan perlindungan sederhana kemungkinan bukan satu-satunya alasan kita berpakaian. Orang mulai merasa “malu” dan ingin menutup diri, meskipun sulit untuk menemukan bukti langsung pandangan ini.

Sumber gambar, Mauricio AntonSPL
Bukti sejarah mengisyaratkan masyarakat pemburu-peramu lainnya, seperti Fuegians dari Amerika Selatan, mengenakan pakaian sederhana sejak beberapa waktu, tetapi juga berkelana telanjang. Kemungkinan manusia kuno menutup diri ketika dingin.
Di luar Afrika, lebih mudah untuk melihat pakaian sebagai hal penting untuk melindungi diri dari dingin. Spesies manusia lainnya, Neanderthals, berkelana di Bumi yang bersuhu lebih dingin dan hampir pasti perlu menutupi diri.
Neanderthals hidup di Eropa jauh sebelum manusia modern tiba. Kita berevolusi dari nenek moyang yang sama, yang diperkirakan adalah Homo heidelbergensis. Jika Neanderthals juga memakai pakaian, maka pakaian diciptakan lebih dari satu kali dan Neanderthals menciptakannya kembali sebelum kita.
Kedua spesies hominin sepertinya memiliki pendekatan yang berbeda terkait pakaian. “Sepertinya terdapat perbedaan antara (pakaian) Neanderthals dan manusia,” kata Nathan Wales dari Natural History Museum Denmark.
Dalam sebuah kajian yang diterbitkan pada tahun 2012, Wales memperkirakan Neanderthals harus menutupi 70—80% tubuh saat musim dingin, agar dapat tetap hidup pada iklim tempat tinggalnya. Untuk mengetahui hal ini, Wales membandingkan apa yang dipakai peramu-pemburu modern pada lingkungan yang berbeda dan membandingkannya dengan keadaan iklim masa lalu.
Manusia modern lebih perlu menutupi diri, sampai 90%, kata Wales. Ini berarti, katanya, Neanderthals tidak harus memakai pakaian ketat untuk benar-benar menutupi diri.
Kita sekarang sedikit mengetahui jenis pakaian yang kemungkinan mereka kenakan.
Neanderthals kemungkinan memakai jubah bulu serderhana, menurut kajian yang diterbitkan pada bulan Agustus 2016. Para peneliti memperkirakan Neanderthals biasanya memakai balutan bulu binatang.
Sementara itu, manusia modern membuat pakaian yang agak lebih rumit, kemungkinan menjahit menjadi satu sejumlah bagian.

Sumber gambar, Pierangelo Pirak
Penulis utama kajian, Mark Collard dari Universitas Simon Fraser, Burnaby, Kanada, mengatakan manusia modern cenderung memburu binatang. Hal ini membuat mereka dapat membuat pakaian dari bulu yang lebih tebal dan hangat. Salah satu contohnya adalah wolverine karena dapat membuat bagian leher atau pinggiran lengan yang baik.
Collard menemukan, bahkan saat ini, wolverine sering menjadi mangsa kelompok seperti Inuit. “Terdapat kebutuhan akan bulu sejenis itu, dan ini ada hubungannya dengan struktur bulu, yang tidak membeku seburuk bulu lainnya,” katanya. “Lebih efektif dibandingkan pakaian musim dingin militer.”
Bagi Wales, temuan ini memastikan manusia modern bertingkah laku dalam cara yang berbeda dengan Neanderthals. “Teknologi tersebut sangat membantu manusia, mereka dengan cepat dapat tinggal di habitat baru,” katanya. “Jadi bukannya harus berubah agar dapat hidup disana, Anda dapat dengan mudah memakai pakaian yang lebih baik”.
- <link type="page"><caption> Bagi merpati kepastian lebih penting dibanding makanan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_earth/2016/10/161004_vert_earth_merpati" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Rahasia di balik 'kecepatan super' ular</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/karangan_khas/vert_earth/2016/09/160928_vert_earth_ular_super" platform="highweb"/></link>
Meskipun demikian, Neanderthals, dengan tubuh yang lebih pendek dan kekar, sebenarnya lebih cocok dengan cuaca Eropa yang lebih dingin dibandingkan manusia modern. Mereka datang ke Eropa jauh sebelum kita, ketika manusia modern menghabiskan sebagian besar sejarahnya di suhu tropis Afrika.
Sementara itu, kenyataan bahwa Neanderthals lebih cocok dengan keadaan dingin kemungkinan juga salah satu penyebab kehancurannya.
Kalau ini sepertinya suatu hal yang berlawanan, memang demikian sampai tahap tertentu.
Manusia modern memiliki tubuh yang lebih langsing, membuatnya lebih peka terhadap dingin. Akibatnya, nenek moyang kita terpaksa membuat sejumlah kemajuan teknologi. “Kita mengembangkan pakaian yang lebih baik untuk mengatasinya, yang pada akhirnya membuat kita lebih mampu bertahan saat suhu menjadi sangat dingin (sekitar) 30.000 tahun lalu,” kata Gilligan.
