Gunung Semeru dan Gunung Ili Lewotolok dalam rangkaian foto

Sumber gambar, EPA
Ribuan orang diungsikan setelah Gunung Semeru di Jawa Timur dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur (NTT) memperlihatkan aktivitas vulkanik.
Di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, sebanyak 550 warga mengungsi setelah Gunung Semeru mengeluarkan awan panas guguran pada Selasa (1/12), pukul 01.23 waktu setempat.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada Selasa (1/12), pengungsian tersebar di dua titik, yaitu di pos pantau sebanyak 300 jiwa, sedangkan sisanya di Desa Supiturang.
Untuk menghindari abu vulkanik dan penerapan protokol kesehatan, BPBD dan dinas kesehatan membagikan 4.000 masker, sedangkan dinas sosial mempersiapkan operasional dapur umum. Pihak lain, seperti TNI, Polri dan dinas terkait, turut mendukung penanganan darurat di lapangan.
- Aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih tinggi, bagaimana prediksi erupsi dan skema mitigasi di kala pandemi Covid-19?
- Jasad laki-laki kaya dan budak era Romawi kuno yang tewas 2.000 tahun lalu akibat letusan gunung api ditemukan
- Sistem peringatan gunung api 16 jam sebelum letusan
- Banjir dan letusan gunung berapi jadi ancaman nyata di tengah wabah corona, pemerintah 'masih bahas pembicaraan awal'

Sumber gambar, Antara Foto
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.
Masyarakat juga diminta mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

Sumber gambar, Antara Foto

Sumber gambar, Antara Foto
Sementara itu, BPBD juga mencatat sejumlah kerugian materiil berupa alat deteksi, aset penambangan warga termasuk alat berat dan kendaraan, hewan ternak, area kebun dan sawah, infrastruktur pipa dan tempat usaha warga.
Pada Rabu (2/12), pukul 00.00 - 06.00 WIB, gunung terlihat jelas dan asap kawah tidak teramati. Awan panas guguran teramati dengan jarak luncur 2.500 meter ke arah tenggara. Parameter aktivitas lainnya yaitu tremor 2 kali dengan durasi berkisar 1.798 hingga 2.400 detik.
Status aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada level II atau 'Waspada.'

Sumber gambar, Antara Foto

Sumber gambar, Antara Foto

Sumber gambar, Antara Foto
Masker jadi kebutuhan mendesak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara (NTT), menyatakan jumlah pengungsi yang sudah dievakuasi dari kawasan rawan bencana erupsi Gunung Ili Lewotolok mencapai 6.237 jiwa, per Selasa (01/12) pukul 22.00 WITA.
Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoday kepada wartawan di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Selasa malam mengatakan bahwa jumlah tersebut merupakan jumlah yang terdaftar. "Kalau dihitung secara keseluruhan masih banyak yang masih tertahan di kawasan rawan bencana itu, dan diperkirakan masih sekitar 15 ribuan orang," katanya, seperti dilaporkan kantor berita Antara.

Sumber gambar, Antara Foto
Pemerintah setempat menyatakan saat ini masker menjadi kebutuhan mendesak bagi ribuan pengungsi akibat erupsi Gunung Ili Lewotolok di tengah pandemi Covid-19.
"Kalau yang dibutuhkan sama pengungsi, karena sekarang terkait dengan COVID-19 dan saat ini kan Lembata masuk zona merah, sehingga yang paling utama saat ini adalah masker," kata Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langoda, sebagaimana dilaporkan kantor berita Antara, Rabu (02/12).
Pemkab setempat, kata dia, hingga saat ini belum mengetahui apakah dari ribuan pengungsi itu ada yang terpapar Covid-19. Apalagi, saat ini jumlah kasus Covid-19 di kabupaten itu sudah mencapai 27 kasus. Ia menambahkan pengungsi juga membutuhkan air bersih serta sarana mandi cuci kakus (MCK) karena fasilitas itu sulit mereka peroleh di lokasi pengungsian.

Sumber gambar, Antara Foto
Hal tersebut diakui oleh Rofina Beny, seorang ibu rumah tangga yang ditemui di lokasi pengungsian di halaman kantor perpustakaan daerah.
"Kita di sini kesulitan sabun mandi, selimut, dan alas untuk tidur. Kasihan anak-anak kami yang masih kecil-kecil," kata dia.
Ia mengungsi bersama suami dan empat anaknya saat terjadi erupsi Gunung Ili Lewotolok. Ia berharap, kekurangan fasilitas di pengungsian tersebut bisa segera dipenuhi sehingga tidak mengakibatkan warga sakit.
Gunung Ili Lewotolok dilaporkan erupsi pada Minggu (29/11) pada pukul 09.45 WITA dengan kolom abu teramati hingga kurang lebih 4.000 meter dari puncak gunung.
Dengan adanya peningkatan aktivitas gunung api tersebut, maka Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Gunungapi (PVMBG) menetapkan status Gunung Ili Lewotolok menjadi Level III atau siaga.












