Dibekukan ITB, unit kemahasiswaan HATI membantah 'disetir' HTI: 'Silakan baca AD/ART kami'

Sumber gambar, AFP/JEWEL SAMAD
- Penulis, Pijar Anugerah dan Heyder Affan
- Peranan, BBC News Indonesia
Pimpinan sebuah unit kemahasiswaan kajian keislaman di lingkungan ITB, HATI, mempertanyakan alasan pembekuan organisasinya oleh Rektorat ITB karena dianggap berafiliasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Menurut ketua Harmoni Amal Titian Ilmu (HATI), Priagung Satyagama, rektorat ITB tidak dapat membuktikan bahwa keberadaan mereka terkait dengan ormas HTI yang sudah dibubarkan oleh pemerintah karena dianggap anti-Pancasila.
"Tidak ada organisasi lain yang menyetir kami... Silakan baca AD/ART kami," kata Priagung Satyagama, saat dihubungi BBC Indonesia melalui sambungan telepon, Jumat (08/06) pagi.
Priagung mengatakan HATI sudah dibekukan sejak Februari lalu, tetapi menurutnya, otoritas ITB tidak pernah memberikan alasan resminya.

Sumber gambar, Unit Kajian Islam ITB/Facebook
"Mereka bilang ada 'tekanan dari luar', tapi mereka tidak menjelaskan tekanan dari luar itu seperti apa," kata Priagung. Karenanya, dia menganggap alasan pembekuan itu "tidak jelas".
'Berulang kali undang tokoh HTI'
Sementara, pimpinan ITB mengatakan, mereka memiliki alasan kuat di balik keputusan pembekuan unit kemahasiswan tersebut.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Bermawi Priyatna Iskandar mengatakan, organisasi tersebut telah berulang kali mengundang tokoh-tokoh HTI dalam diskusi mereka.
"Lalu dari tulisan-tulisan mereka, hasil-hasil diskusi mereka nanti ujung-ujungnya itu sistem khilafah, yang bukan sistem berbasis empat pilar kebangsaan," ujarnya kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, AFP
Bermawi menegaskan, organisasi kemahasiswaan di ITB tidak boleh berafiliasi dengan Ormas ataupun partai politik.
Menurutnya, pembekuan HATI berarti registrasi ulang status keorganisasiannya ditolak pada tahun ajaran baru ini.
Organisasi mahasiswa itu diberi waktu satu tahun untuk registrasi ulang. Selama periode itu, rektorat mengatakan akan melakukan "pendekatan persuasif", kata Bermawi.
"Mudah-mudahan ada perubahan yang konstruktif dari HATI dalam satu tahun," kata Bermawi.

Sumber gambar, EPA
Priagung membenarkan bahwa pihaknya tidak bisa melakukan registrasi ulang, tidak mendapat guyuran dana kemahasiswan, serta dilarang meminjam ruangan di lingkungan ITB, sejak dibekukan.
Tetapi, menurut mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB angkatan 2016 ini, HATI tetap dapat menggelar kegiatan seperti biasanya.
"Kita tidak dibubarkan, hanya dibekukan," kata mahasiswa berusia 18 tahun itu.
ITB: Hubungan Hati dan HTI tidak pernah ditunjukan secara tertulis
Tentang tuduhan bahwa ITB tidak memiliki bukti kaitan antara HATI dan HTI, Bermawi mengatakan hubungan itu tidak ditunjukkan secara tertulis.
Ia menjadikan kesaksian seorang anggota HATI yang dimuat dalam laporan Majalah Tempo Edisi 27 Mei 2018, "Terengah Menangkal yang Radikal" sebagai salah satu bukti kaitan unit tersebut dengan HTI.
Dalam laporan itu, seorang anggota HATI disebut menceritakan bahwa ia diajarkan para seniornya untuk menjadi seorang Muslim yang kaffah (menyeluruh) dengan merujuk pada 13 buku pedoman yang diterbitkan HTI.

Sumber gambar, Muklis Dinillah/detikcom
Bermawi mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan pendekatan kepada 59 mahasiswa anggota HATI secara individu.
"Kami akan cari waktu yang tepat nanti [untuk] duduk bersama, tukar pikiran. Kalau mereka melakukan diskusi, studi yang mengarah pada satu pemikiran yang bertentangan dengan ideologi negara Indonesia tentunya kami ingatkan."
'Islam merupakan solusi hidup'
Ditanya apa tujuan pendirian HATI, Priagung mengatakan bahwa organisasinya "mengopinikan ke massa kampus bahwa Islam merupakan solusi dari segala permasalahan kehidupan".
Dengan kata lain, menurutnya, Islam merupakan ideologi, "Sebagai orang yang beragama Islam, memang seharusnya kita menjadikan Islam itu sebagai landasan perbuatan kita."

Sumber gambar, BBC News Indonesia
"Jadi standar benar-salahnya itu harus Islam. Tidak hanya masalah ritual (ibadah)saja. Segala hal itu diatur dalam Islam, termasuk konsep dalam bernegara," katanya.
Priagung mempertanyakan sebagian pihak yang memasalahkan sikap mereka yang menjadikan Islam sebagai ideologi. "Toh kita hanya mengkaji dan berdiskusi saja," kilahnya.
Lagi pula, lanjutnya, kajian yang mereka lakukan terbuka untuk umum. "Siapapun boleh ikut, tidak ada doktrinasi. Dan kesimpulan dari kajian itu merupakan kesepakatan bersama."
Ditanya mengapa HATI menolak keberadaan Pancasila, Priagung berkata: "Oh, Pancasila itu sudah disetujui bahwa Pancasila sejalan dengan Islam. Substansi dari Pancasila sesuai dengan ajaran Islam."
Sementara itu, ketika ditanya kenapa ITB tidak menjaga kebebasan mahasiswanya dalam berpikir dan berdiskusi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Bermawi Priyatna Iskandar menjawab bahwa yang menjadi masalah ialah HATI aktif menyebarkan pemikiran mereka dengan posting di media sosial.
"Jadi di dalam kampus ITB sangat bebas mereka melakukan diskusi apapun, selama itu tidak dipublikasi," tuturnya.









