Virus corona: Ijtima Jamaah Tabligh di Gowa dan penahbisan uskup di Ruteng, Presiden Jokowi evaluasi acara keagamaan di tengah wabah Covid-19

ijtima

Sumber gambar, Dokumen Ijtima Jamaah Tabligh

Keterangan gambar, Para peserta Ijtima Jamaah Tabligh se-Asia sudah berdatangan di di Gowa, Sulawesi Selatan.
Waktu membaca: 5 menit

Presiden Joko Widodo menyatakan akan mengevaluasi acara-acara keagamaan di tengah wabah virus corona.

"Kita harus mengevaluasi penyelenggaraan acara keagamaan yang melibatkan banyak orang," katanya dalam rapat terbatas laporan Tim Gugus Tugas Covid-19 di Istana Merdeka, Kamis (19/03).

Selain itu Jokowi juga memerintahkan tim Gugus Tugas untuk mengajak tokoh-tokoh agama dalam pencegahan penyebaran Covid-19.

"Saya minta juga Gugus Tugas untuk mengajak lembaga-lembaga keagamaan, tokoh-tokoh agama untuk bersama-sama, mencegah potensi penyebaran Covid-19 di kegiatan-kegiatan keagamaan," katanya.

Pernyataan Presiden Jokowi mengemuka setelah sejumlah orang mengikuti Ijtima Jamaah Tabligh se-Asia di Gowa, Sulawesi Selatan, serta penahbisan uskup di Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Di Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, orang-orang berkumpul dalam kegiatan penahbisan Mgr Siprianus Hormat sebagai Uskup Ruteng.

Juru bicara Pemprov NTT, Marius Jelamu, beralasan acara sudah dipersiapkan sejak tahun lalu sehingga tak mudah untuk dibatalkan.

"Acara ini sudah direncanakan sejak tahun lalu. Semenjak Vatikan mengumumkan terpilihnya Mgr Siprianus Hormat itu dan dijadwalkan sejak tahun lalu bahwa jatuh tanggal 19 Maret 2020," katanya kepada wartawan BBC News Indonesia, Muhammad Irham, melalui sambungan telepon, Kamis (19/03)

Marius menambahkan Pemprov NTT sebelumnya telah meminta panitia untuk melakukan kegiatan dengan 'penyederhanaan'.

"Dan itu mereka sederhanakan. Dari 7.000 umat yang biasanya direncanakan untuk menghadiri, tadi itu hanya 1.000, bahkan tidak sampai 1.000 yang menghadiri. Jadi sekaligus juga membantah berita ribuan," katanya.

Marius juga mengklaim lebih banyak jemaat lokal yang hadir dibandingkan undangan dari luar kota.

"Lalu undangannya itu palingan uskup dari seluruh Indonesia, ada 30-an [orang]... dan juga undangan lain dari Jakarta, dari Surabaya, dari Denpasar," katanya.

Mereka yang hadir dari luar kota, lanjut Marius, telah menjalani pemeriksaan suhu tubuh beberapa kali sampai hadir di lokasi acara.

corona

Sumber gambar, Antara/Andreas Fitri Atmoko

Keterangan gambar, Foto ilustrasi

Di tengah pandemi virus corona, ribuan orang berkumpul untuk mengikuti Ijtima Jamaah Tabligh se-Asia di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka mengatakan siap dipulangkan, tapi masih menunggu bantuan dari pemerintah.

Panitia pertemuan umat Muslim dunia zona Asia, Mustari Burhanuddin, mengklaim sekitar 10.000 orang telah hadir untuk mengikuti acara, yang sebelumnya dijadwalkan akan berlangsung pada 19-22 Maret 2020 itu.

Mustari mengatakan peserta itu datang dari kota-kota di Kalimantan, Surabaya, hingga Jakarta.

Ada sekitar 400 peserta WNA, yang telah datang dari Pakistan, Bangladesh, Thailand, India, Malaysia, hingga Arab Saudi, ujar Mustari.

Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, sebelumnya mengatakan acara itu sudah dibatalkan terkait dengan kekhawatiran menyebarnya virus corona, yang telah menewaskan setidaknya 19 orang di Indonesia.

