Gunung Merapi masih tetap dalam status siaga meski terus keluarkan lava pijar dan awan panas

Sumber gambar, Hendra Nurdiyansyah/ANTARA FOTO
Gunung Merapi di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah, hingga Kamis (21/01) pagi, masih mengeluarkan material erupsi dan awan panas, demikian Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Namun status gunung api aktif ini masih belum ditingkatkan dan tetap pada level III (siaga).
BPPTKG mencatat pada periode pengamatan Rabu (20/1) pukul 00.00-06.00 WIB telah terjadi tiga kali awan panas guguran Gunung Merapi dengan jarak luncur maksimal 1.200 meter dan teramati 47 kali guguran lava pijar, seperti dilaporkan Kantor berita Antara.
Guguran lava dari puncak Gunung Merapi terlihat dari Turi, Sleman, Yogyakarta, Rabu (20/01) malam (foto atas).
- Kisah Mbah Asih, juru kunci Gunung Merapi: 'Kami bukan paranormal, bukan dukun'
- Aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih tinggi, bagaimana prediksi erupsi dan skema mitigasi di kala pandemi Covid-19?
- Kisah pelestari anggrek Gunung Merapi yang terancam akibat erupsi
- Gunung Semeru dan Gunung Ili Lewotolok dalam rangkaian foto
Sejak pukul 18.00 WIB, Rabu (20/01), hingga Kamis, (21/01) pagi pukul 06.00 WIB, menurut BPPTKG, tercatat empat kali awan panas guguran terjadi.
Jarak luncur awan panas kali ini dilaporkan dengan jarak luncur maksimal 1500 meter menuju ke barat daya.
Dilaporkan pula lava pijar terus terjadi dengan jarak luncur antara 300 sampai 700 meter.
Tetap status siaga
Gunung Merapi sudah memasuki fase erupsi dan telah mengeluarkan lava pijar sejak Senin (04/01) dan awan panas guguran kecil pada Kamis (07/01). Aktivitas ini masih terus berlanjut hingga Kamis (21/01).
BPPTKG menyatakan belum menaikkan status Gunung Merapi menjadi awas atau ke level IV.
Dalam penjelasan sebelumnya, Kepala BPPTKG Hanik Humaida mengatakan penaikan status gunung berapi pada dasarnya tergantung dari adanya ancaman terhadap penduduk di sekitar. Dan BPPTKG sudah merekomendasikan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 km dari puncak Gunung Merapi.
"Dan saat ini potensi bahayanya belum lebih dari 5 km," terang Hanik.
Status Gunung Merapi naik ke level III pada 5 November 2020. Penaikan itu lantaran meningkatnya aktivitas vulkanik Merapi yang bisa membahayakan penduduk. BPPTKG saat itu merekomendasikan untuk meniadakan aktivitas di dalam radius 5 KM dari puncak karena masuk kawasan berbahaya.
Berikut rangkaian foto aktivitas Gunung sejak Senin (18/01) hingga Rabu (20/01) dan dampaknya bagi masyarakat setempat:

Sumber gambar, Barcroft Media
Guguran lava dari Gunung Merapi, seperti yang terlihat dari kawasan Kaliurang, Rabu (20/01), di DI Yogyakarta.

Sumber gambar, ANIS EFIZUDIN/ANTARA FOTO
Aktivitas penambangan pasir di hulu sungai Bebeng kawasan lereng gunung Merapi Desa Kaliurang, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/01).
Meski gunung Merapi terus mengeluarkan guguran lava pijar dan dan semburan awan panas, namun penambangan pasir masih terus berlangsung.

Sumber gambar, Aloysius Jarot Nugroho/ANTARA FOTO
Pengendara motor melintas di jalan desa yang tertutup abu vulkanik Gunung Merapi di Songgo Bumi, Mriyan, Tamansari, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (19/01).
Terjadinya awan panas guguran Gunung Merapi pada Selasa (19/01) pukul 02.27 WIB dengan jarak luncur 1800 meter dan tinggi kolom 500 meter di atas puncak, membuat sebagian wilayah di daerah kaki Gunung Merapi Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Klaten terkena hujan abu vulkanik.

Sumber gambar, ANIS EFIZUDIN/ANTARA FOTO
Asap sulfatara mengepul disertai guguran material vulkanik dari puncak gunung Merapi di foto dari Desa kaliurang, Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, Rabu (20/01).
Pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), melalui situs resminya menyatakan Gunung Merapi sudah mengalami erupsi sejak 4 Januari 2021 berupa erupsi efusif yaitu guguran lava pijar dan awan panas sejauh maksimal 1.800 meter.

