TGPF: 'Serangan ke Novel Baswedan untuk membuat korban menderita'

Sumber gambar, Antara
Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian menemukan fakta bahwa ada enam kasus yang berpotensi menimbulkan serangan air keras ke wajah penyidik KPK, Novel Baswedan.
Juru bicara TGPF kasus Novel, Nur Kholis, mengatakan serangan tidak terkait dengan masalah pribadi, tapi diyakini karena pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.
"Serangan wajah korban bukan untuk membunuh tapi membuat korban menderita. Motifnya sakit hati atau balasan," kata Nur Kholis dalam keterangan pers di Mabes Polri, Rabu (17/07) sebagaimana dilaporkan Muhammad Irham untuk BBC News Indonesia.
Enam kasus itu, menurut Nur Kholis, mencakup:
- Kasus korupsi e-KTP
- Kasus korupsi mantan ketua MK, Akil Mochtar
- Kasus korupsi Sekjen Mahkamah Agung
- Kasus korupsi Bupati Buol
- Kasus korupsi wisma atlet
- Kasus kriminal sarang burung walet di Bengkulu.
"Kasus yang ditangani ini melibatkan high profile. Kami menduga orang-orang yang dimaksud tidak melakukan sendiri, tapi menyuruh orang lain," kata Nur Kholis.

Ditambahkan Nur Kholis, TGPF merekomendasikan kepada Kapolri untuk mendalami fakta keberadaan satu orang tidak dikenal yang mendatangi rumah Novel Baswedan pada 5 April 2017 dan dua orang tak dikenal yang berada di tepat wudu Masjid Al Ihsan mejelang subuh tanggal 10 April 2017 dengan membentuk tim teknis dengan kemampuan spesifik.
Menanggapi rekomendasi tersebut, Kadiv Humas Polri, M Iqbal, mengatakan institusinya akan membentuk tim teknis lapangan.
"Tim teknis lapangan akan segera dibentuk, dipimpin oleh bapak Kabareskrim akan segera menunjuk seluruh personel dalam tim dengan kapasitas terbaik, yang dididik untuk melakukan scientific investigasi," kata M Iqbal.
Kenapa pelaku tidak diungkap?
Iqbal mengatakan hal yang sulit dari kasus Novel Baswedan adalah keterbatasan alat bukti. Dalam pengusutan kasus ini, kepolisian telah memeriksa 74 saksi dan memeriksa 114 toko kimia.

Sumber gambar, Antara/MUHAMMAD ADIMAJA
Selain itu, sebanyak 38 CCTV telah diperiksa serta melibatkan kepolisian dari Australia.
"Bahkan juga melibatkan tim eksternal asistensi dari KPK," kata Iqbal.
Ia mencontohkan sejumlah kasus di mana kepolisian membutuhkan waktu lama dalam mengungkap pelakunya.
Salah satunya adalah kasus bom Kedubes Filipina pada 2000. Kepolisian baru bias mengungkap eksekutornya pada 2003, dan pada 2008 mengungkap tokoh intelektualnya.
"Sabarlah, ini masalah waktu. Jangan membawa kasus ini kepada asumsi opini dan lain-lain," kata Iqbal.
Hal serupa diungkapkan Anggota TGPF, Hendardi.
Selama enam bulan mengusut kasus ini, timnya belum bisa mengungkap pelakunya. "Ini bukan pembenaran atau apa, memang setiap kasus memiliki karakter dan tingkat kesulitannya masing-masing," katanya.
Hendardi mengatakan, proses pencarian fakta oleh TGPF berangkat dari hasil penyelidikan polisi. TGPF, kata dia, mengurai kembali alibi para saksi dalam kasus ini.

Sumber gambar, Antara
"Kami mulai dari prinsip tidak mempercayai alibi yang ada. Dan kami melakukan penyelidikan ulang, interview ulang, reka ulang TKP, kemudian pengembangan saksi-saksi," katanya.
Dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia saat TGPF mulai dibentuk, Novel Baswedan mengutarakan keraguan kebenaran kasusnya akan terungkap.
"Yang pertama, saya melihat bahwa (tim gabungan ini) tidak ada sesuatu hal yang berbeda dengan keadaan sebelumnya. Sehingga saya masih tidak percaya bahwa (kasus) ini akan diungkap dengan benar," kata Novel.
Novel melanjutkan, "Belakangan setelah proses ini, saya memahaminya bahwa ini adalah sesuatu yang tidak ingin diungkap dengan tuntas. Saya melihat seperti tidak serius menangkap pelakunya. Itu yang saya tanyakan."
TGPF terdiri 65 orang yang antara lain terdiri dari mantan wakil pimpinan KPK dan guru besar hukum pidana Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, peneliti LIPI Hermawan Sulistyo, Ketua Setara Institut, Hendardi, Komisioner Kompolnas Poengky Indarti, mantan Komisioner Komnas HAM, Nur Kholis dan Ifdhal Kasim.
Novel Baswedan disiram air keras oleh beberapa orang tak dikenal pada 11 April 2017 dan sampai sekarang tidak terungkap siapa pelaku penyerangan maupun aktor di belakangnya.