Terdapat bukti arkeologi yang mengisyaratkan manusia memiliki teknologi yang lebih baik terkait pembuatan pakaian. Kita telah mengembangkan alat pemotong khusus, seperti pisau, dan kemudian jarum. Ini membantu kita memotong kulit binatang dalam bentuk kotak atau persegi panjang, yang kemudian kita gabungkan.
Sementara itu, Neanderthals sepertinya hanya menggunakan alat pengupas sederhana. Di tahun 2007, Gilligan memperkirakan ini menjadi salah satu penyebab kemusnahan mereka, memakai pakaian berkualitas rendah pada periode terdingin zaman es terakhir.
“Ketika mereka mulai berjuang, terdapat alasan mengapa mereka punah, mereka tidak memiliki teknologi rumit membuat pakaian yang telah dikembangkan manusia modern di Afrika,” kata Gilligan.
- <link type="page"><caption> Seberapa cepat Anda bisa temukan spesies yang berkamuflase ini?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/09/160914_vert_earth_kamuflase" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Monyet juga berduka ketika teman mereka mati</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2016/09/160914_vert_earth_monyet_kematian" platform="highweb"/></link>
Ketika manusia modern memiliki alat dan pakaian yang lebih canggih, Neanderthals bukanlah makhluk kasar yang sebelumnya digambarkan dan tidak ada alasan untuk memandang mereka secara umum tidak secanggih kita. Mereka hanyalah tidak perlu menutup diri sepenuhnya, dan saat mereka harus melakukan hal itu, teknologi mereka tidak mampu melakukannya.
Bahkan terkait dengan mempersiapkan kulit binatang, kita kemungkinan dapat belajar dari Neanderthals.
Di tahun 2013, tim yang dipimpin Marie Soressi dari Universitas Leiden, Belanda menemukan Neanderthals adalah yang pertama menggunakan alat dari tulang, bukannya batu. Mereka melakukannya sekitar 40.000-60.000 tahun lalu.
“Alat Lissoir” ini berasal dari tulang rusuk rusa, digunakan untuk membuat kulit binatang menjadi lebih lembut, kemungkinan untuk dijadikan pakaian.
Setelah Neanderthals punah, alat tulang sejenis ditemukan di situs Homo sapiens.
Alat tulang jenis ini sangat umum ditemukan di catatan Palaeolithic tua, sangat umum di sejumlah situs yang digunakan manusia modern setelah punahnya Neanderthals,” kata Soressi. “Bagi saya, kemungkinan ini adalah bukti pertama peralihan sesuatu dari Neanderthals ke manusia modern.”
Memahami cara Neanderthals mengatasi dingin sangat membantu manusia modern, yang kemudian menggabungkan alat tulang dengan alat lain untuk membuat pakaian yang lebih baik.
Jika ini suatu kebenaran, maka muncul pertanyaan tentang mengapa Neanderthals tidak meniru teknologi manusia modern yang lebih canggih. Kemungkinan manusia modern menemukan alat tulang Neanderthals tergeletak, bukannya benar-benar bertemu Neanderthals.
Lebih baru lagi, kemungkinan sekitar 30.000 tahun lalu, pakaian Zaman Batu semakin menjadi canggih.
Di Gua Dzudzuana, Georgia, peneliti menemukan serat flax berwarna di tempat tinggal manusia. Ini kemungkinan dipakai untuk membuat pakaian linen dalam berbagai warna.
Ini mengisyaratkan pakaian menjadi lebih daripada hanya kegunaan praktis. Busana juga memiliki tujuan hiasan. Dengan kata lain, pakaian menjadi suatu simbol.
Gilligan menegaskan manusia kemungkinan menghias diri jauh sebelum pakaian ditemukan. “Jika Anda melihat pemburu-peramu yang tidak berpakaian, mereka menghias diri dengan cat tubuh. Anda tidak memerlukan pakaian untuk melakukan hal itu. “
Terdapat bukti yang mengisyaratkan Neanderthals juga mengecat diri dengan warna merah, bukti tertuanya dari 200.000 tahun lalu. Tentu saja, pewarna tersebut kemungkinan juga digunakan untuk kulit, pemakaman atau seni gua.
Ketika terlalu dingin untuk memamerkan cat tubuh, manusia kuno terpaksa menutupi diri. “Hiasan dipindahkan ke pakaian,” kata Gilligan. “Begitu hal tersebut dilakukan, manusia memerlukan pakaian untuk tujuan kemasyarakatan selain kehangatan.”
Ini dapat menjelaskan penggunaan pakaian yang tidak terpisahkan dari jati diri banyak orang. Hal yang sama juga terjadi jika dikaitkan dengan sejumlah suku pemburu-peramu atau pengelana telanjang.
Kebenaran terkait pakaian dengan demikian lebih rumit daripada yang Anda pernah bayangkan. Tanpa pakaian kemungkinan kita tidak akan bertahan hidup, tetapi saat ini penggunaan pakaian tidak hanya untuk menghangatkan tubuh.
Pakaian adalah bagian dari jati diri, kebudayaan dan norma masyarakat. Pakaian membedakan kita dari spesies lain dan dari alam, kata Gilligan. Tambahan lagi, dengan memberikan isyarat bahwa kita bagian dari kelompok masyarakat atau politik tertentu, pakaian juga membeda-bedakan kita.









