Longsor Ponorogo: Terhambat cuaca, 26 orang belum ditemukan

Sumber gambar, BNPB
Sebanyak 26 korban longsor di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, belum ditemukan hingga Senin (03/04) pagi.
Untuk menemukan mereka, aparat terus menggencarkan operasi pencarian.
"Ada tujuh alat berat dan dibagi tiga sektor. Sektor A kedalaman 17-20 meter yang ditangani oleh Basarnas, Sektor B oleh TNI, dan Sektor C oleh Polri. Pencarian korban akan terus dilakukan" ucap Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Willem Rampangilei.
Upaya pencarian korban banyak terganggu oleh hujan yang masih sering turun di lokasi longsor
Sejauh ini tim pencari berhasil menemukan dua korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Selain mencari para korban, aparat berupaya merelokasi penduduk di sekitar lokasi longsor.

Sumber gambar, BNPB
Sebanyak 300 orang mengungsi di rumah kepala desa dan menumpang di rumah sanak saudara terdekat yang aman dari longsor.
"Bersama pemerintah daerah setempat, kami telah meminta untuk menyediakan segera tempat relokasi penduduk. Bupati telah menyetujui usulan masyarakat untuk membangun di lokasi ladang mereka. Namun akan kami kaji lebih dahulu daerah tersebut aman atau tidak dari potensi bencana" kata Willem.
Willem menjelaskan, pengungsi masih memerlukan berbagai bantuan, khususnya kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, selimut, air bersih, dan sanitasi. Saat ini, BNPB telah memberikan Dana Siap Pakai sebesar Rp500 juta untuk penanganan darurat bencana tanah longsor di Kabupaten Ponorogo.

Sumber gambar, BNPB
Longsor terjadi Sabtu (1/3) ditandai oleh bunyi gemuruh pada pukul 07.30 WIB, menyusul hujan lebat sehari sebelumnya. Pada pukul 08.00 WIB, terdengar suara gemuruh dan longsoran tanah menerjang 23 rumah penduduk dan ladang masyarakat dengan jumlah korban jiwa sekitar 50 orang.
Panjangnya longsor yang terjadi dari mahkota longsor ke daerah hilir, mencapai 1,5 Km.
Menurut Rektor Universitas Gajah Mada, Dwikorita Karnawati, struktur geologi di sekitar tempat kejadian berupa patahan.
"Perbedaan morfologi menyebabkan aliran longsor berbelok sehingga cukup jauh dampak dari longsor" ucapnya.

Sumber gambar, BNPB
Longsor adalah salah satu bencana yang paling sering terjadi sepanjang 2016. Data BNPB menunjukkan longsor terjadi sebanyak 612 kali tahun lalu.
Pada Juni 2016, misalnya, longsor berlangsung di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sehingga menyebabkan puluhan orang meninggal dunia.
Sebanyak 274 daerah kabupaten dan kota di Indonesia berada di daerah rawan longsor yang tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatera, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua









