Gempa Banten: "Belum pernah latihan evakuasi, saya spontan lari keluar rumah"

Sumber gambar, ANTARA FOTO/WELI AYU REJEKI
Kepanikan melanda penduduk Banten saat gempa berkekuatan 6,9 skala richter melanda wilayah mereka, Jumat kemarin. Minimnya pelatihan menghadapi gempa dan tsunami hanya memberi mereka satu jalan keluar: kabur dari rumah.
Ribuan orang kini mengungsi, baik di Banten maupun Lampung yang turut terdampak gempa. Namun sebagian penduduk memilih bertahan di rumah mereka yang masih berdiri usai digoyang lindu.
Sahroni mengaku belum pernah mendapat pelatihan menyelamatkan diri dalam situasi gempa bumi.
Pada gempa kemarin, warga Desa Panjang Jaya, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, ini tengah berada di dalam rumah bersama istri dan anaknya.
Sahroni berkata, lari keluar rumah adalah spontanitas yang mereka lakukan untuk menghindari ambrukan.
"Belum pernah ada pelatihan keselamatan sih. Dari pemda, BPBD, BNPB juga belum pernah," ujar Sahroni kepada wartawan Yandhi Delastama yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
"Gempa juga baru kali ini terjadi di sini. Saya refleks saja lari keluar rumah," tuturnya, Sabtu (03/08).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMAN
Hal serupa diutarakan warga Mandalawangi lainnya, Rusmiyati.
Saat sedang menonton televisi bersama anaknya, kata Rusmiyati, rumahnya bergetar. Mereka lantas dengan cepat lari keluar rumah.
Tidak satu pun anggota keluarga Rusmiyati terluka akibat gempa. Dari luar, keluarga itu melihat kamar di bagian depan rumah hancur.
"Pas sudah di luar, baru terasa kencang goncangannya. Saya kaget. Akhirnya semalam kami tidur di dapur rumah ibu yang rumahnya juga rusak," kata Rusmiyati.

Sumber gambar, Yandhi Delastama
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Munardo, menyebut gempa besar berpotensi terjadi di Selat Sunda.
Doni meminta warga tak khawatir berlebihan pada potensi gempa tersebut. Namun syaratnya, kata dia, adalah pelatihan tanggap darurat dan simulasi kebencanaan.
Menurut Doni, masyarakat di wilayah yang berpotensi gempa mesti mengubah kekhawatiran menjadi kewaspadaan.
"Inilah yang kita hadapi, gempa bisa terjadi kapan saja. Belum pernah ada teknologi yang belum mengetahui kapan waktu yang pasti," kata Doni di Desa Panjang Jaya, Mandalawangi, Pandeglang, Sabtu siang.
Menteri Sosial Agus Gumiwang mengatakan, tiga orang meninggal usai gempa terjadi di Banten. Merujuk data tertulis BNPB, satu korban meninggal merupakan warga Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak bernama Rasinah.
Perempuan berusia 48 tahun itu meninggal setelah mengalami serangan jantung. Penyebabnya diduga kuat akibat panik menghadapi gempa bumi.
Sementara itu, kata Agus Gumiwang seperti dilansir Detikcom, dua korban lainnya meninggal karena kelelahan berlari menghindari gempa dan potensi tsunami.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/ARDIANSYAH
Bupati Pandeglang, Irna Narulita, berjanji menerjunkan tim medis dari Dinas Kesehatan dan Palang Merah Indonesia untuk merawat korban luka. Ia berkata, penyembuhan trauma juga bakal menjadi fokus jajarannya.
Irna menuturkan, Pemkab Pandeglang bakal meminta bantuan anggaran ke pemerintah pusat dan Pemprov Banten untuk memperbaiki rumah warga yang rusak.
Lantaran APBD mereka terbatas hanya tersedia Rp 2,5 miliar untuk kebencanaan dan kejadian tak terduga.
"Taksiran kerugian belum kita hitung. Anggaran kami sudah tertutup, maka kami akan mohon bantuan pemerintah pusat dan Pemprov Banten," kata Irna.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/WELI AYU REJEKI
Dalam catatan BNPB, sekitar 200 rumah rusak setelah diguncang gempa, baik di Banten maupun Lampung.
Sebanyak 50 warga Kecamatan Sumur, Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, kini mengungsi di hunian sementara yang dibangun pemerintah untuk korban tsunami, Desember 2018.
Di Kecamatan Angsana yang lokasinya agak jauh dari laut, terdapat sekitar 700 warga asal Kecamatan Panimbang yang mengungsi.
"Warga enggan pulang. Mereka masih khawatir untuk pulang," kata Benny Madsira, Ketua Kampung Siaga Bencana Kecamatan Angsana.
Sementara itu, sejak Sabtu pagi tadi sebagian besar warga Desa Panjang Jaya, Mandalawangi, kembali ke rumah atau tinggal sementara di rumah tetangga dan keluarga.









