Mantan Presiden Gloria Arroyo dibebaskan

Gloria Macapagal Arroyo

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Walau ditahan Gloria Macapagal Arroyo terpilih kembali sebagai anggota Kongres pada Mei lalu.

Mahkamah Agung Filipina membebaskan mantan Presiden Gloria Macapagal Arroyo dari dakwaan 'menjarah' dan memerintahkan pembebasannya dengan segera.

Arroyo menghabiskan hampir lima tahun di rumah sakit yang menjadi tempat tahanannya setelah dituduh menyalahgunakan 366 juta peso atau sekitar Rp100 miliar dana lotre yang sedianya ditujukan untuk yayasan-yayasan sosial.

Juru bicara Mahkamah Agung, Theodore Te, mengatakan kepada para wartawan bahwa dakwaan dicabut karena 'bukti-bukti yang tidak cukup'.

  • <link type="page"><caption> Rodrigo Duterte menyatakan menang pilpres Filipina </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160509_dunia_pemilu_filipina" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Presiden terpilih Filipina ingin terapkan lagi hukum gantung</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160515_dunia_filipina_duterte" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Mantan Presiden Filipina Gloria Arroyo bebas dengan jaminan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2012/07/120725_arroyo_bail" platform="highweb"/></link>

Walau berada dalam tahanan, Arroyo, tetapi terpilih kembali sebagai anggota Kongres dalam pemilihan umum Mei lalu.

Presiden Duterte
Keterangan gambar, Presiden Duterte melibatkan beberapa politikus yang dekat dengan Arroyo dalam kabinetnya.

Perempuan berusia 69 tahun itu ditangkap tahun 2011 -setelah menjabat sebagai presiden selama sembilan tahun- dengan tuduhan melakukan kecurangan dalam pemilu namun dibebaskan dengan jaminan.

Beberapa bulan kemudian dia ditangkap kembali dengan dakwaan korupsi dan ditahan di rumah sakit karena mengaku menderita gangguan leher serta punggung sehingga harus menggunakan kursi dorong.

Presiden yang baru, Rodrigo Duterte, sebelumnya mengatakan kasus atas Arroyo lemah dan menawarkan pengampunan namun ditolak Arroyo dengan alasan memilih untuk melawan tuduhan tersebut.

Beberapa politikus yang dekat dengan Arroyo masuk dalam kabinet pimpinan Presiden Duterte, antara lain penasehat keamanan nasional dan untuk perundingan damai dengan kelompok pemberontak.