Tanah Abang, kesemrawutan berjarak tiga kilometer dari Balai Kota Jakarta

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Abraham Utama
- Peranan, BBC Indonesia
Lalu lintas di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, menunjukkan wajah lamanya: padat merayap, tersendat, bahkan macet total pada jam pulang kantor.
Bus Mayasari Bakti dan mikrolet Kopami Jaya terlihat berhenti bermenit-menit di bibir jalan, menunggu penumpang tanpa perduli bahwa mereka menyebabkan arus kendaraan terhenti lalu mengular dari maupun menuju ke Tanah Abang.
Pada masa pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, jalanan di salah satu pasar tekstil yang juga terkenal di kawasan Asia Tenggara ini sempat ditertibkan hingga lalu lintas berjalan lancar.
Situasi yang terlihat berbeda, paling tidak pada Jumat (27/10) siang, walau jelas ada usaha untuk menertibkan lalu lintas dengan pengerahan satu hingga tiga pegawai Dinas Perhubungan DKI Jakarta di setiap 300 meter, yang tampaknya kewalahan menghadapi lalu lintas yang semrawut.
Beberapa satpam Pasar Tanah Abang turut membantu mengurai kemacetan, sambil mengatur arus ke luar kendaraan dari pusat grosir tekstil tersebut.
Sementara, setiap pedagang tampak berlomba mengisi setiap jengkal lahan di kawasan jual-beli tekstil itu walau dagangannya tak selalu berkaitan dengan tekstil.
Di depan gedung Pasar Tanah Abang, misalnya, para penjaja kuliner jalanan yang menduduki jalur pedestrian menawarkan gorengan, beragam kue basah, dan buah-buahan, atau bahkan mi ayam untuk dimakan di tempat dengan kursi dan meja yang disediakan.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Jalur pejalan kaki di sekitar Tanah Abang itu baru saja diperlebar setelah Pemprov DKI merevitalisasi trotoar Tanah Abang agar sebanding dengan pedestrian di kawasan Sudirman dan Thamrin.
Di trotoar yang sama, pedagang kaki lima lainnya menawarkan berbagai jenis pakaian. Di bawah tenda atau payung besar yang mereka dirikan, pakaian-pakaian itu digantung.
Selebihnya adalah para penjaja onderdil motor, patung, keset, hingga telepon genggam dengan menggelar terpal atau plastik besar sebagai etalase.
Sebelumnya, pada awal hingga tengah pekan, situasi Tanah Abang sebenarnya lebih semrawut, seperti dilaporkan berbagai media. Namun setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan rapat dengan jajarannya termasuk perwakilan Satpol PP, Rabu lalu, hiruk-pikuk itu terlihat sedikit mereda.
Jumat siang, misalnya, di sepanjang Jalan Jatibaru terdapat aparat Satpol PP yang bersiaga, meski mereka lebih sering tampak berbincang satu sama lain atau memainkan ponsel dibandingkan menertibkan pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Hampir setiap pemimpin DKI selalu mendapat pertanyaan seputar kebijakan mereka melancarkan lalu lintas dan membersihkan jalur pejalan kaki di Tanah Abang, termasuk Anies Baswedan yang baru 10 hari dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta.
"Nanti saya cek di lapangan dulu karena fotonya kok sama dengan yang di bulan Mei dan kemarin rasanya agak unik," kata Anies, Rabu lalu, saat pers menyebut Tanah Abang semakin semrawut.
Tanah Abang bisa jadi merupakan tantangan Anies, yang pada masa kampanye pilkada berjanji akan menata ibu kota tanpa penggusuran.
"Harus ada mekanisme pengelolaan yang baik, sehingga semuanya bisa merasa diuntungkan," ujar Anies menutup jawabannya.

Sumber gambar, DARREN WHITESIDE/AFP
Kondisi Tanah Abang sebenarnya tidak berbeda berbagai pasar lain di Jakarta, seperti Kramat Jati, Jatinegara atau Pasar Minggu. Bedanya, Tanah Abang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari Balai Kota.
Bagaimanapun Wakil Ketua DPRD DKI, Abraham Lunggana alias Lulung -yang disebut situs jakarta.go.id yang dikelola Pemprov sebagai tokoh Tanah Abang- menilai bahwa kesemrawutan Tanah Abang merupakan berita bohong.
Mungkin untuk menegaskan pendapatnya itu, dia menerbitkan satu foto tentang kosongnya jalanan dan beberapa dengan lalu lintas yang mengalir lancar di sekitar kantornya, yang berplang H. Lulung, Fendrik & Rekan, sekitar 500 meter dari Pasar Tanah Abang Blok A.

Sumber gambar, TWITTER
Adapun, Wakil Gubernur DKI, Sandiaga Uno, berwacana meniru cara Joko Widodo menertibkan Tanah Abang. Usai bertemu eks gubernur Jakarta itu di Istana Negara, Kamis (26/10) kemarin.
Sandiaga mengatakan akan berbicara dengan para PKL Tanah Abang di atas meja makan, "Pak Jokowi ceritakan ke kami, bagaimana diplomasi makan (siang), tadi saya sudah ngomong sama Bu Santosa perwakilannya (pedagang)."

Sumber gambar, BAY ISMOYO/AFP
Setiap gubernur memiliki cara berbeda menuntaskan kesemrawutan Tanah Abang, daerah yang merujuk situs Kementerian Keuangan menjadi tempat perputaran uang hingga mencapai triliunan rupiah per bulan pada tahun 2015 lalu.
Yang jelas -dalam pelbagai pernyataannya kepada pers- Anies berjanji tidak akan menggunakan metode penggusuran yang dijalankan pendahulunya Basuki Tjahaja Purnama maupun Djarot Saiful Hidayat.









