Monyet juga berduka ketika teman mereka mati

Sumber gambar, Bin Yang
Semakin jelas bahwa monyet 'berkabung' untuk teman mereka, menimbulkan perkiraan duka cita itu memiliki akar evolusioner yang dalam.
Ketika Thomas, simpanse yatim piatu tewas, temannya Pan tampak berduka untuknya. Dan Pan bukanlah satu-satunya.
Simpanse lain dalam grup itu memilih untuk berada di sekitar Thomas, meski biasanya itu merupakan waktunya mereka makan. Sejumlah simpanse menyentuh jasad Thomas. Seekor yang dominan, simpanse betina bahkan menyikat gigi Thomas dengan rumput sebelum mayatnya dibawa.
Kematian Thomas bukanlah yang pertama kalinya seekor kera diamati berduka cita terhadap yang mati. Namun merupakan salah satu dari dokumentasi yang terbaik, dalam peristiwa yang terekam dalam film.
Mungkin yang lebih mengejutkan, dua spesies monyet - lebih jauh terpisah kaitannya dengan kita dibandingkan kera - telah diamati memiliki perilaku yang serupa di alam liar.
Monyet tampak menyadari, dan bahkan berkabung, matinya monyet lain.
Karena peristiwanya dilakukan di ruang terbuka, perilaku 'berkabung' ini dapat membuat para monyet rentan dimangsa predator. Jadi pertanyaannya adalah, mengapa mereka melakukannya? Mencari tahu tentang hal itu dapat membantu kita memahami bagaimana kesedihan berevolusi.

Sumber gambar, Bin Yang
Bin Yang dari Akademi Sains Shaanxi di Xi'an, Cina, telah mengikuti sebuah komunitas yang terdiri dari lebih dari 130 monyet hidung pesek berambut emas liar selama lebih dari satu dekade.
Monyet-monyet ini tinggal dalam kelompok di Gunung Qinling di Provinsi Shaanxi, Cina Tengah. Sebagian besar kelompok terdiri dari seekor jantan dengan beberapa betina. Monyet-monyet jantan yang tak mendapat betina, membentuk kelompok mereka sendiri.
Pada Desember 2013, Bin Yang menyadari bahwa seekor betina yang disebut DM hilang dari kelompoknya.
Tiga hari kemudian DM kembali muncul, tetapi dia tampak kehilangan orientasi dan berdiam diri di pinggir.
Jantan yang dominan duduk di sebelahnya. Dia dengan lembut menyentuh tangannya dua kali dan merawatnya. Anggota kelompok lainnya melihat dari kejauhan.

Sumber gambar, Bin Yang
Pasangan itu kemudian memanjat pohon di dekat mereka. DM pasti sangat lemah, karena sekitar 30 menit kemudian dia jatuh dan kepalanya membentur sebuah batu.
"Dia berbaring tak bergerak kecuali secara sporadis kejang dan mengerang lemah.
DM tampak jelas terluka parah. Monyet dewasa lain dalam kelompoknya dengan cepat turun dari pohon dan berkumpul di sekitar dia untuk merawat dan menjaga dia selama beberapa jam. Mereka juga mengeluarkan panggilan tanda bahaya.
Ketika beranjak gelap, sebagian besar anggota kelompok pergi, tetapi jantan yang dominan tetap berada di dekatnya.
DM akhirnya bangkit dan berupaya untuk mengikuti monyet yang lain. Tetapi setelah berjalan beberapa meter dia jatuh dan mati.

Sumber gambar, Bin Yang
Jantan yang dominan dengan lembut menyentuh tangannya beberapa kali, merawat dan memeluknya. Dia menjaganya, dan tinggal lebih lama dari yang biasa dilakukannya, tetapi akhirnya pergi ke pegunungan demi untuk keselamatannya.
Monyet-monyet menunjukkan pemahaman dari perubahan perilaku.
Ketika Yang kembali dari lapangan dia mengirimkan pengamatan yang didapatnya itu kepada ahli primata James Anderson di Universitas Kyoto Jepang, seorang pakar "tanalogi primata': studi tentang kematian.
Anderson mengatakan sulit untuk mengatakan apakah monyet lain tahu DM sedang sekarat, tetapi "mereka tampak jelas lebih penuh perhatian dan lebih terikat terhadapnya dibandingkan biasanya."
Monyet-monyet menunjukkan sebuah "pemahaman perubahan perilaku yang menunjukkan rasa iba terhadap individu yang sakit parah dan kurang sehat," kata dia.
Yang dan Anderson mempublikasikan hasil penelitian mereka dalam jurnal Current Biology pada Mei 2016 Mei 2016.
Laporan kedua yang dipublikasikan pada Mei 2016 di jurnal Primates, menggambarkan empat monyet barbary yang tewas dalam rentang waktu lebih dari setahun lalu sejak September 2013.
Para peneliti mengamati sebuah kelompok yang menghabiskan banyak waktu sekitar situs wisata di Taman Nasional Ifrane Maroko. Kawanan monyet seringkali berkelahi memperebutkan makanan di dekat jalanan yang ramai, dan alhasil mereka tewas karena tertabrak kendaraan yang melintas.
Dalam observasi pertama dan paling informatif, betina yang menempati posisi tertinggi di kelompok itu, Mary, tertabrak bus. Meski mengalami cedera yang serius, dia masih dapat bergerak ke pohon yang terdekat.

