Penghitungan suara pemilu Iran digelar

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Iran, Hossein Ali Amiri, mengatakan lebih dari 33 juta pemilih berpartisipasi dalam pemilu tersebut.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Iran, Hossein Ali Amiri, mengatakan lebih dari 33 juta pemilih berpartisipasi dalam pemilu tersebut.

Komisi Pemilihan Umum Iran mulai menghitung jutaan suara rakyat Iran yang telah melakoni pemilihan umum legislatif sehari sebelumnya.

Sejumlah surat kabar Iran edisi Sabtu (27/02) menyebut <link type="page"><caption> pemilihan umum yang diselenggarakan pada Jumat (26/02)</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160226_dunia_iran_pemilu" platform="highweb"/></link> adalah peristiwa yang “menakjubkan”.

Pasalnya, sedemikian antusias rakyat Iran dalam mengikuti pemilu, waktu pemilihan sempat diperpanjang lima kali menjadi enam jam.

Harian Financial Tribune di Iran menyebut sebanyak tiga juta pemilih perdana turut mengantre di tempat pemungutan suara.

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Iran, Hossein Ali Amiri, mengatakan lebih dari 33 juta pemilih berpartisipasi dalam pemilu tersebut. Artinya, jumlah pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara pada Jumat (26/02) mencapai 60% dari total pemilih.

Dalam pemilu Iran, para pemilih menentukan 290 anggota parlemen untuk masa jabatan empat tahun dari sekitar 12.000 calon yang terdaftar.

Sumber gambar, ISNA

Keterangan gambar, Dalam pemilu Iran, para pemilih menentukan 290 anggota parlemen untuk masa jabatan empat tahun dari sekitar 12.000 calon yang terdaftar.

Sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters, proses penghitungan suara yang datang dari berbagai provinsi di Iran bisa mencapai sedikitnya tiga hari. Namun, bila mengikuti tradisi politik Iran, suara dari pedesaan umumnya akan lebih berpihak ke kubu konservatif, sedangkan suara dari perkotaan lebih condong ke kandidat-kandidat moderat yang menjadi sekutu Presiden Hassan Rouhani.

Dalam pemilu Iran, para pemilih menentukan 290 anggota parlemen untuk masa jabatan empat tahun dari sekitar 12.000 calon yang terdaftar.

Mereka juga memilih 88 anggota Majelis Ahli, sebuah dewan ulama yang akan memilih pemimpin tertinggi Iran.

Kelompok reformis berharap bisa memperkuat pengaruh mereka di kedua lembaga yang selama ini didominasi oleh kelompok konservatif.

Hasil dari pemilu ini mungkin bisa mempengaruhi peluang presiden Hassan Rouhani, dari kelompok reformis, untuk terpilih lagi pada tahun 2017.