Melalui pesan dalam akun Instagram, Nurdin menyebut "telah meminta pihak Kepolisian untuk mengisolasi atau membatasi ruang gerak para peserta agar tidak melakukan kontak dengan warga, selanjutnya kita akan mengantar mereka pulang ke pelabuhan dan bandara dengan pengamanan yang dibutuhkan."

Hentikan Instagram pesan
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati Instagram pesan

Presentational white space

Mengapa acara Ijtima tidak langsung dibatalkan?

Panitia pertemuan umat Muslim dunia zona Asia, Mustari Burhanuddin, mengatakan pemerintah daerah seminggu sebelumnya telah memberitahukan pelarangan acara dengan penekanan pada kedatangan peserta dari luar negeri, bukan peserta WNI.

Awalnya, panitia mengestimasi sekitar 1.000 peserta dari luar negeri.

Namun, sejumlah negara, kata Mustari, menerapkan lockdown, sehingga WNA yang datang 'hanya 400 orang', ujar Mustari.

Mereka, kata Mustari, telah datang 10 hari sebelum tanggal acara.

"Kalau sakit itu logikanya sudah sakit. Dan kami izinkan medis masuk, tidak ada kami tutupi," ujarnya.

Mustari mengatakan, saat itu pihaknya masih bernegosiasi tentang jalannya acara dengan pemerintah setempat.

"(Kami) masih nego-nego, orang sudah pada datang, sudah kumpul, dengan jadwal kapal mereka yang sudah beli tiketnya," ujarnya.

Ia mengatakan pihaknya akan mengikuti arahan pemerintah agar mereka tidak melanjutkan acara.

"Kita siap pulang, bukan kami tidak mengindahkan arahan pemerintah... Kalau ada pemerintah siapkan kapal, kan mereka akan langsung pulang ke daerah masing-masing," ujarnya.

"Kami terjebak dalam bencana. Jangan dikesankan kami tidak mengindahkan (arahan pemerintah). Nanti masyarakat benci kami. Kami ini dai-dai," ujarnya.

Berapa WNA yang menjadi peserta?

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Makassar, Andi Pallawarukka, menyebutkan bahwa jumlah warga negara asing (WNA) yang ada sampai saat ini sebanyak 474 orang.

Mereka terdiri dari 12 negara, yaitu Arab Saudi 14 orang; Bangladesh 24 orang; Brunei 1 orang; Filipina 2 orang; India 32 orang; Malaysia 84 orang; Pakistan 73 orang; Singapura 1 orang; Thailand 217 orang; Timor Leste 24 orang; Belanda dan Inggris masing-masing 1 orang.

"Mayoritas WNA masuk melalui jalur udara Bandara Soekarno Hatta kemudian menmpuh jalur laut masuk ke Makassar. Hanya dari Malaysia dan Thailand yang masuk lewat Bandara Sultan Hasanuddin," kata Andi Pallawarukka kepada wartawan di Makassar, Didit Hariyadi, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (19/03).

corona

Sumber gambar, Antara/ADENG BUSTOMI

Keterangan gambar, Foto ilustrasi doa bersama.

Apakah para peserta bisa segera dipulangkan?

Menurut Mustari, pemulangan para peserta tidak bisa langsung dilakukan.

"Sekarang bagaimana...problem-nya memulangkan. Pemulangan ini yang sulit karena faktor tiket, mereka kan banyak yang dari provinsi lain," ujar Mustari pada wartawan BBC News Indonesia Callistasia Wijaya.

Kini para peserta yang terlanjur datang masih berkumpul di lapangan pada Kamis (19/03) sambil menunggu pemulangan.

"Pada hari ini acara jalan di lapangan, salat berjamaah, bersifat ceramah saja, sambil menunggu (pemulangan)."

Mustari mengatakan acara itu sudah mendapat izin dua bulan sebelumnya, sebelum pemerintah gencar melakukan pelarangan perkumpulan masyarakat.

"Kami sudah keluarkan biaya miliaran untuk pemasangan tenda... itu semua kan pakai material," ujarnya.