Sumber gambar, Liz Campbell
Dua jantan dewasa memeriksa dan menyentuh lukanya. Setelah monyet-monyet yang lain meninggalkan area tempat mereka biasa tidur, salah seekor jantan kembali dan merawatnya. Setelah gelap, monyet lain - yang diidentifikasikan sebagai IS - duduk di dekatnya dan berdiam di sana sepanjang malam.
Pagi-pagi sekali, para peneliti kembali mendapati Mary telah mati. IS masih berada di sana dan berdiam di dekat mayatnya hingga sore, hanya pergi sebentar untuk mencari makan. Ini mengejutkan, karena monyet biasanya menghabiskan banyak waktu untuk makan di siang hari.
Anggota lain kelompok ini juga menghabiskan waktu di pohon bersama bangkai seekor monyet betina. Beberapa merawatnya. Salah satunya menampilkan perilaku yang terkait kecemasan , termasuk menggaruk dan menguap.
Bangkainya kemudian dipindahkan di malam hari, dan sang jantan yang dominan menggeram dan menyerang para peneliti.

Sumber gambar, Els van Lavieren
Dalam sebuah insiden, seekor monyet jantan dominan tertabrak sebuah mobil dan langsung mati.
Mayatnya segera dibawa oleh staf taman untuk menghindari hewan pemakai bangkai, jadi tidak mungkin dapat memantau bagaimana monyet-monyet bereaksi atas kematiannya. Bagaimanapun, ketika jasadnya dibawa petugas taman tiga ekor monyet dewasa berteriak.
Dalam dua kasus lain, seekor jantan remaja dan seekor bayi betina mati.
Merespon kematian itu, monyet-monyet menjadi gelisah dan menjerit, terutama ketika bangkai bayi itu dibawa pergi. Sang induk juga terus menunggu di dekat bangkai bayinya, tampak tertekan (lihat di bawah ini).

Sumber gambar, Els van Lavieren
Salah seorang peneliti yang menyaksikan kematian monyet-monyet ini adalah Patrick Tkaczynski dari Universitas Roehampton di Inggris. Dia mengatakan, tidak mengejutkan bahwa para monyet merespon seperti itu.
"Monyet barbary memiliki reputasi menjadi 'hippies' dibandingkan dengan spesies monyet lainnya, dan mereka dikenal memiliki ikatan sosial jangka panjang," kata Tkaczynski. "Memiliki ikatan sosial yang kuat ini mungkin yang bisa mengarah pada respon yang sangat kuat atas kehilangan 'teman-teman' atau 'kerabat."
Sebagai mahluk sangat sosial, cukup masuk akal bahwa mereka akan menunjukkan tanda-tanda stres dan kecemasan ketika sahabat mereka tewas.
"Tidak mudah untuk memutuskan ikatan emosional dengan individu lain sepenuhnya dan tiba-tiba," kata Anderson. "Saya pikir itu dapat menjelaskan keinginan atau keenganan untuk meninggalkan individu yang mati." (Lihat foto di bawah)

Sumber gambar, Bin Yang
Meski tampak jelas bahwa suatu kematian sahabat dapat membuat monyet cemas, Tkaczynski dan Anderson bimbang untuk mengatakan monyet benar-benar berduka. Yang lain lebih yakin.
Antropologis Barbara King dari College of William & Mary di Williamsburg, Virginia telah mempelajari duka yang dialami binatang secara intensif. Dia mengatakan dua laporan terbaru menawarkan bukti yang menarik tentang perkabungan.
"Definisi saya mengandaikan, bahwa kami mengetahui ada perubahan dalam perilaku penyintas setelah sejumlah teman, sahabat dan kerabat mati," kata King.
"Saya mencari bukti-bukti kecemasan emosional, perubahan dalam pola perilaku saat terakir untuk sementara waktu, sejumlah bukti dari respon sebuah binatang yang terutama memiliki hubungan yang kuat dengan kematian. Semuanya ada di sana."
Kasus simpanse dan dua monyet menunjukkan kasus-kasus yang semuanya menunjukkan pola dasar, kata dia.
"Anda melihat seekor binatang mengambil tanggung jawab untuk menjaga mayat, beberapa bentuk respon emosional yang tak biasa oleh hewan yang dekat dengan yang mati, dan reaksi yang terus menerus itu terjadi diatas lima menit atau satu jam pertama."
Banyak insiden yang sama telah terekam selama bertahun-tahun.

