Gempa Banten dengan guncangan dirasakan di Jakarta, BMKG 'akhiri' peringatan tsunami

gempa
Keterangan gambar, Sebagian warga Jakarta memilih keluar gedung setelah gempa terjadi.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan peringatan tsunami menyusul gempa berkekuatan 7,4 pada Skala Richter yang selanjutnya dimutakhirkan menjadi 6,9 Skala Richter, telah "diakhiri", dua jam setelah gempa mengguncang Jumat (02/08).

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan menyusul gempa dengan episenter sekitar 164 kilometer barat daya Pandeglang, Banten, "Tidak terindikasi perubahan muka air laut yang signifikan, sehingga setelah kami tunggu dua jam setelah perkiraan akhir gelombang tsunami datang, pada puku 21:35 WIB, maka peringatan tsunami diakhiri, bukan dicabut."

Dwikorita juga mengatakan "BMKG belum mencatat adanya gempa susulan sampai pukul 21:35 WIB."

Kedalaman gempa disebutkan pada 48 kilometer dan sebelumnya disebutkan BMKG 10 kilometer.

Guncangan gempa menyebabkan warga di gedung-gedung tinggi Jakarta panik dan berhamburan keluar.

Sebelumnya, BMKG mengatakan potensi tsunami terjadi di wilayah pesisir Lampung, Pandeglang, serta Bengkulu dan meminta "masyarakat menjauhi pantai dan tepian sungai."

Sejumlah laporan menyebutkan, akibat gempa itu, masyarakat di wilayah Banten, Jakarta, serta Bandung dan Lampung merasakan guncangannya.

Turun dari gedung tinggi di Jakarta

Warga berhamburan turun dari gedung tinggi Jakarta.
Keterangan gambar, Warga berhamburan turun dari gedung tinggi Jakarta.

Tatin, yang berusia 54 tahun, warga Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengaku merasakan guncangan gempa tersebut.

"Saya sedang duduk di ruang tamu, menunggu salat Isya ketika merasakan goyangan," kata Tatin saat dihubungi BBC News Indonesia.

"Awalnya saya pikir kepala saya pusing karena kolesterol, tapi kemudian saya melihat lampu gantung bergoyang," tambahnya.

Dia kemudian memilih segera keluar rumah. "Para tetangga juga keluar rumah, banyak dari mereka masih pakai mukena, kayaknya lagi nunggu salat Isya juga."

gempa

Sumber gambar, Narasi.Tv/Dwi Prasetya

Keterangan gambar, Karyawan berada diluar gedung perkantoran sesaat setelah terjadi gempa di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (02/08/2019).

Sementara, Nunun, warga Cimahi, mengatakan: "Gempa. Banyak yang keluar rumah. Kirain gempanya di Bandung soalnya kenceng banget."

Getaran gempa sangat terasa di Jakarta, cerita sejumlah warga yang masih berada di kantor saat gempa terjadi.

"Gelas di meja kantor jatuh, guncangan kencang sekali dan kami panik turun...Karyawan banyak yang menuju bahu jalan di tengah karena khawatir terjadi sesuatu dengan gedung," kata Yanny Meutia, karyawan di kawasan Sudirman, Jakarta.

Kantor gubernur Lampung penuh orang

Warga di seputar kantor Gubernur Lampung.

Sumber gambar, Robert/Suara Wajar Bandar Lampung

Keterangan gambar, Warga di seputar kantor Gubernur Lampung.

Di Bandar Lampung, kantor gubernur penuh dengan orang yang menyelamatkan diri setelah gempa mengguncang, lapor Robert, wartawan Radio Suara Wajar, Bandar Lampung.

Banyak yang berlari keluar rumah, termasuk yang tinggal di kawasan Teluk Betung.

Di satu perumahan di Lampung Selatan, warga juga berhamburan keluar begitu gempa mengguncang, kata Robert.

gempa

Sumber gambar, WAHYU PUTRO A/ANTARA FOTO

Keterangan gambar, Karyawan menuruni tangga gedung sesaat setelah terjadi gempa di salahsatu gedung perkantoran Sudirman, Jakarta, Jumat (02/08).

"Gempa sangat terasa sekali, kirain cuma saya saja yang pusing, pintunya goyang-goyang, jendela, kacanya goyang-goyang, orang perumahan keluar semua. Dan aku tanya teman-teman lainnya memang benar mereka merasakan hal yang sama, lindu," kata Anna Yulia Ningsih, warga di Desa Karang Anyar, Lampung Selatan.

Gempa juga dirasakan Herman Haryanto warga Kecamatan Wonosobo, Tanggamus yang menurutnya "kuat terasa."

Tahun lalu gempa dengan kekuatan 7,5 pada Skala Richter yang menimbulkan tsunami melanda Palu dengan korban lebih dari 2.200 orang dan sekitar 1.000 lainnya dinyatakan hilang.

Pada 26 Desember 2004, gempa 9,1 Skala Richter yang menyebabkan tsunami di lepas pantai Sumatra menyebabkan 220.000 orang meninggal, termasuk 170.000 orang di Aceh.