Bagaimana rencana pemulangan?

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Makassar, Andi Pallawarukka, menyatakan para peserta ini harus dipulangkan mulai besok, namun yang menjadi kendala adalah tiket penerbangannya.

"Pemulangannya bertahap, kemungkinan mulai besok. Kita prioritaskan pemulangan WNA dulu," tutur Andi.

Secara terpisah, Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, mengatakan pemerintah yang akan menjembatani kepulangan para WNA dengan berkomunikasi dengan maskapai-maskapai penerbangan.

"Tiket pesawat atau kapal kita sesuaikan bagi peserta yang memang sudah memiliki, bagi yang tak punya tiket kita upayakan," ucap Nurdin kepada wartawan di Makassar, Didit Hariyadi, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Kamis (19/03).

Pemerintah Provinsi Sulsel, menurutnya, juga telah membicarakan dengan Kepolisian dan TNI untuk menyiapkan bus.

Melalui video yang dikirimkan ke BBC News Indonesia, Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan, telah meminta pihak panitia agar tidak membolehkan para peserta keluar dari lokasi ijtima.

"Jangan ada yang keluar. Biar mereka di dalam. Nanti kami yang siapkan kendaraan, kalau misalnya mereka mau pulang sesuai dengan tiket kepulangan masing-masing," kata Adnan kepada salah seorang panitia.

Saat ini sekitar 10 ribuan orang ditempatkan di Tenda Foreign Ijtima Dunia Zona Asia 2020 Kompleks Pesantren Darul Ulum, Desa Niranuang.

corona

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Foto ilustrasi doa bersama.

Bagaimana dengan penampungan sementara?

Selama para WNA menunggu kepulangan, Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Makassar, Andi Pallawarukka, mengatakan para WNA sudah diisolasi di lokasi sehingga tak ada yang keluar.

Panitia pertemuan umat Muslim dunia zona Asia, Mustari Burhanuddin, mengatakan saat ini WNA tengah diisolasi di tempat khusus yang telah disiapkan panitia pelaksana sehingga terpisah dengan masyarakat Indonesia.

"Pengawasan pun dilakukan oleh tenaga medis untuk memantau kesehatan mereka. Meskipun jemaah asing yang ada datang sudah ada di Indonesia sejak dua atau tiga bulan yang lalu," ucap Mustari.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, mengatakan pihaknya telah menyiapkan beberapa lokasi untuk peserta ijtima tersebut.

Di antaranya sejumlah hotel di Makassar untuk warga asing. Adapun untuk menampung warga di luar Sulawesi Selatan, pemda akan mendirikan tenda di Asrama Haji dan menyiapkan toilet umum.

"Kita juga koordinasi dengan pemerintah setempat untuk isolasi peserta selama 14 hari," kata dia.

Menurutnya, tim kesehatan telah diturunkan untuk melakukan pemeriksaan kepada semua peserta. Jika ada peserta yang suspect terjangkit corona, kata Nurdin, maka yang bersangkutan langsung diisolasi.

Hingga kini terdapat satu orang asal Nusa Tenggara Timur yang dirujuk ke Rumah Sakit Haji Makassar.

Nurdin memaparkan, peserta dari provinsi lain yang paling banyak datang ke Gowa adalah dari Kalimantan Timur sebanyak 1.322 orang.

"Kami sudah sampaikan kepada mereka kondisi sangat genting, dan kami bersama punya niat bagaimana mereda virus corona ini dengan cepat," tambahnya.

Acara serupa digelar di Masjid Jamek Sri Petaling, Malaysia, pada 27 Februari hingga 1 Maret.

Dihadiri sekitar 16.000 orang, termasuk 1.500 warga negara asing, acara tersebut belakangan menjadi wahana penularan virus corona.

Sebanyak 513 kasus positif Covid-19 diketahui muncul dari acara keagamaan itu. Sebanyak 12 di antara mereka merupakan warga negara Indonesia, menurut Kementerian Luar Negeri RI. Ke-12 WNI itu kini dirawat di rumah sakit di Malaysia.