Virus corona: Dokter dan perawat meninggal akibat Covid-19, 'Kalau mereka kolaps, keadaan akan lebih buruk lagi'

PETUGAS KESEHATAN

Sumber gambar, Destyan Sujarwoko/ANTARA FOTO

    • Penulis, Callistasia Wijaya
    • Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
  • Waktu membaca: 4 menit

Sejumlah dokter dan perawat, yang melayani pasien Covid-19, meninggal dunia di tengah meningkatnya jumlah kasus virus corona di Indonesia dan keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) di beberapa fasilitas kesehatan.

Djoko Judodjoko adalah salah satu dokter yang meninggal dalam status suspek virus corona.

Ia bertugas di rumah sakit swasta, Bogor Medical Center (BMC), Jawa Barat, dan mengalami demam, batuk, hingga sesak napas, setelah melayani pasiennya pekan lalu.

Kota Bogor sendiri sebelumnya dilaporkan memiliki sejumlah cluster pasien Covid-19 yang berkaitan dengan acara keagamaan Muslim dan Kristen di daerah itu.

Wali Kota Bogor Bima Arya dan seorang stafnya bahkan telah didiagnosis positif Covid-19.

Pandu Riono, adik ipar almarhum, menuturkan bahwa pihak keluarga kesulitan mendapatkan kamar perawatan di rumah sakit rujukan pemerintah, yakni di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

"Tidak ada tempat. Baru dikirim Sabtu pagi (tiga hari setelah dirawat di rumah sakit swasta di Bogor), ternyata tidak tertolong. Siangnya sudah meninggal," kata Pandu.

"Alat napasnya… di sana kan banyak pejabat yang dirawat. Sarana bantuan napasnya juga mungkin rebutan. Tidak semua rumah sakit rujukan punya alat bantu napas yang cukup," ujar Pandu yang juga seorang dokter.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

Selain Djoko, setidaknya empat orang dokter lainnya juga meninggal dunia ketika menjalankan tugas, menurut data Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

Di Jakarta, setidaknya 42 petugas medis dinyatakan positif menderita Covid-19 dan satu orang perawat meninggal dunia.

'Kalau petugas kolaps, keadaan akan lebih buruk'

Pandu Riono, yang juga dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menyayangkan keterbatasan Alat Perlindungan Diri (APD), di sejumlah rumah sakit yang menjadi salah satu penyebab para tenaga medis terpapar virus corona.

Padahal, menurutnya, APD harusnya merupakan prioritas.

"Jangan sampai ada rumah sakit, puskesmas yang minim APD. Ini utama. Kalau banyak petugas kesehatan kena, layanan kesehatan akan kolaps. Kalau mereka kolaps, apa yang terjadi akan lebih buruk lagi," kata Pandu.

"Dokter dan tenaga kesehatan ini garda terakhir dan benteng terakhir yang kita miliki untuk memberikan pelayanan ke publik. Sebagian sudah terinfeksi, cuma belum dites saja," katanya.

APD

Sumber gambar, Aswaddy Hamid/ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Petugas kesehatan mengenakan APD di salah satu fasilitas kesehatan di Dumai.

Di Surabaya, Jawa Timur, dan di Serang, di Banten, sejumlah fasilitas mengganti APD dengan jas hujan, karena keterbatasan APD.

Sementara, seorang perawat di RSUD Pasar Minggu, Jakarta, mengatakan meski hingga saat ini APD di rumah sakit itu cukup, rumah sakit kini kekurangan alkohol, hand sanitizer, hingga desinfektan, yang banyak diborong masyarakat.

Buat APD sendiri

Di Solo, wartawan Fajar Sodiq melaporkan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Moewardi Solo membuat sendiri APD hazmat suit. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi semakin berkurangnya persediaan APD selama wabah virus corona Covid-19 merebak.

Direktur Utama RSUD Dr Moewardi, Cahyono Hadi mengatakan gagasan membuat APD didasari kebutuhan yang sangat mendesak setelah RSUD itu ditunjuk menjadi salah satu rumah sakit rujukan penangan pasien Covid-19 di Jawa Tengah.

Selain itu, persediaan perlengkapan khusus itu di pasaran saat ini juga sulit ditemukan.

APB, virus corona

Sumber gambar, Fajar Sodiq

Keterangan gambar, RSUD Dr Moewardi Solo membuat sendiri APD.

"Sehingga bagian pengadaan berinisiatif untuk melakukan pengadaan mandiri," kata dia saat ditemui di RSUD Dr Moewardi Solo, Selasa (24/03).

Untuk membuat APD tersebut, Cahyono mengungkapkan mereka menggunakan polypropilane sponbound. Bahan baku tersebut dulunya pernah dipakai untuk membuat APD saat terjadinya wabah flu burung beberapa tahun silam.

"Pada prinsipnya baju itu untuk menahan jika terjadi sekret pasien menempel akan terserap. Sebelumnya, bahan baku itu mudah diperoleh di toko kain di Solo," ujarnya.

apd

Sumber gambar, Antara foto

Keterangan gambar, Bantuan APD dari China tiba di Malang, Jawa Timur, 23/03).

"Ternyata setelah diumumkan (bahwa bahan itu digunakan untuk membuat APD), kita agak kesulitan mencari bahannya. Kita berharap masyarakat tepo seliro (tenggang rasa) bahwa bahan itu dibutuhkan oleh tenaga medis saat ini untuk menangani kasus pandemi Covid-19," kata dia.

Sedangkan untuk penjahitnya, ia mengakui akan menggandeng sejumlah UMKM penjahit yang ada di sekitar rumah sakit. Untuk biaya produksi pembuatan APD itu membutuhkan biaya antara Rp40.000 hingga Rp50.000 per potong

"Penjahit-penjahit ini pernah membuat baju-baju di Moewardi. Jadi sekaligus memberdayakan mereka," ucapnya.

Pemerintah klaim sudah kirim APD

Terkait dengan keselamatan petugas medis, Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah telah berupaya mencukupi APD.

"Kemarin sudah saya sampaikan, APD sudah kita distribusikan sebanyak 105.000," kata Jokowi (24/03).

Barang-barang itu, katanya, sudah dikirim ke sejumlah provinsi, seperti sebanyak 40.000 ke Jakarta dan 15.000 buah ke Jawa Barat.

"Saya ingin Dinkes provinsi secepatnya mendistribusikan ke RS yang membutuhkan," kata Jokowi.

apk

Sumber gambar, Antara foto

Keterangan gambar, Sejumlah guru membuat baju khusus untuk tenaga medis di SMK Negeri 5 Palu di Palu, Sulawesi Tengah, (23/03).

Ketua Satgas COVID-19 IDI, Zubairi Djoerban, mengatakan dokter dan petugas medis memang berisiko tinggi terpapar virus corona.

Bercermin dari Italia, sekitar 9% dari seluruh pasien Covid-19 adalah tenaga medis, kata Zubairi. Maka itu, ia mengatakan keberadaan APD mutlak.

"APD harus dilengkapi. Dan harus strict pada peraturan penanganan pasien. Nggak bisa tawar menawar. Pakai masker, gaun pelindung diri, penutup muka."

Zubairi mempertanyakan klaim pemerintah, yang mengatakan akan mendahulukan tenaga medis untuk mendapat rapid test. Hingga Selasa sore, menurut Zubairi, para tenaga medis belum dapat mengakses rapid test tersebut, padahal tes tersebut penting untuk mengetahui kondisi kesehatan para petugas medis.