'Tidak ada peringatan dini' dalam banjir di Garut

Sumber gambar, AFP Getty
- Penulis, Isyana Artharini
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Selain menyebabkan korban jiwa 33 orang dan 20 lainnya masih hilang, banjir dan longsor di Garut, Jawa Barat, pekan lalu, juga melumpukan rumah sakit umum daerah, sekolah, serta menghancurkan rumah hampir 200 keluarga.
Meski begitu, sebagian warga yang sebelumnya mengungsi kini sudah meninggalkan lokasi penampungan sementara, seperti dilaporkan wartawan RRI, Irwan Rudiawan, untuk BBC Indonesia.
"Sebetulnya sudah ada larangan dari pemerintah bahwa korban yang tinggal di pengungsian tidak boleh dulu pulang sampai masa tanggap darurat habis, yaitu 14 hari ke depan, tapi memang banyak warga yang memaksa untuk kembali ke rumahnya," kata Irwan.
- <link type="page"><caption> Banjir bandang Garut: Mimin naik tiga atap rumah untuk hindari air bah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/09/160923_indonesia_garut_" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Pencarian korban banjir Garut diteruskan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2016/09/160922_galeri_garut" platform="highweb"/></link>
Tercatat sekitar 750 orang yang sempat mengungsi ke Markas Komando Resort Militer 062 Tarumanagara, namun kini hanya tinggal 75 orang saja.
Sebagian dari pengungsi yang meninggalkan tempat penampungan sudah kembali langsung ke lokasi rumah mereka sebelum tersapu banjir bandang namun sebagian tinggal bersama kerabat.
Masalah tata kota
Banyaknya korban yang berasal dari hunian di sempadan sungai menjadi sorotan kelompok peduli lingkungan WALHI
Direktur WALHI Jawa Barat, Deden Ramdan, menilai tata kota menjadi salah satu faktor yang turut memperparah bencana banjir Garut ini, selain juga wilayah Garut yang berupa cekungan dan mendapat aliran air dari 35 anak sungai.
"Kita lihat daerah tangkapan air sudah rusak, ada permukiman, sarana wisata, pertanian, di wilayah Kota Garutnya, tata kotanya buruk, perumahan dan sarana komersil dekat dengan sempadan sungai, kemudian turun ke hilir ada Bendungan Copong, berada 3km dari area yang terdampak paling parah, yaitu Kampung Cimacan, Desa Haurpanggung," kata Deden.

Sumber gambar, Antara Reuters
Deden menambahkan ditutup atau tidaknya bendungan akan mempengaruhi arus air Sungai Cimanuk.
"Air dibendung di sini, akan balik ke arah hulu, genangannya bertambah, kemudian (air) yang dari atas datang, (air) beradu, dan luapannya semakin parah," kata Deden lagi.
Sistem peringatan dini
Sementara juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, mengangkat masalah minimnya sistem peringatan di DAS Cimanuk yang memperparah dampak bencana.
"Sistem peringatan dini di Cimanuk belum serapat seperti yang ada di DAS Citarum-DKI Jakarta, pemetaan detil juga masih skala kecil sehingga untuk memberikan peringatan cukup sulit. Kemarin memang masyarakat, ketika terjadi banjir bandang, tidak ada semacam peringatan dini seperti halnya sungai yang di Ciliwung," kata Sutopo.
"Ketika di hulu (Ciliwung) siaga 1, artinya ada potensi banjir, maka 11 jam kemudian wilayah Jakarta akan banjir, maka masih bisa mengevakuasi. Di Garut kemarin sangat cepat sekali, selain curah hujannya lebat sekali, dan antara Garut dengan hulu (jaraknya) sangat pendek. Garut termasuk hulu."
Banjir bandang dan longsor yang terjadi di Garut Selasa pekan lalu dipicu hujan deras dan curah hujan tinggi sehingga menyebabkan debit Sungai Cimanuk dan Sungai Cikamuri naik secara cepat.
BNPB juga melaporkan longsor terjadi lagi di Banjarnegara, Jawa Tengah, dan mengenai rumah berisi sembilan orang serta menewaskan satu orang.









