Banjir Jakarta: Hujan deras terus guyur Jabodetabek hingga 7 Januari, BPPT akan gunakan teknologi modifikasi cuaca

Sumber gambar, Antara/MUHAMMAD IQBAL
Hujan deras yang mengguyur kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan masih akan berlangsung hingga 7 Januari mendatang.
Hal ini dipaparkan Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, dalam Rapat Koordinasi Banjir Jabodetabek di Kantor BNPB, Jakarta, Rabu (2/1).
"Potensi hujan lebat 2-7 Januari di Jabodetabek," kata Dwikorita.
Secara keseluruhan, Dwikorita mengatakan musim hujan akan mengalami peningkatan intensitas di bulan Januari.
"Februari puncaknya. Bisa berlanjut sampai akhir Maret,"paparnya.
- Banjir Jakarta: Kondisi ibu kota akan makin buruk tanpa anggaran memadai untuk atasi bencana
- Banjir Jakarta dan sekitarnya: Belasan meninggal, lebih dari 31.000 warga ibu kota mengungsi
- Banjir Jakarta dan sekitarnya dalam foto
- Banjir Jakarta: Tagar #AniesDimana hingga pertanyaan soal kelanjutan program naturalisasi sungai

Sumber gambar, Antara/GALIH PRADIPTA
Untuk mengantisipasi situasi tersebut, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyatakan siap membantu dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna mempercepat penurunan sekaligus rekayasa hujan agar intensitas hujan tidak terpusat pada 5 dan 6 Januari.
BPPT merencanakan akan menurunkan hujan ke Selat Sunda atau Lampung. Namun jika arah angin ke timur akan di turunkan ke waduk-waduk seperti Jatiluhur dan Jatigede.
Untuk membantu proses TMC tersebut, BPPT bersama BNPB dan TNI akan mengerahkan dua jenis unit pesawat yakni CN295 dan Casa.
Menanggapi itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melakukan upaya modifikasi awan hujan.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Hujan memecahkan rekor
Hujan yang mengguyur Jakarta pada 1 Januari 2020 tercatat memecahkan rekor sejak 1996, menurut Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati.
Curah hujan tertinggi pada 1 Januari tercatat berlokasi di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, yang mencapai 377 mm/hari.
BMKG juga mencatat intensitas hujan harian pada tahun-tahun ketika banjir besar melanda Jakarta.
- 1996: 216 mm/hari
- 2002: 168 mm/hari
- 2007: 340 mm/hari
- 2008: 250 mm/hari
- 2013: > 100m m/hari
- 2015: 277 mm/hari
- 2016: 100-150 mm/hari

Sumber gambar, BBC Indonesia
Korban hipotermia dan tersengat listrik
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Kamis (2/1) pukul 21.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir di wilayah Jabodetabek berjumlah 30 orang.
"Data tersebut dikumpulkan oleh BNPB dari pusat krisis Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, BPBD, TNI, Polri dan sumber lainnya," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB Agus Wibowo melalui keterangan tertulis.
Korban meninggal dunia terbanyak di Kabupaten Bogor yakni 11 orang, kemudian Jakarta Timur tujuh orang, Kota Bekasi dan Kota Depok masing-masing tiga orang.
Kemudian Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor dan Kota Tangerang masing-masing satu korban jiwa.
Terkait penyebabnya, 17 orang meninggal dunia akibat terseret arus banjir, lima tertimbun longsor, lima orang tersengat listrik, dan tiga orang mengalami hipotermia.

Sumber gambar, NurPhoto/Getty Images
Kerja sama pemerintah pusat dan daerah
Presiden Joko Widodo meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama-sama menangani banjir di Jakarta dan sekitarnya.
"Pemerintah pusat, pemprov, pemkab, pemkot, semuanya bekerja sama dalam menangani ini karena ada yang disebabkan oleh kerusakan ekosistem, kerusakan ekologi yang ada tapi juga ada yang memang karena kesalahan kita yang membuang sampah di mana-mana, banyak hal," ujar Jokowi kepada wartawan, Kamis (2/1).
"Tetapi saya ingin agar kerja sama itu dibangun pusat, provinsi, dan kabupaten/kota sehingga semuanya bisa tertangani dengan baik. Tapi yang paling penting pada saat kejadian seperti yang sekarang ini evakuasi korban banjir. Keselamatan keamanan masyarakat harus didahulukan," tutur Jokowi.

Sumber gambar, Antara/Suwandy
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan pengendalian banjir Jakarta harus dimulai dari wilayah selatan.
"Selama air dibiarkan dari selatan masuk ke Jakarta dan tidak ada pengendalian, maka apa pun yang kita lakukan di pesisir termasuk di Jakarta tidak akan bisa mengendalikan air," jelas Anies di Jakarta, Rabu (1/1).
Menurutnya, selama air mengalir begitu saja, walaupun dilakukan pelebaran sungai, maka volume air itu akan luar biasa banyak.
Pernyataan Anies dilontarkan menanggapi Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono terkait normalisasi Sungai Ciliwung.
"Namun, mohon maaf Bapak Gubernur (Anies), selama penyusuran kali Ciliwung ternyata sepanjang 33 kilometer itu yang sudah ditangani dinormalisasi 16 km. Di 16 km itu kita lihat Insya Allah aman dari luapan," kata dia.
Sementara, kata Basuki, sepanjang 17 kilometer sungai Ciliwung yang belum dinormalisasi masih terjadi luapan.










