Cina dan AS kerjasama tangani uji coba nuklir Korea Utara

Sumber gambar, KCNA
Cina dan Amerika Serikat akan bekerja sama dalam usaha dan pencegahan uji coba rudal kembali oleh Korea Utara, seperti disampaikan oleh Presiden Obama.
Dalam beberapa pekan terakhir, Korea Utara mengklaim telah melakukan uji coba bom hidrogen dan rudal serta mengeluarkan ancaman kepada negara barat.
Obama bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping di sela-sela pertemuan tentang nuklir di Washington pada Kamis.
Obama mengatakan kedua negara menginginkan Semenanjung Peninsula bebas dari nuklir.
Dia mengatakan dirinya dan Xi tengah berupaya untuk menyepakati "bagaimana kami dapat menghalangi aksi seperti uji coba nuklir yang meningkatkan ketegangan dan melanggar aturan internasional".
- <link type="page"><caption> Korea Utara tembakkan rudal balistik ke laut</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160318_dunia_korut_ujibalistik.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Obama tetapkan sanksi baru buat Korea Utara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160317_dunia_sanksi_baru_as_korut.shtml" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> PBB kecam peluncuran rudal Korea Utara</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160319_dunia_korut_dewan_keamana_pbb.shtml" platform="highweb"/></link>
Xi, seperti dikutip dari kantor berita Cina, Xinhua, mengatakan penting bagi seluruh pihak untuk melaksanakan seluruh sanksi baru yang telah disepakati secara " penuh dan ketat".
Cina dan Korea Utara merupakan sekutu dekat dan mitra dagang terbesar.
Wakil Menteri Luar Negeri Cina Zheng Zeguang, mengatakan kedua presiden "bertukar pandangan secara terbuka dan mendalam mengenai berbagai isu dan mencapai konsensus yang penting". Dia menyebut pertemuan itu sebagai "positif, konstruktif dan bermanfaat".
Korea Utara melakukan uji coba nuklir pada 6 Januari lalu dan meluncurkan satelit pada 7 Februari lalu yang melanggar sanksi PBB.
Kemudian, PBB dan Washington menerapkan sanksi lanjutan terhadap Pyongyang, antara lain untuk memeriksa pengiriman barang dari dan ke Korut. Langkah itu didukung oleh Cina setelah dua bulan perundingan antara Beijing dan Washington.









