Uzbekistan hadapi masalah suksesi sepeninggal Presiden Karimov

Islam Karimov memerintah di Uzbekistan sejak 1989, sebagai pemimpin Partai Komunis di negara itu ketika masih bergabung dalam Uni Soviet.
Setahun kemudian dia menjadi presiden, jabatan yang terus menerus dipegang hingga akhir hayatnya.
Sebuah referendum tahun 1996 memperpanjang masa jabatannya hingga tahun 2000 dan pemilihan presiden pada tahun itu juga dimenangkannya tanpa ada perlawanan.
- <link type="page"><caption> Presiden Uzbekistan, Islam Karimov, meninggal dunia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160902_dunia_uzbekistan_karimov_wafat" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Presiden Uzbekistan, Islam Karimov, sakit keras</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160902_dunia_uzbekistan_karimov" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> EgyptAir mendarat di Uzbekistan karena 'ancaman bom'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/06/160608_dunia_egyptair_bom" platform="highweb"/></link>

Tahun 2022 digelar lagi referendum yang menambah lagi jabatannya sampai tahun 2007.
Setelah itu, dia lagi-lagi menang dalam dua pemilihan presiden -Desember 2007 dan Maret 2015- yang disebut pihak oposisi sebagai penipuan.
Di bawah kepemimpinannya, semua bentuk oposisi dibungkamnya dengan alasan 'bahaya atas militansi Islam' sekaligus menjadi pembenaran atas penindasan hak-hak sipil di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam itu.
Para pegiat hak asasi manusia menuduh pemerintahan Karimov sebagai salah satu yang paling represif di dunia. Ribuan penentangnya pun dihukum penjara sementara penyiksaan terjadi secara meluas.

Sumber gambar, AP
Dalam beberapa tahun belakangan, muncul pertanyaan tentang suksesi kepemimpinan dan putri tertuanya, Gulnara Karimova, awalnya sering disebut-sebut sebagai calon penerusnya.
Akan tetapi, pertarungan kekuasaan pada akhir 2013, dipadu dengan beberapa penyelidikan pencucian uang di luar negeri, membuat Karimova dikenakan status tahanan rumah.
Setahun kemudian, jaksa mendakwa Karimova, yang merupakan salah seorang pengusaha dan politisi yang amat berpengaruh di Uzbekistan, terlibat jaringan kejahatan yang mencuri aset senilai US$65 juta atau sekitar Rp660 miliar.

Sumber gambar, Reuters
Masa depan putri tertua Karimov tersebut hancur karena, menurut sejumlah laporan, dia bertengkar dengan ibu dan adik perempuannya, ditambah lagi karena persaingan dengan kepala dinas rahasia Uzbekistan yang berpengaruh, Rustem Inoyatov.
Dengan wafatnya Karimov, suksesi agaknya jelas menjadi salah satu masalah yang akan membayang-bayangi politik Uzbekistan, setelah 27 tahun lebih berada di bawah tangan satu orang.

Sumber gambar, AP
Wartawan BBC di Moskow, Sarah Rainsford, mengatakan Islam Karimov tidak pernah menyebut siapa sosok penggantinya. Pada era Uni Soviet, figur yang mengatur pemakaman pemimpin terdahulu biasanya yang akan meneruskan kepemimpinan.
Nah, upacara pemakaman Karimov pada Sabtu (3/9) akan diatur oleh Perdana Menteri Shavkat Mirziyoyev sehingga dia disebut sebagai calon kuat presiden Uzbekistan selanjutnya.
Akan tetapi, apakah Mirziyoyev akan tampil sebagai presiden saat hampir semua pemimpin oposisi mengasingkan diri ke luar negeri? Jawaban atas pertanyaan itu masih harus ditunggu.