Sumber gambar, Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (18/01/2021).
BPPTKG DI Yogyakarta mencatat pada periode pengamatan Senin (18/01) pukul 00:00-06:00 WIB secara visual, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas sebanyak satu kali dengan jarak luncur 1.000 meter, tinggi kolom 50 meter ke Tenggara arah Barat Daya serta guguran lava pijar sebanyak enam kali dengan jarak luncur maksimum 600 meter ke Barat Daya.
'Ini awan panas kecil yang pertama terjadi'
Sebelumnya, Gunung Merapi yang berada di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengeluarkan awan panas pertama dengan tinggi kolom sekitar 200 meter pada Kamis (07/01), setelah memasuki fase erupsi.
"Ini awan panas kecil yang pertama terjadi," kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida, kepada wartawan di Yogyakarta, Furqon Ulya Himawan, melalui saluran telepon, Kamis (07/01).
Menurut Hanik Humaida, awan panas yang keluar dari tubuh Gunung Merapi merupakan awan panas guguran, bukan letusan. BPPTKG mencatat, awan panas tersebut terjadi pada pukul 08.02 WIB, di amplitudo maksimum 28 mili, dengan durasi 1.54 detik dan tinggi kolom 200meter.
"Arahnya ke Barat Daya, Kali Krasak," kata Hanik.
Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 12.50 WIB, awan panas kedua tercatat di seismogram dengan amplitudo 21 mm dan durasi 139 detik. Tinggi kolom teramati 200 m di atas puncak, jarak luncur sekitar 300 meter ke arah hulu Kali Krasak.
Dengan durasi 1.54 detik, Hanik memperkirakan jarak luncuran awan panas cukup pendek dan tidak sampai 1 kilometer. "Jaraknya tidak teramati, karena tertutup kabut. Jadi ini kecil," imbuhnya.
Sebelumnya, pada Senin (04/01), BPPTKG mencatat, Gunung Merapi telah mengeluarkan lava pijar di sisi barat atau di dasar Lava 1997. Guguran lava pijar itu terekam kamera pemantauan milik BPPTKG pada Senin malam (04/01) pukul 19.52 WIB, di sisi barat daya Gunung Merapi.
Data rekaman BPPTKG dari hasil pantauan CCTV dengan mode pemandangan malam atau nightview, tampak pendaran sinar yang diduga merupakan lava pijar. Hasil pengamatan itu diperkuat foto yang diambil menggunakan kamera DSLR serta foto dari Pos Pengamatan Gunung Merapi di wilayah Kaliurang, Kabupaten Sleman, DIY.
Bertepatan dengan pengamatan kejadian tersebut, jaringan seismik Gunung Merapi merekam gempa guguran dengan amplitudo 33 mm dan durasi 60 detik. Dan suara guguran terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan, Magelang, Jawa Tengah.
"Secara teknis, bisa dikatakan Merapi sudah masuk fase erupsi," kata Hanik Humaida dalam jumpa pers secara daring yang diselenggarakan BPPTKG, pada Selasa (05/01).
Kondisi ini, menurut Hanik, harus diwaspadai masyarakat. Dia juga meminta warga mempersiapkan mitigasi bencana mengingat erupsi Merapi kemungkinan eksplosif.
"Karena masih ada kemungkinan erupsinya eksplosif, dan rekomendasinya selalu mempersiapkan mitigasi bencana," kata Hanik.

Sumber gambar, Antara Foto
Hanik menambahkan, pada penghujung Desember 2020, Kamis (31/12) pukul 21.08 WIB, juga teramati adanya sinar di Gunung Merapi. Menurutnya, sinar itu bisa jadi merupakan indikasi awal akan munculnya api diam dan lava pijar.
"Ini merupakan indikasi awal akan munculnya api diam dan lava pijar," katanya.
Selain merekam adanya lava pijar, lanjut Hanik, pada 4 Januari, citra satelit juga mengonfirmasi keberadaan gundukan yang diduga material baru sebagian telah longsor bersama dengan material lama.
Siapkan barak-barak pengungsian
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD) Kabupaten Sleman, Joko Suprianto, menyatakan selalu berkoordinasi dengan BPPTKG untuk memperbaharui jarak aman.
Melihat perkembangan luncuran lava pijar dan guguran awan panas ke arah barat, yang semua diperkirakan mengarah ke sisi selatan sebelah timur, Joko juga mengaku sudah menyiapkan barak-barak pengungsian di sisi barat Gunung Merapi.
"Kami juga sudah siapkan sisi barat. Barak di daerah Girikerto dan Wonokerto sudah siapkan. Barak Purwobinangun Turgo juga sudah siap," katanya. "Walaupun nanti arahnya ke barat, kita sudah siap," imbuhnya.