Sumber gambar, Bin Yang
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada 2006, setelah babun chacma kehilangan kerabat dekatnya, para peneliti mengukur kadar hormon stres glukokortikoid dalam kotoran mereka.
Para induk terus membawa mayat-mayat bayi mereka setelah mati.
Mereka menemukan bahwa kadar glukokortikoid secara signifikan lebih tinggi dalam periode empat pekan setelah kehilangan seekor anggota kelompoknya. Hormon yang sama ini diasosiasikan dengan kehilangan pada manusia. Babun yang tidak mengalami rasa kehilangan kadar hormonnya tidak meningkat.
Kita juga mengetahui bahwa monyet betina memiliki ikatan kuat terhadap keturunan mereka, yang terus ada setelah kematian.
Dalam sebuah studi yang agak mengerikan dipublikasikan pada 2009, para peneliti mengikuti sebuah grup monyet Jepang selama 24 tahun. Mereka mencatat 157 kasus para induk betina membawa mayat bayi mereka setelah mati. Salah satunya bahkan membawanya selama 17 hari, meski mayatnya mulai membusuk.

Sumber gambar, Els van Lavieren
Insiden seperti ini menunjukkan bahwa monyet-monyet menyadari bahwa sahabat mereka telah tewas, dan kematian dapat memberikan dampak yang hebat pada kehidupan mereka.
"Mengapa kita tidak menganggap mereka bisa berduka?" kata King. "Kami mengatahui bahwa monyet merupakan hewan yang pintar dengan hirarki yang sangat tertata, keterikatan sosial mereka sangat kuat.... Tidak mengejutkan saya bahwa sangat alami bagi hewan-hewan ini untuk merasakan kehilangan mereka dan mengekspresikannya dengan cara yang dapat kami pahami."
Perilaku mereka dapat memberikan sejumlah wawasan terhadap kita mengenai mengapa kita berduka.
Manusia, seperti seluruh primata, hidup dalam dunia sosial yang amat tinggi dengan ikatan kuat dengan teman dan keluarga. Kita bergantung pada hubungan sosial bagi kesehatan dan kesejahteraan kita.
Penelitian mengindikasikan bahwa kesepian dapat merusak kesehatan kita dan bahkan menyebabkan orang lanjut usia meninggal lebih cepat.
Dengan kata lain, memiliki teman benar-benar membantu kita untuk hidup lebih lama. Pertemanan dapat juga menurunkan tekanan darah kita dan membantu kita mengatasi stres, seperti ditujukkan oleh penelitian lain.

Sumber gambar, Bin Yang
Mengingat bahwa kehilangan seseorang dapat memberikan dampak yang dramatis terhadap perilaku kita, dan dapat menyebabkan kecemasan secara psikologis, rasa berkabung dapat terlihat sebagai konsekuensi langsung dari penyesuaian diri sebagai mahluk yang sangat sosial," kataTkaczynski.
Berkabung juga memiliki sisi positif.
Ketika seorang teman atau keluarga meninggal, itu akan menyebabkan orang berkumpul dan mendukung rasa 'saling terikat,' kata Carolyn Ristau dari Barnard College, Universitas Columbia di New York, AS. Ini menunjukkan bahwa berkabung dapat menjadikan mendorong dan memperkuat hubungan.
"Hubungan yang baik memberikan banyak manfaat positif bagi kedua individu dan bagi kelompok secara keseluruhan," kata Ristau. "Pada spesies yang beragam, sebuah jenis ikatan yang dekat bersama merawat yang muda, dapat bergabung bersama dalam sebuah kelompok mencari makan, melindungi dari predator."
Jika Anda melihat berkabung sebagai sebuah konsekuensi dari menjadi sosial, tidak mengejutkan bahwa monyet bereaksi terhadap kematian seperti seperti manusia. Perilaku mereka merefleksikan "bagian sejarah evolusioner kita mengenai ikatan bersama," kata Tkaczynski.
--------











